Kedatangan Raffles – Dari Menara Bioskop Sovia – Di Kedai Makan – Di Hadapan Jam Gadang

Karya . Dikliping tanggal 1 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Kedatangan Raffles

Kecuali kerambil condong, lesung batu hitam
patung kuda tersungkur
dan angin menumbuk-numbuk tebing karang
barangkali daratan ini cuma masa lalu
dalam dengung buluh perindu
dengung tersabung gaung suara persekutuan orang mati
di arus muara, di air berpilin seperti mata mula membuka.

Aku tahu, pertikaian tidak semata amuk seribu malam suntuk
Aku tahu ketika telenang jatuh berdengkang
akan ada denting pisau beradu pisau
dan harimau akan menggerung kegilaan dalam perut
– akan terus menggerung apabila
pisau terus beradu pisau.

Di daratan ini aku mimpi rumah terbakar
ladang kering menghampar, pangkal batang hingga tandan
pucuk pisang melepuh hangus. Mimpi lenguh kerbau
terjungkal dalam bandar membikin hilang sabar.
Di daratan ini, aku terus terbayang
seseorang membilas tembikar, kapas dipintal jadi benang
dencing palu beradu paku di ladam kuda
tempayan-tempayan retak dibariskan
ketika langit mulai menghitam
dan gugusan bintang menyuruk dengan santun.

Aku memang datang dari tahun buruk
melihat sisa hari terpuruk
dan di daratan ini garik udara memang selalu pandai membujuk
selalu lihai membuat segala macam kalimat khianat:
talak dilipat menjadi rujuk.

Kecuali kerambil condong, lesung batu hitam
patung kuda tersungkur
dan anak beruk memukul-mukul pangkal dahan ambacang
daratan ini cuma garis hantu dalam peta terkini.
Kurobohkan pohon, kukorek-hali tanah di pangkal batu
kuali hingga tungku kuhambung-lambungkan
hanya abu, hanya abu, melulu menyumbul abu.

2015


Dari Menara Bioskop Sovia

Dari menara
dengan susunan kubus beton tua
aku pandangi lagi tahun itu.

Orang-orang berambut kusut, kemeja katun, dan kaust
sobek mengayuh sepeda sambil bersenandung cha-cha
kota dengan sepasang gunung yang saling mengirim
kutukan dingin.

Aku pandangi tahun itu. Para tukang jagal menghisap
gulungan nipah sambil mengampak tulang kaki kuda
gadis dari lembah mengibaskan selendang di pangkal
jembatan gantung, seorang lelaki rantau dengan reben
hitam terheran melihat seluruh angka di lingkaran jam gadang

Kami menunggu gambar hidup diputar dalam layar lebar
tentang letusan bedil seorang martir Amerika dalam
perang Vietnam, drama percintaan Zhivago digubah
dari prosa Pasternak, Christine menyanyikan partitur kuno
Don Juan Triumhant dalam musikal Le Fantome de l’Opera
dan cengkok dangdut lakon Satria Bergitar bikinan
orang Jakarta yang bikin kita goyang dada.


Menara dengan susunan kubus beton tua dalam dingin
tahun memang tidak dapat dijemput
musim dengan kasmaran membahana tidak bisa direbut.

Kota dengan tembok bangunan terus kehilangan warna
patahan tangga besi
lampu berkedip sudah lama mati
aku pandangi lagi tahun itu, jauh ke tahun itu.

2014


Di Kedai Makan

Di atas lempeng logam berundak kami duduk
menghadap ketan hitam, santan kelewat manis
dan pisang batu masak diperam.

Kau bercerita tentang kampung-kampung jauh
tentang para penombak paus berloncatan
dari satu sampan ke sampan lain.
Musim di mana laut terus terbidik mata arus hitam
para penunggang gelombang merapalkan mantra
paling menakutkan ketika hujan melipat selat
menghimpun pulau-pulau terserak.

Kota ini terus menyarut bilah buat pelecut badan
serbuk-sebuk logam ditebar ke liang dada
pohon-pohon ditanam dalam etalase kaca
telah merenggut kenangan baik kita.
Kota ini membuat kasmaran bergerak-bergelinding
dari nampan ke wajan
dari satu kedai ke kedai lain
dari satu jalan ke jalan lain
dari satu kerampang ke kerampang lain.

Dan kau buka isi kitab batu karang dalam gelombang
tentang kisah laut bermula dari daratan turun
kuda menanam sisik dan belajar menyelam
sapi mulai lihai berselancar
serta harimau menghapus belang
memajang insang di pangkal leher.

Di atas lempeng logam berundak kami duduk
hari terus membusuk.

2015


Di Hadapan Jam Gadang

     – dan sebuah pahatan Ramudin

Kota dengan lubang panjang
mengarah ke lembah, mengarah ke kulah
menjurus ke entah.

Telah aku bebaskan gadismu
dari ketakutan tak terbentuk
pada garis punggungnya
pada gelombang pahanya
dan pada segala lekuk dagingnya.
Telah aku bikin pahatan Ramudin
tak seberapa banding guratnya.
Aku ledakkan dalam lingkar matanya
bayang tentang perang penghabisan
sebelum gerbong demi gerbong kereta
mengirim setiap lelaki ke teluk
di mana bangkai kapal dibuat remuk.

Telah aku ikat napasku napasnya
bersama kelok jalan mendaki
jalur bikinan paderi sebelum mati.

Dan di hadapan jam gadang
kota dengan lubang panjang
mengarah ke hitam tuah
aku bangunkan Ramudin
aku bangunkan Hoerijah
sebelum patung di lereng itu bergerak
menari ke arah lembah.

2014


Di Depan Rumah Duka

Dinding dengan gelupas kulit naga perak
harus kertas minyak
barus terbakar dalam gentong besi keramat
serta suara “slurp” dari sedotan kopi dingin itu
telah membuat kita tersaruk-saruk
sebelum duduk
seperti kaum pengharu-biru penggila mabuk.

Aku membenci sekaligus mencintai kota ini
sepenuh hati sepenuh diri
seperti kubenci dan kucintai puisi tak menjadi.

Kota dengan busa
dari mulut kuda
terserak meleleh begitu saja di jalanan.

Kota dengan sihir ombak senja
membuat hari bertukar
seakan pengindap sawan sedang berjalan.

Kau mesti tahu, suara “slurp” terakhir, dan panjang
dari sedotan kopi dingin itu
akan mengirim dentang berkali
pada tiang listrik, seakan dihumban batu
menghempas-hempaskan pintu kedai
seperti badai sebelum lerai
dan mendatangkan suara kletak berkali pada atap.

Dan kita duduk, terus duduk
membiarkan malam menebar aroma kapur barus terburuk
bikin getar kasmaran paling terkutuk.

Aku benar membenci sekaligus mencintai kota ini
kota yang terus-terusan menebar bau orang mati terduduk!

2015

Buat Pinto

Dalam prosa,
gelombang gadang barangkali bisa dilipat ke dalam rantang
kota dengan orang-orang berkepala besar di pangkal paha, dengan
bangunan tua diberatkan masa lalu, dengan udara mengeluarkan
dengus asma dan batuk basah, barangkali bisa dipahat dengan bahasa
sepanjang retakan jalannya.

prosaku manis, gadisku manis, percintaanku muda lagi klimis.


Kita dengar juga sebuah lagu, haru, teramat haru
dahan berpatahan sebelum kaki balam dengan getar berat itu hinggap
seorang pemabuk tertarung tiga-empat-mungkin lima kali di batu
yang sama, seorang lelaki tua dengan ledakan bisul pada pantat kiri
mengeluhkan masa muda berlalu:

prosaku manis, masa-mudaku amis, cintaku sudah terkikis habis.


Dalam prosa,
kota ini apa saja, kota dengan getar kasmaran membahana

“Holaho, holahu…
kepalaku berkali-kali dikapak hari gila
aku paut juga kau, tak kunjung menjadi
tak kunjung menjadi-jadi!”

2014

Esha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Buku puisi terbarunya Dalam Lipatan Kain (2015)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Esha Tegar Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” 1 Maret 2015