Kelamin Sandal Jepit

Karya . Dikliping tanggal 2 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
ENTAH apa yang terjadi pada Badrun, tak seorang pun tahu. Semua hanya mengira-ngira. Ada yang bilang, Badrun berkenalan dengan orang alim dan orang alim itu mengubahnya. Ada yang bercerita, Badrun. putus asa dengan kehidupan yang ”begitu saja” dan ia pilih berubah. Tapi, ada juga yang bilang, kepala Badrun terbentur benda tumpul sehingga isinya rusak dan Badrun pun berubah. Entahlah, mana yang benar.
Pokoknya, Badrun berubah! Ia kini rajin ke masjid. Shalat berjamaah tak pernah ia lewatkan dan beragam pengajian selalu ia datangi. Saat orang bersiap ke masjid atau tengah berwudu, Badrun sudah duduk di masjid. Keseharian Badrun yang keras hati juga berubah menjadi lembut hati. Badrun yang mahal senyum berganti Badrun yang murah senyum, sedangkan marah Badrun menjelma ramah Badrun.
Dari semua perubahan Badrun itu, soal sandal jepit adalah perkara yang paling hangat dibicarakan. Bagaimana tidak, Badrun tiba-tiba menjadi begitu gandrung kepada sandal dengan pautan untuk jempol kaki dan jari kaki lain itu. Ke mana-mana sandal jepit menemani Badrun, ke masjid, ke sawah, atau ke kondangan. Badrun bahkan menolak pelindung kaki lain, sekalipun ia diundang acara resmi.

Kalau orang tidak mengenal, belum mengenal, atau baru kali pertama mengenal, mungkin ia menganggap Badrun orang yang tidak sopan. Tapi, kalau orang sudah mengenal, orang akan tahu betapa Badrun kini amat menghormati dan menghargai orang. Pak Jati, lurah yang baru dan belum lama memimpin adalah salah seorang yang pernah kecele dengan sikap Badrun. Begini ceritanya.

Suatu hari Pak Jati mengundang beberapa warga, termasuk Badrun, ke balai desa. Karena menghadiri acara di balai desa, pastilah orang-orang berpakaian rapi. Ada yang berbatik, berkoko, atau berkemeja biasa. Badrun berkoko putih. Namun, yang membuat Pak Jati terperanjat kaget adalah kaki Badrun. Saat orang bersepatu, bersepatu sandal, atau berselop, Badrun santai bersandal jepit.
Pak Jati kecut hatinya. Ia merasatak dihargai. Pak Jati tak kuat menyimpan unek-unek. Ia ceritakan sandal jepit Badrun itu kepada Pak Sekdes. Kebetulan rumah Pak Sekdes dekat dengan rumah Badrun. Maka, disampaikanlah kegundahan Pak Jati itu kepada Badrun oleh Pak Sekdes. Apa kata Badrun? Ia menjawab sembari mengungkapkan tekad besar. ”Pak Sekdes, sampaikan kepada Pak Lurah, saya sangat menghormati beliau. Tak sedikit pun saya berniat merendahkannya. Percayalah, suatu saat, saya akan buat Pak Lurah bangga. Ini wujud kalau saya menghargai Pak Lurah.”
Badrun membuktikan ucapannya. Setahun setelah pertemuan itu, Badrun terpilih sebagai petani teladan tingkat kabupaten. Badrun dinilai sukses mengenalkan dan menggerakkan model pertanian ramah lingkungan. Badrun tidak ragu menghindar dari jerat pertanian kimiawi dan kembali ke pertanian alami. Rupanya, inilah gaya penghormatan Badrun kepada Pak Jati sebagai lurah.
***
BEGITULAH, Badrun tak pernah pisah dengan sandal jepitnya. Ke mana-mana sandal jepit jadi kawan setianya dan di mana-mana sandal jepit jadi bawaannya. Tapi, hal yang membuat orang jengah dengan Badrun adalah kebiasaannya mengajak orang bersandal jepit. Badrun seakan-akan tak kenal
waktu, tempat, dan orang.
”Sandal jepit itu nyaman. Kalau sudah coba, pasti ketagihan,” begitu rayu Badrun di depan anak-anak yang mengaji. ”Sandal jepit itu wujud kesederhanaan. Dengan sandal jepit, kita menjalani hidup sederhana,” ceramah Badrun di malam hari saat meronda. Bahkan orang tua yang ter- biasa menggunakan gapyak, Badrun tak ragu menyarankan ganti. ”Sandal gapyak berat. Sandal jepit ringan.”
Pokoknya, tak ada orang yang begitu fanatik kepada sandal jepit melebihi Badrun. Sandal jepit telah jadi bagian hidupnya. Ibarat tubuh, sandal jepit mungkin setara tangan, telinga, atau hidung. Menghilangkan sandal jepit dari Badrun sama saja dengan menghilangkan salah satu bagian tubuhnya itu. Badrun pasti berontak.
Tetapi, pada suatu hari para warga dibuat heboh. Badrun yang alim tiba-tiba balik ke semula. Badrun
kembali sangar, Badrun kembali menakutkan. Ternyata, semua ini gara-gara kabar yang dibawa Sipin. Kata Sipin, sandal jepit itu haram. Karena haram, sandal jepit harus ditinggalkan. Memakai sandal jepit itu sama saja dengan memakan barang haram, seperti daging babi, bangkai, darah, atau narkoba.
Tentu, Badrun terkejut mendengar kabar itu. Mulanya, ia tak peduli. Baginya, tak masuk nalar bila sandal jepit disamakan dengan daging babi, bangkai, darah, atau narkoba. Tetapi, ketika banyak orang terpengaruh dan mulai meninggalkan sandal jepit, Badrun jadi gusar. Ia marah kepada Sipin.
”Pin, kamu yang bilang kalau sandal jepit itu haram?” Mata Badrun menyala.
”Bukan, bukan aku yang bilang, tapi Usap,” jawab Sipin sedikit bergetar, takut.
”Usap?”
”Iya, Usap yang bilang.”
Usap adalah panggilan untuk Ustaz Sapari. Ia ustaz yang tengah naik daun. Selain mengajar mengaji, Usap juga membuka praktik pengobatan. Sipin datang ke Usap sebab Sipin sering pusing. Sudah banyak dokter ia datangi dan tak sedikit obat ia minum. Tetapi, pusingnya tak hilang juga. Akhirnya, seorang teman mengenalkan Usap dan menceritakan kehebatan Usap hingga Sipin menemui.
Ajaib! Setelah diobati Usap hanya dengan diusap-usap kepalanya, Sipin sembuh. Pusing-pusingnya hilang. Dari pertemuan di tempat praktik Usap dengan pasien lain itulah Sipin tahu kalau Usap melarang orang-orang yang datang ke tempatnya bersandal jepit. Usap juga berpesan kepada pasiennya kalau mau bebas dari sakit, sandal jepit wajib ditinggalkan. Haram hukumnya memakai sandal jepit.
”Apa alasan Usap mengharamkan sandal jepit?” tanya Badrun penasaran.
”Aku tidak tahu. Aku hanya dengar dari orang-orang,” jawab Sipin.
Badrun kecewa. Sekembalinya dari rumah Sipin, ia tak kuasa menutupi kegalauan hatinya. Sandal jepit haram? Ah, Badrun tak mampu membayangkan kalau hal itu benar, betapa banyak dosa yang sudah ia lakukan. Ia tak cuma berdosa karena memakai, ia juga berdosa karena memengaruhi orang untuk memakai sandal jepit. Badrun merasa dosanya berlipat-lipat.
Badrun telah menghitung dosanya dengan cara sederhana. Badrun ingat, ia tidak lepas dari sandal jepit sejak lima tahun lalu. Kalau dihitung perhari berarti sudah 1825 hari ia berdosa karena sandal jepit. Apabila setiap hari Badrun melangkah dengan sandal jepit tidak kurang dari 10 km, berarti dalam lima tahun, Badrun melakukan langkah dosa sejauh 18.250 km. Ah, Badrun tak bisa membayangkan betapa banyak dosanya.
Badrun jadi penasaran. Hatinya meledak. Ia ingin sekali bertemu Usap dan ia ingin sekali mendengar langsung dari mulut Usap, apa alasannya sehingga Usap mengharamkan sandal jepit. Kalau jawaban Usap ngawur, Badrun berjanji abai. Tetapi, kalau jawaban Usap dapat diterima akal sehat, Badrun tak sungkan akan mengikuti. Ia siap membuang sandal jepit dari hidupnya.
***
BADRUN berdiri di seberang jalan rumah Usap, pagi itu. Sedari datang mata Badrun dilontarkan ke arah rumah Usap yang mewah. Sudah lebih dari dua jam Badrun di situ. Badrun mulai putus asa. Ia ingin nekad. Tetapi, ada jengah di dada. Apalagi, Badrun mendengar kabar, Usap akan ke Jakarta. Usap diminta mengisi acara pengobatan alternatif di sebuah stasiun televisi. Jadi, pastilah Usap keluar nanti.
Itu dia! Batin Badrun berteriak. Ia melihat beberapa orang keluar dari rumah dan membawa barang-barang bawaan untuk dimasukkan ke dalam mobil. Tidak lama, di depan pintu rumah, Badrun melihat lelaki bercelana putih, berbaju koko putih, juga berpeci putih, tengah berpamitan kepada seorang perempuan muda dan anak balita. Itu pasti istri dan anak Usap! Badrun berlari menyeberangi jalan. Badrun nekad. Ia naik ke pintu berpagar besi yang cukup tinggi dan berteriak.
”Usap! Usap!”
Orang-orang terkejut. Mereka seketika menengok ke arah datangnya suara. Semua saling berpandangan, dirajam bingung. Usap yang sudah hendak masuk ke mobil, mengurungkan niatnya. Ia ikut pula terkejut melihat seseorang yang tidak ia kenal, memanggil-manggil. Wajah Usap berkerut, menampakkan tanya. Dari pintu mobil yang dipegangnya, Usap melontarkan tanya.
”Ya, ada apa?”
”Usap, apa benar sandal jepit haram?”
Usap kembali terkejut. Kali ini, ia seakan-akan tidak menyangka ada seorang pria datang, berdiri di depan pintu rumahnya, dan bertanya seperti itu. Tak pelak, bibir Usap menyungging senyum. Tapi, Usap paham keadaan.
”Oh, iya, sandal jepit memang haram.”
”Kok bisa, Usap?”
”Karena sandal jepit tak punya kelamin yang jelas.”
Usap buru-buru masuk ke mobil setelah para pengawalnya mengingatkan. Mobil melaju dan melewati Badrun yang bingung. Tidak punya kelamin jelas? Badrun termenung dan coba menerka-nerka. Oh, mungkin sandal jepit disamakan dengan pakaian atau sepatu. Ada pakaian pria ada pakaian wanita, ada sepatu pria ada sepatu wanita. Karena pada sandal jepit tidak ada sandal jepit pria atau wanita, jadilah sandal jepit tak punya kelamin jelas. Benda tak punya kelamin jelas, tentu haram, begitu logika Badrun memainkan jawaban Usap. Badrun tersenyum.
Keesokannya, Badrun tetap tersenyum. Ke mana-mana ia tak berubah, bersandal jepit. Orang-orang jadi bingung. Lo, bukankah Badrun sudah bertemu Usap? Kenapa ia masih bersandal jepit? Beberapa orang yang penasaran bertanya.
”Drun, kenapa masih pakai sandaljepit, kan Usap sudah bilang, haram?”
Badrun masih tersenyum. Mulutnya membuka, ringan.
”Kalau sandal jepit di sana, iya, haram, karena mereka tidak punya kelamin jelas. Kalau sandal jepitku, halal, sebab kelaminnya jelas. Ia untuk laki-laki. Lihat ini….”
Badrun menunjukkan guratan- guratan kasar pada sandal jepitnya, sebuah gambar, semacam lambang, lingkaran dengan panah melekat di posisi jam dua. Orang-orang bingung. Badrun tak peduli, ia ngeloyor pergi, tetap dengan tersenyum. (62)
Taman Pagelaran, 2/2015

— Sigit Widiantoro lahir di Banjarnegara, alumnus Ilmu Komunikasi UI, pekerja media dan tinggal di Bogor
Rujukan: 
[1] Disalin dari karya Sigit Widiantoro
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 1 Maret 2015