Keluarga Angku Guru Lani

Karya . Dikliping tanggal 5 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
MENURUT orang tuaku, demi masa depanku tak masalah bila kami tinggal di dangau untuk mengusahakan kebun milik Angku Guru Lani di pinggiran kampung. Mau apa pula lagi, di negeri asal kami sawah dan ladang maupun lahan untuk perumahan tak lagi mencukupi buat orang-orang yang terus lahir, besar dan berkembang biak dengan cepat. 
Namun, orang tuaku, yang semula jadi transmigran spontan di daerah yang ternyata gersang, tanah tumpah darahku yang berjarak kira-kira 100 kilomter dari kampung itu, ditakdirkan tewas tatkala aku baru berumur enam tahun. Pada suatu hari, bendi yang aku naiki bersama orang tuaku diseruduk truk tangki bermuatan minyak kelapa sawit yang putus rem, hancur, menyerakkan belanjaan, bangkai kuda berikut tiga orang penumpang. Sekehendak Yang Mahakuasa, aku yang duduk di samping kusir cuma terpelanting masuk bandar air sawah, tak mengalami cedera fisik sedikit pun.
Angku Guru Lani mungkin iba melihatku. Beliau memboyongku ke rumahnya, dan memperlakukan aku seperti anak sendiri. Tak ubahnya dengan tiga anak kandung beliau, Mariatun, Darwis, dan Namsiar –yang kemudian aku panggil Uni Matun, Uda Wis, dan Uni Nam– aku juga disuruh mengaji dan disekolahkan.
“Mulai sekarang kamu tak usah ber-Angku Guru pada saya. Panggil bapak saja, begitu,” kata Angku Guru Lani sepulang mendaftarkan aku masuk satu-satunya SR (Sekolah Rakyat) di kampung itu.
Dan masih terbayang-bayang pula betapa petang itu aku berbaring telentang dengan sarung terikat dan digantungkan ke loteng supaya kulupku yang baru dipotong tidak bersinggungan dengan kain. Sementara sekian banyak orang, laki dan perempuan, duduk melingkar menghadapi hidangan tidak jauh dariku. 
“Angku Datuak Paduko rajo,” sapa Angku Guru Lani.
“Ya, Angku Guru,” sahut seseorang yang pakai saluk.
“Sekalipun Angku seorang yang terimbaukan, namun sebenarnyalah bahwa apa yang ingin kami kemukakan tertuju pada semua yang berhadir. Kita kan sudah sama-sama tahu keaadan si Tanuji. Sehubungan dengan itu sengaja Angku dan Bapak-Ibu sekalian Rajo. Penghulu kami undang untuk menyaksikan sekaligus dapat  merestui dia jadi anak kami. Sesuai aturan, syarat-syarat agar dia diterima sebagai anggota kaum Angku Datuak Paduko Rajo suku Caniago, tentu akan kami penuhi….”
Angku Guru Lani menoleh dan memberi isyarat pada istrinya. Ibu Sitti Rahmah beringsut menyerahkan cerana bersongkok delamak kepada Datuak Paduko Rajo. Penghulu suku itu, bersama beberapa lelaki lainnya, memeriksa isi cerana itu, lalu tersenyum mengangguk-anggukkan kepala.
“Jadilah, Angku Guru,” kata Datuak Paduko Rajo. “Tentangan si Tanuji, hingga mencekam terbang menjejakkan hendaknya, kan begitu benar harapan kita…”
“Iyalah,” jawab Angku Guru Lani. 
“Bak kecek orang,” kata Datuak Paduko Rajo pula, “lebih baik menambah daripada mengurangi. Maka tak berpanjang-panjang lagi, saya sebagai penghulu suku mamak kepala waris, yang didulukan selangkah dan ditinggikan seranting, dengan mufakat ninik-mamak yang ada, menerima itikad baik Angku Guru itu. Adapun segala hal yang bersangkut paut dengan kerapatan adat maupun nagari, otomatis menjadi urusan saya, sebab sejak sekarang si Tanuji sudah jadi kemenakan saya.”
Hadirin serempak memuji kebesaran Tuhan. Lantas, dipimpin oleh seorang Lebai, orang-orang pun berdoa. Dan makan bersama. Aku disuapi oleh Uni Matun, tapi tak bisa banyak karena badanku agak meriang sementara ujung tititku terasa perih.
***
JELAS bukan cuma soal pengalaman pertama masuk sekolah, perubahan panggilan terhadap Angku Guru Lani, dan saat dikhitan sekaligus dikukuhkan jadi anak Angku Guru Lani-Ibu Sitti Rahmah itu saja yang tetap bersemayam dalam ingatanku. Banyak hal lain. Sebutlah misalnya menyangkut perlunya menghargai waktu atau kedisiplinan yang dterapkan Angku Guru Lani. Dan juga keteguhan beliau menjunjung tinggi ajaran agama, etika atau adab besopan santun.
Aku, Uda Wis, dan Uni Nam berkali-kali ditegur, dan adakalanya disetrap menguras bak kamar mandi atau bediri dengans atu kaki dalam jangka waktu tertentu, lantaran bermain-main tidak tahu juntrungan saat sudah seharusnya belajar atau membantu ibu. Aku dan Uda Wis bahkan pernah dirotan tatkala mempergarahkan Mak Surin yang pincang.
Dengan maksud melucu Uda Wis pulang ke rumah sambil meniru-nirukan jalan Mak Surin, menengkak-nengkak, sementara tangan kiri Uda Wis menggelantung lunglai seolah tak berdaya, sedang tangan kanannya bersitumpu pada tongkat Mak Surin yang dipinjam dan dilarikannya. Tetapi apa?
“Lekas kembalikan tongkat orang itu!” hardik Angku Guru Lani dengan berang. “Tahu kamu, Tuhan akan memurkai mereka yang zalim memperolok-olokkan fakir miskin,” tukuk beliau memberi nasihat setelah amarahnya terlampiaskan melalui lecutan rotan ke kaki dan pinggul Uda Wis.
Tapi selain streng, tegas, dan terkesan pemarah, Angku Guru Lani juga objektif dan pemurah. Beliau takkan ragu melontarkan pujian, membawa kami bertamasya ke kebun binatang atau menghadiahi siapa saja di antara kami yang berprestasi di sekolah maupun di tempat mengaji. Meski begitu, Uda Wis tetap saja Uda Wis. Nakal, madar, dan pandai berkilah. Hingga remaja, kalau tidak keliru sampai tamat SMP, Uda Wis kerap berperangai dan berulah, membuat Angku Guru Lani uring-uringan atau geleng-geleng kepala. 
Benarkah manusia berotak encer seperti Uda wis yang selalu juara kelas dan menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universita Indonesia dengan predikat cum laude itu, cenderung berperilaku aneh dan macam-macam sebelum menemukan jati dirinya? Entahlah! Yang jelas, sampai kini hubunganku dengan Uda Wis tetap terpelihara. Meski berjauhan kami selalu memupuk tali persaudaraan yang telah ditanamkan Angku Guru Lani. Kalau tidak aku yang mengontak Udah Wis tentu dia bakal mengomel panjang pendek lewat telepon selulernya.
“Sudah besar kamu sekarang, ya, sudah tidak mau menghubungi aku lagi,” kata Uda Wis biasanya. Maka seperti biasanya pula aku lekas-lekas minta maaf dengan mengajukan berbagai alasan. Lalu kami pun akan mengobrol tentang pelbagai hal. Tentang masa lalu, masalah kekinian, dan tak lupa mengenai kondisi bapak dan ibu yang kian renta.
“Jadi,” ujar Uda Wis suatu kali di bagian akhir pembicaraan kami, “baik buruk keluarga kita tergantung kamu, Ji. Sebab cuma kamu yang dapat mengurus keluarga kita di kampung… Eh, maksudku kamulah anak laki-laki bapak-ibu yang paling dekat ke kampung.”
“Ya, ya, aman itu Uda,” sahutku. “Asal Uda tidak lupa memasok dana transportasi serta oleh-oleh saya buat orang sekampung,” sambungku.
“Boleh, boleh,” Uda Wis menukas dengan tangkas. “Berapa kamu mau, ha? Kasih saja aku nomor rekening bankmu. Nanti aku kirimkan, sampai tak muat di rekeningmu aku beri….”
Barangkali kebebasan berkelakar antarkami itulah yang membuat aku merasa dekat dengan Uda Wis. Lagi pula Niken, wanita cantik asal Solo yang telah memberi Uda Wis sepasang anak dan tiga cucu itu, tidak hanya sekali-dua menawarkan agar Hartati istriku mengajakku dan anak-anak berlibur ke Jakarta.
“Aturlah, Tat,” ujar Mbak Niken di telepon, “biar kita ngumpul-ngumpul pula di sini.”
Selang beberapa lama setelah itu aku sekeluarga sengaja datang memenuhi udangan Mbak Niken. Betapa hangat sambutan Mbak Niken, apalagi Uda Wis. 
***
SUNGGUH berlain perasaanku terhadap Uni Nam –yang setamat SGA (Sekolah Guru Atas) sempat kuliah tiga-empat semester di IKIP sebelum berkenalan dan dengan luar biasa cepat dilamar lalu diboyong ke Palembang oleh Uda Pilin, suaminya. 
Aku tak habis pikir, kenapa harus ada rasa enggan yang mengganjal bila berhadapan dengan kakakku yang satu itu? Padahal Uni Nam yang lebih tua tiga tahun dariku senantiasa membelaku, kapan dan di mana pun, termasuk ketika aku dimarahi ibu atau diomeli Uda Wis. Jangan kata kalau dia tahu aku dijaili kawan sepermainan yang lebih besar, dia akan meradang tak pandang bulu. Selama dua tahun di SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) dan tinggal bersama-sama dengan Uni Nam, bahkan sampai kini, penampilan Uni Nam tetap seperti itu, memosisikan aku sebagai adik kecil yang laik diperhatikan dan diayomi.
Mungkinkah karena sifat protektif atau gaya Uni Nam yang berlebihan bak pahlawan pelindung orang yang tak berdaya itu yang kurang berkenan di hatiku? Tak tahulah! Pokoknya aku benar-benar ogah dilindung-lindungi, serta tidak ingin terlihat dan dianggap lemah oleh siapa pun.
Sementara Uni Matun adalah sosok di mana aku menemukan bayangan seorang ibu yang sejati. Terkadang aku mengkhayal, mempersonifikasikan Uni Matun sebagai Bundo Kanduang, wanita agung (dalam tambo) Minangkabau yang sikap maupun ketegasannya dibungai kelemahlembutan serta budi pekerti yang mulia. Bahkan pada perasaanku, Uni Matun lebih dominan ketimbang Ibu Sitti Rahmah. Sebab Uni Matun yang selalu membimbingku belakjar, memberangi atau diam-diam menyelamatkan dan mengatur perlengkapan sekolahku yang tidak beraturan, menyiapkan pakaian, mengurus makan minum serta keperluan-keperluan yang lain.
Boleh jadi karena kecintaannya, Uni Matun tak hendak sedikit pun beranjak dari kampung. Sewaktu bersekolah di PGA (Pendidikan Guru Agama), yang berjarak kira-kira sembilan-sepuluh kilometer dari kampung, dia mohon kepada orang tuanya agar diizinkan bolak-balik memakai sepeda. Sekarang, di samping mengajar secara sukarela pada Madrasah Ibtidaiah Muhammadiyah yang ada di kampung, Uni Matun juga aktif menjadi pembantu umum anak cabang organisasi kewanitaan Aisyiyah di ibu kota kecamatan.
Suami Uni Matun, Uda Amri, agaknya seselera dengan Uni Matun –dalam arti tidak pernah tinggal di negeri orang. Uda Amri adalah suami idaman yang tak tergiur oleh ingar-bingar rayuan (pe)rantau(an) dan, nyatanya dia dapat bertahan menghadapi keterbatasan kampung itu. Selain baik hati Uda Amri pun campin berusaha. Dia bersawah, berladang, dan menumpuk rempah-rempah di rumah.
Dan, meski tak punya anak Uni Matun-Uda Amri tampak rukun, dan bahana telaten mengurus Angku Guru Lani-Ibu Sitti Rahmah yang sudah sangat sepuh itu. ***
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nelson Alwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 4 Oktober 2015