Kematian Kedua

Karya . Dikliping tanggal 24 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Lelaki tua itu akhirnya benar-benar meninggal dunia. Jenazahnya ditutupi kain hitam dan diletakkan di atas tikar daun lontar di ruang tengah rumahnya. Sebuah rumah panggung suku Kajang.

Orang-orang bersedih melayat mayatnya. Menyingkap kain yang menutupi wajahnya seolah hendak memastikan bahwa ia sungguh sudah tak bernyawa. Juga diam-diam berupaya melihat satu tanda.

Sebuah keloid. Bekas luka yang menebal dan timbul di kulit. Serupa seekor lipan. sebesar—namun sedikit lebih panjang—jari telunjuk orang dewasa. Lengkap dengan kaki-kaki dari bekas jahitan kasar di kedua sisinya. Melingkar agak miring di sisi kanan lehernya.

Sappe meyakini dan orang-orang percaya bahwa dirinya sudah pernah mati. Hanya keajaiban membuatnya hidup kembali. “Nakke maengnga’ mate, mingka attallasa’asse’,” begitu ia sering berkata memulai ceritanya. Saya sudah pernah mati, namun hidup kembali. Sebuah kalimat yang akan membuat orang-orang terhenyak, menunggu dia melanjutkan kisahnya.

Kematian KeduaIa berusia sekitar dua puluh tahun menjelang musim hujan berakhir tahun 1956. Ketika itu, gerombolan DI/TII yang mereka sebut Gurilla, menyerbu suku Kajang di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Gurilla menyerang untuk memaksa membayar upeti, menghancurkan adat, dan agama orang Kajang.

Gurilla menganggap agama Kajang togut dan memaksa mereka berpindah menganut agama para Gurilla. Setelah berbagai pembakaran hutan dan permukiman, penganiayaan, penculikan, penembakan, serta pembunuhan, warga Kajang menolak tunduk. Ammatoa, selaku kepala suku bersama para pemuka adat Kajang, sepakat berjuang mempertahankan Kajang.

Para lelaki dewasa bergabung untuk menghadang serangan Gurilla di daerah luar kawasan adat, Ipantarang Embayya. Tujuannya agar Gurilla tidak masuk kawasan adat, Ilalang Embayya. Sebab bila berhasil masuk, Gurila bisa membantai anak-anak, perempuan, orang tua, dan membakar permukiman mereka.

Gurilla juga akan memusnahkan berbagai benda dan tempat keramat. Tempat yang sangat dijaga adalah hutan keramat Borong Karamaka. Hutan tempat turunnya Sang Maha Berkehendak Tu Rie’ A’ra’na untuk menerima nazar, permohonan, dan persembahan dalam berbagai upacara suku Kajang.

Kepala suku bekerja mengejawantahkan pesan suku Kajang, Pasang ri Kajang: Jagai lino lollong bonena, kammayya tompa langi’, rupa tau, siagang borong-nga. Jaga bumi serta isinya, begitu juga langit, manusia, dan hutan. Pesan itu turun menjadi kewajiban segenap orang Kajang.

“Saya bertugas menyampaikan pesan dari mata-mata di Ipantarang Embayya ke tempat persembunyian pejuang di Ilalang Embayya. Tak sembarang orang ditunjuk menjalankan tugas ini. Mesti yang sangat dipercaya,” lanjutnya.

Sappe adalah warga Dusun Ralai, Illang Embayya. Ia sebelumnya suka berkunjung berjalan kaki maupun naik kuda dari kampung ke kampung, sehingga mengenal jalan dan tempat-tempat di Ilalang Embayya. Sappe menyamar dan berbaur sebagai warga biasa di Dusun Dumpu, Ipantarang Embayya.

“Tidak boleh tertangkap. Sebab kalau tertangkap, tak tahan disiksa, bisa-bisa menunjukkan tempat-tempat persembunyian pejuang,” kata Sappe.

Hingga tiba saat tak terlupakan dalam hidupnya. Ketika itu, seusai makan malam, setelah sulo kapiri dipadamkan dan bersiap tidur, kera-kera di hutan-hutan Ipantarang Embayya gaduh menjerit panjang melengking. Kegaduhan itu disusul kesunyian setelah kodok kerbau dan jangkrik berhenti berbunyi.

Isyarat sesama makhluk itu, setelah sekian lama hidup sehutan dalam damai, dipahami benar orang Kajang. Mereka bersiap menghadapi keadaan terburuk. Ketika kesunyian dibantun dengking berulang burung kulu-kulu, mereka tahu bahwa makhluk yang lebih dikenali suara dibanding wujudnya itu, melihat kobar api.

Lalu seperti yang diperkirakan terjadi, Gurilla menyerang Dumpu. Mereka mulai dengan membakar hutan. Sebelumnya, di awal-awal penyerangannya, Gurilla menebangi hutan. Selain sebagai teror sebab hutan sangat dimuliakan orang Kajang, juga karena menganggapnya tempat persembunyian pejuang Kajang.

Masalahnya, terjadi hal yang tak diduga Gurilla. Mereka mendapat serangan balik dari bani, lebah yang mempertahankan wilayahnya. Bani yang sebelumnya tak pernah diganggu orang Kajang, seperti tahu bahwa perusak hutan mereka adalah musuh.

Jeri oleh perlawanan bani membuat Gurilla mengubah taktik penyerangan. Mereka membakar hutan sebelum menebang pepohonan. Gerombolan itu juga membakar rumah serta menangkap warga untuk disiksa agar tunduk menuruti tuntutan Gurilla.

Warga menjerit panik. Sappe yang hanya bercelana pendek dan melilitkan sebuah sarung di pinggang berusaha menjauh dari arah hutan dan rumah terbakar. Rupanya itu merupakan siasat Gurilla untuk mencegah warga lari bersembunyi ke hutan. Sappe tergiring berlari menuju padang penggembalaan ke arah Ilalang Embayya.

Binar kobar api dari hutan dan rumah terbakar serta sinar bulan di antara awan kelabu, membuatnya mudah terlihat musuh. “Ei! Berhenti!” Seorang anggota gerombolan membentak dan mengejarnya. Sappe sontak menoleh sekilas bersamaan entakan kakinya yang tak pernah beralas berlari sekuat tenaga. Sialnya, orang itu sigap mengejar berusaha menangkapnya.

Setelah sekitar 300 depa melintasi padang penggembalaan, lari Sappe tertahan di atas undakan tanah keras tepi sungai Sangkala. Sungai yang mengalir masuk Ilalang Embayya. Sappe selintas melihat permukaan sungai sejauh kira-kira dua tombak di bawahnya. Tampak gemuk. Mengalir deras tanpa riak tanda kedalaman Sungai Sangkala.

Ia berbalik. Sinar bulan membantunya menatap seorang lelaki berpakaian serdadu warna hijau tua, menyandang sten gun, rambut, dan janggutnya panjang. Lelaki itu bergerak perlahan ke arahnya. Suara bengis terlontar di antara dengus napasnya. “Kau tidak bisa lari sekarang!”

Sebilah parang panjang runcing berkilau di tangan kanan serta sarung parang di tangan kirinya direntangkan menutup peluang Sappe meloloskan diri. “Menyerah atau kau akan mati!” Lelaki itu mengancam sembari mengancang tebasan parang. Sappe yang tak bersenjata tinggal punya dua pilihan. Menyerah atau melompat ke sungai.

Pengejarnya terus mendekat. Sappe membayangkan siksa dan kematian apabila tertangkap. Ia mundur hingga tinggal udara di belakang pijakan tumitnya dan Patanna Je’ne sebagai penguasa palung sungai di bawah tubuhnya. Sappe lebih punya harapan selamat ke Patanna Je’ne dibanding tertangkap. Ia tidak pernah melakukan pengrusakan atau melanggar pantangan di sungai.

Sappe putuskan tak menyerah. Ia tekuk sedikit kedua lututnya mempersiapkan pegas lompatan ke belakang. Bersamaan dengan pengejarnya mengayunkan parang menebas lehernya, Sappe mendengar suara desing dan sret saat ia mendorong tubuhnya terjengkang ke belakang. Ia merasa tubuh dan kepalanya terpisah.

Terdengar suara byur dari permukaan sungai sebelum tubuhnya hilang tenggelam. Pemburunya melangkah waswas untuk melongok sekilas ke permukaan sungai kecoklatan yang merayap seperti ular raksasa. Gurilla itu bergidik cepat berbalik.

Ia berjalan sambil menggosokkan ujung parangnya pada rumput berembun sebelum menyarungkan ke warangkanya Cahaya bulan terhalang segumpal awan, tetapi angkasa tak jauh di hadapannya terang memerah. Api sedang melahap hutan dan permukiman orang Kajang.

***

Saat matahari terbit, seseorang menggeliat kesakitan di dasar hilir sungai Sangkala. Tak lama kemudian, kepalanya menyembul ke permukaan dan susah-payah berenang ke tepi, menjauh dari gemuruh arus deras di antara batu-batu besar di belakangnya. Ia lalu berdiri di air setinggi paha dan berjalan sempoyongan ke darat.

Tiga ekor udang besar menggantung dengan capit menjepit telinga dan tepi luka menganga yang melintang di lehernya sebelah kanan. Tangan kirinya berusaha menutup luka. Tangan kanannya menadah udang-udang yang jatuh setelah melepas jepitannya. Sappe meletakkannya perlahan di permukaan air dan udang-udang itu bergerak menyelam.

“Udang itu membangunkan saya dari kematian. Membuat saya bisa berenang ke tepi dan tak terseret masuk jeram,” kenang Sappe.

Ia merasa berutang budi ke udang-udang itu. Sejak saat itu, sebagai balas jasa, Sappe berpantang makan udang. Setiap akhir tahun, ia juga assorong persembahan sirih, pinang. dan kapur bubuk bagi Patanna Je’ne.

Udang dalam kawasan hutan keramat Borong Karamaka memang disakralkan. Salah satu pantangan adalah menangkap udang, rao doang. Udang hanya boleh ditangkap untuk kepentingan upacara. Itu pun paling banyak lima ekor dan harus atas izin Ammatoa.

Sappe berjalan mencari pertolongan. Kepalanya ia miringkan ke kanan untuk menekan tangan yang menutup lukanya. Beruntung ia terdampar di Borong Luarayya, hutan bagian luar yang bisa dikelola warga Kajang. Seorang peladang yang melihatnya berteriak memanggil temannya dan bersama menolong Sappe.

Keduanya melepas gulungan sarung Sappe. Membaringkannya dalam sarung di atas tanah. Memasukkan sepotong batang bambu ke dalam sarung dan menggotong Sappe ke rumah seorang tabib.

Tabib itu mengobati lukanya dengan jampi dan ramuan. Mengoleskan getah batang pisang untuk hentikan pendarahan. Menjahit menautkan lukanya dengan jarum tanduk rusa dan benang serat daun pandan. Membebatnya ramuan rautan kambium batang kayu tea-mate, temu lawak, daun jarak, dan daun sirih. Memberinya minum air kelapa muda dan mengasapinya dupa kayu gaharu dan getah damar.

Perlahan ia bisa bicara dan memperkenalkan diri. Menyebut nama kedua orangtuanya, tetua kampung, dan nama kampungnya. Tabib itu kemudian meminta seorang anak lelakinya menemui kedua orangtua Sappe untuk mengabarkan keadaan anaknya. Saat sore, orangtua dan kerabatnya datang menjemputnya.

***

Awal tahun 1965, Tentara Nasional Indonesia menembak mati pemimpin DI/TII. Peristiwa itu mengakhiri teror mengerikan mereka di Kajang dan Sulawesi Selatan. Sappe dan warga Kajang lainnya kembali membangun rumah serta menanami hutan yang telah hangus dibakar.

Mereka berusaha melupakan perlakuan tak manusiawi sekelompok orang yang merasa diri lebih mulia. Sappe beruntung masih bisa bekerja menggarap ladang, menikah, dan punya dua anak. Selain itu, ia menjalani hidup dengan kengerian mencengkeram batang lehernya.

“Tengah malam tadi dia tiba-tiba terbangun. Badan gemetar penuh keringat. Katanya dia bermimpi melihat lehernya perlahan putus. Kepalanya lepas dari badannya,” kata istri Sappe sembap di samping jenazah suaminya.

“Tadi pagi, hingga matahari beranjak naik, dia tidak bangun sebagaimana biasanya,” lanjut istri Sappe. Ia tak berpakaian dan ikkarambi—mengenakan sarung hitam dengan mengikatkan kedua sudut ujungnya di atas pundak—sebagai tanda berkabung. Sappe dimakamkan di pekuburan Dusun Ralai.

Seusai penguburan, pengantar jenazah pulang beriringan di jalan setapak. Beberapa orang tua tertinggal di belakang. Orang-orang yang dulu juga mengalami siksa dan derita penyerangan Gurilla.

Luka membekas di tubuh dan pedih melekat dalam ingatan mereka. Tidak pernah benar-benar sembuh. Seperti hutan yang dulu dibakar dan ditebang Gurilla di kiri dan kanan mereka. Tak bisa tumbuh serimbun sediakala.

Catatan:
– Sulo kapiri: pelita dari kemiri dan kapuk yang ditumbuk halus lalu dililit di sebilah bambu.
– Tea-mate: tak mau mati, sebutan bagi pohon kudo, Lannea Coromandelica.

Aslan Abidin, lahir di Soppeng, 31 Mei 1972. Pernah bekerja sebagai wartawan. Kini dosen di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar. Menulis sastra, terutama puisi. Buku puisinya Bahaya Laten Malam Pengantin (2008) sedang proses penerbitan ulang Kepustakaan Populer Gramedia dengan judul Orkestra Pemakaman.

I Wayan Suja, lahir di Batubulan, Bali, 8 Desember 1975. Menempuh pendidikan seni rupa di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar (STSI/ISI Denpasar). Penghargaan: Finalists of Indonesia Art Award dari YSRI (2000); Top 30 Finalist The 2005 Sovereign Asian Art Prize, Hong Kong.


[1] Disalin dari karya Aslan Abidin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Minggu 23 September 2018