Kematian Puisi

Karya . Dikliping tanggal 5 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
Kelopak matanya yang kendur dan keriput perlahan membuka. Kemudian menutup lagi—mungkin karena cahaya lampu ruangan yang putih terang terlalu menusuk matanya yang sudah tua. Sesaat, bola mata yang sudah tak lagi benar-benar hitam, lebih cenderung coklat, karena dimakan usia itu pelan-pelan terbuka lagi. Dan dilihatnya dua perempuan muda cantik berpakaian putih-putih sedang menatapnya dekat-dekat.

”Aku sudah mati?”
”Beruntung, Bapak masih selamat.”
”Kalian bidadari surga?”
”Bukan, Pak.”
”Jadi…?”
”Bapak di rumah sakit.”
”Akh…,” lenguhnya, dan kembali memejamkan mata.

BESOK paginya penyair tua Badra sudah dibolehkan pulang. Ia hanya dinyatakan kelelahan karena faktor usia. Pada malam dia ambruk di atas pentas saat pembacaan puisi di gedung seni utama kota itu, Badra memang tampil energik. Membacakan lima puisi hampir tanpa jeda, bergerak ke sana kemari, kadang juga sambil jumpalitan, dengan suara kencang penuh luapan emosi dan entakan. Pada puisi terakhirlah dia akhirnya terduduk, lantas rebah persis seperti ikan besar terdampar.
Semula orang-orang menduga itu bagian dari pertunjukannya. Tepuk tangan panjang membahana menggetarkan ruangan pembacaan. Tetapi, hingga tepuk tangan terakhir, Badra tidak bangun juga. Seketika ruangan menjadi hening, dan lantas berubah riuh geremengan orang-orang yang saling bertanya dan tak tahu apa yang telah terjadi terhadap penyair tua itu.
Panitia acara—seperti juga para penonton yang semula mengira Badra hanya sedang berakting—akhirnya naik ke atas panggung. Ditepuk-tepuk, tidak juga bangun. Dan ketika tubuh tua kurus itu dibalikkan, dari mulutnya keluar air liur yang cukup banyak, mungkin juga sedikit muntah.
Suasana pun berubah gempar. Tubuh lelaki berusia 68 tahun itu segera dibawa mobil panitia menuju rumah sakit terdekat—yang di sana kemudian dia mengira telah mati dan bertemu bidadari.
Sudah hampir dua bulan ini Badra memang ingin mati. Tetapi, bukan kematian biasa. Dia ingin mati di atas pentas, saat membaca puisi. Dia juga sudah meminta kepada Tuhan, di dalam doa-doanya, agar dimatikan ketika tengah menjalankan ritual yang telah dilakoninya lebih dari separuh hidupnya.
Keinginan itu tepatnya disampaikan saat dia mendapatkan hadiah kehormatan atas pengabdiannya kepada puisi oleh pemerintah ibu kota. Di atas podium, di dalam pidatonya yang cukup pendek, namun mendapatkan aplaus panjang dari para hadirin, yang tidak saja dari kalangan penyair, seniman, tetapi juga para pejabat pemerintahan, dia menyampaikan amanat kematiannya.
”… Bila John F Kennedy mengatakan, ’Jika politik itu kotor, maka puisilah yang membersihkannya’, aku justru ingin mengatakan, ’Jika di dunia ini tidak ada puisi, maka sebaiknya aku mati’. Aku telah mengabdikan diri kepada puisi berpuluh-puluh tahun, mungkin lebih setengah abad, hingga memutih kumis, jenggot, dan rambutku. Telah juga kuraih banyak prestasi lewat puisi, hingga yang kuraih kini yang kuanggap penghargaan tertinggi bagiku dan bagi puisi. Lalu aku pun berpikir, rasanya sudah tak ada lagi yang kuharapkan dari dunia ini, selain sebuah kematian bersama puisi. Aku ingin mati di saat membacakan puisi, mungkin di atas pentas ini nanti. Sebab aku sendiri adalah puisi. Jiwa, tubuh, dan pikiranku telah menjadi puisi.”
Lalu, dia pun membacakan puisinya yang juga bertema kematian. Penampilan Badra memang selalu memukau. Tidak saja gaya pembacaannya, tapi keseluruhan dirinya yang bagai puisi itu sendiri. Rambut putih panjangnya hingga menyentuh pundak yang kadang berkibar-kibar, pahatan wajahnya yang tegas—juga kerutan-kerutan ketuaannya, dan liukan liat tubuhnya yang agak kurus tinggi, seolah puisi yang hidup. Puisi yang mewujud.
Sejak itu, dia hampir tidak pernah melewatkan acara pembacaan puisi. Tidak saja di ibu kota tempat dia tinggal seorang diri—tanpa anak bini serta sanak keluarga, tapi juga ke daerah-daerah yang mengundang dirinya. Puisi yang dia baca selalu bertema kematian. Dan peristiwa dia ambruk di atas pentas kemarin malam adalah untuk yang kali ketiga. Tapi, dia tidak mati. Karena itu juga, setiap mendapati dirinya masih hidup, dia merasa kecewa.
”Mengapa tidak biarkan saja aku mati di atas pentas pembacaan puisi itu?” katanya suatu ketika kepada Darmo, sahabatnya yang seorang kritikus sastra.
”Memangnya kamu serius ingin mati?” tanya Darmo heran.
”Seperti puisi, aku tidak sedang bercanda. Aku serius ingin mati saat membaca puisi,” sergahnya.
”Tidak usah kau minta pun, kau juga pasti mati. Mungkin juga sebentar lagi,” ujar Darmo agak bercanda. Seumur-umur berkawan dengan Badra, memang baru kali ini Darmo mendapati sikap aneh sahabatnya itu.
”Aku tahu, Darmo, aku pasti akan mati,” seru Badra kesal. ”Tapi, aku meminta kematian yang khusus. Kematian yang puitis.”
”Tidak ada kematian yang puitis, Badra. Mati ya mati. Paling-paling yang ada juga kematian yang tragis.”
”Sialan sekali, kau Darmo. Kau bisanya hanya membedah-bedah puisi, tapi tidak bisa membedah jiwa penyair.”
Darmo tertawa. Badra kecewa. Penyair itu merasa sahabatnya sudah tumpul analisisnya terhadap jiwa penyair. Terhadap dirinya. Terhadap puisi dalam keinginannya mati.
”Apakah permintaanku itu terlalu berlebihan, Darmo?” tanyanya.
”Bukan berlebihan. Tapi aneh!”
”Kau sama sekali tidak menghormati keinginanku, Darmo…”
”Aku menghormatimu, Badra. Seperti juga aku selalu menghormati puisi-puisimu, dan jalan puisi sebagai jalan hidup yang kau pilih.”
”Jika begitu, semestinya kau pun menghormati jalan kematian puitis yang kupilih.”
Kali ini Darmo terdiam. Dia sudah tidak ingin mendebat sahabatnya itu lagi. Mungkin inilah, seperti sering terjadi kepada orang-orang yang akan mati, keanehan sebagai tanda Badra memang tidak lama lagi akan menemui kematiannya, pikir Darmo.
Hidup sendiri di kamar kos pinjaman dari seorang teman yang setengah pebisnis setengah seniman, kehidupan Badra sangatlah sederhana. Kamarnya hanya berisi sebuah kasur lepek, satu kursi busa yang sudah usang beserta meja—juga pemberian temannya, satu kompor gas yang sangat jarang dinyalakan, kecuali memasak air panas untuk membuat kopi, gelas-gelas dan beberapa piring, satu komputer tua—kalau ini dia beli sendiri dari uang hadiah ketika memenangkan lomba pembacaan puisi berpuluh tahun lalu—yang hanya digunakannya untuk mengetik puisi-puisinya, selebihnya buku-buku di satu rak cukup besar yang menempel di dinding. Tidak ada lemari pakaian karena dia merasa tidak membutuhkannya. Pakaiannya terlalu sedikit untuk disimpan di dalam sebuah lemari.
Makannya tidak terlalu banyak. Bisa dibilang dia tidak terlalu doyan makan. Sekalipun makanan enak, porsinya tetap standar. Itu sudah terlihat jelas dari ukuran tubuhnya yang tidak pernah melar sejak muda dulu.
Untuk transportasi, Badra hanya menggunakan angkutan kota. Jadi, dia sudah mengalami hampir semua perubahan tarif naik angkot. Tidak banyak pekerjaan yang dilakukannya, selain menulis puisi-puisi dan memenuhi undangan pembacaan puisi. Makan, rokok, dan kopinya dari honor puisi yang dimuat koran-koran setempat. Honor yang tak seberapa. Terkadang, karena dia berteman dengan semua redaktur koran di kota itu, dia meminta honor terlebih dulu sebelum puisinya diterbitkan. Untungnya, para redaktur koran yang memahami kehidupan para seniman, setidaknya kehidupan Badra, tidak pernah merasa keberatan untuk membayarkan honor di depan walau itu dari uang mereka sendiri. Bahkan para redaktur itu pun telah menjadwalkan penerbitan puisi Badra setiap bulannya, agar penyair tua itu tetap bisa makan.
Hidupnya terlalu sederhana memang. Apalah hidup di dunia ini, hanya bagai sebuah puisi yang sebentar telah habis dibaca, begitu dia pernah berucap. Tidak ada sesuatu atau siapa pun yang membuat Badra merasa iri dalam hidupnya. Hanya kepada penyair Chairil Anwar dia pernah cemburu.
”Chairil beruntung mati muda. Karena selamanya orang-orang akan tetap menganggapnya sebagai penyair muda walau telah terkubur beratus bahkan beribu tahun kelak,” ucapnya kepada Darmo kali ketika.
”Jadi, dulu kamu juga pernah berharap mati muda?” tanya Darmo.
”Ah, tidak juga. Hanya saja sekarang aku merasa lebih siap untuk mati, di usiaku sekarang ini. Dan itu adalah kematian yang puitis, seperti halnya juga kematian yang dialami Chairil,” ucapnya.
Bila tidak sedang di kamar kos, dan tidak ada acara sastra, Badra sering pergi ke pelabuhan tua dekat laut di kota itu. Biasanya sore atau malam-malam. Semua temannya juga tahu. Di sana dia hanya duduk memandangi sungai yang mengalir membelah kota, kapal-kapal yang tambat, juga elang, dan menikmati embusan angin yang datang dari arah laut. Saat-saat seperti itulah puisi-puisi menghampirinya yang kemudian dituangkannya ke dalam buku catatannya yang selalu dibawa di dalam tas kain pundaknya yang sudah lecek.
Perkara kesehatan, Badra merasa sehat-sehat saja. Kecuali batuk-batuk atau masuk angin yang sesekali datang. Dia jarang sakit kepala, juga sudah lupa kapan terakhir sakit gigi karena gigi-giginya sebagian besar memang sudah habis, termasuk gigi bagian depan. Mungkin saja dia mengidap kanker paru-paru atau penyakit dalam lainnya, hanya saja tidak diketahui lantaran tidak pernah periksa kesehatan secara menyeluruh. Tepatnya, dia takut mengetahui ada penyakit gawat di dalam tubuhnya.
Dia sudah lama meninggalkan minum minuman keras, seingatnya itu menjelang usianya yang ke-40 tahun. Hanya merokok yang tidak bisa dihentikannya sejak remaja. Merokoknya keras. Ngopinya juga kuat.Merokok sudah dianggapnya sebagai obat stres menghadapi keruwetan hidup. Sementara kopi, menurutnya, sudah ditakdirkan sebagai teman setia rokok.
Andai kematian yang dia minta datang tiba-tiba—dan ini yang selalu diharapkannya, itu pastilah serangan jantung. Tempat dan waktu yang sangat diharapkannya serangan itu datang, tidak lain adalah saat membaca puisi di atas panggung. Yang akhir-akhir ini sangat dinantikannya. Dirindukannya. Karena dia sudah siap menyambut kematian yang puitis itu.
Kematian yang diminta akhirnya datang juga. Tetapi tidak saat membacakan puisi.
Badra ditemukan telah menjadi mayat setelah tiga hari menghilang dan mengundang tanya kawan-kawannya. Sang penyair tua tenggelam di bawah pelabuhan dekat laut tempat biasa dia menyepi.
Para penyair di kota itu berduka.
Dan Darmo, pada acara pembacaan puisi mengenang kematian sahabatnya itu pun bersaksi, ”Sungguh kematianmu puitis, Badra. Melebihi kematian yang kau minta kepada Tuhanmu. Mungkin laut, seperti kau pernah mencemburui Chairil, juga telah mencemburui hidupmu yang puitis. Laut pun ingin merasakan puisi. Merengkuhmu. Menelanmu. Hidupmu puisi, matimu puisi.”

Sandi Firly. Lahir di Kuala Pembuang, Seruyan, Kalimantan Tengah, dan menetap di banjarbaru, Kalimantan Selatan. Bekerja sebagai wartawan. Menulis cerpen dan novel. Cerpennya “Perempuan balian” termuat dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2012. Novel terbarunya Catatan Ayah tentang Cintanya kepada Ibu (2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sandi Firly
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 4 Oktober 2015