Kematian Raja Pelit

Karya . Dikliping tanggal 2 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Halaman rumah Ali Sapono tidak pernah seramai itu sejak bertahun-tahun lalu. Pada siang cukup gersang itu, warga desa berbondong-bondong untuk melihat betapa si raja pelit, lelaki sebatang kara yang konon tidak pernah menikah seumur hidup, itu telah mati gantung diri.

Kabar yang nyaris terdengar bagai dongeng belaka itu memang diragukan. Orang-orang tidak percaya Ali Sapono mati begitu saja dengan gantung diri. Sejauh mereka tahu, orang-orang pelit akan bertahan di muka bumi tanpa ingin cepat mati. Bukankah itu tujuan menjadi pelit? Agar tidak cepat mati.

Sebagian orang percaya, karena yang membawa kabar itu sosok yang cukup disegani dan tidak suka bohong: Mudakir, sang ahli ibadah.

Pada mulanya seorang perempuan bermaksud ke rumah Ali Sapono untuk bertamu. Perempuan itu datang dari jauh. Dari sebuah kota di balik pegunungan yang hanya bisa dilihat jika siapa pun berdiri di titik tertinggi desa ini, di suatu bukit, yang berdiri kukuh di bagian paling utara desa. Titik terjauh itu cukup menggambarkan si tamu benar-benar datang dari tempat jauh.

Si tamu tidak mendapat bantuan dari orangorang yang mengenal tabiat Ali Sapono, untuk mengantar ke rumah dia. Mereka malah enggan untuk sekadar memberi arahan ke mana si tamu harus berjalan, karena tata letak jalanan di desa ini hampir-hampir menyerupai labirin. Siapa pun yang tidak akrab bisa tersesat dan butuh petunjuk dari warga sekitar.

Warga yang menolak memberi tahu si tamu itu bukan berbuat tanpa alasan. Si raja pelit terkenal kaya dan tidak sedikit para bajingan yang hendak membobol rumahnya kudu pulang dengan membawa sial. Si raja pelit gemar membentengi diri dengan cara berlebihan. Parahnya, dia tidak pandang bulu.

Suatu kali seorang bocah memanjat pagarnya hanya demi layang-layang, dan bocah itu ditembak Ali Sapono di bagian betis. Kejadian lain bahkan tidak kalah mengerikan, yakni saat Ali Sapono masih memelihara anjing galak dan ketika itu seorang tukang pos mengetuk pintu gerbang rumahnya. Tahu-tahu beberapa ekor anjing melompat keluar dari lubang kecil di dekat semak belukar, dan mengejar tukang pos itu sampai dapat.

Kepelitan membuat orang-orang gila. Kepelitan melahirkan kegilaan di kepala Ali Sapono. Demikian yang orang-orang desa yakini. Bahkan, bukan hanya penjahat yang ingin membobol rumahnya saja yang kena; yang tidak bermaksud menyenggol harta bendanya pun ketiban sial.

Hanya, di desa itu, tidak semua orang berpikiran demikian. Mereka membenci Ali Sapono karena kepelitan dan kegilaannya, tetapi tidak dengan ahli ibadah itu. Mudakir tidak pernah ada urusan dengan raja pelit, tapi saat ada perempuan dari luar kota ingin bertamu ke rumah pria kaya raya itu, dia dengan senang hati mengantar.

Mudakir mengantar si tamu tepat hingga ke depan gerbang rumah Ali Sapono yang megah dan setinggi nyaris sepuluh meter, dengan kawat dan segala tetek-bengek pengamanan begitu mencolok dengan rumah-rumah kecil di sekitarnya. Tentu, dahulu, rumah-rumah kecil itu masih dihuni pemiliknya. Namun sejak kedatangan Ali Sapono, rumah-rumah itu jadi kosong karena dia beli demi rasa aman.

Suatu kali orang pelit itu pernah berkata, “Lebih baik saya tinggal sendirian dalam radius setengah kilo daripada harus tinggal dekat dengan orang-orang yang bermaksud mencolong duit saya!”

Alhasil, rumah Ali Sapono bagai istana di tengah hutan. Rumah-rumah kecil tidak berpenghuni itu bagaikan rimbun pepohonan yang dihuni hantu-hantu karena tak sekali pun si raja pelit terpikir merawat mereka. Sebuah lubang khusus terlihat persis di dekat tombol bel di gerbang depan; lubang yang tersedia bagi siapa pun yang berniat mengantar barang untuk Ali Sapono. Lubang itu dibuat usai kejadian tergigitnya tukang pos itu dan mengamuknya warga lantaran sikap berlebihan seorang yang terlalu mencintai hartabenda.

Karena keberadaan tombol bel yang dekat dengan lubang itulah, ketika hendak memencet, Mudakir menyadari beberapa benda kiriman tergeletak begitu saja di tanah saking tidak muat lubang berupa saluran panjang itu demi menampung seluruh barang kiriman dari pos dan para kurir.

“Berapa lamakah seseorang mengambil kiriman untuknya dari kotak pos pribadi? Berapa lama sampai jadi sebanyak ini?” batin Mudakir. Ia memencet tombol bel.

Tak seperti rumor yang selama ini kerap disebar; tak ada suara senjata terkokang dari dalam sana. Mudakir masih keheranan atas situasi yang ganjil itu. Tamu yang berdiri di dekatnya gelisah. Mendadak saja perempuan itu meminta mereka membuka paksa gerbang rumah Ali Sapono.

“Saya bukan maling. Kita bukan maling. Kita tunggu sampai pemilik rumah keluar,” tukas Mudakir.

“Saya tidak yakin itu bakal terjadi.”

Dari sinilah identitas perempuan misterius itu terkuak. Ternyata, si raja pelit tidak benar-benar sebatang kara di dunia. Dahulu dia pernah menikah dan tentu memiliki beberapa anak. Sebagian besar anaknya meninggal, lantaran ia terlalu pelit mengurus mereka. Sebagian bertahan. Dua anak yang bertahan itu salah satunya minggat ke Eropa dan tidak sudi kembali, karena muak dengan masa lalu dan muak dengan kenyataan soal dari benih manusia jenis apa dia bisa muncul ke muka bumi ini. Satu anak lagi kini berdiri tepat di depan rumah ayahnya.

Mudakir mendengar penjelasan wanita itu sambil terbengong-bengong. Mereka tidak sadar telah duduk begitu lama di depan gerbang itu demi pengakuan dari seorang anak yang ingin menemui ayahnya sebelum ajal datang menjemput. Bagaimana si perempuan itu tahu betapa Ali Sapono akan mati dalam waktu dekat adalah dari satu telepon yang mengganggunya pada suatu siang bolong. Dalam telepon itu, lelaki yang lama tidak bertegur sapa dengan anaknya itu mengakui dia tidak tahan hidup begini. Dia tidak tahan dikucilkan, tetapi sekaligus tidak tahan membiarkan orang-orang berkeliaran seenak mungkin di dekat hartanya.

Suatu malam, Ali Sapono bermimpi kehilangan seluruh harta-bendanya dan jatuh miskin dan hidup telantar di kota-kota. Dia tidak sudi mati dengan kondisi begitu, tapi yakin betapa mimpi itu akan jadi nyata. Untuk itu, Ali Sapono tahu, waktu kematian yang tepat adalah saat masih benar-benar bisa melihat hartanya berada dalam pelukan. Tentu anaknya itu tahu: dia harus pulang untuk memastikan ayahnya baik-baik saja.

Setelah sekian kali bel dipencet dan tidak ada reaksi apa pun dari dalam sana, dua orang itu sepakat memanjat pagar rumah megah itu. Ada bagian yang tidak sarat jebakan di sisi yang berbatasan dengan sebuah pohon. Keduanya memanjat ke pohon itu, lalu dengan mudah berpindah ke bagian atas pagar dan turun ke sisi lain, tepat di halaman samping rumah Ali Sapono. Dari situ aroma tidak sedap terendus dan keduanya lari pontang-panting tanpa kata-kata mengikuti sumber bau, dan di sanalah Ali Sapono ditemukan; tergantung begitu saja dengan tubuh membusuk. Tergantung persis di bawah jendela kamarnya yang indah.

Sejak bertahun-tahun lalu, seluruh bagian rumah itu sepi dan hanya dihuni Ali Sapono. Siang itu, orang-orang berbondong mengikuti para polisi dan petugas forensik yang datang untuk mengurus jasad sang lelaki pelit. Orang-orang bukan tertarik ke soal bagaimana kondisi jasad si raja pelit saat ini, melainkan justru terpaku menatap betapa indah rumah yang dikurung benteng raksasa itu. Betapa sia-sia setiap jengkal dari rumah itu, karena tak seorang pun boleh menikmati, meski sekadar melihat.

Sampai sore, rumah Ali Sapono tidak henti disambangi orang-orang dari seluruh penjuru desa, dan mereka kini terpuaskan oleh rasa penasaran bertahun-tahun tentang bagaimana menjadi orang sekaya itu. Mereka kini dapat duduk di sofa, di meja makan, berbaring di kamar-kamar, dan bahkan memakai WC duduk Ali Sapono yang dibuat dengan biaya mahal. Mereka juga bisa makan dari kulkas dan meja makan si raja pelit. Mereka bisa duduk-duduk santai dan menonton televisi bagaikan menonton layar tancap saja. Mereka dapat merasakan apa pun yang dulu hanya dirasakan Ali Sapono.

“Sayang sekali ya,” celetuk seseorang kepada seorang lain di depan televisi.

“Kenapa?”

“Sayang sekali.

Ali Sapono hidup dengan kondisi senikmat ini, tapi tidak pernah benarbenar menikmati hidupnya.”

“Memang,” sahut orang ketiga yang tahutahu datang membawa satu stoples berisi keripik keju. “Sepatutnya kita bersyukur hidup miskin, tidak kaya seperti tetangga pelit ini, kalau sepanjang hidup hanya dia habiskan untuk menjaga harta-bendanya.”

Tentu obrolan semacam itu terjadi di banyak titik di rumah itu, kecuali di satu titik tempat perempuan yang bertamu dari tempat jauh tadi menangis tersedu-sedu dan ditemani Mudakir serta seorang polisi yang tidak bisa berkata apa pun tentang kematian Ali Sapono. (28)

Gempol, 22 Maret 2019

Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).


[1] Disalin dari karya Ken Hanggara
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 31 Maret 2019.