Kembali ke Bumi – Jalan Persimpangan – Menunggu Waktu – Cermin Matahari 

Karya . Dikliping tanggal 30 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat

Kembali ke Bumi

Dzikir air mengalir
membasahi ladang dan sawah
menuju tempat paling akhir
tanpa keluh dan kesah

Rumput-rumput yang dibakar
tumbuh kembali bersama akar
sembunyi di bawah tanah

Orang-orang mencari jalan
menuliskan sejarah dan kesaksian

# hujan abu di musim semi

Nenek moyang dibangkitkan
sebagai zombi yang menakutkan

Pohon-pohon yang ditebang
menebarkan biji pada setiap inci
sampai rimbun di hari nanti

Dzikir air sepanjang sungai
melebur inti segala peristiwa
menuju muara paling abadi
tanpa luka dan airmata

[2018]

Jalan Persimpangan

Di tengah jalan simpang lima
orang-orang kepala batu saling memaki

Suara klakson memekak telinga
sampai berpinak dalam dada
menjelma rasa benci

Kata-kata menyembur ke udara
bagai kembang api di malam hari
mengetuk pintu-pintu langit
yang telah dikunci

Roda-roda sejarah berhenti tanpa ingatan
tanpa jejak dan langkah kaki
para pendobrak di masa silam
mengayuh bumi kehidupan
demi kini dan hari depan

(( gugur manusia di jalan persimpangan ))

[2018]

Menunggu Waktu

Seperti gawai yang rusak
kata-kata disingkirkan ke tepi jalan
orang duka berarak-arak. Menangis tanpa luka
tanpa airmata, menunggu waktu berseru
alif-lam-mim berpijar di kening sebutir debu
Dalam facebook dan twitter
tangan-tangan menyalakan dendam
tanpa minyak tanpa api. Panji-panji terbakar
di dinding kamar, menghanguskan segala
mimpi

Batu-batuapi berkilat
di dahi para pembangkang
dan pengkhianat. Adu domba sepanjang hari

Desa dan kota kehilangan peta
dihantam badai berulangkali

Wajah-wajah ganti rupa memasuki ruang
istana!

[2018]

Cermin Matahari

Sebentuk tubuh yang dingin
duduk terpaku dalam satu cermin
memandangi kepompong
dengan tatapan kosong

Ulat-ulat menggelembung
memberi tahu asal kejadian
nganga luka di badannya
tanpa darah berceceran
seperti buah dan biji-biji
meninggalkan pohon
tegak berdiri di bumi
sampai bertahun-tahun

Daun-daun jatuh ke tanah
mencari tetesan embun
lebih abadi dari matahari

(( sembunyi diri di hutan baka ))

Sebentuk tubuh yang dingin
duduk terpaku dalam dua cermin
memandangi bayangan sunyi
dengan tatapan mata hati

Batu-batu saling beradu
memercikkan kilatan api
pada setiap sumpah dan janji
yang ditinggalkan orang
dalam rumahnya sendiri

Jubah-jubah dan pakaian
menjelma kain putih
berkibar sepanjang jalan
(( kemana tubuh dan jiwa mengaduh ))

Boneka[2018]

[1] Disalin dari karya Hamdy Salad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 29 Juli 2018