Kenakalan Remaja Manusia

Karya . Dikliping tanggal 8 September 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
BAYANGAN gempal dari depan jatuh pada buku tulisku. Aku ketahuan!

“Coba lihat buku catatan kamu!” kata Pak Firdaus.
Kucengkeram buku itu erat-erat, sampai ia harus mencukilnya dari jemariku. Pak Firdaus tidak peduli akan mata-mata yang memandang penasaran ke arah kita. Dibalik-baliknya tiap halaman—berisi puisi-puisi yang sudah kugarap masih SD. “Kamu tahu sekarang lagi pelajaran Ekonomi?”
Dengan jarinya ia menyuruhku mengikutinya ke muka kelas. “Bawa tas kamu!”
Ia duduk di meja guru. Perut buncitnya menyembul di kolong dan kacamatanya jaduh ke hidung sementara ia menumpahkan isi tasku ke atas meja.
“Pak, itu kan barang-barang pribadi saya!”
Sebungkus pembalut berguling ke lantai. Pecahlah tawa seisi kelas.
Segara kusambar barang itu, sementara Pak Firdaus beranjak menuju wastafel di sisi papan tulis. Diputarnya keran dan diguyurnya hingga kuyup buku kesayanganku itu.
Di rumah aku langsung lapor. “Enggak pantas kan, Ma, guru ngorek-ngorek barang pribadi orang? Itu kan beri contoh yang buruk, Ma.” Di ubin kamar tidur Mama terbentang halaman-halaman lepek yang berdarah tinta hitam dan biru. Sudah setengah jam aku berusaha menyelamatkan mereka dengan pengering rambut Mama.
“Mungkin dia pikir kamu nyimpan rokok atau obat,” kata Mama.
“Tapi kan nggak harus dikeluarin semuanya di depan kelas, Ma. Itu kan bikin malu!”
“Udah ah, turuti aja maunya. Jangan pikir bagaimanya gurunya, serap ilmunya.”
Makanya sejak itu aku hanya mengadu pada Revo. Ia bilang, “Setan itu guru!”
Esoknya, motor Pak Firdaus dipreteli—hingga ke suku cadangnya.
DEMI menjauhkanku dari godaan setan, tawuran, dan kenakalan remaja lainnya, dua tahun lalu orangtuaku melumerkan tabungan mereka untuk menyelundupkanku ke sebuah sekolah swasta Islam di Tangerang. Mereka cemas melihat berita-berita tentang “geng” anak-anak SMA baku hantam di jalan raya, saling melempar batu, dan memecahkan kaca mobil-mobil, “preman-preman dini” menjarah bus dengan cutter atau pisau lipat; perempuan-perempuan ABG memamerkan paha di mal-mal mewah demi uang, cari pengalaman, atau sekadar senang-senang.
Pada awalnya aku menentang, mengambek, dan menangis. Aku membayangkan mesti tinggal di asrama yang lembap dan gelap, tidur bersesakan dengan lusinan anak perempuan dari kampung, mengaji seharian hingga suara jadi serak, dan memakai kerudung setiap hari. Aku ingin meneruskan ke SMP yang sama dengan kedua sahabatku.
UN berlangsung di bawah pengawasan guru-guru dari SD lain, barangkali pengaturannya begitu supaya guru-guru tidak sengaja mendongkrak nilai anak-anak didik agar sekolah mereka tetap jadi unggulan dan mendapat dana yang sehat dari pemerintah. Tapi guru-guru ternyata lebih lihai. Baru setengah jam kami menggarap ujian mata pelajaran pertama, teman sebangkuku menggulirkan segumpal kertas ke arahku. Karena tak ingin kena masalah, lekas-lekas kutepis kertas itu.
“Eh, ini dari Bu Guru, tahu?” bisik teman sebangkuku itu. Benar saja, ternyata memang guru pengawas yang menuliskan contekan itu, ia kemudian meminta kami mengedarkannya. Jika masih ada yang belum jelas, kami tinggal angkat tangan dan guru pengawas akan memberitahu jawabannya. Aku hanya bisa menerka guru-guru kami pun melakukan hal serupa di sekolah tempat mereka menjadi pengawas. Sepanjang minggu bola-bola kertas contekan berlompatan dari satu sudut kelas ke sudut kelas lain, seperti bakso di penggorengan.
Pada penghujung hari pertama ujian, Bu Kepala Sekolah menjulurkan kepalanya yang berkacamata tebal ke kelas kami dan berkata, “Kalian nggak usah bilang-bilang ya sama orangtua kalau guru-gurunya baik!”
Tapi tentu saja aku bilang.
Kata Mama: “Ya, enggak apa-apa, kan? Kalau kamu dapat nilai bagus, kamu juga yang untung.”
“Kalau begitu aku main aja ya, Ma? Buat apa belajar?”
“Jangan! Kamu tetap belajar, jadi ilmu dapat, nilai juga dapat.”
Setelah itu aku setuju dimasukkan ke sekolah Islam.
Kenakalan Remaja Manusia
SUAKAKU bangunan U tiga tingkat yang memeluk pelataran semen tempat tiang bendera ditancapkan, di hadapannya terbentang lapangan olahraga. Visa masuknya berupa nilai minimal 7 pada ujian penerimaan, uang pangkal dua puluh juta rupiah, dan iuran bulanan tujuh ratus lima puluh ribu rupiah; sebagai gantinya sekolah menawarkan fasilitas belajar lengkap dengan macam-macam lab, perpustakaan, kamar mandi yang lega dan bersih, guru-guru yang bergelar minimal S1, serta ruang-ruang kelas ber-AC. Napas keislaman ditiupkan dalam bentuk muatan tambahan berupa mata pelajaran Sejarah Islam, Studi Alquran, dan Bahasa Arab; tiap Jumat kami diwajibkan mengenakan baju muslim, lengkap dengan jilbab untuk siswi (tapi guru-guru perempuan mesti berjilbab setiap hari).
Di belakang gedung sekolah ada kebun kosong yang ditunggui sebatang pohon pepaya. Anak-anak yang terlambat sering memanjat pagar seng yang membatasi halaman belakang sekolah dengan kebun kosong itu. Harus begitu, sebab gerbang sekolah ditutup tepat pukul delapan, setelahnya hanya bisa masuk seizin satpam dan guru jaga. Satu, dua kali terlambat, siswa masih dibolehkan masuk setelah bayar lima ribu rupiah dan melafalkan beberapa ayat Alquran. Setelah tiga kali terlambat, siswa tersebut bakal dipulangkan. Setelah tiga kali dipulangkan, siswa tersebut bakal diskors. Namun, karena jendela-jendela kelas tidak berjeruji, anak-anak yang terlambat bisa menyelinap masuk ketika guru lengah.
Anak-anak di kelas kami cukup solider, apalagi kalau dikoordinasi oleh Kardus (ditulis C4r-dö35h), geng yang paling disegani di sekolah, dan karena kebanyakan guru tak lebih baik daripada Pak Firdaus.
Pak Haris gemar mengata-ngatai siswa “bangsat”, “cecunguk”, bahkan “anjing”. Bu Rahayu yang perawan tua senang membelai anak-anak cowok yang ganteng. Pernah sekali dia mencoba memeluk Eris, wakil ketua Kardus, tapi ia langsung kena hardik, dan setelah itu ia tidak berani lagi. Pak Bimo guru olahraga, lebih sering kita panggil Bemo atau Bi-Je, sebab tiap giliran mereka berpraktik—menyervis bola voli, menendang bola ke gawang—dia justru membuang muka, lalu asal memberi mereka nilai 5, sekalipun servis atau tendangan mereka sempurna. Suatu kali, saat pelajaran basket, bola yang berat itu menghantam kepalanya hingga ia tersungkur. Tak ada yang mengaku atau mengadukan siapa yang melempar bola itu.
Ketua Kardus, Revo, berkulit gosong dan berambut keriting cepak, dengan sepasang jambang runcing dan lengan yang begitu berotot hingga ia sering pamer push up dengan satu lengan di depan kelas. Dalam band ia main gitar dan jadi penyanyi utama.
Sudah lama aku tertarik padanya, mungkin karena kupikir dia paling seksi di seantero sekolah, dan aku yakin ia mampu menghajar hingga babak-belur siapa saja yang berani menggangguku. Karena cowok sekeren dia tak pernah melirik cewek se-kuper aku, hanya dari jauh aku mengaguminya, datang ke tiap pentas seni tempat Kardus manggung, dan diam-diam memfotonya dengan lensa zoom. Makanya, waktu Revo menghampiriku saat pelajaran Fisika, tiga minggu sebelum buku puisiku direndam Pak Firdaus, seuntai petasan meledak dalam dadaku.
Bu Aliya tengah berusaha keras menarik perhatian kami, minggu lalu dengan teka-teki silang, dan sekarang dengan mengadakan kuis seperti di televisi. Tetapi sama saja, tidak ada yang memedulikan, kecuali lima kutu buku yang duduk di baris depan. Aku sebenarnya bersimpati kepada Bu Aliya, sebab meskipun ia sangat membosankan dan bersuara parau seperti gagak, dia bukannya tidak berusaha. Bayangkan hina yang ditahankannya ketika menggambar teka-teki silang di papan tulis sementara Eris dan Revo di balik punggungnya dengan berisik menggeser meja dan kursi supaya dapat tempat untuk main gitar di belakang kelas. Karena itu aku diam-diam memperhatikan.
Aku tengah mencari rumus menghitung gaya gravitasi sebuah planet ketika tiba-tiba Revo sudah berdiri di hadapanku.
“Katanya lu nulis puisi, ya?”
Aku merasa malu setegah mati. “Eh, iya.”
“Boleh lihat enggak?”
“Apa?”
“Kardus mau ikut perlombaan band se-Jakarta bulan depan, tapi persyaratannya harus punya lagu-lagu orisinil. Barangkali syairnya bisa pakai puisi lu.”
“Oh.” Aku pura-pura mempertimbangkannya. “Boleh aja.”
“Katanya lu udah punya satu buku.”
“Kata siapa?”
“Ada apa nggak?”
“Ada.”
“Ada sekarang?”
“Wah, kalau sekarang enggak.”
“Besok bawa ya.”
“Oke.”
Itulah awalnya aku menjadi penulis lirik lagu-lagu Kardus.
SELAMA ini yang menganggap tulisan-tulisanku bagus hanya Pak Iwan. Ia guru bahasa Indonesia, dan bukannya mengulang-ulang teori paragraf deduktif dan majas metonimia, ia menugaskan kami membaca dan menulis. “Cari dua buku sastra Indonesia klasik mana saja, lalu tulis laporan mencakup plot, karakter, latar, sudut pandang, dan moral.” Setelah laporan kami kumpulkan, Pak Iwan bercerita ia nyaris dipecat karena lancang menugaskan siswa membaca “buku dewasa”. Ia menorehkan “Hebat!” di akhir tiap tulisan yang kukumpulkan, dan mengusulkan aku menulis untuk mading dan Warta Sekolah.
Aku sedih banyak anak mengatainya bencong hanya karena Pak Iwan sering memakai maskara dan menyisir rambut dengan jeli. Barangkali juga karena jalannya agak melenggang dan ia sudah 36 tahun dan belum menikah. Saat aku kelas 8, ia mulai menyebut-nyebut telah punya “adik ketemu gede”, dan setelah ia membagikan undangan pernikahan kukira anak-anak bakal berhenti mengatainya bencong. Namun, setelah kami naik kelas 9, bukannya ia mengilhami kami untuk meneriakkan luapan barbar kami dari atap-atap dunia; ia jadi gemar menghantam siswa—awalnya dengan tangan terbuka, lalu dengan buku; kemudian, seminggu setelah Revo menghampiriku, ia menghantam dengan sepatu siswa yang dipergokinya membolos salat Jumat.
Revo bersimpati kepada anak yang dihantam, maka Senin berikutnya ia mencanangkan Gerakan Tutup Mulut di kelas: siapa saja yang berani memperhatikan pelajaran Pak Iwan, apalagi menjawab atau mengajukan pertanyaan, bakal berurusan dengan Kardus.
Tak sampai sepuluh menit setelah bel tanda masuk berbunyi, Pak Iwan sadar ada yang tak beres. Semua menunduk seolah ketakutan.
“Kenapa kalian semua menunduk begitu?”
Tak ada jawaban.
“Bapak mengerti kalian marah. Bapak memukul teman kalian. Yang Bapak lakukan itu memang berlebihan, tetapi wajib,” katanya. “Supaya kalian bisa lihat apa yang bakal terjadi kalau kalian berlaku serupa. Hati Bapak sakit menempeleng teman kalian seperti itu, tetapi dia memang harus dikorbankan. Sebagai tumbal! Sebagai contoh buat kalian pembangkang!”
Pak Iwan mencoba meneruskan pelajaran, namun tetap tak ada yang mengangkat wajah. Lambat-laun suaranya semakin serak dan bercampur sesenggukan. Ia akhirnya lari menyumpah-nyumpah ke ruang kelas.
“Mewek deh dia di kamar mandi,” celetik Revo yang sekarang duduk di sebelah kiriku, di baris belakang. “Lihat enggak lu? Maskaranya luntur semua.”
Anak-anak justru semakin curiga Pak Iwan sungguh-sungguh bencong, dan karena itu ia butuh mebuktikan kejantanannya; tapi ia tak berani dengan pria dewasa, maka ia menyasar anak-anak.
KEESOKAN harinya, begitu bel istirahat pertama berbunyi Revo melesat dari kursinya dan menghalangi pintu. Ia meminta anak-anak tinggal di dalam kelas untuk merundingkan tuntutan-tuntutan yang akan ia ajukan kepada Pak Iwan. Anak-anak mengeluh dan memutar mata, tapi segera menurut karena ingin cepat keluar.
Pada akhir diskusi Revo menuliskan hasilnya di papan tulis, disambut tepuk tangan teman-teman:
TRITUWA (TIGA TUNTUTAN SISWA)
1. Guru tidak akan menggunakan hukuman badan terhadap siswa, di dalam maupun di luar kelas;
2. Guru tidak akan menggunakan kata-kata kasar atau nama-nama binatang ketika mengkritik siswa, seperti “babi”, “bangsat”, atau “anjing”;
3. Guru tidak akan langsung mengadu kepada orangtua siswa tanpa sebelumnya membicarakan permasalahan siswa dengan siswa itu sendiri.
Bel berbunyi lagi. Pak Iwan mengintip di ambang pintu. Matanya mengamati kami dengan curiga.
Revo berdiri dan mengumumkan siap mengakhiri GTM dengan syarat Pak Iwan mengabulkan Trituwa. “Begini, Pak, kita-kita juga mau belajar. Jadi kalau Bapak masih mau mengajar di kelas ini, kita harus menyetujui beberapa persyaratan dari satu sama lain.”
Pak Iwan mengamati Trituwa sejenak, lalu menghela napas. “Bukan begini caranya. Ada OSIS yang bisa menyalurkan aspirasi.”
“OSIS kan di bawah bimbingan Bapak juga,” kata Revo, lalu melirik Puspa, ketua OSIS, yang gemetaran di sudut kanan depan.
“Kalau kalian tidak percaya OSIS, sampaikan keluhan kalian kepada orangtua, mereka akan menyalurkan kepada sekolah.”
“Enggak bisa. Orangtua selalu berpihak kepada guru.”
Akhirnya Pak Iwan tak sanggup menentang keras-kepalanya Revo yang diamplifikasi oleh sorak-sorai teman-teman sekelas. Untunglah, sebelum kelas usai kami berhasil mencapai kesepakatan:
  1. Guru tidak akan menggunakan hukuman fisik terhadap siswa, di dalam maupun di luar kelas;
  2. Guru tidak akan menggunakan kata-kata kasar atau nama-nama binatang ketika mengkritik siswa, seperti “babi”, “bangsat”, atau “anjing”;
  3. Guru tidak akan sembarangan menggeledah atau menyita barang-barang pribadi siswa, seperti dompet, buku harian, apalagi menggeledah badan siswa;
  4. Siswa akan muncul tepat waktu tiap mata pelajaran;
  5. Siswa akan memperhatikan pelajaran, tidak bermain musik, belajar mata pelajaran lain, main ponsel, tidur, atau melakukan hal-hal selain memperhatikan dan mencatat;
  6. Siswa tidak akan mencontek ketika mengerjakan PR atau ujian.
Baca juga:  Teman Satu Sel

Kupikir syarat-syarat untuk kami jauh lebih berat daripada syarat-syarat untuk guru, tapi seluruh kelas bersorak-sorai menyetujui. Maka ketika Revo meminta seseorang untuk menuliskan traktat tersebut, aku mengajukan diri.
“Oke,” kata Revo. “Lu jaga traktat ini. Ingatin kedua pihak kalau ada pelanggaran!”
Bangga terpilih untuk peran sepenting itu, traktat kucatat serapi mungkin kemudian kucetak di lab komputer. Lalu aku kembali ke kelas untuk mengumpulkan tanda tangan. Pertama Pak Iwan, lalu Revo, lalu aku sendiri, dilanjutkan teman-teman lain.
Dengan sangat hati-hati kusimpan traktat itu dalam map plastik, lalu kudekap erat ke dada sambil kubawa pulang untuk kupamerkan pada Mama-Papa.
MALAM itu Papa masak masakan keahliannya: nasi goreng seafood dan telur dadar dengan cabai dan bawang merah yang membuat seisi rumah tercium seperti perayaan. Ketika nasi masih berasap di penggorengan, Papa menuangkannya ke piring-piring kami yang menganga. Ditancapkannya botol kecap di tengah meja sebelum Papa ikut duduk.
Sebelum ada yang sempat tanya “Gimana hari ini di sekolah?”, aku sudah menyodorkan map plastik berisi traktat Trituwa kepada Mama-Papa dan menceritakan kemenangan kami.
Papa mengamati traktat itu dan berkata, “Ngapain kamu ikut tanda tangan?”
“Aku bukan cuma ikut tanda tangan, Pa, aku jadi penjaga traktat. Lagipula, guru-guru keterlaluan.”
“Mama tahu kamu mau bantu teman-teman, tapi enggak perlu kamu tanda tangan nomor tiga. Jadi aja nomor lima puluh kek, seratus kek.”
“Kok Mama bisa sih ngomong begitu?”
“Kamu kalau dikasih tahu orangtua!” bentak Papa. “Kalau kamu diskors, gimana? Kalau dikeluarin, gimana? Mama-Papa capek-capek cari uang sekolah kamu. Sekolah mana yang mau terima kamu kalau kamu dikeluarin gara-gara hal begini? Otak kamu tuh belum bisa mikir rumitnya dunia, baru bikin begini aja udah bangga.” Papa mendengus sambil meninggalkan meja makan, “Huh! SMP!”
Aku ganti menatap Mama, menuntut pembelaan. Tapi Mama hanya berbisik, “Mama enggak mau kamu berteman dengan anak-anak badung yang memulai GTM itu. Memangnya kamu pikir mereka enggak akan dihukum? Nanti kalau kamu ikut kena getahnya gimana?”
Keherananku akan reaksi Mama-Papa lumer jadi airmata.
“Mama enggak mau kamu bertingkah seperti ini lagi, dengar?”
Aku tidak mengangguk, hanya menerawang dan mengunci diri di balik tirai airmata yang mengaburkan dunia luar.
Seminggu kemudian, motor Pak Firdaus dipreteli.(*)
  
Eliza Vitri Handayani menerbitkan novel Mulai Saat Ini Segalanya Akan Berubah pada 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Eliza Vitri Handayani
[2] Pernah dimuat di “Koran Tempo” pada 7 September 2014