Kenangan Tukang Kayu

Karya . Dikliping tanggal 25 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
TUKANG kayu itu masih terperangah memandang cahaya putih, keluar dari sungai yang mengalir ke rongga tubuhnya yang kerontang. Berselimut kerinduan hitam pekat. Matanya nyaris tak berkedip ketika cahaya itu membentuk dua lingkaran kecil seperti mata, dan di antara kedua lingkaran itu tumbuh beberapa garis-garis memanjang dan membentuk lekuk tubuh, seperti lekuk tubuh seorang perempuan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi di malam itu. Ia mengucek kedua matanya dna emncubit-cubit pipinya, lantas memperjelas bahwa yang dilihanya bukanlah hanya sekadar mimpi dlama tidurnya.
“Kamu siapa?”
Dengan suara yang sedikit gemetar, si tukang kayu memberanikan diri bertanya. Tetapi pertanyaannya mengapung dan hanya terjawab oleh senyum yang terpulas di bibir perempuan sungai itu. Mungkinkanh dia perempuan yang Tuhan ciptakan untuk memahami hari sepiku? Dalam hatinya berbisik.
Lalu si tukang kayu membalas senyum perempuan sungai itu. Keduanya beradu senyum. Suatu ketika bulan dan bintang pun terjatuh, dan menjelma menjadi bunga-bunga dari beribu musim, yang berloncatan drai kepala mereka. Tiba-tiba… Wuuuuiiissszzz. Perempuan sungai itu menghilang.
***
SINGKAT cerita. si tukang kayu jatuh cinta kepada perempuan yang keluar drai sungai itu. Setiap kali ai pergi mencari kayu ke hutan, tidak lupa ia sempatkan mengunjungi perempuan di sungai itu.
“Siapa namamu?” Si tukang kayu bertanya. Tetapi pertanyaannya lagi-lagi tidak dijawab oleh perempuan sungai itu.
“Baiklah, akan kupanggil kamu putri sungai, karena kamu terlahir dari sungai. Maukah kamu menjadi pendamping hidupku?” Putri sngai tersenyum. Mungkin ia mau , tapi malu untuk mengatakannya. Gumam si tukang kayu.
Begitulah cerita pendek si tukang kayu, ia bermain cinta dengan putri sungai yang sangat cantik, manis dan langsing. Sempurna…. Bahkan kesempurnaannya melebihi artis sinetron. Melebihi perempuan-perempuan yang pernah ia lihat di muka bumi ini. Si tukang kayu merasa sangat beruntung bisa memiliki putri sungai itu. Kisah cinta yang snagat indah dna mustahil baginya. Tetapi, ia pernah mendengar seorang cerpenis pernah berkata, tidak ada hal yang tidak mungkin atau mustahil di dalam cerita pendek. Lantas si tukang kayu bahagia, ia memeluk putri sungai, menciumnya, mengajaknya berdansa, mengarungi malam demi malam bersamanya.
***
“DULU aku pernah mempunyai seorang istri. Ia cantik sepertimu. Meskipun ia agak sedikit cerewet, tetapi ia sangat setia menemaniku. Ke hutan untuk mencari kayu, ke desa seberang untuk menjual kembali kayu yang sudah aku rangkap, dan ke mana pun. Namun, ada satu tempat yang ia tidak pernah mau bila kuajak ke sana. Paris. Ya ke Paris akan terlihat romantis, bukan? Melihat menara Eifel sambil makan kacang rebus di sana. Ah, gombal. Bagaimana caranya kita ke sana? Kamu kan hanya tukang kayu. Ongkos ke sana kan mahal? Untuk makan pun kita masih jarang-jarang. Haha, aku masih ingat sifat cerewetnya itu. Sulastri istriku. Namanya Sulastri. Ia istriku. Ia senang menari-nari, bernyanyi, dan suka sekali memetik bunga-bunga di tepian sungai ini, apabila lelah sedang merangkulnya. Ia juga senang sekali apabila kurebahkan kepalanya ke dadaku. Lalu, aku berkata; istirahatlah, Dik. Jika kamu lelah, Begitulah kataku sambil mengelus rambutnya yang terurai. Ah, kenangan yang terlalu indah untuk kulupakan!” Si tukang kayu panjang lebar menceritakan perihal kisah hidupnya bersama istrinya dulu kepada putri sungai.
“Lalu, di mana istrimu sekarang?” Putri sungai bertanya.
“Istriku telah mati.” Si tukang kayu menghela napas.
“Mati kenapa?”
“Kecebur sungai ini.”
“Kenapa kamu tidka menolongnya?” Si tukang kayu terdiam
***
SUATU malam yang snagat dingin, yang dinginnya bisa membekukan kulit dan menusuk-nusuk tulang sungsum, terlihat sekumpulan lelaki di warung. Tidka begitu jelas yang mereka kerjakan di sana. Bermusyawarah, sekadar bermain kartu saja, atau membicarakan hal yang tidak seharusnya dibicarakan.? Entahlah. Yang jelas, kebanyakan dari mereka yang ada di warung itu, dua di antaranya sedang duduk santai menyeruput kopi hitam, sambil menikmati sebatang rokok.
“Akhir-akhir in,i kamu tampak senang sekali, Jok?” Burhan, teman seprofesi Joko bertanya kepadanya, perihal perubahan sikapnya, yang dulunya selalu murung, kini tiba-tiba sumringah.
“Ah, kamu ini. Aku kan begini mulai sejak dulu-dulu, Han.” Joko tersenyum-senyum.
“Ya, memang benar. tetapi, itu sebelum kematian istrimu, Sulastri!”
Joko terdiam sejenak, menghisap rokoknya dalam-dalam dan mengeluarkan asapnya seraya berkata; “Aku sudah menemukan Sulastri.”
“Siapa, Jok?” Burhan penasaran.
“Namanya, putri sungai.”
“Hah, siapa?”
“Putri Sungai.”
“Hahaha… ada-ada saja kamu, Jok?” Burhan tertawa, menganggap Joko hanya bergurau.
“Kenapa kamu tertawa? AKu tidak berbohong!” Joko geram, Burhan terdiam.
“Kalau kamu mau tahu kepada kekasihku itu, ikut aku besok malam. Akan kubuktikan, kalau aku lagi tidak mengada.”
***
WAKTU menunjuk bulan, jarum jam menusuk angka tujuh. Tibalah Joko dan Burhan di tempat putri sungai. Keduanya bersembunyi di balik semak sambil mengintip-intip.
“Di mana kekasih yang kamu ceritakan itu, Jok?” Burhan bertanya.
“Ia lagi duduk di bawah pohon dekat sungai itu, Han!” Dengan suara lirih Joko mengangkat jari telunjukknya ke arah pohon.
“Di mana?” tanya Burhan penasaran.
“Sebentar, aku akan ke sana, menjumpainya.”
Joko bangkit dna melangkah ke arah pohon itu. Sementara Burhan terheran-heran, melihat Joko di pohon itu sedang bercakap sendirian. (k) []
Khairur Rosikin: mahasiswa Ushuluddin Prodi Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
bergiat di Llesehan Sastra Kutub Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Khairur Rosikin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 25 Januari 2015