Kenangan Yang Terenggut

Karya . Dikliping tanggal 11 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
“BU, Ari mau kerja di luar negeri.” Ibu Ari yang sedang duduk di kursi, kaget mendengar perkataan anak laki-laki satu-satunya yang baru saja tamat kuliah.
“Kerja di mana?”
“Di Singapura. Dua hari lalu baru dapat surat panggilan.”
Bolehkan, Bu?” Ari merajuk.
Ibunya ternyata diam. Lalu bangkit dari kursi dan berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Ari yang dalam kebingungan.
Ari menyusul ke kamar. Di sana, tampak ibunya sedang menangis memandangi foto ayah Ari yang sudah tiada.
“Ibu tidak setuju?” Ari duduk di sebelah ibunya. Ibu Ari hanya menggeleng.
“Lalu kenapa Ibu menangis?” Ari mencoba bertanya kepada ibunya.
“Hari ini tepat setahun Ayahmu tiada.” Ibu Ari menjawab sedih. Air mata terus menetes di pipinya.
Ari tertegun, ia baru ingat hari ini setahun ayahnya, TKI yang kini tak tahu di mana, sudah meninggal atau hilang entah ke mana. Sebuah kenangan pilu yang tak ingin diingat lagi.
“Ibu tidak mau itu terjadi padamu.” Tangis ibu Ari pecah. Ari pun memeluk ibunya juga sambil menangis.
“Kalau ibu nggak setuju, Ari nggak akan paksa,” kata Ari terbata-bata.
“Ibu Ari membelai sayang rambut anaknya. “Ibu setuju tapi jaga dirimu ya.” Ibu Ari memberikan izin. Ari hanya mengangguk.
“Terima kasih, Bu.” Ari mencium tangan kanan dan kening ibunya. Lalu berjalan keluar kamar. Ibu Ari menghela napas, tampak menyesali keputusannya.
***
TIGA tahun berlalu. Semua masih baik saja Rumah kontrakan yang ditinggal ibu, Ari dan pamannya masih kokoh berdiri. Walaupun ada tetesan kebocoran air saat hujan turun.
“Wah, hebat kamu sekarang ya. Kerja dan tinggalnya di luar negeri.” Paman Kasmin menyambut kedatangan Ari di rumahnya.

Baca juga:  Toa
Ari hanya mengangguk.
“Ibu mana, paman?” Ari tampak mencari-cari ibunya.
“Ibumu baru tidur di kamarnya.”
“Jangan diganggu.” paman Kasmin mewanti-wanti Ari.
“Ibu nggak sakit kan, Paman?” Ari tampak khawatir.
“Tidak usah khawatir begitu. Ibumu sehat-sehat saja kok. Cuma kecapekan saja. Duduk di sinilah. Paman kan juga kangen.”
Ari menurut saja ketika tangannya ditarik Paman Kasmin. Lalu duduk di samping pamannya.
“Bagaimana rasanya kerja di luar negeri?”
“Asyik, paman.” Paman Kasmin hanya terpana.
“Kok bisa asyik?”
Ari terdiam cukup lama mendengar pertanyaan paman Kasmin. 
“Paman tahu sendirilah.”
Dapat duitnya banyak.” Paman Kasmin tampak mengangguk.
“Tapi risikonya juga besar. Kamu tahu, kan?”
Ari mengangguk. “Asal bisa jaga diri, tidak masalah kok, Paman. Kalau ada masalah, ya tinggal laporkan ke kantor Kedubes.” Ari menjelaskan.
Paman Kasmin tak menanggapi perkataan Ari, malah asyik  menyeruput secangkir kopi panasnya.
“Tetap saja, kasihan ibu kamu.”
“Maksud paman?”
“Sewaktu-waktu bisa ditinggal orang-orang yang dicintainya lagi.”
Ari terdiam mendengar kata-kata pamannya. Lalu berjalan menuju kamar ibunya. Tampak ibunya sudah bangun. Wajahnya yang teduh penuh guratan keriput membuat Ari trenyuh. Keduanya lantas berpelukan melepas kangen.
“Ini uang buat ibu.”
Ibu Ari tersenyum. “Untuk apa?”
“Bangunin Ibu rumah seperti yang pernah Ari bilang waktu kecil dulu. Biar ibu gak kontrak rumah lagi.”
Ibu Ari terharu mendengarnya. “Itu belum semuanya, nanti Ari tambah lagi.”
Ibu Ari mencium kedua pipi anaknya. Ari membalasnya. Lalu terlibat pembicaraan hangat.
***
SEMINGGU Ari di Indonesia. Tiba saatnya kembali ke Singapura, bekerja. Pagi sekali Ari berpamitan. “Ibu, Ari pergi dulu ya.”
“Salam sayang buat Ibu dan Paman.” Ari berpamitan, mencium tangan kanan ibunya.
“Hati-hati di jalan. Jangan lupa telepon sampai sana.” Paman Kasmin berseru. Ari tak menjawab, hanya tersenyum.
Ibu Ari melepas kepergian anaknya. Haru di dada menyelimutinya. Akankah ia bisa bertemu Ari kembali?
***
MENJELANG siang, Ibu Ari tampak shock mengetahui kabar pesawat yang ditumpangi anaknya hilang kontak sejak tadi pagi. Tangannya lalu mengangkat telepon yang ada di atas meja. Jari jemari gemetar memencet sejumlah angka. Terukir rasa sedih dan rindu pada sang anak di wajahnya.
“Bagaimana, Kasmin?” Ibu Ari menelepon Kasmin, adiknya yang sudah berada di bandara.
 “Berita itu benar, Kak. Ari memang menjadi salah satu penumpangnya.”
Ibu Ari menutup teleponnya. Lalu duduk termenung di atas kursi. Dari sepasang bola matanya tampak keluar linangan air mata.
Terbayang di pelupuk matanya, kenangan ketika Ari kecil bermain rumah-rumahan di halaman. Angin yang bertiup cukup kencang membuat rumah-rumahannya yang terbuat dari kardus itu roboh. Ari kecil lalu menangis keras. Sang ibu berusaha menenangkannya.
“Sudah, tak usah nangis. Nanti ibu buatkan rumah baru lagi.” Tangis Ari kecil sedikit mereda.
“Benaran lho, Bu.” Ibu Ari mengangguk.
“Besok kalau sudah gedhe, Ari yang gantian bangunin ibu rumah.” janji Ari kecil.
Ibu Ari terkenang wajah anaknya yang kembali gembira bermain ketika kecil. Kini kenangan itu lenyap tak berbekas, seolah terenggut paksa oleh kenyataan. Ibu Ari hanya bisa pasrah. Menghadapi kenyataan pesawat yang ditumpangi anaknya belum juga ditemukan. Entah di mana. [] -s
Yogya, 2 Januari 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan PA
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 11 Januari 2015