Kenangan Zombie

Karya . Dikliping tanggal 19 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

“LETNAN Kajus!” sebuah seruan membuatku menunda menyantap bully di warung Mak Hadim.

“Pesan dari radio. Tim Bravo tumpas!”

“Bangsat! Bagaimana ceritanya bisa begitu?! Mereka semua tentara elite. Masak kalah sama cecunguk yang cuma bisa mengayunkan cangkul?” kutatap Serka Otnawsis yang tambun itu dengan mata mendelik. “Tak berguna. Tidur saja kerja mereka.

“Mereka bukan cecunguk, Komandan. Mereka hantu!” bantah Serka Otnawsis. Serka Otnawsis kemudian mendekat. Menunjukkan video dari telepon genggamnya kepada Letnan Kajus atasannya.

“Tolong! Mereka menangkap saya! Tolong!” Letda Dias berteriak ngeri. Jeritan Letda Dias melejit ke langit HT-nya jatuh masuk selokan. Para zombi mulai mencekiknya. Menarik tubuhnya hingga terbelah dua. Lantas memakan dagingnya. Di antara usaha membebaskan diri dan meregang nyawa, terdengar lagi lengkingan Letda Dias yang menyayat, “Tolongngngngng! Pak Komandaaaaaaann!Tolongngngngngngngngng!!!!”

Di belakang empat zombi yang tengah pesta melahap tubuh Letda Dias, tampak zombi lain berjalan gontai. Memenuhi jalanan Desa Pahsiyah. Menyerbu koramil dan polsek. Memasuki madrasah. Memanjati tiang listrik dan pohon bistah sambil berteriak dengan serak. “Kembalikan tanah kami. Kembalikan! Grhhh…”

Kualihkan pandangan kepada delapan belas anak buahku yang sedang duduk di truk militer sembari menungguku selesai sarapan. Apakah mereka sanggup mengatasi zombi-zombi sialan yang tengah mengganas itu? Apakah tidak membahayakan melibatkan mereka ke medan pertempuran yang sebenarnya tak jelas itu? Bahkan tim Bravo, tim elite yang diterjunkan ke Desa Pahsiyah untuk meredakan teror zombi itu, sudah kalah telak. Padahal, Letda Dias adalah ahli mengatasi teror zombi.

Kuingat dulu Letda Dias yang berhasil mengatasi serangan zombi di Jakarta pada tahun 30-an. Zombi-zombi yang bangkit dari kubur karena hendak membalas dendam. Zombi-zombi itu adalah mayat hidup preman-preman yang ditembak tanpa proses pengadilan lewat sebuah tim yang dikenal dengan Petrus. Pembunuh misterius.Tim bentukan pemerintah untuk menyapu bersih preman-preman bertato yang meresahkan ibu kota.

Sekarang Letda Dias pun mati di tangan zombi seperti anak buahnya dulu, Sarman. Benarkah zombi itu kebal senapan? Dari manakah mayat-mayat hldup itu berasal? Aku melihat lagi tayangan video di telepon genggam Serka Otnawsis. Pada detik-detik terakhir kulihat wajah zombi yang sangat kukenal. Samuki!?

“Pause! teriakku kepada Serda Otnawsis. Otnawsis kaget dan bersicepat menekan tombol henti di layar telepon genggamnya. “Kau lihat, Otnawsis. Itu Samuki, bukan?! Lihat codetnya!” Tanganku menunjuk layar. Pada sebuah wajah yang pasi dan mulut belepotan darah. Dengan codet di alis kirinya.

“Benar Komandan, Samuki” pekik Serda Otnawsis.

“Otnawis,” kusarungkan pistol yang sedari tadi tergeletak di meja warung. “Katakan pada markas, kita menyerbu. Katakan juga, segera kirim pasukan tambahan dan pesawat tempur F-16. Kita akan bumi hanguskan desa.”

“Tapi, markas meminta kita menunggu instruksi lebih lanjut,” ujar Otnawis ragu-ragu. Sebagai anggota tim cadangan bertahun-tahun, ia memang belum pernah merasakan berhadapan langsung dengan desingan peluru musuh. Apalagi bertempur melawan hantu. Melawan mayat hidup. la tahu perintah komandan regunya itu adalah perintah menantang mara bahaya. Mengundang lzrail lebih cepat tiba di medan laga.

“Hei, Gembul” Letda Kajus, si letnan Rangers blasteran Jawa-Madura itu, menyoronglcan wajahnya tepat di depan wajah Serka Otnawsis. “Takut bertempur kamu ya? Takut itu sama Tuhan. Bukan sama setan. Perang itu fana. Cinta membela negara itu abadi. Kalaupun mereka menerjang, kita habisi. Kita adalah tentara terlatih. Tak ada tentara yang takut mati. Kalau takut mati, jangan jadi tentara. Jadi rempeyek saja.”

Sejenak kemudian kami telah membelah siang. Menyusuri jalan berbatu daerah yang gersang. Mengarah ke Desa Pahsiyah. Aku dan Serka Otnawsis duduk di bangku depan truk. Pratu Tirta di belakang kemudi. Truk yang membawa sepasukan tempur berjalan cepat menembus panas udara. Sesekali truk bergeronjal melindas kerikil dan bebatuan di sepanjang jalan hingga menimbulkan suara bising karena gesekan besi karat dan onderdil aus.

Dalam perjalanan yang melelahkan itu, aku terus membayangkan kejadian pada 25 Septernber 1993 di Pahsiyah. Ribuan orang mendekati petugas pengukuran tanah di Desa Pahsiyah yang tengah dikawal tentara. Pengukuran itu dilakukan untuk pembebasan lahan guna pembangunan waduk di Pahslyah. Diperlukan lahan seluas 170 hektare yang membentang di tujuh desa. Termasuk tanah penduduk. Tentu saja, banyak warga yang menolak. Sebab, bagi warga desa, tanah adalah ibu. Pada tanah mereka menyusu. Menyambung hidup. Saat tanah-tanah mereka hendak dirampas atas nama modemitas atau apalah istilah keren lainnya, mereka akan menolak.

Ribuan orang itu terus merangsek. Mendorong aparat yang menjaga proses pengukuran lahan. Tiba-liba tembakan beruntun menyalak. Orang-orang berhamburan melarikan diri. Beberapa lainnya terkapar. Bersimbah darah. Salah satu di antara yang meregang nyawa itu, Samuki. Salah satu koordinator aksi. Tapi, kenapa dia sekarang bangkit lagi dari kubur dan mengganggu ketenteraman? Apa karena proses pengadilan para penembak tak pernah jelas dan tak memberikan kepuasan hukum kepada masyarakat? Apa karena mayat itu hidup lagi untuk membalas dendam? Apa…

Kami memasuki kawasan Waduk Pahsiyah saat matahari mulai surup. Tak ada tanda-tanda pembantaian seperti dalam video di telepon genggam Serka Otnawsis. Semua tampak tenang. Sepi dan mulai beranjak gelap. Tak ada juga bekas darah Seperti sebuah daerah yang ditinggalkan penduduknya karena gempa. Hanya suara aliran air deras dari Waduk Pahsiyah yang dulu ketika awal pembangunannya juga menumbalkan darah penduduk. Para serdadu di belakang truk berlompatan turun, lalu berpencar di sekeliling lokasi. Aku, Serka Otnawsis, dan Pratu Tirta berdiri di depan truk dengan senjata terkokang.

Tiba-tiba terdengar lolongan nyaring. Suara perempuan. Entah dari mana. Kami siaga. Beberapa serdadu berlindung di pohon jati. Mendadak air di Bendungan Pahsiyah menyusut dan menyusut. Hingga tersisa dasarnya. Dari dasar tanah itu, menyembul sejumlah tangan. Bergerak dan satu per satu mayat hidup itu bangkit. Berlipat ganda seperti bayangan di sebuah prisma benggala. Satu jadi dua. Dua jadi empat. Empat jadi delapan. Delapan jadi enam belas. Terus berbiak. Beratus-ratus makhluk gentayangan keluar. Berjuta-juta mayat hidup berjalan gontai mengepung Letnan Kajus dan pasukannya.

“Letnan, apa yang kita lakukan?!” teriak Serka Otnawsis sambil mengacung-acungkan senapan serbunya ke arah ribuan zombi yang terus mendekatinya.

“Tunggu! Biarkan mereka semua mengepung kita.”

“Letnan!?”

“Tunggu!”

Jutaan zombi terus mendekat dan mendekat. Mereka berjalan gontai dengan wajah pasi, penuh darah dan mengerang. “Kembalikan tanahhh kamii…kembalikan. Grrhhh.”

“Mereka seperti orang-orang yang dulu kita siksa dan kita tembaki, Letnan”

“Aku sudah tahu, Sersan. Tunggu kataku, tunggu!”

“Kita akan mati, Letnan!”

“Semua yang hidup akan mati”

“Lakukan sesuatu, Letnan! Aku tak mau dimakan zombi,” teriak Serka Otnawsis mengiba. Senja terus larut ke dalam remang. Sebentar lagi gelap akan menerjang. Bersama kematian.

“Tirta, sudah kau nyalakan?”

“Siap, Letnan. Sudah!”

“Lakukan sekarang!”

BOM

Sebuah ledakan besar terjadi. Bola api membubung tinggi. Seperti ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Menyapu semua zombi. Termasuk tim Alfa pimpinan Letnan Kajus. Zombi-zombi bertebaran di udara. Lalu jatuh ke tanah menjadi serpihan daging dan tulang belulang. Bertumpuk-tumpuk membentuk gundukan mayat Sungguh tak akan ada yang selamat dari ledakan berkekuatan bom 1 kiloton yang diledakkan dari bawah tangki bensin truk militer. Dan tak ada yang mengingat kejadian itu. Pertempuran berdarah atas nama sebuah waduk. Juga tak ada yang menyebutnya pahlawan.

Tapi tunggu! Mendadak sebuah tangan menyembul dari gundukan mayat yang nyaris jadi arang itu. Tangan itu bergerak hendak menggapai-gapai sesuatu. Tepat saat malam meleleh ke dalam tulang. Di bawah redup cahaya bulan. Tangan itu terus menggapai-gapai. Dan kini tangan itu sudah menyembul hingga lengan.

***

Kenangan dan Zombie -Ilustrasi Cerpen Koran Jawa Pos 16 Des 2018

“Sekarang kembalikan aku ke alam kubur,” teriak Letnan Kajus. Atau zombi itu akan menyerang lagi. Sebab, saat aku hidup, mereka juga akan hidup lagi. Seperti memutar mesin waktu.”

Ladrak mencari-cari buku Sillir yang di dalamnya ada mantra menghidupkan orang mati. Ia sengaja mencuri buku itu dari ruang gelap perpustakaan kota. Sebuah ruangan untuk menyimpan buku-buku sihir yang berbahaya. Ia melakukan itu untuk menghidupkan bapaknya hanya ingin tahu bagaimana bapaknya mati. Sebab, sampai ia dewasa, tak ada satu pun yang tahu kubur bapaknya. Padahal, bapaknya mati dalam operasi militer.

“Hilang! Lembaran mantra untuk membuat mayat hidup mati lagi itu hilang!” teriak Ladrak.

“Apa?! Bang..” Belum selesai sebuah kata diucapkan Letnan Kajus, kaca rumah Ladrak pecah. Segerombolan zombi masuk ke rumahnya. Berjalan gontai mendekatl dia dan bapaknya. Aroma kematian menguar bersama malam yang kian tua. “Senjata!” teriak Letnan Kajus. Ladrak kontan berguling di lantai, menyambar SS (senapan serbu) di dinding dan melemparkannya kepada Letnan Kajus. Letnan Kajus kemudian menembak dan menembak sambil terus merapat ke dinding belakang rumah.

Mendadak dinding jebol dan sekonyong-konyong menjulur sepotong tangan hitam dengan kulit melepuh dan sebagian tulangnya kelihatan dengan cakar-cakar yang panjang runcing mencekik leher Letnan Kajus.

“Ladrak… tolong aku anakku! Hanya pecundang yang mati dua kali. Aku tak mau jadi pecundang. Ladrak tolongggg !!!”

Ladrak melompat sambil menyambar celurit di atas lemari, hendak menolong bapaknya. Tapi terlambat. Letnan Kajus lenyap masuk ke dinding bersamaan dengan lenyapnya gerombolan zombi yang masuk ke rumah Ladrak. Ladrak terpaku. (•)

Sampang, November 2018

Edy Firmansyah. Seorang penulis kelahiran Pamekasan, Modura. Kumpulon cerpennya yang pernah terbit adalah “Selaput Dara Lastri” (IBC, Oktober 016). Buku puisinya yang telah terbit adolah ‘Ciuman Pertama”(Gardu, 2012). Karyanya, berupa cerpen,artikei, dan esoi, tersebar di banyak media cetak maupun online. Baik nasional maupun lokal.

Keterangan:
Bulir: Penganan khas Madma.Terbuat daii singkong yang direndam di gula aren.
Pohon bistah: Sebutan orang Maduia untuk pohon kawista atau kawis. Dikenal juga sebagai kinco. Kerabat dekat maja dan masih termasuk suku jeruk-jerukan (rutaceae).


[1] Disalin dari karya Edy Firmansyah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 16 Desember 2018