Kepada Maut – Di Depan Sebuah Kuburan – Aku, Serdadu Menunggu Giliran

Karya . Dikliping tanggal 27 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Kepada Maut (1)

Kepada siapa kita berjalan mendekat?
Ke arah mana kita hanyut bersama pasir?
Ia menjadikan kita cuma dari sekadar 
lempung disusun seperti puzle
mainan kanak-kanak yang bisa tumbuh
dan berkembang namun rentan
menuju remuk menjadi serpihan kayu
di kuburan dimakan ngengat
kita akan berjalan mengendap-endap
ke utara ngeri dan was-was
menerka takut dan cemas ditebas dari depan
atau ditikam di bokong
tak bisa kita berlari menjauh
dari mata yang mengintai di balik utara otu
menanti dengan birahi menyala
seperti kelamin lelaki buas menjebol perawan
tak bisa tidak kita harus berjalan mendekat ke arahmu
walau tak bisa diterka hanyut ke arah surga atau neraka
-ngawi-kedung-dani-

Kepada Maut (2)

*) pledoi jenar
Bagaimana aku harus menyebut dan menyapamu?
lidah akan pasti kelu saat bersua
sedang setiap lezat menajam di ujungnya
nikmatmu tak hanya menggumpal di urat lidah
namun juga akan meresap ke dalam sel-sel kelenjar tubuh
seperti nikmati birahi yang lepas saat sperma meloncat
hanya sekilat di puncak sekedap
Dan di peluk erat lekat kudepak kau: gelombang puncak 
hebat yang nikmat!
ngawi

Di Depan Sebuah Kuburan 

Orang-orang selalu salah terka
kalau dalam lahat bisa menafsir sepi
mereka tak pernah tahu
dalam seribu bisu kau bisa menghikmati hiruk pikuk
padahal suara-suara itu begitu lantang justru
saat membentur dinding lahat
melebihi para mahasiswa berebu
jadi pahlawan demonstrasi di jalan-jalan
bagaimana orang-orang menerka
dalam liang itu bisa menemu sepi
padahal suara-suara akan bergemuruh
menuding-nuding mulut dan kelaminmu
orang-orang selalu salah terka
kalau tubuh sudah dibujur ke utara
ia akan bisa menerka mana barat mana timur,
itu se;atan atau tenggara
padahal segala arah telah kehilangan
batas dan liang itu telah jadi tempurung
gelap dan kau katak yang berbaring
di dalamnya, menggeram dengan pilu
orang-orang selalu salah terka
kalau dalam lahat udara panas berkeringat
padahal angin bersiutan seperti badai
menerka arah mana kafanmu berkibar
dan kau kehilangan kafan
yang telah disobek jadi serpihan oleh belatung
ah, selalu saja orang-orang merasa pintar
saat meayat mayatnya sendiri!
-geneng, saat takziah-

Aku, Serdadu Menunggu Giliran

1/
sepanjang hari aku tersesat di lurung-lurung
tak bisa mendengar apa-apa, tak bisa menerka suara-suara
tak tahu lagi ini cemas atau putus asa
sepanjang hari hanya bis ameraba dan menerka
“Sebentar lagikah malam iusai?”
2/
aku tak pernah tahu sejak kapan dikutuk jadi serdadu
untuk sebuah perang yang tak pernah ada
yang tahu kapan dimulai kapan usai
aku hanya sanggup mendengarderap-derap memburu
kuda-kuda meringkik berloncatan
dari arah barat dan utara
malaikat-malaikat bengis
dengan mantel abu-abu memutar-mutar pecut
melambai-lambaikan kematian dan hukuman
berguncang-guncang memburuku seperti gropok babi
3/
akulah serdadu yang diburu itu
serdadu dengan sepatu lars bolong
seragam usang dan bayonet berkarat
kehilangan kompas, tanpa mesiu dan bedil
serupa srigala melolong putus asa di tepi padang tak bertuan
4/
aku serdadu yang diburu itu
serdadu tanpa pasukan
berdiri goyah dengan tungkai gemetar
merintih menunggu giliran
seperti babi dicencang di pembantaian!
(–geneng, saat takziah-)

Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sedangkan studi pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006. Sekarang meneruskan program S3 di Unessa.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tjahjono Widarmanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rayat” Minggu 27 September 2015