Kepada Selembar Sirih pada Hidung Anak Mimisan – Dupa Ketujuh – Obituari Dusun

Karya . Dikliping tanggal 15 Maret 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Kepada Selembar Sirih pada Hidung Anak Mimisan

yang tabah dilayang angin
mengintai langit
dari pelukan sulur
darah mimisan meludahi lidah bumi
dari sepi gua hidung bocah-bocah
pengagum siwalan
yang hidup bersekolah pada tegalan.

lantas kau tetap tabah
menerima petikan jari seorang ibu
dipilin dalam doa basmalah,

dan kau pindah
menjadi yang tabah mendiami hidung
sesapi diri dengan runtun pengap
bermandi lendir, bertatap dengan kelam
bercakap tentang banyak kotoran,

tapi kau demikian tabah
tersebab bagimu, hidup ialah restu
dari tabah ke tabah
dalam memasuki lakon bumi yang maya
berputar-putar antara sulur dan akar
melengkapi tunas nasib yang terus menjalar

Baca juga:  Parama’an - Pigura Tua - Bilapora Rebba - Reportase Sepasang Sandal Usang - Monolog Sebuah Kursi - Tikar Daun Siwalan

membuat pucuk menikung ke dusun berdamar..

Dik-kodik, 03.01.15

Dupa Ketujuh

puma lambai tangan pelayat
menakik isak pada kijingmu

karena hidup adalah kenangan
yang tak begitu penting untuk dikenang

biarkan mereka melupakanmu
agar kau leluasa mengingat dirimu

pada lubang sempit yang gelap
tanah telah menghancurkan segala harap

tinggallah aku mengepulkan salam
dari sunyi halaman yang kau tinggalkan

mungkin kita akan saling bertemu di tempat tersuci
aku dengan asap yang putih, kau dengan jasad yang putih

Baca juga:  Pusara Ibu Enju

Gapura, 04.01.15

Obituari Dusun

tubuh pohon berbilah pada tanganmu
meninggalkan peluk ladang
ditumbang dengan seribu harapan
untuk hidup bersama ilalang
dari garis tanganmu ia hilang
menjadi rusuk-rusuk bangunan.

angin hanya bisa menulis lantak ekosistem
pada lembah yang tinggal tulang
ketika kekasih-kekasih rumput
habis dalam perbincangan mulut kemarau.

selain telanjang kaki-kaki temak
menimpali kulit bumi yang bergaun arang
waktu seperti habis terbakar di sini
dan ternak enggan mendengar puisi kaum tani

lalu warna besi, menyuluh dari sunyi
tumbuh menabur janji kepada telinga bayi
“kelak dengan kerangka tower ini
Kau akan menemukan cara lain dalam mengaji”
Ucapnya dengan nada paling lirih.

Baca juga:  Batu-batu di Bukit Montorra - Telaga Pemandian Dewi Gelintang - Soto Buatan Ibu - Pohon Jati di Kebun Nenek

Dik-kodik, 2015

*) A Warits Rowi, lahir di Sumenep Madura, 20 Juli 1988, karya-karyanya dimuat di berbagai media nasional dan lokal. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya A. Warits Rowi
[2] Pernah tersiar dalam surat kabar “Pikiran Rakyat” 15 Maret 2015