Kepada Siapakah Dia akan Menyusu?

Karya . Dikliping tanggal 7 Januari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

AKU sendiri yang menjadi saksi atas kematian suami­ku. Dengan malas maut menjemputnya. Kaki A Chun menjuntai santai di ranjang kayu. Hidup A Chun habis di kursi rotan reyot. Tidur siang. Teh oolong pekat di sore hari dan beberapa lembar biskuit gabin. Makan malamnya telur kukus dengan irisan daun bawang yang banyak. Sekali-kali ada daging cincang dalam kukusan telur itu. Begitulah dia hidup begitulah dia mati. Santai.

Aku juga sudah melihat maut menjemput kakak perempuanku. Maut yang sungguh kasar. Sesaat Daiyu seperti tertidur saja. Tapi beberapa hembusan angin berikutnya, keluar suara besar yang bising dari tenggorokannya. Seperti babi hutan betina yang melarikan diri dari kejaran panah pemburu.

Kematian berikutnya ialah kematian kakak lelakiku. Maut bermanja-manja dengannya, memberi sedikit harapan dan kemudian mengambilnya kembali. Terkatung-katung. Antara ada dan tiada. Badannya tergolek lemah selama bertahun-tahun. Maut akhirnya bermain serius dan sudi memberikan apa yang selama ini dipinta Kuen.
Kematian menemaninya dengan sangat lembut. Kuen mati dalam tidurnya.
Aku percaya di seberang langit biru selalu ada pelangi. Untukku sendiri. Untuk setiap dari kita. Entah bagaimana pelangi itu nanti akan menjemputku, tapi aku belumlah mau.

Aku bahkan bisa ikut merasakan, bagaimana maut yang keji mengintai anak perempuanku. Lanfen menghabiskan banyak hartanya untuk mengobati penyakit di usia tuanya. Sakit yang kata dokter karena kecapaian bekerja. Terlalu lelah dan terlalu sibuk.

Maut itu juga semakin bersemangat mengalir lewat anak-anak Lanfen yang selalu membuatnya gusar. Mereka gemar berfoya-foya. Bergaya orang kaya, garang, dan merasa diri paling hebat. Lanfen sepertinya mati cemas. Wajahnya tidak rela.

Kematian demi kematian berhamburan di udara. Saudara-saudaraku sudah usai. Anakku, Lanfen sudah pula melewatiku. Kemenakan-kemenakanku juga pergi satu per satu, berikut suami atau istri mereka. Pendeta dan istrinya, pemimpin puji-pujian, anggota paduan suara, pemain kulintang, dan petugas pengumpul kolekte. Semuanya lewat, whusss…

Ingatanku masih tajam dan aku cekatan dalam berhitung. Aku masih pula berandai-andai. Aku menyembunyikan dompet plastik kecilku di pinggiran kasur bagian kanan. Isinya lembaran uang lima puluh ribu dan seratus ribu. Keluarga jauh dan cucu-cucuku yang cukup berhasil masih datang mengunjungiku.

Aku seperti objek wisata saja. Mereka selalu pamit pulang sambil menyisipkan lembaran uang ke dalam genggaman tanganku yang kisut keriput, ke dalam kantong daster batikku, atau diselipkan di bawah bantal kepalaku. Nah, inilah saat-saat di mana senyumku merekah dan bicaraku yang sudah cadel bisa kembali jelas terdengar.

Anak-anak perempuanku yang masih hidup, sekali dalam setahun mengunjungiku. Mengambil isi dompetku. Belanja bahan-bahan makanan yang enak dan segar. Ikan nila yang dibakar dalam bungkusan daun pisang dan tumis sayur labu siam yang lembut. Disajikan buat kami semua. Aku puas. Semua puas.

Anak lelakiku, Si Sulung, jarang ke sini (haha, mungkin dia malu karena penampakannya yang sudah hampir sepeyot aku). Hanya istrinya saja yang setia menjengukku dan mengeluarkan tenaga serta uang untuk menggaji para perempuan yang menunggui masa senjaku.

Anak lelakiku yang lain, Si Bungsu, sebulan sekali secara rutin akan datang menjenguk. Kami memang memiliki urusan mahapen­ting yang tidak akan pernah usai. Ah, andaikan saja dia bisa sesukses Si Sulung dan istrinya, andaikan dia bisa secepat kilat–walaupun sudah berumur hampir tujuh puluh tahun–bisa punya usaha yang menjanjikan dan menjadi kaya raya.

Oh ya akan kuceritakan padamu, bagaimana maut sekali-kali bertamu di kamar tidurku. Duduk menyandar di dekat bingkai jendela. Memandangiku dengan mata berpendar. Menyuruhku rela. Aku tetap melawan. “Aku masih punya banyak urusan,” kekehku geli. Sinarnya pun surut, lalu menghilang dengan kecewa.

Kali berikut maut datang, dia duduk-duduk saja di kursi empuk di samping meja makanku. Ikut menikmati makanan yang disediakan oleh menantu perempuanku, istri dari anak lelakiku Si Sulung. Tahu kukus dengan kuah kecap manis yang gurih.
Bubur ikan gabus dan telur dadar. Sayur tumis hijau yang diiris tipis agar aku bisa mengunyah nyaman dengan gigi palsu. Dia bersenang-senang di situ. Mengambil sendok dan ikut makan bersamaku. Pernah juga aku mendapatinya makan dengan tangan. Lahap luar biasa.

Sesekali dia mengangkat wajahnya. Meminta persetujuan. Aku tetap menolak. Maut bahkan menjuluki aku, sang juara bertahan.

Ketika umurku masih belasan, seharusnya aku sudah tewas di tangan serdadu Jepang. Aku berpapasan dengan mereka di kaki gunung Singki, pegunungan yang beraura mistis di Tanah Toraja, tanah kelahiranku. Desa kecil bergunung-gunung, tempat leluhurku dari daratan Tiongkok datang dan kemudian menetap. Mereka berdagang lampu semprong minyak tanah dan kesumba pakaian, beranak pinak, dan mulai bercakap-cakap dalam bahasa daerah dan ikut minum ballo’ manis.

Aku anak perempuan yang lamban, begitu kata semua saudaraku, dan mereka memang benar. Di hadapan para serdadu Jepang itu, aku lupa untuk segera melakukan ojigi membungkuk memberi hormat yang dalam.

Mereka menghunus bayonet, awas dan bersiaga untuk segera dihujamkan ke jantungku. Semua memandang ke arahku dengan kaku dan dingin dan gelap. Aku malah meremas rok hitamku yang berbahan kain kasar berkanji. Aku ketakutan, tapi lupa harus berbuat apa. Rambutku yang jatuh sepinggang, terbang ke sana ke mari mengikuti gemuruh angin senja. Nyawaku pun bergemuruh di dalam raga, kukira inilah akhir dari hidupku.

Tapi anehnya, mereka berlalu dalam hening. Kata penduduk kampung, serdadu-serdadu Jepang yang kejam itu, mengabaikanku karena bisa jadi mereka mengira melihat setan perempuan berambut panjang di kaki gunung.

Kembali ke maut tadi, dia juga suka menggeledah seisi kamarku. Mencari kenangan buruk yang bisa dimakan. Tapi, aku jarang menyimpan kenangan. Aku tidak punya dendam dan aku juga tidak terlalu punya banyak kebahagiaan.

Kenangan yang paling membekas hanyalah ketika aku kehilangan sepanci besar sop kacang merah dengan tulang sapi nikmat yang kumasak sendiri dan kubawa ke gereja untuk acara makan siang bersama. Pasti ada jemaat lain yang menyembunyikan sepanci sop itu, entah di mana. Mungkin mereka memutuskan untuk menikmatinya sendiri. Padahal aku yakin, sop buatanku itu akan kaya pujian, mungkin lebih enak dari sop buatan Esau di kisah perjanjian lama. Aku akhirnya menghabiskan sepanjang pagi dan siang itu dengan perasaan jengkel luar biasa dan bahkan sudah menuduh seluruh jemaat gereja berkomplot, kecuali sang pendeta dan istrinya. Ya, mungkin hanya ini saja…

Begitulah, bagi maut, aku adalah perempuan tawar. Tapi, dia malah menjadi semakin rajin datang. Makan pagi dan makan siang dan makan malam. Dia selalu ikut mengunyah. Dia sepertinya bukan maut, melainkan setan yang kelaparan.

Menantuku semakin letih harus mencukupi semua kebutuhanku, dia juga menerima saja diperlakukan tanpa harga dari anak-anakku yang lain. Menantuku ini menua dengan cepat. Walaupun mataku buram, aku bisa melihat wajahnya sudah berkerut dalam, serupa nenek peyot. Rambutnya sudah memutih dan menipis dan tulang-tulangnya mulai sakit karena bekerja berat. Tapi kepadanya aku tidak menaruh kasih. Toh dia perempuan berhati dan berbahu kuat. Biarkan saja dia menjalani takdirnya.
Bahkan menurut kepercayaannya, apa yang sedang dia jalani ini ialah akibat di kehidupan lalu, dia banyak berutang kepada keluarga kami. Maka, itulah di kehidupan yang sekarang ini, dia berjodoh dengan Si Sulung dan harus membayar semua utang-utangnya kepada keluarga kami. Ah, betul-betul kepercayaan yang menguntungkan kami.

Menjelang pagi maut itu datang lagi. Bersiul-siul. Menunggu susu panas yang kata menantuku, mengandung kalsium tinggi untuk lansia. Aku memandang dengan acuh dan menantang ke arah sang maut. Matanya beserbuk, ada bubuk-bubuk mentari yang silau mengitarinya. Sepertinya dia sangat bersungguh-sungguh kali ini.

“Sudah?” tanyanya mulai angkuh.

Aku menyeringai culas, “Jemputlah dulu anak lelakiku yang bungsu itu. Barulah aku mau menyusul. Dia anak kesayanganku yang di masa mudanya gagah menawan.

Kepadanya aku menaruh kasih. Seumur hidup dia menyusu padaku, sejak lahirnya sampai hari ini, walaupun dia sudah bercucu pula. Karena dia selalu gagal menafkahi dirinya sendiri, aku yang harus menyambung nyawa menjadi objek wisata untuknya.

Aku punya dompet lain yang kusembunyikan khusus, secara rutin dia akan datang dan mengosongkan seluruh isinya. Jika aku ikut denganmu sekarang, kepada siapa dia akan menyusu?”

Dan maut pun berdecak-decak kagum, “Kasih ibu sepanjang masa…” (M-2)


[1] Disalin dari karya  Caroline Wong 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 6 Januari 2019