Kepentingan – Stilistika Phobia – Tarian Singa

Karya . Dikliping tanggal 2 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Kepentingan I

Decitan awan-awan berlari menyusuri 
Perkebunan wajahmu yang memanjang 
Sejauh mata 
Menarik doa menjadi bentangan sayap malaikat 
Yang menyebarkan rezeki berupa cinta 
Dan kolase-kolase keinginan di sungai Citarum 
Yang telah menanggalkan keperawanannya 
Kepentinganku 
Bukan untuk menanak cintamu pada peraduan 
Atau mencipta beras untuk dimasak 
Pada tanur-tanur perkasihan yang membakar 
Melainkan 
Usaha dalam membuat sebuah peradaban 
Dalam lipatan-lipatan sungai kehidupan 
Kau tak sadar 
Aku tengah membersihkanmu dari limbah 
Aura hitam yang penuh busuk dan dendam 
Sehingga kau benar-benar lupa bahwa 
Tidurmu malam ini akan panjang 
Sehingga kau perlu memakai sepatu ke atas dipan 
Kepentinganku 
Adalah kembali membersihkan ruh 
Dengan khitah seribu nafsu 
Agar izin pada pintu takdir 
Dituliskan kembali dengan sempurna 
Bahwa
 Wajahmu adalah kaligrafi agung 
Yang hidup dalam seribu malam 
Batulayang, 2015

Kepentingan II

Ingat, saat kita bermalam di celah-celah awan 
Yang ragu dengan masa depannya?
Ingat saat kita bermain-main di tanah lapang 
Yang putih dan senyap, dengan harapan 
Pertandingan 2 x 45 menit itu kita selesaikan 
Dalam waktu sekerling mata?
Ingat, saat kakang prabu lupa 
Bahwa mengingatmu itu haram dilupakan 
Saat tidur dan jaga?
Ingat, mengapa Tuhan mengutuk Iblis 
Bukan karena tak percaya 
Namun karena dia berlisan tentang kemuliaannya 
Di atas kemuliaan-Nya?
Ingat, saat aku nyatakan cinta 
Dan kau tengah membaca tsuraya ke utara 
Lalu kau menatap mataku dan menyimpan pesan; 
“Aku bukan pecatur yang suka katakan `skak’…!“ 
Batulayang, 2015

Stilistika Phobia

Aku tak suka lisanmu 
Mampat mencipta kutuk 
Manis, likat berbusuk 
Batulayang, 2015

Tarian Singa

Membaca deru tonggeret asar 
Membenamkan wajahmu pada luka-luka 
Mengingatkan kambing tua mengembik 
Di kandang yang tak terurus cinta 
Rumput-rumput yang membusuk dan kotoran 
Yang lembab melampus 
Tarian singa 
Menjadikan mandi sore pada akar pepohonan 
Menyehatkan jiwa yang memberontak; 
“Aku tidak tuntas membaca cintamu di pagi hari itu.“
Awan-awan pengiring senja 
Bertasbihan bersahut-sahut menuju sandyakala 
Yang siap menutup peradaban berahi 
Kita senyap mencipta diam 
Mengukirnya dengan doa dari tatah harap 
Serta deru auranya yang cemas 
“Cukup!“ kau kata 
Menghentikan langkahku yang baru akan kumulai kembali 
Bukan untuk menarik asa di rerumputan 
Melainkan menyebar mistis layung yang membuai 
Haru di tepi jagat yang miskin tarianmu 
Aku diam 
Membacamu, tanpa keluhan.
Batulayang, 2015
Asep Suhendar, lahir di Bandung 1980, adalah guru bahasa Indonesia di SDIT Anni’mah Kabupaten Bandung. Menulis esai sastra dan menyukai puisi.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Asep Suhendar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 2 Agustus 2015