Keris Lancip Putri Nglirip

Karya . Dikliping tanggal 5 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

Hingga kini kau masih di dasar kedung1 di daerah Jojogan2, menjaga mayatmu sendiri, yang tak lapuk meski terendam air dalam kurun bertahun-tahun. Mayat yang sungguh menyedihkan; dadanya terluka dan kakinya diikat dengan tali yang disangkutkan pada batu besar sehingga tak mungkin untuk mengapung. Kau tidak ingin hidup kembali karena perempuan yang kau agungkan sudah memilih mengurung diri di gua sampai mati, di balik air terjun biru tua (air terjun yang gaduh, riuh, seolah itu ungkapan ‘aduh’ dari air yang jatuh), tepat di atas kedung itu. Dan, toh, meskipun ingin kembali, kau tidak mungkin bisa melakukannya. Tubuhmu sudah menjadi mayat.

Perempuan yang kau agungkan mati tidak meninggalkan apa-apa kecuali keris lancip berukiran naga tua. Keris peninggalan seorang ibu yang pernah menembus jantungmu.

Itu terjadi pada suatu pagi yang tak sempat kau catat sebagai hari paling mengerikan seumur hidupmu. Kau mengunjungi rumah perempuan yang kau cintai. Perempuan yang kelak dalam sebuah dongengan Tuban disebut sebagai Putri Nglirip.

Seorang gadis cantik, yang kira-kira deskripsi lengkapnya seperti ini: berambut panjang hitam legam, kulit putih alami, gigi rapi, hidung mancung, dan wajah mungil yang menyimpan bahagia.

Kau mengetuk pintu rumahnya dan ia membuka pintu itu. Ia menyambutmu. Ia, dengan kesendiriannya, mengaku bosan di rumah setiap hari. Tanpa banyak bicara, kau menggandeng tangannya dan berjalan menuju lembah tempat air terjun berada. Sepanjang jalan, wajahnya ceria dan memang semenjak mengenalmu, ia selalu terlihat ceria. Padahal, sebelumnya, kau tahu ia selalu murung sejak kehilangan seorang ibu yang kebetulan sudah janda. Seorang ibu yang mati karena sakit dan tak punya biaya berobat ke dukun.

Di situlah, di sebuah lembah, kalian duduk berdua memandangi air terjun, atau orang-orang di situ memanggilnya grojogan. Kau selalu suka dengan suara air terjun. Meski gaduh, kau tetap menyukai suara itu. Suara yang tidak mengganggu sebagaimana sorak-sorai manusia menyanjung rajanya, atau lantunan tembang-tembang dari mulut orang buta nada. Jadi, kau selalu bisa merenungkan sesuatu jika berada di tempat itu. Sesuatu yang kadang-kadang bisa menjadi kidung-kidung sederhana untuk menyanjung Si Putri atau menjunjung keagungan Roh Nenek Moyang.

Tetapi, pagi itu kau tidak merenungkan apa pun. Sebab, kau akan mengajak Putri bicara tentang suatu hari ketika kau harus menikahinya. Bagaimanapun juga, ia orang yang kau cintai dan kau orang yang dicintainya. Kau tak ingin hari-harimu penuh dengan pekerjaan membosankan: dari waktu ke waktu hanya memintal rindu, hanya melumat jarak dengan khayalan-khayalanmu. Kau ingin satu rumah dengannya dan mengisi rumah itu dengan cerita-cerita bahagia.

Di tengah perbincangan mengenai pernikahan itulah, tiba-tiba datang seorang lelaki dengan tubuhnya yang kekar, memakai baju perang dan di tangannya terdapat keris yang ia genggam. Bagaimana ia bisa ada di sini dan kenapa ada keris di tangannya, kau tidak tahu. Yang jelas, kau kenal persis, keris itu milik ibumu. Ah, bukan. Keris itu sudah milik Putri Nglirip.

Kau masih ingat satu tahun yang lalu, benda itu kau berikan pada Putri Nglirip yang kira-kira begini kronologinya:
“Aku punya sesuatu untukmu,” katamu sambil mengeluarkan keris lancip sepanjang lengan manusia yang kau selempangkan di balik punggung. Ia terperanjat. Tetapi, perlahan, tangannya menyentuh keris itu. Matanya menatap matamu seolah tak percaya di dunia ini kau punya sesuatu yang berharga selain kelamin dan kesetiaan.

“Anggap saja sekarang aku melamarmu,” katamu. Ia mula-mula tertegun, kemudian tak lama, kalau dalam hitungan waktu kira-kira satu menit lebih dua detik, ia tersenyum. Senyum yang membungkam semua perkataan dan hanya menghasilkan anggukan. Kau akhirnya mengikuti gerak-geriknya: tersenyum dan mengangguk-angguk.

“Siapa dia?” bisikmu ke telinga Putri ketika lelaki itu mendekat.

“Aku tidak tahu,” balasnya dengan nada suara bergetar. Kakinya perlahan mundur. Ia ketakutan. “Kenapa keris itu dia yang pegang?”

Putri menundukkan kepala. “Aku tidak tahu. Keris itu hilang sudah tiga hari yang lalu. Aku ingin memberi tahumu, tapi takut kamu marah. Aku takut kamu.

Belum lengkap Putri bicara, ada banyak orang datang dari arah belakangmu. Semuanya memakai peralatan lengkap. Lengkap di sini berarti baju perang khas prajurit, tameng, pedang yang mengilat, dan wajah bengis yang tega melihat darah siapa pun mengalir. Itu sebenarnya sungguh tidak adil bagi peraturan peperangan di tempat mana pun. Tetapi, sebagai lelaki, kau akan tetap berusaha melawan.

Jelas, sekarang kau telah terperangkap. Di sekitar grojogan itu, tidak ada siapa-siapa, kecuali kau, Putri, dan orang-orang yang akan membunuhmu. Dan ketika mereka menyerbumu, kau berusaha melawan, dan tentu saja sudah bisa diduga pada akhirnya. Dalam waktu singkat, kau sudah menjadi orang paling menderita.

Keris Lancip Putri NgliripSebelum benar-benar mati, kau dibawa ke hadapan seorang lelaki tua. Pikirmu itu adalah raja. Dan, ya, memang benar. Itu adalah rajanya. Dalam keadaan yang tidak berdaya, kau ditenteng, dan tanpa aba-aba, lelaki tua dengan tawa liciknya, menusukkan keris itu ke dadamu.

Dadamu bersimbah darah, matamu berkunang-kunang, dan entah detik ke berapa, detak jantungmu berhenti. Kau tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Ah, bukan, bukan itu maksudnya. Kau tetap tahu apa yang terjadi selanjutnya. Hanya, kau bisa tahu karena mata arwahmu, dan kau tidak mungkin melawan atas itu. Ketika tanganmu mengepal dan memukul satu per satu dari mereka, kau hanya memukul kehampaan. Duniamu dan dunia mereka sudah berbeda.

Ketika orang-orang itu mengikatkan mayatmu (tepatnya di bagian kaki) ke batu besar dan batu itu diceburkan ke dalam kedung, kau kecewa dengan dirimu sendiri karena tidak bisa melawan.

Lantas kau menangis ketika tahu orang-orang itu membawa kekasihmu, dan kau juga tidak bisa berbuat apa pun. Kau mengikuti arah langkah mereka dan menyesal kenapa hal itu kau lakukan. Mereka menaikkan Putri ke andong secara paksa. Mereka membawa Putri ke utara, yang kau pasti tahu, kerajaan Tuban. Dan kau berpikir bahwa pastilah Putri akan dijadikan istri raja itu (entah istri yang keberapa).

Orang-orang Jojogan tidak tahu apa yang terjadi (atau memang mereka takut ikut campur ketika pasukan beserta rajanya datang ke grojogan?). Kebanyakan mereka datang ke sana seusai kejadian pembunuhan itu. Mereka tahu ada pembunuhan di sana karena darah berceceran. Tetapi, mereka tidak tahu siapa korbannya.

Baru setelah beberapa hari berlalu, mereka tahu. Ada yang hilang di antara mereka: dirimu dan Putri Nglirip.

Setahun kemudian, ketika kau termenung di bawah air terjun, pada suatu malam yang menyediakan bulan purnama di atas langit, Putri datang kembali. Entah bagaimana cara ia kembali. Yang jelas tubuhnya tak seindah dulu dan wajahnya tidak sebahagia pada saat bersamamu. Putri menjadi pendiam, dan bahkan bisa dikatakan bisu. Kau terus menyaksikan apa yang dilakukan Putri: berenang di permukaan kedung dan menuju gua di balik air terjun.

Arwahmu kemudian melayang mengikutinya. Tetapi, entah kenapa ketika ketika ingin memasuki gua itu, arwahmu terpental. Apakah gua ini hanya diciptakan untuk perempuan, pikirmu. Dan memang, gua itu hanya diciptakan untuk perempuan. Akhirnya, kau kembali bersedih, turun ke dasar kedung dan menunggui mayatmu sendiri. Mayat yang tidak bisa lapuk. Entah kenapa.

Ya, kau adalah Joko Lelono, pemuda miskin dari Jojogan itu. Pemuda yang berusaha setia terhadap perempuan yang dicintainya. Tetapi, di dunia ini memang kesetiaan selalu kalah dengan kekuasaan.

Waktu-waktu berikutnya, kau akan lihat betapa setiap tahun air terjun itu selalu meminta tumbal seorang perjaka sehingga orang-orang Jojogan mengubah namanya dari grojogan menjadi Nglirip. Mereka percaya, Putri Nglirip telah menjadi ratu di air terjun itu, dan umumnya ratu, selalu meminta tumbal untuk kebahagiaannya.


[1] Disalin dari karya Daruz Armedian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 4 November 2018