Kerudung Ungu

Karya . Dikliping tanggal 24 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
SETELAH lebih setengah jam berputar-putar di lantai satu toko buku kesayanganku, aku belum juga menemukan buku yang cukup memikatku. Aku berjalan pelan melewati rak demi rak yang memajang berbagai jenis bukudan melirik sekilas, melihat sampul serta membaca judulnya saja. Lama-lama dilanda bosan. Aku memutuskan naik ke lantai dua, ke salah satu sisi yang berdinding kaca.
Bruukkk!

Suara buku berjatuhan di belakang mengusikku. Aku menoleh. Seorang gadis berkerudung warna ungu tampak sibuk memunguti buku-buku yang berserakan di lantai. Beberapa orang yang ada di dekatnya tidak peduli pada gadis itu. Dia dibiarkan memberskan buku-buku itu sendiri. Karena kasihan, aku pun mendekati gadis itu dan ikut memunguti buku-buku yang kemungkinan dialah yang menjatuhkannya.
“Terima kasih, ya. Maaf kalau aku jadi merepotkan Kakak,” ucapnya.
“Lain kali lebih berhati-hati, ya!” ujarku
Gadis itu tersenyum. Aku pun membalas senyumnya. Aku dan dia lantas bergegas memunguti semua buku yang ebrserakan di lantai sebelum penjaga toko buku mengetahuinya dan memberi teguran.
“Aku Abi.” Aku menoleh pada gadis berkerudung ungu itu dan menyebutkan namaku ketika meletakkan buku terakhir yang aku ambil dari lantai.
Gadis itu terlihat sedikit terkejut. Entah karena ajakan perkenalanku atau karena mendengar namaku. dia jadi bersikap agak kikuk. Sambil tersenyum canggung, dia ragu-ragu mengulurkan tangannya. 
“Aku U…”
Gadis itu menarik tangannya kembali dan langsung merogoh saku rok panjangnya yang berwarna ungu tua. Teleponnya berdering nyaring. Mungkin, karena takut mengganggu kenyamanan pengunjung toko buku, gadis itu buru-buru pergi, dia belum sempat menyebutkan namanya.
 ***
KALAU bukan karena ibu yang memaksaku berobat, aku malas sekali pergi ke Puskesmas pagi ini. Ini hanya flu biasa, pasti akan sembuh dalam beberapa hari setelah aku istirahat dengan baik. Tapi daripada ibu terus uring-uringan setiap aku bersin dan batuk-batuk, aku turuti kemauan ibu.
Tepat pukul 20.00 aku tiba di Puskesmas. Pasien yang antre sudah luar biasa banyak. Kebanyakan lanjut usia. Sisanya anak-anak, ibu hamil dan beberapa remaja seusiaku.
Aku memerhatikan pasien yang satu per satu masuk dan keluar ruang dokter. Ada wajah-wajah optimis. Ada wajah-wajah yang terlihat takut. Ada pula yang biasa-biasa saja. Perhatianku kemudian beralih pada beberapa anak-anak. Ada yang tidak mau diam. Dia berjalan-jalan mondar-mandir dan berlari emmutari ruang tunggu. Dia tampak sehat sekali. Ah, mungkin mau imunisasi, ya? Anak lain yang mencuri perhatianku adalah anak yang sebentar-sebentar menangis. Kasihan sekali. Pasti dia sangat tidak nyaman dengan sakit yang menderanya.
Seorang ibu bangkit dari duduknya untuk mendiamkan anaknya yang menangis. Dia menggendong anaknya dan berjalan ke arahku. Sepertinya, aku mengenali wajah ibu itu. Aku mengecek mata dan memutar ulang kejadian beberapa hari lalu yang tersimpan di memori otakku. Penglihatanku tidak  mungkin salah. Dia orang yang sama dengan gadis berkerudung ungu yang aku temui di toko buku. Benarkah dia sudah jadi seorang ibu? Tidakkah usianya terlalu muda untuk menjadi serang ibu?
“Ibu Umi!” Petugas menyerukan sebuah nama.
“Iya!” sahut gadis berkerudung ungu itu. Dia masuk ke ruangan dokter bersama anak kecil yang terus menangis di pelukannya.
***
ENTAH kenapa wajah gadis berkerudung ungu itu kerap terngiang di pikiranku. Dia baru dua kali aku temui tapi wajahnya kerap berkelebat tanpa kenal waktu hingga mengganggu konsentrasiku. Karena tiba-tiba terbayang wajahnya, aku sampai terjatuh dari motor. Akibatnya, atnganku terkilir. Dalam beberapa hari, aku tidak akan bisa mengendarai motorku. Maka, angkutan umum menjadi kendaraan andalanku ketika aku akan pergi ke mana-mana termasuk ke sekolah.
“Permisi. Boleh geser sedikit, kak?”
Sebuah suara membuatku terjaga dari lamunan. Aku sedikit menggeser posisi dudukku. Berapa terkejutnya aku ketika aku menoleh dna melihat orang yang sudah duduk di sampingku itu. Dia si gadis berkerudung ungu. Tapi, kali ini, dia tidak memakai kerudung warna ungu. Dia berkerudung putih dan berseragam putih abu-abu. Dia mau berangkat sekolah seperti aku?
“Kakak yang bantu aku beresin buku yang aku jatuhin di toko buku, kan? Kak Abi?” Dia mengingat-ingat.
“Mmm, kamu Umi?” tanyaku hati-hati.
“Iya. Kakak tahu namaku dari mana? Kita kan belum sempat kenalan. Oh, baca di sini?” Dia menunjuk bordiran yang terpasang di seragamnya.
“Keponakanmu? Orang tuanya kemana? Kok, kamu yang bawa dia berobat?” Bukannya menjawab pertanyaannya, aku malah memberondong balik dia dengan pertanyaanku.
Aku mendengar tarikan napas panjangnya lalu dia hembuskan perlahan. Sepertinya, ada sesuatu yang berat yang ia pendam. Dia kemudian menatapku dengan tenang. Mungkin dia biasa menghadapi orang-orang sepertiku yang ingin tahu kehidupannya setelah melihat dia bersama orang-orang sepertiku yang ingin tahu kehidupannya setelah melihat dia bersama seorang anak yang dia asuh seperti anaknya.
“Keponakanku adalah salah satu anak yang kurang beruntung. Dia harus berpisah dengan kedua orang tuanya di usia yang sangat dini. Di rumah, hanya ada aku dan nenekku. Kamilah yang mengasuhnya. Nenek sudah tua dan tidak memungkinkan pergi sendirian. Aku terpaksa absen sekolah demi mengantar si kecil Nia, keponakanku, berobat. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama dia.”
Aku melihat bening menggenang di matanya. Aku melihat cinta yang dalam dari hatinya untuk snag keponakan. Luar biasa. Hanya kata itu yang mampu aku ucapkan dalam hati untuk memujinya. Di usia semuda dia, dia sudah belajar sekaligus menjalankan peran sebagai orang tua bagi keponakannya. Aku menyesal pernah terlalu cepat memberinya penilaian yang salah hanya karena dia menggendong seornag anka kecil yang dia perlakukan seperti anaknya. Luar biasa. []


Nury Purwanti, lahir di Cilacap, 4 Januari 1990, tinggal di Dusun Sidasari RT 01 RW 04 Danasri Nusawungu Cilacap 53283
Rujukan:
[1] Disalin dari kaya Nury Purwanti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 22 Februari 2015
Beri Nilai-Bintang!