Kesempatan Kedua

Karya . Dikliping tanggal 6 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

MASIH terngiang dengan jelas di telinga kutentang dongeng kakek dahulu, sewaktu aku hendak tidur dan berangkat sekolah. Dongeng itu selalu diucapkan kakek dan aku selalu antusias mendengarnya. Katanya ini semua adalah milik kita, kepunyaan kita, warisan dari zaman kakek dan peninggalan keramat dari para leluhur untuk zaman kamu dan cucu kakek di masa depan.

KAU di sana ketika malam yang dihujani bintang kian menderang, menetesi air mata dari lubuk hati dan mengalir dalam Iuka yang kau alami pada masa lalu yang masih menjadi misteri besar untukku. Kau di sana dengan senyuman dan air mata.

Hari indah di awal tahun pelajaran baru dengan ruang baru dan orang-orang baru yang sebenamya tidak kupedulikan. Aku hadir sebagai siswa SMA di Tangerang yang dipenuhi pabrik-pabrik besar namun mendapat gelar Adipura Nasional. Namun, di sini aku tersiksa oleh dunia.

Ketika tiba saatnya bel berteriak meme­rintahkan kami semua untuk masuk kelas dengan sangat nyaringnya sampai mem­buat telinga sakit mendengarnya, hampir 15 menit kami menunggu guru membos­ankan yang baru juga, hingga ia pun datang dengan agenda dan jurnal yang dipegangi­nya.

“Baik, anak-anak. Di sini saya tidak akan langsung mulai belajar, kita hanya akan perkenalan saja,” ucapnya. “Nama saya Bima Setiawan, kalian bisa memanggil saya Pak Bima,” ujarnya melanjutkan.

“Pagi, Pak Bima!” serentak murid-murid membosankan yang lainnya.

Aku hanya duduk memandang keluar jendela yang dihuni oleh awan putih yang saling bergelantungan di langit

‘Yudha Lesmana!” panggil Pak Bima yang menyadarkan diriku dari imajinasiku. “Seka­rang kamu, silakan dan memperkenalkan dirimu ke teman-temanmu yang lain.”

“Baik, Pak.”

Aku pun bangkit dari tempat dudukku dan berjalan dengan santai menuju malas. “Kenalin, nama saya Yudha Lesmana, dari Tanah Tinggi,” ujamya.

Beberapa anak perempuan terlihat saling berbisik, entah apa yang mereka bisikan aku sungguh tidak peduli.

“Keren juga ya si Yudha,” bisik perempuan yang duduk di bangku ke-2 dari depan kepada teman sebelahnya.

Setelah mencapai tempat dudukku kem­bali, aku hanya kembali memandangi awan yang berpisah menjadi bagian kecil dan memberi jarak agar birunya langit tampak jelas, dan diriku pun hanya tersenyum.

“Baik. Yang terakhir Vannesa Merlyn, silakan maju dan perkenalkan diri kamu ke teman-teman yang lain,” ujar Pak Bima.

Vannesa Merlyn. Nama itu berhasil menarik mataku hanya tertuju padanya, ia pun berjalan dengan indah, ia juga meng­ingatkanku akan seseorang yang ada di malam berbintang. Entahlah apakah itu hanya mimpi, aku pun tak mengerti.

“Perkenalkan, nama saya Vannesa Mer­lyn. Saya berasal dari Poris lndah.” Ia lang­sung menuju tempat duduknya yang berada di depanku dan memandang langit biru itu.

Vannesa Merlyn, siapakah kamu? Hanya itu yang kupikirkan bersama dengan mimpi yang menghilang itu hingga sekolah usai. Dia membuatku bergetar.

“Vannesa!” panggilku saat ia masih menatap senja.

“lya?” jawabnya.”Mmmm…Yudha Lesmana ya?”

“lya gue Yudha.”

“Kenapa Yud?”

“Lo sampe kapan mau di sini?”

“lya, kenapa gitu?”

“Gak apa-apa kok, gue nemenin lo ya.”

“Terserah lo itu mah.”

Kami berdua hanya duduk berhadapan dalam diam di antara langit yang semakin gelap bahkan hingga tak ada lagi jingga.

“Kenapa lo mau nemenin gue sampe sekarang?” Tanyanya masih memandang malam baru.

Gak tau ya. Gak cuma mau aja di sini,” jawabku.”Emang lo nungguin apa?”

“Gue nunggu langit malam tanpa gemerlapnya  Kota Tangerang.”

“Emangnya ada apa di langit kalau gak ada lampu kota?”

“Ada orang yang gue tunggu, saat itu keluar dari porosnya.”

“Siapa?” jawabku.

Seketika bayangan akan mimpi itu pun kembali datang kepadaku. “Entahlah, gue gak bisa ngasih tau lo. Lo yang harus ingat sendiri.”

“lngat apa? Gue gak ngerti,” jawabku bingung.

Lampu-lampu di sekolah tiba-tiba mati seluruh­nya, mungkin listriknya mati pikirku. Kudengar suara bangku tempat Van­nesa duduk berbunyi.

“Vann, mau ke mana?”

‘Tempat itu.”

“Ke mana?” jawabku bin­gung.

Vannesa hilang, ia tak terlihat di mana pun, padahal hanya be­berapa detik aku menetap di kelas setelah Vannesa pergi. Pikirku, ia mungkin sudah pulang. Saat aku ingin pulang,mimpi itu temgiang. Berkali-kali, berulang-ulang. Seorang perempuan di atas bukit mawar tanpa goresan duri yang dihujani bintang gemerlap, dengan air mata yang mengaliri wajahnya seiringan dengan senyuman yang menghiasinya.

Kau hanya berbisik dalam jarak “Akhimya kau menemukanku.”  Air mataku pun mengalir deras. Kuingat perempuan itu. Dia yang bermandikan bintang dan tersenyum saat menangis, bukit mawar berduri yang kuingat tak ada di sini. ltu hanyalah mimpi. Namun, di sini hanya atap sekolahlah yang punya suasana yang sesuai dengan bukit itu.

Aku pun berlari, sekencang-kencangnya. Mengejar dia yang pemah terlupakan, ingatan lalu itu selalu hadir dalam langkahku.

“Akhirnya kau menemukanku,” ujar Mer­lyn dalam jarak. Langit tengah dihujani bin­tang yang keluar dari porosnya, diterangi bulan. Kau di tengah mereka semua. Bahkan mawar yang tak pernah ada di sini pun mengelilingimu.

“Akhirnya aku menemukanmu. lngatan yang terlupa itu kau Vannesa Merlyn, perempuan yang bermandikan bintang dan tersenyum saat menangis menatap masa. ltulah dirimu. Satu-satunya perempuan yang membuatku menangis. Oleh kena­ngan yang kutak tahu apa artinya,” ujarku pada Merlyn.

‘Ya, itu aku. Aku yang merinduanmu. Aku yang menunggumu ‘tuk ingat semua ini,” jawabnya dengan tangisan dan senyuman. “Aku yang hampa tanpamu, aku yang terlu­pakan olehmu,” ujamya melanjutkan.

la berjalan perlahan menuju pagar pem­batas dengan memandang hujan bintang.

“Kau mau ke mana? Jangan pergi!” tanyaku melihatnya.

“Kamu belum mengingat semuanya, dan waktuku sudah habis di sini,” jawabnya. “Aku sudah ingat semuanya. Kau yang di atas bukit, kau yang menangis tetapi tersenyum, aku ingat”

“Kamu belum Adam,” jawabnya. “Kamu bahkan belum tau namaku.”

Aku bingung, Adam? Apakah aku belum mengingat semuanya, siapakah dia, sia­pakah aku.

Vannesa menjatuhkan dirinya sendiri dari pagar pembatas. Waktu yang kurasa­kan begitu lambat, sangat lambat hingga aku bisa melihat senyumannya yang ha­ngat. Kumencoba berlari sekuat-kuatnya, menghampiri Vannesa.

‘Vannesa!!” Teriakku membuatku ter­sadar dari mimpiku.

Orang-orang yang lain memandangiku kaget dan tertawa. Perempuan yang ada di depan bangkuku juga memandangiku sam­bil senyum  geli.

“Lo gak apa-apa?” tanya dia.

Gak apa-apa kok gue. Sorry ngagetin,” jawabku menahan malu.

Ternyata itu semua hanyalah mimpi, aku tertidur setelah memperkenalkan diri, dan sekarang adalah absen terakhir yang akan dipanggil Pak SBima.

‘Yudha, kamu gak apa-apa?” tanya Pak Bima.

Gak apa-apa Pak. Maaf ketiduran, Pak.”

‘Ya udah kamu cuci muka dulu Yudha,” pinta Pak Bima.

“lya, Pak,” jawabku dan berjalan keluar kelas.

“Baik, yang terakhir,” ujar Pak Bima. “Vannesa Merlyn, silahkan maju dan perkenalkan diri kamu ke teman-teman yang lain,” ujar Pak Bima.

Aku terhenti, ingatanku akan mimpi tadi langsung meracuni pikiranku. Apakah mimpi itu nyata?***

 

[1] Disalin dari karya Muhamad Wildan Kemal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 5 Agustus 2018