Kesucianmu Menakutkan

Karya . Dikliping tanggal 27 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

KESUCIANMU menakutkan. Aku tidak bisa berkata apa-apa, bisik Broto di dalam hati.  Aku baru menyadari sekarang ketika di ruang tamu ini. Apa boleh buat. Maksudku datang ke sini baik. Mudah-mudahan akan berakhir baik.
Sore itu Broto datang ke rumah orangtua Surti sehari setelah mudik. Tadi pagi Broto mendengar Surti juga mudik. Pulang untuk merayakan Idul Fitri. Sendirian. Ia dengar begitu dari ibunya. Jadi Surti masih belum menikah. 
Sudah tiga tahun Broto tidak pernah mudik karena hidupnya di rantau kurang makmur. Baru tahun ini ia mendapat keberuntungan, bisa menabung, dan mudik. Ia merasa hidupnya di rantau mulai mapan.
Ketika Broto datang, Surti sudah menemui sebentar. Lalu bilang mau mandi dan salat Asar.  
”Tunggu sebentar ya Mas Broto,” katanya.
”Ya, ya,” sahut Broto gugup.
Surti masih seperti dulu. Manisnya. Wajahnya teduh tapi sorot matanya yang jernih tajam membuat Broto salah tingkah. Ia tadi seperti melihat cermin dan melihat betapa dirinya memantul di cermin itu, sangat kotor dan tidak pantas menemui Surti. Tapi kalau ia tidak menemui Surti bagaimana hidupnya bisa tenang. Ia merasa ada ganjalan besar di hatinya merasa ada kabut tebal dalam hubungan dia dengan Surti. Kalau saja tadi pagi ia mendengar dari ibunya atau dari tetangga bahwa Surti mu-dik bersama suami dan anak-anaknya, maka persoalannya menjadi jelas dan ia tidak perlu bersusah payah sore ini ke rumah dia. Cukup besuk, sehabis salat Id di lapangan depan sekolah ia menemui Surti dan meminta maaf sebagaimana para warga desa tu.
Tapi Surti pulang sendirian. Dan kabar bahwa dia belum menikah dan tidak mau dijodohkan dengan anak Pak Lurah itu benar. Kabar yang dibawa teman sedesa ketika bertemu di rantau selalu dia cermati.
”Surti masih sendiri. Pulang mudiklah tahun ini. Mungkin dia masih menunggumu,” goda Joko, teman sedesa yang pulang mudik duluan kemarin lusa.
Kata Joko itulah yang membuat dirinya mau bersusah payah naik bus pulang. Ia punya harapan dan semangat dalam mudiknya. Selama tiga tahun di rantau hidup terasa hambar dan lebih dibebani rasa bersalah. Rasa bersalah kepada Surti. Sebab setelah samasama wisuda ia makin akrab dengan gadis itu. Dan ketika gadis itu mendapat pekerjaan sebagai guru di kota S sebenarnya ia juga pengin bekerja di kota itu. Tetapi malam menjelang keberangkatan Surti ke kota tempat bekerjanya, terjadilah malapetaka itu. Broto yang merasa mendapat lampu hijau untuk makin mendekati Surti malam itu berusaha memberi kenang-kenangan yang indah. Sebuah ciuman di bawah pohon belimbing di halaman rumah. Tetapi Surti marah dan menampar Broto.
”Mas Broto, jangan macam-macam. Aku belum istrimu. Aku tidak mau gara-gara ciuman ini aku tiap malam mendapat mimpi buruk karena ditegur oleh ayahku almarhum,” katanya tajam lalu berlari masuk rumah, menutup pintu keras-keras.
Broto lemas. Seminggu kemudian dia memutuskan merantau ke kota  Y. Berkat pertolongan temannya ia bisa menjadi mentor di bimbiingan belajar, mengajar les privat. Tentu honornya masih belum banyak. pas-pasan. Apalagi dia, untuk melupakan peristiwa yang menyedihkan itu, ia mengikuti banyak kursus. Termasuk kursus komputer, kursus nyopir dan montir, kursus bahasa asing. Penghasilan yang paspasa makin sedikit lagi. Ia tidak bisa menabung dan tidak bisa mudik.
Hidungnya mencium bau harum. Surti muncul. Tersenyum. Berkerudung warna lembut. Broto terpesona. Lalu menunduki. Surti tampak makin suci di matanya.
”Maaf Dik Surti, aku memberanikan diri menemuimu,” katanya terbatabata.
Ia memutuskan memulai percakapan karena sejak Surti muncul dengan wajah sejuk, mata jernih dan bau harum itu sangat menyiksa dirinya. Diam, hanya diiam. Hanya memandang dirinya, seolah dirinya adalah pesakitan yang layak dihukum, atau mirip seorang pasien tak berdaya yang perlu disembuhkan.
”Terima kasih Mas Broto yang masih ingat pada diriku,” jawab Surti dengan suara yang amat merdu di telinga Broto. 
Ia memang amat merindukan suara Surti.
Setelah basa basi menanyakan kesehatan masing-masing percakapan jadi lancar. Bahkan Surti bisa ketawa ketika Broto mengajaknya bercanda dengan menceritakan pengalaman yang lucu dan konyol ketika dia merantau. Surti ganti menceritakan pengalaman serupa ketika menjadi guru di kota S.
Sore meniupkan angin dingin kemarau. Dari musala terdengar suara anak-anak yang takjilan menyanyi lalu disusul suara seorang pengasuh TPA mendongeng. Broto merasa waktu Magrib, waktu berbuka puasa hampir tiba. Dan ia belum mengutarakan maksud sebenarnya.
Aku harus berani mengatakannya, apa pun akibatnya, bisikan kepada dirinya sendiri. Surti ia pandang. Tampak menunggu. 
”Dik Surti, saya perlu mengatakan hal ini. Saya sungguh merasa tidak berharga di hadapanmu. Saya sungguh minta maaf atas kejadian itu. Saya merasa bersalah. Merasa kotor. Dan selama tiga tahun ini hatiku merasa diganduli beban berat. Hidupku juga hambar. Aku merasa ada kabut di antara kita. Oleh karena itu aku mengharap Dik Surti mau memaafkanku. Kalau Dik Surti sudah memaafkanku aku merasa tenteram. Kalau sesudah itu Dik Surti tidak mau menerima diriku aku pun ikhlas. Aku akan meneruskan hidupku di rantau meski dengan hati remuk.”
Broto heran dengan dirinya. Mengapa dia bisa berkata sebanyak itu. 
Surti diam. Matanya berkaca-kaca. Kemudian berkata dengan nada agak marah,” Apakah Mas Broto mengira aku tidak menderita selama ini? Apakah Mas Broto tidak mengira kalau aku pun juga diderita oleh rasa bersalah? Aku memang pernah marah. Tetapi kemarahan itu sudah lama kupadamkan. Aku sadar bahwa dalam hidup ini tidak boleh ada dendam. Oleh karena itu aku jelas memaafkan Mas Broto.” 
Setelah berkata itu Surti bangkit masuk ke dalam. Broto bingung. Lantas masa depan mereka berdua bagaimana? Suram atau cerah? 
Cukup lama Surti tidak muncul. Broto makin tidak mengerti dan tidak paham dengan dunia perempuan. Apa sih yang dia maui kok menghukumku sendirian tanpa kejelasan, pikir Broto. 
Bau harum menyeruak. Muncul lagi. Kali ini ada dua jenis hawa haru. Broto melihat ke pintu.
Surti muncul bersama ibunya. Meski berusia setengah baya, ibu Surti masih kelihatan sisa-sisa kccantikannya.
”Mas Broto, tentang apakah aku menerima dirimu atau menolak dirimu, bertanyalah kepada ibuku ini. Ibulah yang selama ini menjad penasihat hidupku,” kata Surti lembut.
Broto makin bingung. Ia pun bertanya dengan matanya. Mulutnya terkunci. Perempuan setengah baya itu tersenyum. Mengangguk. Hati Broto bersorak. Tapi mendadak perempuan setengah baya itu menyorotkan sinar mata tajam. Broto ketakutan.
”Jangan kau permainkan Surti. Kau bersedia?”
”Bersedia, Bu,” jawab Broto dengan tangan dan punggung berkeringat dingin. ❑ – s
Yogyakarta, 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mustofa W Hasyim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 26 Juli 2015