Kesunyian Mr. Togok

Karya . Dikliping tanggal 24 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

SIAL bagi tuan Togok. Untuk mendapatkan tidur malam ia mesti menelan tiga butir pil nyenyak berikut beberapa jenis kapsul pengatur kolesterol, gula darah, dan penetralisasi eksim gatal. Demikian pula jika menjelang pagi, ia harus sarapan segenggam pil-pil itu—selain pil nyenyak—sebelum menelan asap rokok dan minum secangkir kopi pahit. Begitulah ia hidup dalam keadaan biasa, dan jika dalam skala pikiran tertentu yang membuatnya tak nyaman, ia tak segan meminta dokter kepercayaan membiusnya. Karena hanya itu yang bisa melupakan perasaan ingin bunuh diri atau membunuh orang lain.
***
DI kepalanya, yang hampir tak ada sehelai pun rambut, menganggap yang mengerti persoalan dan penyakit hidupnya hanyalah dokter. Karenanya sudah puluhan kali ia menanyakan kemungkian lain yang membuatnya lebih nyaman bertahan hidup dan awet muda tanpa harus makan obat.
“Yakini Tuhan dengan benar,” jawab dokter bosan.
“Tapi Tuhan membuatku takut, Dok…” lelaki tua itu menyanggah dengan berwajah tinggi hati dan bermartabat serendah iblis.
“KURAWA di Negeri Katulistiwa”, drawing karya Kuswoyo
Dokter yang berparas lembut itu tersenyum. Sebuah alasan yang tak pernah didengarnya selama ini dari pasien gilanya itu. Lalu ia menatapnya seperti menatap bayi, sehingga menjadi sebuah hal yang membuat lelaki tua semacamnya ingin segera mati dan secepatnya bereinkarnasi menjadi bujang agar bisa mencintainya.
Lelaki tua itu terpejam ketika dokter cantiknya memeriksa keningnya untuk memastikan bahwa panas badannya stabil. Dengan begitu pandai dirasakannya napas dokter yang seharum melati itu begitu dekat, sampai muncul kehendak menciumnya untuk ungkapkan kata selamat malam. Semakin keranjingan ketika dokter juga memegang dadanya untuk melihat jantungnya bekerja, dan itu membuatnya langsung dirayu imajinasi kelembutan tangan sehingga terbayang untuk mengajaknya tidur.
Namun itu terjadi selalu sesaat saja. Semua segera selesai seperti tak pernah terjadi apapun, kecuali hubungan dokter dengan seorang pasien gila.
“Tekanan darah Anda sedikit di atas normal, tuan,” kata dengan Dokter tersenyum lagi.
Lelaki itu mengumpat dalam hati dan ingin segera mencekik leher sendiri.
***
BAGI tuan Togok tidak boleh siapapun percaya bahwa dirinya sakit. Apalagi saat ini harus bertarung dengan orang yang ingin membunuh dan menyaingi gurita bisnisnya. Ia tak akan rela siapapun menertawainya atas segala macam alasan atau juga dengan aneka keramahan tengok. Sudah menjadi prinsipnya hidup adalah sekumpulan kebinatangan. Entah itu politik, bisnis, emansipasi, pemberdayaan, toleransi, kesetaraan, bahkan menyembah Tuhan sekalipun. Semua orientasi hidup, baik dicarakan melalui kecintaan atau kebencian, tetap saja ujung-ujungnya kekuasaan materi. Bukankah orang berbuat baik hanya ingin syurga? Dan bukankah surga juga sebuah puncak kecukupan materi? Begitu ia mencibir para pengkhotbah kitab suci.
Karena kepahaman itu ia tak bisa mempercayai apapun selain uang. Ia biasa berjanji untuk mengingkar dan pengingkaran itu demi semata-mata keuntungan dirinya sendiri. Siapa yang mau bangkrut untuk orang lain? Bahkan demi dirinya sendiripun tidak. Kecuali keledai.
Saat ini, ia dalam masalah. Berbagai cara penyelidikan berusaha menuduh dan menyeretnya sebagai pencuri puluhan proyek pemerintah yang raib seperti lelembut. LSM, pegiat antikorusi, bahkan pengangguran tengo yang sok merasa dirugikan karena ulahnya terus mengendus tanpa ia ketahui di mana mereka mengintipnya. Namun, ia berusaha tetap tenang, sebab dalam persoalan itu dirinya akan terus berkelit sampai mati, sekalipun terus menyeret puluhan orang kepercayaannya yang telah dijadikannya tuyul-tuyul kecil. Dan sungguhpun itu menyiksa dan membuatnya ketakutan sampai ke dalam mimpi, ia tak akan pernah peduli.
Padahal mimpi itu sungguh buruk. Karena mimpi itu ia sering merasa di akhir kehidupan yang begitu rumit untuk masa senja yang dekat dengan ajalnya. Ia menjadi tertekan sesuatu hal di luar akal sehat, yang karena begitu berat sampai membuatnya berhalusinasi tentang wajah neraka.
Dalam mimpi itu ia seperti menyayat perutnya sampai usus dan segala isi tubuhnya terbura-burai. Ia kesakitan namun seperti ketagihan. Semakin sakit, semakin kuat keinginan menyayat dirinya. Kadang ia mimpi menelan bara besi sampai matanya meleleh, lehernya melepuh dan rasa panasnya melicat di tenggorokan. Semakin melicat ia rasakan, semakin suka kepada bara dan memakannya seperti roti. Dan masih banyak mimpi-mimpi buruk lain yang sudah ia lupakan namun masih membekaskan ketakutan.
Itu belum persoalan dengan isteri mudanya yang menganggap dirinya seorang kakek murah hati. Perempuan yang didapatnya dengan memaksa membunuh perasaan istri pertamanya dan mengusir anak-anaknya itu sekarang membekuk hatinya dalam sebuah pilihan yang teramat pahit. Dengan segala hal ketidakberdayaan sebagai lelaki tua kepala lima, ia harus memberinya uang lebih untuk belanja dan menyewa lelaki lain. Beberapa kali ia melihat istrinya “kencan” dengan lelaki sambil memakaikan topeng kulit yang mirip wajahnya.
Jelas itu membuatnya semakin tersiksa dan diluapi kemarahan. Namun, untuk membuang kehinaan itu ia hanya menunggu waktu yang tepat. Sebab keadaannya kini masih terjepit dan jiwanya butuh performa keharmonisan. Selain itu ia butuh bebas dari tuntutan dengan mengorbankan orang lain, yang bisa jadi itu adalah istrinya sendiri di suatu saat. Disadarinya benar itu rencanabusuk yang dibenci siapapun. Tapi apapedulinya dibenci orang? Bukankah dunia memang sarang binatang dan ia harus melaluinya dengan baik?
***
SEBULAN terakhir kepala Tuan Togok bertambah keruh memikirkan kesehatan. Selain pil, kapsul dan sirup, ia disarankan dokter mengikuti kontes tertawa di sebuah klinik kebahagiaan. Karena itu, setelah minum kpi pahit di saat pagi, ia harus berusaha membuat dirinya belajar meringis seperti munyuk selama seperempat jam. Kata dokter itu refleksi kemurungan dan menstabilkan tekanan jantung. Awalnya ia ragu karena harus menjadi manusia yang menurutnya “segila itu”. Namun ketika dokter menjelaskan bahwa itu bukan kegilaan karena tertawa akan menyelamatkannya, ia memaklumi.
“Ini tertawa kebugaran, bukan sembarang tertawa, tuan,” dokter syaraf memberi nasihat.
Tanpa alasan yang harus banyak ia jelaskan jiwanya merasa harus tunduk atas nasihat itu. Sebab seiring itu juga ia dengarkan bisikan ketakutan kepada sesuatu yang buruk dalam hidupnya jika tak patuh pada dokter. Iapun kemudian bersusah payah memusnahkan kemarahannya dengan rasa tak peduli. Bahkan jikapun ia dikatakan telah lama menjadi binatang karena hanya binatang yang tidak bisa tertawa.
Akhirnya ia harus memaksa belajar tertawa tulus untuk dirinya sendiri. Sesulit apapun itu dan walau tak ada secuilpun keadaan yang patut ia tertawakan. Kadang ia tertawa melihat bunga mawar yang begitu bodoh, suatu ketika ia memaksa tertawa ketika membaca cerpen media hari Minggu yang sedih dan berhalusinasi aneh, dan bahkan saat melihat bola kempes bekas mainan anaknya di dekat rak buku arisan isterinya, ia juga tertawa. Setelah tertawa dan merasa capek ia merenung, sudahkah ia tertawa dengan benar? Apakah separah “itu” hidupnya sehingga tertawa saja harus menjadi alat kebugaran? Dan tengkuknya merinding ketika membayangkan di suatu hari ia tak menemukan alasan kenapa harus tertawa.
***
BULAN Desember, akuntan kepercayaannya datang membawa setumpuk referensi persoalan perusahaan. Beberapa rekomendasi berderet seperti legion tempur yang memaksanya patuh atau mati di tempat duduk. Dan semua rekomendasi itu berakhir dalam satu definisi, memangkas belanja hidupnya. Neraca pendapatan perusahaannya mulai minus karena pasar lesu dan ia harus segera membenahi keuangan itu dengan merayu perbankan.
“Harus segera ada kebijakan sebelum semua kronis,” kata akuntan itu seperti dukun.
Iasetuju. Ia terapkan efisiensi superketat, makan tiga kali sehari dengan menu tempe tahu, membuat PHK, mengurangi jumlah pembantu rumah tangga, bangun lebih pagi untuk menuju kantor, mengajukan kredit ke perbankan, dan juga memangkas belanja istrinya.
Istrinya kaget sampai tercenung dan seketika berubah seperti hantu. Ia sering marah-marah dan meneror seisi rumah lalu mabuk menjerit-jerit di tengah malam. Tak menunggu sebulan perempuan itu tak tahan, dan mengatakan sudah tak cocok dengan kedudukannya sebagai istri saudagar.
“Kita harus berpisah,’ katanya tanpa menangis tapi memohon.
“Pergilah dariku jika kau menyukainya,” jawanya dengan kesadaran. Toh, isterinya sudah dianggapnya hanya boneka, dan sudah lama menjadi kebahagiaan yang tak menyehatkan untuk dirinya. Dan sesuai harapannya, perempuan itu benar-benar pergi dari hidupnya dengan menari penuh kemenangan.
“Kau tahu akan ke mana dia?” ia bertanya kepada pembantunya.
“Ke lelaki lain, tuan?”
“Apa kau tahu siapa lelaki itu?”
“Saya, tuan”
Ia terperanjat dan pembantunya itu menatapnya tersenum. Dan demi sebuah alasan kesehatan, ia membalasnya dengan tertawa. Lalu mengucapkan selamat sambil berpikir bagaimana seorang kacung akan mati demi mantan nyonya yang mencintai belanja dari pada dirinya sendiri.
“Apa yang perlu kau katakan sebelum aku mengusirmu semenit lagi?”
Pembantunya menggelengkan kepala kemudian pergi tanpa secuilpun merasa berhianat. Dunia memang binatang, katanya pada diri sendiri lalu menghubungi dokter pribadinya. “Saya butuh orang untuk menemaniku tertawa, Dok?”
Dokter di seberang telefon tertawa komersial. “Tentu, sebentar lagi, tuan…”
Ia menutup telefonnya dan pergi ke dapur membuat kopi, pekerjaan yang tak pernah ia lakukan sejak 35 tahun lalu. Lalu, ia merenung sejenak dan menyerah disergap perasaan sunyi. Kini di rumah besarnya hanya ada dirinya dan beberapa kucing yang sudah tunduk kepada tikus. Kemudian, ia teringat istri pertamanya, anak-anaknya yang mungkin sudah memberinya cucu. Air matanya jatuh di luar kehendaknya. Binatang tua macam apa dirinya? Mungkin akan lebih baik jika menanyakan hal itu kepada dokter. Kemudian tersenyum. ***
Rujukan:
[1] Disalin dari karya US Lamka
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 21 Desember 2014