Ketika Kang Reja Pulang

Karya . Dikliping tanggal 1 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Tabloid Nova
KANG Reja pulang. Begitu kabar yang kudengar tadi pagi dari sahabatku, Darsih. Semalam lelaki berumur 32 tahun itu mengabari Darsih lewat sms. Meski aku sedikit heran, mengapa lelaki gagah berahang kokoh itu tidak mengabariku yang kerap memintanya pulang, namun ada sebongkah bahagia menyembul di palung hati. Ya, sudah seharusnya Kang Reja pulang ke Bentar, desa kelahirannya. Tidak untuk menetap barangkali. Tetapi setidaknya dia bisa menjenguk Uwak Sarka, bapaknya yang belakangan mulai sakit-sakitan.Lelaki kurus berusia 65 tahun itu harus ada yang mengurusi, mengobati penyakitnya. Dia tinggal sendiri sejak Uwak Turmi, isterinya mangkat empat tahun lalu.
Uwak Sarka menempati rumah sederhana dengan halaman dan pekarangan di samping kanan-kiri rumah yang luas, cukup untuk membangun dua rumah sederhana lainnya. Karena lokasinya yang strategis, banyak yang mengincar pekarangan tersebut. Bahkan dari cerita lelaki itu, ada dua orang dari Jakarta yang berani membayar mahal. Mereka akan membangun toserba dan kolam pemandian. Harga yang ditawarkan pun tak tanggung-tanggung. Tiga juta rupiah per bata, adalah harga yang fantastis untuk ukuran desa kami. Namun Uwak Sarka keukeuh, bertahan dengan pendiriannya.
“Pekarangan itu warisan satu-satunya untuk Tawikreja, untuk masa depannya,” ujarnya suatu ketika saat beberapa tetangga, termasuk Bapak dan Ibu menyarankan untuk melepas tanah miliknya. “Saya tidak berniat menjualnya pada siapapun.”
“Saya memang tidak setuju sampeyan menjualnya pada orang kota, Kang. Kehadiran mereka akan merusak tatanan desa seperti yang terjadi di desa sebelah. Banyak toko-toko modern berdiri, arena permainan dan entah apa lagi.” Bapak bicara pelan dan hati-hati. Kami tahu, belakangan Uwak Sarka mudah tersinggung. “Tapi, melihat keadaan sampeyan, saya menyarankan sampeyan ikhlas melepas tanah ini kesesama penduduk saja. Setidaknya separuh, Kang. Itu bisa cukup untuk biaya berobat.”
Itu jalan satu-satunya yang dapat dilakukan Uwak Sarka untuk memperoleh sejumlah uang guna berobat. Selain itu, dia juga butuh biaya untuk hidup. Semua itu, tentu saja tidak akan cukup hanya dengan mengandalkan uang hasil jualan cilok keliling desa, terlebih jika dia dalam keadaan sakit.
“Penyakit saya ini, penyakit biasa dan lumrah. Penyakit orang tua,” ujarnya lirih dan terbata. 
“Dokter dan dukun bilang di badan saya ada diabetes, stroke dan entah apa lagi. Mereka ingin uang saya, sudah pasti akan ngomong macem-macem.”
“Sampeyan tidak boleh berpikiran seperti itu, Kang,” tukas Ibu dengan nada menasehati. 
“Yang namanya penyakit, ya harus diobati. Itu namanya usaha, ikhtiar, Kang. Masalah sembuh atau tidak, itu urusan Gusti Allah. Apa salahnya dicoba lagi ….”
“Sudah, sudah! Saya tidak mau dengar lagi omongan kalian!” Uwak Sarka menaikkan nada bicaranya beberapa oktaf. Logat campuran bahasa Sunda-Jawa khas Pantura terdengar begitu kentara. 
“Kalau kalian bosan melihat saya seperti ini, tidak harus datang menengok saya lagi. Tidak harus! Saya tidak mau merepotkan tetangga atau bahkan kalian sebagai teman. Saya sudah terbiasa begini. Biarkan seperti ini. Tawikreja yang akan memutuskan apa yang terbaik untuk saya.”
“Kang, anak lelaki sampeyan itu sudah lebih dua kali lebaran tidak pulang,” sela Ibu. Sepertinya Ibu ingin mengingatkan Uwak Sarka bahwa anak lelaki yang menjadi kebanggaannya itu tidak begitu peduli dengan bapaknya. “Tempo hari Tari telepon dia lagi, sudah mencoba membujuknya untuk pulang, tapi sepertinya dia tidak tergugah.”
Sesaat Uwak Sarka memandangku, lantas beralih pada Bapak dan Ibu. “Si Tari, anak kalian itu tidak akan dipercaya samaTawik,” katanya dengan penuh penekanan. “Lha, kita tentu tahu apa yang sudah diperbuat Tari untuk menyakiti anak saya. Dia berkhianat. Selingkuh! Kalian harus ingat itu. Sarwi, Darto, coba kalian katakan, lelaki mana yang tak sakit hati dipermainkan begitu?”
“Sekarang begini saja, Kang.” Bapak merangsek, menggenggam lengan keriput lelaki tua itu. “Bagaimana kalau sampeyan saja yang ngomong sama dia? Sampeyan bisa pakai HP punya Tari atau Darsih. Mungkin Tawik yang katanya sudah jadi manager di perusahaan besar itu, tidak percaya bapaknya sakit kalau hanya dengar dari orang lain. Kalau dia tidak mau pulang, mintalah dia untuk mengirimkan uang.”
“Tawik itu sakit hati sama Tari, makanya dia tidak mau pulang.” Uwak Sarka kembali terbatuk. Kembali dia memandangiku. “Bagaimana kamu tega pacaran dengan teman Tawikreja, pacar kamu sendiri? Kalau saya jadi dia, saya juga akan melakukan hal yang sama. Saya akan membenci perempuan lenjeh dan tidak bisa setia. Kamu katulah, Tari. Di usia 30 ini kamu masih sendiri. Seharusnya sudah beranak-pinak ….”
“Kang, tak baik bicara seperti itu. Tidak enak kalau nanti didengar tetangga,” sergah Ibu setengah berbisik. Ibu terlihat gusar dengan ucapan Uwak Sarka. Lelaki itu lebih suka bicara tentang perasaan anaknya ketimbang keadaan dirinya, penyakitnya.
Yah, bisa dipahami jika Ibu kesal mendengar omongan serupa yang tak hanya sekali dilontarkan lelaki tua itu. Terlalu sering. Uwak Sarka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia selalu bicara menurut versi dia. Kang Reja tak mungkin tega mengarang cerita bak roman picisan seperti itu. Untuk mengobrol dengan bapaknya saja enggan, apa lagi menceritakan kehidupan pribadinya. Meski ada nyeri merambati ulu hati, akutak perlu marah atau membela diri lagi. Sebab aku, bahkan Bapak dan Ibu tahu apa yang sesungguhnya terjadi antara aku dan Kang Reja.
***
“Dia masih tetap sendiri, Tar. Masih seperti dulu. Mungkin ini kesempatanmu untuk menunjukkan perasaanmu, apapun reaksi dia,” bujuk Darsih dengan nada serius.
“Aku tetap merasa tak pantas melakukannya.” Aku gamang. Hatiku meretak.
“Ini bukan tabu yang harus dipertahankan.” Darsih menggenggam telapak tanganku. “Kamu ingat? Di awal SMA, kita pernah melakukannya pada cowok baru.”
Aku hanya diam menekuri hamparan kebun kol dan sawi yang menyegarkan pandangan. Aku bimbang, sungguh. Terlalu bingung. Terkungkung dalam berjuta rasa yang hadir dalam waktu bersamaan. Ucapan Darsih seolah menyadarkanku sudah berapa lama aku menyendiri, melajang tanpa berani berkomitmen dengan lelaki manapun, terlebih beberapa lelaki yang disodorkan Bapak dan Ibu yang sepertinya sekadar untuk meredakan gunjingan dan menutupi malu. Aku paham, untuk ukuran desaku, umurku sudah terlalu tua sebagai perawan. Seharusnya aku sudah menjadi seorang isteri dan sekaligus ibu.
Selepas SMA dulu, ketika aku dan Kang Reja sama-sama meneruskan kuliah di fakultas ekonomi di universitas ternama di Yogyakarta, aku sangat menginginkan cintanya. Aku selalu berharap dia lah yang akan menjadi pendampingku kelak. Aku selalu bermimpi dia akan menjadi suami dan bapak yang baik dan bertanggungjawab. Aku dan Darsih melihat itu di dirinya. Kang Reja sangat rendah hati dan perhatian.
Namun kodratku sebagai perempuan yang dilahirkan di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota dan tumbuh dalam berbagai kearifan lokal dan etika, membuatku merasa janggal jika harus mengungkapkan rasa terlebih dahulu. Aku hanya mampu menunjukkan perhatianku yang lebih terhadap Kang Reja. Aku berharap dia akan paham suatu hari nanti. Biarlah aku menunggu hingga waktu itu datang. Bahkan aku rela ketika tahu perhatianku sering diartikan sebagai nilai persahabatan oleh lelaki itu. Dan itu berlangsung hingga kami lulus lalu sama-sama bekerja di Jakarta pada perusahaan yang berbeda; dia di perusahaan asing export-import sementara aku di salah satu perusahaan milik negara yang kemudian diambil alih pemodal swasta, di bagian accounting. Nasib lah yang kemudian membawaku kembali ke desa kelahiran. Ketika Bapak dan Ibu merasa tak kuat lagi menggarap sawah yang tak seberapa, mereka mengeluh. Meski tak pernah secara langsung memintaku untuk menemani hari tua mereka, namun aku sebagai anak tunggal mampu membaca keinginan mereka.
Dalam waktu bersamaan, perusahaan ternama tempatku bekerja harus gulung tikar tanpa peringatan sebelumnya, lalu memberhentikan seluruh pegawainya tanpa pesangon. Aku berjanji pada Bapak dan Ibu untuk membuka usaha sendiri di desa; menanam sayuran dan menjadi pengepul hasil pertanian masyarakat desa yang selama ini terkendala pemasaran dan distribusi ke kota-kota terdekat.
Ada hal lain yang membuat aku bertahan hidup melajang hingga saat ini. Alasan terbesarku adalah kecemburuan Kang Reja ketika aku secara tidak langsung dekat dengan teman sekantornya, Ewin. Jujur, aku masih menuai harapan untuk bisa mendapatkan cintanya, walau entah sampai kapan. Agak terdengar tak wajar memang, kecemburuannya kuanggap signal sebagai bentuk perhatian dan rasa dari lelaki itu.
“Jadi sekarang bagaimana?” Pertanyaan Darsih membetotku dari lamunan panjang tak berkesudahan. 
“Jangan jadi dulang pinande terus, Tar. Sudah nggak sesuai dengan jaman lagi! Apa kamu masih perlu Mak Comblang, ha?”
“Entahlah, aku masih nggak bisa berpikir saat ini.”
“Atau, kamu mau menerima lamaran Tarwa? Dia sarjana dan baik juga, kan?”
“Darsih, jangan mulai lagi ya.”
***
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membujuk dan meluluhkan hati Uwak Sarka agar mau dibawa ke rumah sakit. Lelaki itu tetap teguh pada pendiriannya; akan beristirahat di rumah dan semua akan baik-baik saja. Berkat ketelatenan Kang Reja dan berjuta bujukan dari beberapa tetangga, lewat tengah hari kami berhasil membawanya ke Purwokerto dengan Daihatsu Luxio yang dibawa Kang Reja dari Jakarta–mobil sewaan menurut penuturannya pada Bapak sebelum berangkat tadi.
Duduk di samping Kang Reja yang bertubuh harum, menerbangkanku pada khayalan indah yang tiba-tiba menyergap. Betapa lelaki ini masih memiliki pesona luar biasa yang tak ada tandingannya. Lelaki beralis tebal ini terlihat lebih dewasa sekarang. Meski kulitnya masih cokelat seperti dulu, namun lebih bersih dan cemerlang. Kumis dan jambangnya yang lebat dicukur habis, menyisakan warna hitam kebiruan di pipi dan dagunya. Ya, Tuhan. Aku mendambakan lelaki itu. Aku ikhlas dengan berbagai cemoohan yang menyakitkan dari mulut-mulut usil para tetangga selama ini, semua karena penantianku untuk dia. Bisakah kau merasakan apa yang tengah berdentum-dentum di lembah hatiku, Kang Reja? Bisakah kau paham apa arti tatapanku ini? Atau … haruskah aku menuruti nasehat Darsih, melupakan tabu dan etika?
“Kamu masih betah sendiri saja, Tar?”
Aku menoleh ke belakang sebelum berani memastikan bahwa pertanyaan itu keluar dari bibir lelaki jangkung di sampingku. Di kursi tengah, Bapak dan Ibu mengapit Uwak Sarka yang bersandar lemas, tertidur. Ibu menatapku agak lama. Aku tak paham apa maksudnya. Sementara di kursi belakang, dua tetanggaku dan Darsih terlibat dalam obrolan yang diucapkan setengah berbisik, sepertinya serius. Aku memerhatikan gerak bibir Darsih. Aku diam, menatap pucuk-pucuk pinus yang berlarian di sepanjang jalan. Oh, Sang Penguasa jagat raya, aku menginginkan lelaki ini, sungguh.
“Iy … iya, aku masih sendiri, Kang Reja.” Terbata, kalimat itu meluncur dari bibirku tanpa mampu aku menahannya. Ada sejuta asa yang mengentak-entak di dasar jiwa. Jika saja penantian panjang ini berakhir, aku akan menjadi manusia–menjadi perempuan–paling bahagia dan berharga di dunia ini.
***
Aku dan Darsih tengah duduk di teras sudut koridor rumah sakit saat Kang Reja dengan langkah gagah menghampiri.
Sebelum lalaki itu tiba di depan kami, Darsih bergegas meninggalkanku. “Jangan sia-siakan kesempatan ini,” bisiknya lirih sebelum tubuh lampainya menghilang di balik pintu toilet.
“Maafkan bapakku ya,” ujar Kang Reja setelah duduk di sampingku.
“Apa yang terjadi dengan Uwak Sarka? Gimana hasil pemeriksaannya?”
“Bukan.” Matanya yang jernih mengamatiku. “Kata Darsih dia sering mengarang cerita jelek tentang kamu. Aku yang salah, sejak awal mengakuimu sebagai pacarku ketika Bapak bertanya siapa calon isteriku. Saat Bapak mendesakku untuk mengawinimu, aku berdalih kalau kamu milik orang lain, sahabatku sendiri.”
“Apa maksud semua ini, Kang?”
“Tari, maafkan aku. Semua aku lakukan karena ….” Dia menggantung kalimat dan membuang pandangannya jauh. “Meski aku tahu kamu menyayangiku, tapi aku …, tapi aku tak bisa menjadikanmu pendamping hidupku. Sebab aku menyayangi orang lain. Dan … kamu terlalu sempurna untukku. Maafkan aku, Tari ….”
“Kenapa kamu baru sekarang mengatakannya, Kang?” tanyaku lirih, mencoba menyembunyikan nada sumbang di suaraku. Dadaku menyesak oleh berbagai rasa.
“Tari, aku tahu, sejak dulu aku tak sempurna. Tak akan pernah sempurna. Aku malu dan takut kalau semua orang tahu, kekasihku adalah teman sekantorku.”
Kutatap wajahnya, memberanikan diri menelusuk matanya. “Hanya itu alasannya? Ini nggak masuk akal, Kang!”
“Kamu ingat saat aku cemburu sama kamu?” Sekali lagi, Kang Reja membuang pandangannya. “Ewin … dia lah kekasih yang selama ini aku sembunyikan.”
Seolah ada ribuan ton godam yang tiba-tiba menjejak telak di ulu hati. Mengentak dasyat menghamburkan semua impian dan harapan. Aku ingin menjerit, tetapi entah mengapa naluriku mengatakan jangan. Sesaat ketika kurasakan mataku memanas dan aliran darahku seperti berhanti, tubuhku membeku perlahan-lahan.
“Kamu berhak benci aku sekarang, Tar,” ujarnya seperti meratap. “Aku bukan lelaki yang kamu inginkan.”
Kutatap lekat lelaki di hadapanku. Genangan bening mengambang di kedua bola matanya yang selama ini kurindukan. Hatiku teramat nelangsa. Separuh jiwaku hilang dalam sekejap dan tak tentu rimba. Bahkan ketika Kang Reja merengkuhku ke dalam pelukannya. Aku pasrah. Aku ingin menyatukan diri dalam gejolak hati yang sulit kucari maknanya. Kubenamkan wajahku di dadanya yang gemuruh. Entah untuk apa. Tiba-tiba saja aku ingin kami berbagi rasa, meski aku tak paham apa yang tengah dia rasakan saat ini. ***
Rujukan:
[1] Dislain dari karya Redy Kuswanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Nova”