Ketupat dan Rendang Daging

Karya . Dikliping tanggal 2 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

SUDAH tergeletak di meja ruang keluarga sebak kecil ketupat. Aku sudah membayangkan memakannya. Kupat yang bentuknya tidak besar, tapi tampak menggoda. Pastinya nikmat dan legit.

Di sebelahnya satu baskom semur daging yang dipotong-potong tipis lebar serupa irisan-irisan bawang bombai. Semur pun begitu kental sedikit kuah, tapi tidak berlinangan. Macam itu yang kuinginkan. Aku memang tidak suka yang berlebihan kadar kolesterol. Bagiku bisa memberi rasa nikmat. Tapi, aku sebenarnya tak menginginkan menu senikmat itu yang justru kesulitanku meninggalkannya. Aku akan menginginkan menu itu setiap hari. Tapi, bagaimana di Lebaran ini, tentu aku harus membutuhkan berhari-hari. Padahal, Lebaran hanya satu atau dua hari, selanjutnya menu semacam itu sudah jarang. Bahkan, kemungkinan habis. Dan, terpaksa akan mengekang keinginan menikmati kupat yang diguyur kuah semur.

Aku tak menghiraukan rantang di sebelah bak dan baskom yang kuduga di dalamnya juga menu Lebaran. Entah apa. Tapi, meski semewah dan senikmat apa pun isi rantang itu tak menarik bagiku. Karena aku tidak berkeinginan sama sekali.

Lalu aku menoleh ke segala arah begitu kuketahui hanya sedikit menu menyambut Lebaran. Hanya yang tersedia di meja yang merapat ke dinding. Dan, aku tidak memastikan apakah menu-menu lainnya tersimpan juga di lemari. Yang pasti kuketahui suasana Lebaran tak berbeda dengan hari-hari lain. Mungkin hanya kupat dan semur itu saja yang masih tampak di peng lihatanku.

Aku masih berdiri di depan pintu ruang tamu yang tanpa daun, tak bergerak, menghadap ke ruang keluarga. Khawatir akan mendapatkan sesuatu yang tak perlu kuketahui meski rumah adikku sendiri. Maka, aku tak melangkah.

Ketupat dan Rendang Daging“Kenapa berhenti, Bu?” tegur Firda, gadis kecilku yang juga berdiri merapat ke dinding ruang tamu di sela antara karpet yang terhampar. Aku merasakan dengus napasnya yang tertahan-tahan seakan mengatur agar aku tak mendengar, yang padahal tak akan kuusik meski dengusan nyaring menyikapiku yang berdiri dalam kecurigaan mendapati suasana rumah. Ia terkesima dengan sikapku. Lalu aku menoleh ke belakang. “Tidak kau tutup pintu, Firda?”

“Sejak kita masuk memang tidak tertutup, Bu.”

Tadi ketika baru sampai di peluaran, aku segera masuk, tetapi rumah sepi. Tepat di ruang tamu, aku sudah melihat ketupat bersebelahan dengan semur yang membuatku lupa kondisi rumah sebelumnya. Makanya, aku coba menegur. Dan, ingatanku kembali setelah mendengar jawaban Firda. Aku membenarkan pintu memang tak tertutup.

Mungkin, Dewi sibuk di dalam, dugaku begitu ia tak juga terlihat. Hanya kupat dan semur di atas meja. Menu kesukaanku. Aku baru mengingatnya setelah berkali Firda, anak yang baru delapan tahun itu memintaku menemaninya ke rumah bibinya. Namun, sibuk dengan penataan macam menu dari kunjungan adik-adik iparku dan beberapa adik di pengajian, aku tidak menghiraukannya. Namun, begitu ia kembali meminta, aku berkata, “Nanti juga bibimu ke sini, Firda.”

“Sudah sore begini, Bu,” sahutnya segera seolah tak memastikan bibinya ke rumah hari itu.

Aku berhenti menata menu. Menoleh, “Sebentar lagi, Firda.” Aku memastikannya akan datang meski mendekati sore, bahkan malam.

“Sampai kapan, Bu?” desak Firda. Aku menduga, mungkin, merasa jenuh permintaannya sejak selesai shalat Id belum juga kupenuhi. Tapi, aku tak menghiraukannya. Lalu, aku kembali meletakkan menu-menu ke dalam lemari. Selintas aku melihat ayahnya masuk. Entah habis dari mana.

“Aku bersama ayah ke Telar ya, Bu?” Firda menyebut kampung bibinya tinggal. Ia bahagia menduga ayahnya akan menuruti keinginannya. Aku memasang pendengaran. Masih suntuk dengan menu-menu.

“Kamu mendengarnya, Resti?” Andre, suamiku memandangi. “Jangan diam saja, katakan kepadanya,” sarannya datar dengan tegas.

“Dewi akan ke sini, Bang.” Aku lebih tegas.

“Entah kapan.” Ia pun meragukan.

“Ditunggu saja.”

“Tapi, Firda meminta menemaninya,” tukasnya. Ia mendekati Firda yang sayu memandangiku. “Tidak berdosa kita lebih dahulu ke rumahnya kan?”

“Kita berangkat sekarang, Bu,” sela Firda penuh harap sebelum aku menjawab pertanyaan ayahnya. Lalu, aku menoleh ke Firda. Aku mengerti kerinduannya kepada Dewi. Setiap kali kami ke rumahnya, perempuan yang belum memiliki anak itu memang senang mengemong anak seusianya. Apalagi, keponakannya sendiri. Tidak banyak mendiamkannya. Ia selalu mengajaknya ke manapun. Ke Pasar Pamor yang tidak jauh dari rumahnya. Bahkan, ia bisa kecewa bila Firda tak segera merespons permintaannya. Lalu ia menawarkan bermacam makanan atau kudapan kesukaannya. Dan, di Lebaran begini, ia berkeinginan ke rumah Dewi.

“Kamu tega tidak menuruti permintaannya, Resti,” sergahnya ketika aku masih diam. Lalu ia melangkah ke luar. Firda mengiringinya.

Aku segera menghentikan pekerjaan. “Sebentar, Firda.”

Firda berhenti. Membiarkan bapaknya berlalu. “Tapi, kenapa sebentar lagi, Bu, padahal rumah sudah sepi.”

Memang, setelah kunjungan terakhir dari teman pengajian, rumah sepi. Hanya aku sendiri. Firda lebih banyak masuk keluar rumah. Kini, aku baru mengerti ia dalam bingung setelah mengungkapkan keinginannya. Lalu, aku mendekati. Namun, ketika siap menemaninya, tiba-tiba aku diingatkan menu olahan Dewi. Ketupat legit yang diguyur kuah rendang daging kental dengan cita rasa bumbu yang kuat. “Kamu siap, Firda?” tanyaku pelan, tapi tegas memintanya bersiap.

Firda segera mengangguk. Aku senang. Tapi, aku menyesal kenapa tidak sedari tadi mengingat menu kesukaanku itu. Dengan kupat dan kuah rending tentu aku akan merasakan lebaran menjadi lebih sempurna. Memang, hanya di rumah Dewi kudapati, tidak ketupat di rumahku. Aku tidak bisa mengambil warisan membuat cangkang kupat dari almarhum ibu. Padahal berkali ibuku menegur, “Untuk di kampung kamu harus bisa membikin cangkang, Resti, biar gak repot harus ke pasar.”

Entah malas atau gak sabar, aku selalu salah mengatur jari-jemari tangan ke arah mana memasukkan lembar yang satu ke lainnya. “Sulit, Bu.”

“Tidak ada yang sulit, Resti.”

Aku tak berkata. Masih berusaha menyelipkan lembar-lembar daun nyiur yang sudah lepas dari tulangnya ke sela yang lain.

“Pesawat saja bisa dibikin, apalagi sekadar membuat seringan ini.” Ibu mem perlihatkan cangkang yang sedang ia jalin rapi.

Mendengar perkataan ibu, aku mengangguk pelan sembari berusaha menyelipkan lembar-lembar dari jemariku, tapi lagi-lagi gagal. Dan merasa jenuh, aku meninggalkannya. Namun, kini bila ingin menikmati beras yang dimasak dalam cangkang ketupat, aku hanya berharap dari Dewi. Namun, bila kupat habis setelah menyimpannya beberapa hari, aku berkali mengeluh sendiri tidak bisa membuat cang kang ketupat.

Namun, ketika aku masih berdiri mengharap kemunculannya, Dewi bergegas dari ruang dapur. Aku lega. Tak terjadi sesuatu. “Kenapa Teteh yang harus ke sini?” tanya Dewi menyambut kami. Seolah tak menginginkan kami ke rumahnya.

Aku memandanginya. “Memangnya kenapa?” tanyaku segera.

Dewi tak menjawab. Melangkah mendekati kami. “Duduk saja dulu,” pintanya segera. Lalu ia mengambil bak ketupat, rending, dan rantang. Meletakkannya ke lantai antara meja dan lemari barang-barang yang tersandar di dinding. Lalu Dewi menyajikan kami bandeng masak kecap yang ia ambil dari kotak lemari.

Tanpa mengatakan aku suka kupat, apalagi bikinannya, aku menerima saja begitu ia memintaku menikmatinya. Tapi, aku berpikir, kalau berminat, setiap hari bisa saja aku mendapatkan menu semacam bandeng.

“Aku akan merapikan menu Lebaran.” Lalu Dewi duduk di lantai menghadapi bak dan baskom rendang. “Kita agak sore ke rumah Teteh,” kata Dewi sembari mengambil panci-panci yang tersusun di tangkai rantang.

Kenapa tidak sekarang saja, hatiku, hanya ingin segera menikmati kupat. Aku menduga ia menyiapkan untuk ke rumahku. Tapi, sembari menunggu kupat sampai di rumah, aku menikmati sajiannya meski tidak banyak. Dan, masakan bikinan Dewi memang benar-benar nikmat. Nasi pun terasa pulen, cukup membuatku ketagihan. Tapi, tidak mengalahkan kesukaanku kepada ketupat dan rendang olahannya.

Rantang itu kosong. Tidak ada isinya. Lalu Dewi memasukkan kupat dari bak kecil ke beberapa panci. Ia lebih dahulu meletakkan panci berisi rendang ke tangkai di susunan paling bawah. Tiga panci lainnya yang sudah dipenuhi ketupat di atasnya. Lalu ia menoleh. Aku pelan menikmatinya. Firda hanya diam, tapi tampak kebahagiaannya.

Lalu Dewi berdiri. Sembari mengambil rantang yang sudah siap bawa, ia berkata, “Aku akan ke rumah ibu Hajah Rumsinah dulu, ketua pengajian.”

Aku hanya diam. Pandanganku lekat ke rantang yang dibawa Dewi.

Pengarengan, Juni 2018

Penulis adalah guru di Bekasi Kabupaten, kader muda NU di luar struktur. Ia bisa dihubungi di e-mail bangendin@yahoo.com

[1] Disalin dari karya Makanudin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” Minggu 1 Juli 2018