Ki Balelol

Karya . Dikliping tanggal 12 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
“APA pentingnya tidur jika nantinya bangun lagi! Apa pentingnya bangun jika nantinya hsnya untuk tidur!” teriakan itu seperti ledakan di tengah malam yang sepi. Keras, berat, dan serak. Berulang-ulang. Teriakan itu datangnya dari arah masjid. Bangunan tua, kosong, tak terurus, dan hampir runtuh, dengan sebuah kubah besar dan miring di atasnya. Masjid itu yang selama ini kujadikan tempat tinggal. Aku mencintai masjid itu, tempat paling aman untuk menyimpan hasil curian, sebab tak pernah ada orang lain yang masuk.
Kampung mendadak heboh. Suara-suara langkah segera terlahir. Aku cepat meninggalkan jendela rumah yang sudah berhasil kucongkel, itu adalah rumah ketiga yang akan kumasuki dalam semalam. Agar tak mencurigakan aku segera bergabung dengan orang-orang yang sedang menuju masjid. Sebagian nampaknya berjalan sambil terkantuk-kantuk. Sebagian malah sudah lupa gang menuju masjid.
Di depan masjid orang-orang sudah berkumpul. Seseorang menyorotkan senter ke arah puncak kubah. Beberapa senter datang lagi menambah terang. Seorang lelaki tua, janggutnya yang panjang dan putih dimainkan angin malam, dia memakai ikat kepala dan pakaian hitam-hitam, nampak sedang mengacung-acungkan sebelah tangannya ke angkasa, sementara tangan yang satunya lagi memegang runcing ujung kubah.
Aku tahu itu Ki Balelol, seorang kakek aneh yang setiap hari bebicara dengan batu di sungai. Gubuk kecilnya tepat berada di tengah kuburan. Konon, Ki Balelol adalah orang tertua di kampung itu. Ada yang mengatakan bahwa tak ada yang tahu berapa usia sebenarnya. Ki Balelol tak dapat mati, ucap yang lainnya lagi.
Beberapa kali aku mengikutinya jika dia pulang dari sungai. Pernah suatu hari, ketika itu hujan lebat, sungai sedang meluap deras. Ki Balelol kulihat sedang berjongkok di pinggir sungai, menepuk-nepuk air, seperti seorang ibu menepuk-nepuk punggung anaknya. Bersenandung seperti senandung nina bobo. 

Tak lama air itu mendadak berhenti. Diam. Terbendung. Sebuah jalan setapak tercipta di hadapan Ki Balelol. Melangkahkah dia berjalan menyeberangi sungai kecil itu. Setelah sampai di seberang, ditepuknya kembali air itu sambil bersenandung, air sungai itu mengalir kembali. Deras dan meluap. Aku ingat, hampir-hampir aku terjatuh dari atas jembatan karena terkejut. Lantas kubayangkan seandainya diriku bisa seperti itu terhadap seluruh kunci di dunia ini. Ah. Jika semua kunci menurut kepadaku. Maka tak akan ada lagi yang terkunci. Betapa aku bisa mencuri apa saja. Apa saja, di mana saja.

Semenjak itu, sambil berharap dia mau menurunkan ilmunya, setiap sore aku selalu menemaninya berbicara dengan batu-batu di sungai. Berbicara dengan apa saja, layaknya berbicara dengan manusia. Padahal dengan manusia dia tak pernah mau berbicara.
Kampung ini sebenarnya lebih aneh lagi. Beberapa kali saat beroperasi, aku menemukan hal ganjil. Setiap menyisir rumah demi rumah untuk incaran mencuri. Sering kuintip lelaki yang bercumbu dengan lelaki, perempuan bercumbu dengan perempuan. Pak RT tidur di kamar istri Pak RW, sebaliknya, Pak RW satu selimut dengan istri Pak RT. Dan anak-anak remaja di kampung ini susah dibedakan mana lelaki mana perempuan. Setengahnya warganya pemabuk, setengahnya lagi penjudi.
“Ki Balelol kambuh lagi! Nyalakan lampu masjid!” teriak seseorang yang baru datang.
Tawa meledak. Orang itu mungkin lupa bahwa masjid itu tak berlistrik. Konon, sejak puluhan tahun silam masjid yang didirikan oleh Ki Balelol dengan berbekal hasil penjualan seluruh tanah warisan dari orang tuanya, memang tak pernah terpasang listrik. Ki Balelol kabarnya keburu dicap gila oleh warga kampung. Karena berani menempeleng Lurah waktu itu, yang tertangkap basah sedang berjudi di kantornya, lantas menghancurkan ruang guru sekolah dasar yang ketahuan dipakai mesum oleh guru-gurunya.
Sejak itulah dia dimusuhi warga kampung dan terusir ke tengah kuburan. Terasing dan mengasingkan diri. Ki Balelol larut dalam kesedihan yang panjang. Dia menghabiskan waktunya menyepi di kuburan dan merenung di sungai. Setiap hari bisa puluhan kali mandi, berwudlu puluhan kali, bahkan hanya untuk membersihkan kuku jari saja bisa menghabiskan berjam-jam. Semakin lama, semakin aneh tingkahnya. Hidupnya hanya dari sungai ke kuburan, dari kuburan ke sungai.
Semua ini aku ketahui dari Nini Celembeng, nenek renta penjual pecel langgananku, rumahnya di kampung seberang sungai. Nini Celembeng dulunya pacar Ki Balelol. Hanya karena keburu dicap gila, maka asmara mereka kandas. “Ki Balelol itu tinggal di kampung antah berantah, ya, jadi gila akhirnya! Aneh, sudah tahu antah berantah masih saja tinggal di sana. Memang gila dia itu. Kok ada ya kampung seperti itu!” ujar kesal Nini Celembeng setiap kali usai bercerita. Ternyata Nini Celembeng ini yang diam-diam selalu mengirim makanan ke kuburan. Dari tahun ke tahun. Berpuluh tahun lamanya. Kupikir nenek itu juga gila, cintanya. 
“Apa pentingnya tidur jika nantinya bangun lagi! Apa pentingnya bangun jika nantinya hanya untuk tidur!” teriak Ki Balelol sambil melempar ikat kepala. Lantas membuka baju. Melemparnya. Membuka celana. Melemparnya. Tubuhnya bugil kering. Dia tak menggubris teriakan-teriakan yang menyuruhnya diam dan turun.
Lama kelamaan warga kampung bosan dan pulang lagi ke rumahnya masing-masing sambil menggerutu dan mengutuk Ki Balelol. Tinggal aku sendirian. Aku teringat hasil curian, setelah merasa aman karena tak ada orang, lekas kupanjati jendela masjid yang sudah rusak. Di jendela ini, sering kupergoki Ki Balelol sedang mengintip, jika aku sudah berada dalam masjid. 
BERBEKAL senter kecil, kucari kotak penyimpanan di sudut, tertutup potongan triplek. Kumasukkan gelang dan kalung. Dan kututup lagi.
Penasaran dengan Ki Balelol, aku menaiki sebuah tiang, barangkali tiang ini pula yang dinaikinya, lantas memanjat ke atas genting. Senter kecil kuarahkan ke kubah. Ki Balelol yang sudah telanjang bergerak mengelilingi kubah. Tangannya terentang, tubuhnya meliuk. Di langit, bulan sabit pelan dilepas awan yang menadak berarak cepat. Suara-suara satwa malam seperti berpesta.
Ki Balelol menari di atas genting masjid. Anehnya tidak tergelincir. Terus berputar. Ketika kudekati sambil merangkak, ternyata kakinya tidak berpijak. Melayang satu jengkal dari atas genting. Melayang, pelan meninggi.
Ki Balelol telah berdiri di atas runcing puncak kubah. Tangan kanannya terangkat ke atas seperti hendak memetik bulan sabit. Angin tiba-tiba bertiup kencang. Lolongan panjang anjing dari kejauhan. Kelelawar besar berdatangan entah darimana.
“Pencuri Kecil! Pencuri Kecil! Lepaskan pakaianmu!” Dia memanggil-manggil.
Ahai. Dia memanggilku. Kusorotkan senter ke wajahnya. Dia tersenyum. Ini kali pertama dia memanggilku, setelah berbulan-bulan aku mengikutinya. Senyumnya sekarang lain, sedap sekali. Tangannya terulur ke arahku. Seperti lengan bulan yang tiba-tiba saja menjulur dari langit.
Tapi dia menyuruhku membuka pakaian. Aha, bukan tidak mungkin dia akan menurunkan ilmunya. Demi cita-cita apa pun harus dilakukan. Susah payah mulai kubuka pakaian.
“Pencuri Kecil! Pencuri Kecil! Ayo kepaskan pakaianmu! Biar ringan kuajak mengembara! Ayo kita mencuri yang tak pernah tercuri. Agar bangun tak bertemu tidur, dan tidur tak berjumpa bangun!” tangannya menangkap tanganku. Dengan sekali sentak tubuhku terangkat, dan tiba-tiba saja sudah duduk di atas pundaknya. Erat kupegang kepalanya.
“Hey, hey, hey! Apa pentingnya tidur jika nantinya bangun lagi! Apa pentingnya bangun jika nantinya hanya untuk tidur!” Ki Balelol kembali berteriak. Suaranya tambah menggelegar. Ada gema memanjang. Berulang. Seakan-akan suaranya tak berhenti. Barangkali itu mantra andalannya. Lekas kuulang-ulang dalam hati.
Orang-orang berdatangan lagi. Kentongan terdengar di mana-mana.
“Maling! Maling!” teriakan susul menyusul. Sorot lampu senter bertambah banyak, sebagian membawa obor. Riuh dan gaduh. Lampu-lampu senter menyorot ke arah kubah.
“Bagaimana dia bisa naik ke sana?” bentak seseorang yang baru datang.
“Tanya saja sendiri!” jawab sseorang balik membentak.
“Lihat itu, anak yang suka berkeliaran di kampung kita itu sekarang bersama Ki Balelol!”
“Apa kubilang, mereka sekongkol. Sudah lama aku curiga. Pencurian di kampung kita itu ulah mereka.”
Sebagian senter bergerak memasuki masjid. Kegaduhan baru di dalam masjid.
“Woy! Lihat! Apa yang kutemukan. Masjid ini dijadikan sarang pencuri. Ki Balelol dan anak itu menyimpan curiannya di sini. Lihat!” seseorang berlari sambil membawa peti miliku. Senter dan obor menyambutku.
“Hey, perhiasan itu milikku!”
“Itu gelang istriku!”
“Kalungku!”
“Tenang, tenang! Sudah jelas sekarang. Anak itulah pencurinya. Sekarang ayo kita tangkap maling sialan itu.”
“Tapi dia bersama Ki Balelol!”
“Peduli setan! Siapa takut sama kakek edan itu!”
“Benar kau tidak takut?”
Tiba-tiba sunyi, tak ada yang berkata lagi. Lampu senter berlarian menuju ke arah kubah. Ki Balelol masih menari dan berputar. Aku gemetar ketakutan. Barangkali ini hari sialku. Habislah riwayatku sekarang. Ini gara-gara keonaran Ki Balelol, coba kalau dia tidak berteriak-teriak gila di malam hari. Mereka tak akan menyadari jika rumah mereka aku masuki.
“Ambil tangga!” bentakan kembali menggema.
“Ambil saja sendiri!”
“Sudaaaah! Jika tak ada yang berani naik. Lempar dengan batu. Kita tunggu di sini sampai mereka turun. Kakek edan dan maling sialan itu harus kita tangkap.”
Tak lama kemudian puluhan batu bersliweran mengarah ke kubah, mengincar tubuhku dan tubuh Ki Balelo. Batu-batu berlomba menimpa genting, melabrak kubah. Genting-genting mulai hancur. Mereka terus melempar.
Ki Balelol semakin nyaring suaranya, tubuhnya yang memanggul tubuhku semakin melayang, meliuk-liuk. Suaranya seperti mengundang angin. Angin berhembus kencang. Bulan sabit semakin runcing. Puluhan kelelawar mengepak entah dari mana.
Batu-batu terus berlesatan. Sebagian mulai melempar obor. Batu dan api mengincar kami, namun hanya sanggup menjangkau genting yang hancur. Batu dan api terus berlomba menghancurkan masjid. Api mulai berkobar melumat masjid. Seperti api unggun raksasa yang ingin memangsa kami. 
Ki Balelol masih menari di atas lidah-lidah api. Aku semakin erat memegang kepalanya. Suaranya semakin menggelegar. Angin berembus lebih kencang. Api mulai tak terkendali. Merambat ke mana-mana. Samar-samar terdengar teriakan panik dari orang-orang. Satu demi satu rumah-rumah ikut terbakar.
Ki Balelol terus melayang, berputar, semakin tinggi, semakin tinggi. Terus melayang berputar ke arah bulan sabit.
Dari jauh, nampak seluruh kampung telah terbakar. Telah terbakar. Seperti kampung api.
“Petiklah bulan itu! Petiklah bulan itu!” Ki Balelol terus bersenandung, sedang aku semakin erat memeluk kepalanya. Semakin tinggi, kobaran api yang membakar kampung nampak semakin kecil, semakin kecil. Seperti kerlip lilin. 
Bulan sabit seakan mendekat. Aku mulai kedinginan, lebih erat kupeluk kepala Ki Balelol. Kupejam mata kuat-kuat, “Ini di mana, Ki?” bisikku gemetar.
“Ini tidak di mana-mana, Pencuri Kecil, tapi ada di mana-mana! Petiklah bulan, petiklah bulan!” Ki Balelol semakin merdu suaranya. Semakin lembut liukan tubuhnya.
Aku terus memejamkan mata. Tak akan kubuka mata sampai benar-benar dia turunkan ilmunya.
Sukajadi, 2015
Toni Lesmana menetap di Ciamis, Jawa Barat. Bukunya yang mutakhir adalah Kepala-kepala di Pekarangan (kumpulan cerita pendek, 2015). 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Toni Lesmana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Sabtu 10 Oktober 2015