Kibar Labar Nelayan – Sabe – Nda

Karya . Dikliping tanggal 11 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Kibar Labar Nelayan

Kibar layar perahu itu
Desir angin di bibir pantai itu
Juga dentum gelombang
”Tak pernah membuat getir cinta kami“

Kami terus berlayar
Memanggang ingatan di luas dan dalam lautan
Toh, di mata kami, nasib bukan seperti meja judi
Dan Tuhan bukan pendusta yang pura-pura baik
hati

Kami percaya
Dengan rambut yang tipis
Dan pelipis yang diguyur gerimis
Esok pagi bibir kami
Masih sanggup mengecup kening istri

Kami terus berlayar
Sampai malam lindap kea sin lautan
–Ke dalam kulit kami yang juga legam,
Atap rumah, kepul tungku
Geliat peluk istri, juga Tuhan
”Tak pernah khianat akan kematian“

Lautan adalah sumber kasih tanpa pamrih
Juga kumpulan kisah-kisah para pejuang
Menantang takdir kehidupan

Kami percaya, dan selamanya kami tetap di sini, di laut ini
Mengibar layar bersama anak cucu
Dan menyenandungkan lagu
Olle ollang paraona alejere
Alajere e selat madure.

Madura, 2016-09-04


Sabe

Yang lahir dikencingi pagi
Duhai padi yang kuning dan meninggi
Kita pernah dibakar matahari bersama di sini,
Menikmati simpang siur angin setelah magrib
Dan gerimis yang jatuh dari mata langit
Adalah takdir
Lalu sulur ingatan merekam setiap musim yang tandang
Pada kalender keberuntungan
Agar buahmu segar ditalam
Mengenyangkan usia kerabat dan anak cucu
Sampai ratusan hari ke depan

Tinggal sejengkal hari lagi
Riwayatmu riwayatmu menyatu
Dan kita tak mau berseteru
Hanya persoalan siapa yang lebih tua
Menduduki dunia
Sebab seperti rindu
Kau adalah detak
Yang terus berulang dan akan kembali lahir
Di tanah ini, di mata kami.

Madura, 2016



Nda

Aku membayangkan kau sebotol anggur yang
kuteguk
Saat malam kelindan, lalu kuda-kuda menginjak
sepi
Dan dingin di ubun-ubun kepalaku.
Batu-batu lepas dari perigi kulit, jatuh ke jurang
jauh
Menghantam masa lalu, suara, dan kenang

Di ingatan, wajahmu tegak menjunjung rinduku.
Dan kini aku punya alasan berdiri menantang
dunia dan takdir
Tanpa rasa takut terbunuh sia-sia.

Jogja-Cabeyan, 2016


Anwar Noeris, lahir di Sumenep, Madura. Mahasiswa Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).  Menulis Puisi, Cerpen, dan Esai. Beberapa tulisannya telah terbit di berbagai media nasional. Kini Tinggal di Jln, Parangtritis KM 7,5. No 44 Cabeyan, Sewon Bantul, Yogyakarta. (92)



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anwar Noeris
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu, 11 September 2016
Beri Nilai-Bintang!