Kidung Ciarunteun – Tepi Sungai Ciliwung Pagi Hari – Pelajaran Di Hari Sabat – Sajak Seekor Rusa

Karya . Dikliping tanggal 25 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Kidung Ciarunteun

Demi selempeng pecahan bulan yang dilempar dari surga,
aku singgahi kotamu, Bhagasasih. Gadis cantik yang
mengalirkan air sungai Candrabhaga dari hulu jemari
Purnawarman, hingga hilir ladang petani. Orang yang me
niupkan roh pada tanah mati. Sebagaimana, penyair yang
memompakan darah ke jantung puisinya.
Berkunjung aku di kotamu, Bhagasasih. Gadis berparas
dewi bertato laba-laba piaraan Purnawarman, yang pan-
tang tunduk pada badai. Ia serupa Sisifus yang sanggup
memahami kegagalan sebagai awal perjuangan berulang.
Ujung perjuangan tak lebih jaring. Memerdekakan atau
menjebak layaknya penjara.
Usai senja membentangkan tabir jingga di langit Taruma
negara, aku tinggalkan kotamu. Bukan untuk melupakan
mu, Bhagasasih. Melainkan untuk menabung rindu. Tentang
penyusuran jejak Purnawarman di sepanjang Citarum hingga 
Cibuaya. Tempat cinta kita diabadikan dalam dayu kidung Ciarunteun.
21062015
__________
Catatan:
Bhagasasih: Nama kuno Bekasi, yang menurut Poerbatjaraka bermakna ‘bagian dari bulan’. Sebelum dikenal Bekasi, nama wilayah yang semula menjadi kekuasaan Tarumanegara tersebut dilafalkan Chandrabhaga, Shasihbhaga, Bhagasasih, dan kemudian Bhagasi.
Candrabhaga: Nama sungai yang dibangun Purnawarman. Raja Tarumanegara ke-3 yang memerintah dari tahun 395 hingga 434 M.
Ciarunteun: Nama prasasti keluaran abad ke-7 yang melukiskan laba-laba dan telapak kaki Dewa Wisnu (Purnawarman)

Tepi Sungai Ciliwung Pagi Hari [1]

Betapa pangling aku memandangmu, Ciliwung. Kau tampak bukan gadisku yang dahulu selalu mendayung sampan dari Bekasi hingga Sunda Kelapa. Sungguh dekil tubuhmu! Sungguh lusuh rambut ikalmu! Senasib sekawanan pemulung di tepian sungai. Kian akrab dengan lumpur, sampah, limbah, dan bau bangkai.
Tak terpandang olehku sinar biru di matamu, Ciliwung. Hanya parasmu yang menyimpan dendam di balik beku senyuman. Dendam yang kelak menjadi amuk bah. Menenggelamkan kampung-kampung serupa di zaman Nuh. Sebelum kejayaan Pajajaran kembali timbul. Serupa perahu purba dari dasar samudera.
21062015

Tepi Sungai Ciliwung Pagi Hari [2]

Tak lagi terdengar riak sungaimu
Ditelan mesin pabrik yang mengharubirukan pagi
: Setenang bayi di tetek ibunya
Tak lagi gairah arus sungaimu
Serupa ikan-ikan yang lesu mengecipakkan siripnya
Ketika lumut berubah coklat memabukkan
Tak lagi hijau warna sungaimu
Hingga tak mampu mengubah garang matahari
Menjadi cinta yang berkeriapan dalam timangan angin
22062015

Pelajaran Di Hari Sabat

Di naungan ranum matahari, telaga berkeriap teduh. Sur
ga bagi ikan-ikan yang ingin mengecipakkan kemanjaan
nya di hari sabat. Sesudah sepekan hanya menghabiskan
waktu untuk berebut lumut segar dengan sesama ikan,
dan sesekali belajar menjadi kanibal: memangsa ikan-ikan
yang lebih kecil. Ikan-ikan yang telah dipersiapkan Tuhan
sebagai santapan monster-monster air yang setiap hari
pekerjaannya hanya menjawab satu pertanyaan: ”Esok
hari makan siapa?”
Yang memanjakan diri di hari sabat adalah ikan-ikan. Me-
reka yang bebas berenangan kesana kemari tanpa berpikir
bahwa kawan hari ini adalah musuh hari esok. Mereka mi
rip manusia-manusia ninja yang bergurau di meja-meja
perjamuan namun menyimpan cakram bintang di balik ju
bah gelapnya. ”Demikianlah kesamaan ikan-ikan dan ma
nusia-manusia ninja!” kata kawanku. ”Keduanya bisa men
jadi culun, namun bisa berang melampaui harimau lapar.”
Di tepi telaga, aku tiba-tiba berencana. Menikamkan pisau
lipat di punggung kawanku. Biar ikan-ikan tahu, sesung
guhnya hari sabat adalah waktu tepat untuk membunuh
kawan. ”Karena itu, aku ingin membunuhnya!” bisikku pa
da ikan-ikan yang masih mengecipakkan kemanjaan. ”Agar
ia masuk surga yang pintunya lupa dikunci Tuhan.” Ikan-ikan
terperangah sebelum serupa harimau-harimau lapar
yang berebut bangkai rusa. Telaga berkeripan garang.
05062015

Sajak Seekor Rusa

Siapa berani bersaksi di depan gajah sang pengadil
perihal dalang pembantaian seekor rusa?
Sebab sekali menyebut nama singa, kawanan
harimau akan menghabisinya dengan cakar
dan taring mereka yang lebih tajam dari mata
pisau lipat seorang pembunuh bayaran
Bukan hanya kancil yang cerdik, banteng
bertanduk pun tak bernyali. Sebab
kesaksian telah menjadi persoalan hidup-mati
Bukan persoalan keadilan yang harus ditegakkan
dimana rusa dan singa memiliki hak sama atas hidup
yang dititipkan Tuhan sejak bumi digelar
Tak satupun bersaksi atas siapa dalang pembantaian
seekor rusa. Semua mulut terkunci rapat-rapat
sebagaimana pintu keadilan di negeri rimba
tertutup bagi sekawanan rusa: rakyat kecil
yang hanya bisa menyandarkan nasibnya
pada keajaiban faktor x keberuntungan
08062015
Sri Wintala Achmad, sastrawan menulis dalam tiga bahasa (Inggris, Indonesia, dan Jawa). Tinggal di Cilacap
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Wintala Achmad
[2] Pernah tersiar di suratkabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 25 Oktober 2015