Kidung Ojhung Musim Kering – Katak Pemikul Bawang

Karya . Dikliping tanggal 6 Maret 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Kidung Ojhung Musim Kering 

Di bawah langit Topote, kau sedang bertarung 
hendak memanggil nama-nama hujan 
memanggil tuhan, dengan doa kekar juga luhur 

sebab bertarung dengan topeng dan seikat rotan berpilin 
adalah caramu berdoa, merayu langit kisruh 
agar tanah menjadi basah 

awan-awan itu berarak mendekati kampungmu 
yang lengang dan perawan 

(seperti anak-anak yang bermain dan hendak pulang 
karena petang menghalangi 
bayang pandang mereka yang bimbang 
karena hujan hendak turun di jembatan).

kau tak seperti pecundang, yang biasa berpaling 
ketika sapi-sapi tetanggamu menghilang 
kau petarung ulung, jantung bagi orang kampung 

mereka akan bahagia, jika kau berhasil 
berkaul untuk sejumlah sawah dan sejumlah 
tanah kudus, barangkali rumah kekasihmu 

yang tiga-tahun lalu, menghianatimu 
dengan sahabatmu sendiri 
itulah sebabnya kenapa kau tiba-tiba memilih 
menjadi petarung ulung, yang digemari banyak orang 

panggillah hujan, seperti kau memanggil tuhan 
kata nenek tua, yang biasa memberimu bingkisan 
semasa kau belum masuk SD.

kau memegang teguh petuah itu 
hingga suatu kali, orang-orang linglung 
karena hujan tak jua datang mengepung kampung 

orang-orang membutuhkan lenganmu 
seperti Empu Kelleng membutuhkan lengan Joko Tole 
menyepuh benteng gerbang Majapahit agar kuat 

dan kelincahamu sebagai petarung musim kering 
tak tertandingi maling dan bajing.
orang-orang menjadi girang karena petang 
akan diusir si petarung ulung dengan lantang 

(dan kekar tubuhmu yang mekar 
membakar langit kincir dengan kasar dan gusar) 

duh lamur, seribu cibir telah menampar 
wajahmu yang getir akan doa pandir seorang 
pendekar 
dari timur pesisir yang mashur akan sindir 

Kutub-Sumenep, 2016 

Katak Pemikul Bawang 

Petunjuk adalah benih cahaya tanpa lampu dari 
tungku 
mereka yang menemukan kerdip dalam dzikir pada 
kuburan si Agung 
akan mendapati wajah-wajah mereka lebih subur 
dari sumbu cahaya mana pun 

Kebanyakan dari mereka adalah menemukan lahan 
kosong 
dunia yang gatal dengan suara tumbuh pada telinga 
mereka 
mereka hendak menjadi pertapa beberapa saat 
sebelum pagi 
tak ada kesungguhan dari lidah harimau mereka 

Mereka hanya akan mendekati keheningan ketika hidup 
benar-benar hendak mengkail leher mereka dengan 
jangkar perahu 
mereka tak akan menemukan senyum atau lentik 
jemari suci si Agung 
sedang memberi sesuatu pada tadah tangan mereka 
yang dungu 

Pun mereka tak akan menemukan katak pemikul 
bawang 
atau si raja ular bersisik emas pada gaib akar pohon 
hendak menelurkan cahaya pada lengan mereka 
mereka selalu tidak sungguh-sungguh tenggelam 
pada kegelapan 

Lengan mereka patah dan mereka menyerah 
pada seratus rayu si bangsat hantu 
mereka memilih menyingkir dari tapa bisu dan tak 
kembali 
mencumbu sepi malam itu 

Sumenep, 2016 

Saifa Abidillah, masih tercatat sebagai mahasiswa Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga dan aktif mengelola LSKY (Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta). Tulisan-tulisannya pernah terkumpul dalam antologi bersama, antara lain, Narasi Mendung dalam Tarian Hujan (2009), Bersepeda ke Bulan (2014), Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III (2015), Nun (2015), Negeri Laut (2015), Ketam Ladam Rumah Ingatan (2016).  

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Saifa Abidillah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 6 Maret 2016