Kisah Si Kembar

Karya . Dikliping tanggal 3 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

ULA terkejut melihat berita di televisi. Waktu itu, ia sedang sarapan pagi di jongko nasi kuning. Biasa, sebelum dadasar membereskan dagangan sayurnya, Ula sarapan nasi kuning dan segelas kopi.

“Ini adalah foto-foto politisi yang terpilih menjadi anggota DPR dalam Pemilu kemarin,” kata perempuan cantik pembaca berita.

Ula terkejut waktu melihat foto-foto itu maju seperti melayang di layar televisi. Hanya sebentar foto-foto itu melintas. Hanya beberapa detik saja. Orang-orang yang sama sedang sarapan nasi kuning pun sepertinya tidak ada yang melihat.

Selama melayani pembeli sayuran, pikiran Ula terus terganggu berita televisi tadi. Siangnya, ketika pulang ke kamar kontrakannya yang hanya seluas 2x meter dan berlantai semen, benak Ula kembali terusik. Apakah bisa seperti itu? Apakah mungkin?

Ula pun pergi ke warnet.

“Ingin melihat foto anggota DPR yang terpilih kemarin, Jang. Coba gimana caranya?” tanya Ula kepada penjaga warnet.

“Gampang atuh, Mang. Buka saja Google, segala ada di sana mah,” kata penjaga warnet sambil mengajari Ula.

Betul saja, sekali klik foto-foto anggota DPR muncul berjajar. Mata Ula langsung tertuju kepada foto yang di tengah. Dewa namanya. Ula menatap foto Dewa berlama-lama. Ula mengeluarkan fotonya dari saku, lalu memandangnya berlama-lama. Bukan hanya raut wajah, mancung hidung, hitam mata, bahkan kumis mereka juga sama.

Ia kemudian mengetik nama Dewa Pandawa di kolom search akun Facebook-nya. Banyak akun Facebook bernama Dewa, tapi Ula mengenali Dewa yang dicarinya dengan melihat foto profil.

Dewa ternyata seorang pengusaha. Foto-fotonya kebanyakan di tempat-tempat wisata di Nusantara. Ada juga foto di luar negeri. Ada beberapa foto baru saat dilantik menjadi anggota DPR. Istrinya perempuan cantik berusia kira-kira 30 tahun. Anaknya tiga.

Ya, ternyata ada juga perbedaan mereka. Ula anaknya hanya dua. Istrinya, Iroh, usia 35, tapi terlihat lebih tua karena tidak pernah mengurus wajah secara khusus. Istri dan anak-anak Ula tinggal di Ciakar, sebuah kampung di kaki Gunung Ciceuri, Sumedang. Ula berjualan sayuran di Pasar Ciroyom, Bandung, tinggal sendiri di kamar kontrakannya. Biar hemat. Sebulan sekali ia pulang ke rumah.

Ula mencatat nomor ponsel yang ada di akun Facebook Dewa. Lantas, diserahkan fotonya kepada penjaga warnet. “Jang, tolong masukkan foto ini ke Facebook,” kata Ula.

**

Hanya karena semata penasaran, Ula menghubungi nomer ponsel Dewa. Waktu ada yang menjawab panggilannya, Ula malah terkejut.

“Halo,” kata Ula pendek.

“Papah, lagi di mana?” tanya suara dari seberang. Suara seorang perempuan. Begitu lembut.

“Eu… saya mah, saya mah….”

“Papah kenapa? Ini HP Papah ketinggalan di rumah.”

“Saya mah Ula, dari Bandung. Bisa bicara dengan Bapak Dewa?”

“Ah, si Papah bercanda. Papah sudah sampai di mana sekarang?”

“Oh, nanti saja atuh.” Tut, tut. Ula mengakhiri panggilan.

Besoknya, saat berjualan di pasar, ponsel Ula berdering. Ula terkejut melihat nomor yang olehnya disimpan dengan nama Dewa. Ula setengah berlari ke belakang pasar yang lebih sepi sebelum mengangkat telepon.

“Kamu itu siapa? Maksudnya apa? Jangan menipu keluarga saya, nanti dilaporkan ke polisi! Kamu tahu saya ini anggota DPR…,” kata suara dari seberang langsung marah.

“Bukan begitu… Maaf, Pak… Eu…, saya juga bingung. Suara Bapak dan suara saya mirip. Istri Bapak saja tidak bisa membedakan. Apalagi raut wajah kita. Lihat saja foto saya di Facebook. Nama saya Ula, eh Nakula.”

Seminggu sejak itu Dewa menghubungi Ula lagi. “Besok saya ada acara di Bandung, nginap di Hotel Ibis. Ditunggu di kamar nomor 320, sore sekitar pukul empat ya.”

**

Dewa tidak berkedip saat membuka pintu kamar hotel. Orang yang barusan mengetuk pintu ada di hadapannya. Mereka hanya berjarak 1 meter. Pakaiannya kumal dan bau, mungkin keringat. Namun, raut wajah, hidung, mata, telinga, bahkan garis tua di bawah mata, betapa miripnya mereka.

“Silakan masuk,” kata Dewa. Ragu-ragu Ula masuk ke kamar hotel.

Beberapa jenak keduanya hanya saling memandang, berhadapan di kursi yang dipisahkan meja kecil.
“Coba lihat telapak tangan,” ujar Dewa sambil membuka telapak tangannya sendiri. Ula mengikuti permintaan Dewa. Keduanya semakin bingung. Garis-garis telapak tangan itu, sama sampai ke garis-garis kecilnya.

Setelah kembali saling memandang, berdiam diri, dengan pikiran masih belum mengerti, bingung, entah yang keberapa kalinya; Ula pamit pulang.

“Sebentar, ada satu lagi kepenasaran saya. Saya punya tanda lahir di perut,” kata Dewa sambil membuka kancing bajunya. “Kamu juga punya tanda seperti ini?”

**

Kisah Si KembarSeminggu sejak pertemuan dengan Dewa, ponsel Ula berdering. Ula terkejut karena yang menghubunginya langsung menuduh yang bukan-bukan.

“Saya baru ingat, kamu pernah menghubungi istri saya, apa maksudnya?” tanya Dewa di seberang telepon.

“Tidak ada maksud apa-apa, Pak.”

“Kenapa menghubungi istri saya?”

“Maksud saya menghubungi Bapak, tapi yang angkat istri Bapak.”

“Apa maksudnya menghubungi saya?”

“Penasaran saja.”

Berhenti beberapa detik.

“Kamu mungkin pernah datang ke rumah saya, ya?” cecar Dewa lagi.

“Tidak pernah, Pak. Alamatnya juga tidak tahu.”

“Ah, alamat gampang dicari. Kamu juga bisa tahu nomor telepon saya. Di rumah saya kemarin kehilangan perhiasan.”

“Tidak, Pak. Tidak sama sekali.”

Berhenti lagi beberapa detik.

“Kamu melakukan apa dengan istri saya?” lanjut Dewa.

“Tidak Pak. Tidak melakukan apa-apa.” Ula semakin ketakutan.

“Kalau kamu datang ke rumah saya, istri saya pasti mengira kamu itu saya!”

“Ampun Pak, saya tidak melakukan apa-apa.”

Berhenti lagi beberapa detik.

**

Besoknya, saat Ula istirahat di kamar kontrakannya, ada yang mengetuk pintu. Ula terkejut, badannya bergetar seperti demam, saat dua orang yang datang itu mengaku polisi. Ula disuruh segera membereskan barang-barangnya. Ula lalu dibawa oleh dua orang polisi tidak berseragam itu ke sebuah perumahan di tengah persawahan di Ciwastra.

“Sejak sekarang kamu tidak boleh keluar rumah. Makanan dan kebutuhan lainnya bakal ada yang mengirim,” perintah salah seorang polisi itu.

“Ampun Pak, kalau tidak berjualan bagaimana saya harus ngirim uang ke kampung?”

“Kamu tetap pulang ke kampung sebulan sekali. Uang dikasih sebesar yang biasa kamu bawa. Tapi, selama di sini kamu tidak boleh keluar rumah. Selama di kampung kamu tidak boleh berkeliling. Cukup menengok istri, anak-anak, dan orangtua, lalu pulang lagi ke sini. Sudah diatur segalanya dari Jakarta!”

Begitu yang diatur Dewa.

**

Setahun kemudian, Dewa berhadapan dengan pengadilan. Dia tertangkap basah oleh KPK sedang menerima uang sogokan dari perusahaan ekspor-impor daging kambing. Setelah disidang, ternyata tuduhan atasnya semakin berderet.

Pemberian izin penebangan hutan di Kalimantan, terlibat pengaturan proyek pembangunan perpustakaan terbesar se-Asia, terlibat penurunan kualitas beras orang miskin alias raskin, terlibat pemotongan uang ganti rugi proyek bendungan, penyelewengan dana KTP-E, dan lainnya. Dewa tidak bisa mengelak.

Dewa menangis karena tidak menyangka akan masuk penjara. Semua rencananya sepertinya mulus, tapi kemudian berantakan. Satu per satu kejahatannya terungkap. Belum lagi menghadapi pengadilan yang bakal panjang, melelahkan, dan tentu sangat memalukan. Saat itulah Dewa teringat dengan Ula.

Suatu malam, Dewa diantar kepala rutan ke Bandung, terus ke perumahan di tengah sawah di Ciwastra.

“Sekarang kita tukar tempat,” kata Dewa. “Saya dipenjara di sini. Kamu mengganti saya di sana.”

Ula tentu saja tidak mengerti. Dia tidak tahu berita dipenjaranya Dewa. Di rumah itu tidak ada saluran televisi. Ula hanya boleh nonton film. Tapi, ia menurut ketika kepala sipir yang dibayar Rp100 juta itu membawanya.

Besoknya, di rutan, tubuh Ula bergetar seperti demam saat istri Dewa menengok. Apalagi saat perempuan cantik itu mencium pipinya kiri-kanan. “Papah tenang, jangan stres begini. Pengacara paling hebat di negeri ini siap membela Papah,” kata istri Dewa lembut.

Ula hanya mengangguk dan mengangguk.

“Pah, kata sipir, bila kita ingin honeymoon lagi, ada rumah di belakang rutan. Tapi harus sembunyi-sembunyi. Tidak apa uang sewanya mahal juga. Ah, tidak mahal sebenarnya. Hanya Rp30 juta semalam,” bisik istri Dewa lagi sambil tersenyum.

“Nanti sore Mamih nunggu di situ ya, Pah. Biar sipir yang atur. Tenang saja, Mamih yang membeli viagra. Biar Papah tidak stres lagi.”

Tubuh Ula semakin meriang. ***

Catatan:
Dadasar = Menata barang dagangan, biasanya di pinggir jalan atau di depan pasar, dilakukan pedagang yang tidak punya jongko
Ngampar = Menata dagangan dan berjualan
Ngagebah = Mengejutkan
Jang (Ujang) = Panggilan kepada lelaki yang lebih muda
Mang (Amang) = Panggilan kepada lelaki yang lebih tua
Mah, atuh, teh = Kata yang menegaskan

Yus R Ismail, menulis cerpen, novel, dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Karyanya, antara lain Humor Klasik si Kabayan, (BIP-Gramedia, 2017) dan Mahacinta (e-book, novel, BIP-Gramedia, 2017). Lima carpon (cerpen berbahasa Sunda)-nya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh CW Watson dan dimasukkan buku Miss Maya and Other Sundanese Stories dan dimuat di majalah The Malay World.


[1] Disalin dari karya Yus R Ismail
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 02 Desember 2018