Kita dan Ramalan Cuaca

Karya . Dikliping tanggal 25 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina

Kau pernah bilang padaku suatu malam, tentang keengganan andai kepalamu yang ‘keras’ itu dikabuti serbuk-serbuk hujan yang mengusik kencan kita, bukan? Gara-gara hujan, pasti sepatuku lenyah, celanaku basah, leherku merah-merah, katamu. Dan aku, seperti biasa, menerima gerutumu oleh hati mengkal, sebab saban hari aku menerabas hujan mengantarkan pesanan cake ulang tahun ataupun pie apel ke rumah puluhan pelanggan dan sesekali menyelesaikan naskah aneka rupa dari penerbit cerita anak, jika sempat. Meskipun berkatnya  tiap tiga bulan mesti tubuhku terserang radang dan harus mengunjungi dokter, aku sudah bersahabat dengan hujan. Namun, kau malah menjadikan hujan sebagai alasan terbodoh untuk bermanja.
    Secara sepihak kau kerap membatalkan kencan kita yang tiada sering itu?sebab kau sibuk dan aku berusaha sibuk. Hanya sekali sepekan, dan berkat kebijakanmu aku harus menunggu pekan berikutnya. Itu pun andai pekan berikutnya tidak hujan. Kadangkala ingin kudaulatmu manja, namun perasaan yang alangkah ajaib ini terlalu mahal untuk mengucapkan kata kerja selain sayang dan kata sifat selain cantik.
    Hujan menjelma orang ketiga yang dengki terhadap keintiman kita. Sialnya kau condong dan patuh padanya. Seperti kepada kekasihmu, yang dulu.
Dalam benak, ada makhluk yang rutin bertanya mengapa aku bisa mencintaimu secepat, seberat saat ini. Beruntung aku tak dilahirkan untuk mudah mencintai. Jika demikian barangkali betapa sulitnya hidupku mereparasi kepala yang sarat oleh kenangan-kenangan akan mantan belahan. Sekarang saja, isi kepalaku hampir tumpah gara-gara kau menyesaki kepalaku sebangun tidur dan rela melewatkan sarapan demi ucapkan selamat pagi. Kemudian bercakap denganmu di udara pada rehat siang, sampai aku tak sengaja terlelap di sofa sendirian di rumahku pada dini hari yang syahdu, selepas letih mengantarkan pie apel seharian, dan televisi selalu hadir menonton kegelisahanku akanmu dengan layar pelangi dan suara tut tiada henti sampai subuh.
Ah, sepertinya tak secepat yang kurasa. Dua tahun lalu, kita pernah bertemu di kedai bubur pada malam yang biasa, membincangkan hal yang tak biasa. Aku suka memandangi matamu yang bundar sempurna seperti hendak melumat mataku yang sipit, dan kian membeliak saat mendengarkan celoteh rasa sambil menunduk. Pipimu yang putih berubah merah jambu mendengar udaran perasaan dari mulutku. Sehabis itu hatiku ruap oleh harap, hingga sepuluh, lima belas, dua puluh detik kemudian kau membuka corong suara.
    “Maaf… aku masih mengharapnya kembali.”
    Harapanku jatuh dari langit ke dasar bumi, terisap gravitasi yang girang.
    “Tapi… tapi, aku pun berperasaan sama denganmu,” kau menggenggam tanganku yang patah merapuh, “Hanya, belum saatnya saja. Maaf, maafkan aku.”
    Aku melonggarkan genggammu pelan-pelan, hingga dua tahun kemudian. Kita berjumpa kembali di tempat yang berbeda. Perbedaan lain, kemarin aku yang duluan menggenggam tanganmu, memelukmu erat, enggan melepasmu lagi. Tak akan.
Dulu pengadangku adalah kekasihmu. Sekarang, hujan. Padahal, kita bermukim di kota hujan. Aku sering meringis menahan tawa sekaligus mendengus kesal kala menyadari anomali itu menyertai kita.
    Masih dengan mulut bermentega serta rambut kemoceng, gairahku terkail ketika menonton berita pagi di televisi. Menyaksikan ramalan cuaca di ragam kota, termasuk kota kita. Siapa pun tukang tenung cuaca, aku akan menjura padanya jika kebetulan berjumpa. Mungkinkah ini solusi atas kemanjaanmu itu? Baiklah, sedari sekarang aku harus rajin mendengarkan suara seksi perempuan cantik yang getol memaparkan ramalan cuaca di dalam kotak elektronik itu.
    Dengan bergempita aku meneleponmu perihal ramalan cuaca, sayangnya kau menanggapinya dengan biasa dan nada sedatar tripleks.
    “Aku tak percaya ramalan.”
    “Ini ilmiah, Sayang. Bukan sekadar ramalan,” seruku. 
    “Terserah. Aku tak percaya ramalan.”
    “Tapi, kau suka membaca ramalan bintang. Dan ramalan jodoh.”
    “Itu pengecualian. Itu untuk masa depan.”
    Kita terus mendebat cuaca, hingga bosan. Seperti biasanya.
    “Sabtu sore kita harus ketemu,” tandasku.
    “Tergantung. Besok hujan atau tidak.”
    “Lihat saja ramalan cuaca besok pagi,” sejujurnya aku ingin marah, namun sialnya stok sabar selalu saja melimpah untukmu, “aku yakin, besok langit cerah. Tanpa awan, barangkali. Tanpa alasan. Tanpa pembatalan!”
    “Terserah kamulah.”
    Pet!
Seperti yang sudah direncanakan, pukul delapan pagi aku sudah memelototi televisi. Pembaca ramalan cuaca mengabarkan prediksi cuaca di ibu kota, kemudian ke kota sebelahnya, dan kota-kota lain, kemudian kota kita. “Berlanjut ke kota S. Pagi ini, kondisi kota S berawan dan kemungkinan diguyur hujan dengan intensitas ringan….”
    Aku beringsut dari sofa mengintip tirai, dan memang langit memajang tampang muram di balik jendela, pelit sekali memulas dirinya dengan biru. Belum ada guruh petir, atau mungkin awan kelabu belum sempat mampir ke atas genteng rumahku, sebentar lagi, mungkin.
    “… kemudian pada siang hari, cuaca akan cerah berawan, dengan suhu maksimum 40 derajat Celsius.”
    Dan tibalah ramalan cuaca pada waktu yang kutunggu.
    “Sore hingga malam, kota S diprediksi cerah berawan, dengan suhu udara maksimum 31 derajat Celsius.”
    Ah, lihat, tepat kan, dugaanku!
    “Namun demikian jangan lupa bawa payung atau mantel jika Anda hendak bepergian. Sekian. Selamat berakhir pekan.”
    “Terima kasih sudah mengingatkan, Nona. Tapi aku sudah telanjur percaya pada ramalan cuacamu.”
Sore ini aku sudah menunggu di persimpangan yang biasa kita janjikan. Aku tak boleh menyambangi lalu masuk ke dalam rumahmu. Mengapa, sering kutanyakan padamu, namun selalu kau jawab dengan jawaban menyebalkan, “Kamu ingin kencan bersamaku atau bergumul bersama kamarku?”
    Tanpa permisi dan secuil maaf, kau terlambat dan beberapa detik saja pantatmu sudah berdempetan dengan pantatku. Tanpa basa-basi, kau langsung menginterogasiku saat motorku melaju pelan-pelan berkelit dari jalan berlubang dan antrean macet.
    “Ke mana kita?”
    “Bukit Pinus.”
    “Ah, serius?” pundakku kau tampar dari belakang, “Kalau hujan gimana?”
    “Ramalan cuaca bilang cuma berawan. Sudah, kamu percaya sajalah.”
    “Ah… bukan begitu. Aku, aku…”
    “Kau memang manja. Sama hujan saja takut.”
    “Bukan begitu… ah, kamu selalu gagal mengerti!”
    Kamu bungkam sepanjang jalan. Sejam kemudian kita telah tiba di batas kota, memasuki ambang jalan menuju Bukit Pinus. Disambut antrean mobil sepaket dengan pengap asap polusi dari kota sebelah yang menjemukan itu. Betapa mujur motor ditakdirkan berdimensi ramping sehingga dapat memecundangi mereka melalui celah yang mereka kreasi.
    Kulirik cemberutmu yang muram di dalam spion. Aku meraih tangan kirimu, namun tak seperti biasa, kau melonggarkan genggam kita. Mungkin senja yang sekarang kehilangan cantik jingganya ini iri melihat kebersamaan kita.
    Menerabas antrean mobil yang mengular menanjak, motorku melaju dan berpapasan dengan kendaraan yang melaju tergesa-gesa ke arah sebaliknya. Beberapa saat, ada suara tok tok dari lampu depan. Kaca helm. Dan kurasakan hunusan jarum gigil ke sela jemariku. Lengan. Bahu. Mungkin juga anggota tubuh dan hatimu.
    Oh, ramalan cuaca penuh dusta!
    Aku bimbang hendak melanjutkan perjalanan ke Bukit Pinus ataukah meminggir sejenak atau kembali pulang sambil menyentak-nyentak. Kupandang dirimu di dalam cermin cembung itu, apakah yang menetes di pipimu itu air hujan? Kurasa, muasal air itu dari organ di atas pipimu. Aku menepikan roda dua demi menenangkanmu sebab hujan datang serampangan sore ini setelah tukang tenungnya mengelabui kita pagi tadi; menjanjikan bahwa sekadar awan sebagai penampungnya saja yang ikut hadir bersama kita.
    Bersiap-siap aku turun untuk meneduh, namun kau masih juga memelukku secara menali di jok belakang, sampai punggungku pegal rasanya. Aku menoleh padamu, membisik di ambang telingamu yang begitu dekat dengan bibirku.
    “Kita berteduh sebentar. Hujan. Toko ini tutup, jangan khawatir.”
    Semenjak hujan datang, aku belum melihat matamu yang tertutup oleh kelopak dan air daripadanya. Hanya terdengar lirihmu. “Aku takut.”
    Aku memapahmu turun, sambil terus merangkulmu supaya kau sedikit tenang dan merasa aman, kurasa. Kita duduk di teras toko yang rolling doornya bungkam. Aku merasa bersalah padamu. Semuanya salahku, dan…
    “Maafkan aku. Ramalan cuaca kali ini penuh dusta.”
    “Lupakan. Dia sudah datang… dan, tolong, jangan biarkan ia membawaku kembali pulang. Aku tak ingin pulang! Kumohon.”
    Tangan dan pipimu seperti sebatang dan sebongkah es yang mencucup usapanku; sungguhkah kau begitu ketakutan di sore tanpa matahari terbenam ini? “Siapa, siapa yang datang, Sayang?”
    “Hujan.”
    “Ah, kamu. Mereka datang tiada kenal musim, sekarang. Tak seperti dulu.”
    “Ya. Kenangan pun. Sama. Selalu bersama-sama.”
    Disokong deras air hujan dan air mata, segala rupa kenangan tumpah ruah dari mulutmu. Kau pernah melihat bibir kekasihmu beradu dengan bibir perempuan di tengah hujan.  Ayahmu gugur di lepas pantai, ketika badai menggilas rig yang di sana terdapat barak ayahmu. Tiga bulan kemudian ibumu menikah dengan teman ayahmu. Dan bahumu berguncang beberapa kali saat mewartakan kejujuran barusan. Setahun lalu ibumu dicerai. Katamu, sampai sekarang ibumu kerap tertawa dan menangis dalam periode yang sama, dan tiada perabot pecah belah yang utuh. Kudiamkan kamu lenyap dalam bahuku hingga getaran tubuhmu mereda. Cukup lama, hingga hujan reda.
    “Kau pasti tahu, kan, air hujan lenyap ke mana sejatuhnya dari langit? Air hujan itu abadi, Sayang. Ayahmu, ibumu. Lebih abadi ketimbang kecemasanmu akannya.”
    “Entahlah….”
    “Masih ingat Desember lalu? Ketika kau kuyup di bawah halte yang bocor. Dan kebetulan aku orang satu-satunya yang duduk bersamamu di situ, sepulang dari kantor penerbit cerita anak,” aku merasakan isakanmu yang berhenti setelah kataku yang terakhir. Kuseka air matamu dengan jaket tebalku. Beberapa menit berlalu, kita masih berpelukan. Kubiarkan kamu tenang, menunggu hujan lekas pulang sendirian, tanpamu.
    “Tidak bisa. Jangan paksa diriku, aku tetap takut. Tapi…,” kamu menengadah, “kau pemberani, ‘kan? Kau janji, ya. Akan melindungiku darinya. Ya,  ‘kan… ya, ‘kan?”
“Hmm… entahlah.” Kutatap mata sembapmu, mengecupnya dan mencecap tempias asin dari linangannya.
    Usai saksikan kau tersenyum, hujan menyirna, langit pekat menyingkapkan dirinya sebagai malam, sisa angin petang membelai bulu kuduk, tersisa aroma tanah dan udara lembap yang mendamaikan senja kita. Ramalan cuaca tak sepenuhnya berdusta. Kurasa, dia barusan cuma pura-pura. Demi kita.(f)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Cepy HR
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”