Kitab Tipu Muslihat

Karya . Dikliping tanggal 26 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Yang hilang dari catatan para sejarawan terkemuka Kutaraja, yang gagal ditemukan Snouck Hurgronje—sekalipun dia telah bersusah payah untuk menyaru di dayah-dayah dengan menggunakan nama Abdul Ghaffar—yang bersampul dua puluh empat warna, yang beratnya harus diangkut seekor kerbau, sebuah kitab yang ingin kucatat ulang jika Tuhan menghendaki, dan hatiku tergerak untuk membocorkan sedikit isinya di sini.

Secara tak sengaja aku mengetahui rahasia kitab ini, dimulai dari keisengan guru pelajaran PMP—yang kemudian berubah menjadi pelajaran PPKN atau sekarang yang kamu kenal PKn—madrasah dulu yang senang mendongeng saat jam pelajaran berlangsung. Dan, karena itu, aku selalu menunggu-nunggu jam pelajaran PMP, sekali dalam seminggu, setiap hari Rabu. Ibeurahim, nama guru yang berpostur tinggi, berdada bidang, berhidung mancung, dan berkumis seperti penampilan laki-laki Kutaraja pada umumnya; kutaksir umurnya belum empat puluh pada saat itu dan kami memanggilnya Pak Beurahim.

“Belanda itu tak punya tanah sebenarnya, mereka menjajah kita demi untuk menguasai kebun-kebun lada dan kebun-kebun pala. Setelah lada atau pala dipetik penduduk lembah, mereka mengambilnya kemudian menjualnya ke Eropa dengan keuntungan sangat tinggi. Karena itu, mereka memiliki banyak uang, uang yang dipakai untuk membeli tanah dari negara-negara di samping kerajaan untuk menimbun lautan. Lautan ditimbun terus-menerus dan jadilah dataran tempat mereka membangun rumah, kincir angin, kebun-kebun gandum, dan kebun-kebun bunga tulip,” ujar Pak Beurahim dalam sebuah dongengnya.

Dongeng-dongeng yang keluar dari mulut Pak Beurahim menyusup ke dalam aliran darahku, menafkahi daging yang kemudian membentuk jaringan badaniah hingga aku menjadi dewasa. Karena hobinya itu, Pak Beurahim tidak pernah membebankan kami dengan tugas, atau pekerjaan rumah dan sejenisnya. Perlu kamu tahu, aku bukanlah murid yang rajin membuat PR, PR matematika saja hanya sekali kukerjakan semasa duduk di kelas enam madrasah, tak pernah peduli pada kegeraman guru-guruku, bahkan sekali waktu di kelas empat, angka merah menebar di raporku. Sebenarnya aku tidak bodoh-bodoh amat, aku hanya marah pada guru matematika yang senang mencubit kemaluan murid-muridnya yang tidak berhasil mengerjakan soal di papan tulis. Demi kemaslahatan bersama, ada baiknya nama guru tersebut tak perlu kutulis di sini.

Kembali pada Pak Beurahim, hari itu cuaca begitu cerah, kembang merak berwarna kemerah-merahan bermekaran di halaman sekolah, pohon yang saat itu terlihat begitu menjulang, menaungi kami saat upacara bendera dan senam pagi. Pak Beurahim muncul di depan kelas, menarik kursi guru yang berada di belakang meja ke tengah-tengah kelas—setelah mengucapkan salam dan menanyakan keadaan kami—ia berkata, “Kalian tahu bahwa negara kita dijajah Belanda selama tiga ratus lima puluh tahun? Tiga abad setengah negara itu berhasil menjajah kita, tapi kalian juga harus tahu, itu tidak terjadi di daerah kita. Indatu tidak pernah hilang akal untuk berperang melawan kaum penjajah. Kalian pernah tahu apa yang dilakukan orang-orang di Samalanga? Yang membuat galiung Belanda tidak jadi berlabuh di sana? Padahal mereka sudah mempersiapkan pasukan untuk menyerang Samalanga dari laut. Tentu kalian tidak pernah tahu karena cerita itu tidak pernah tercatat dalam buku sejarah mana pun di muka bumi.”

Lelaki itu berhenti sebentar, mengambil rokok dari saku kemeja hijau pupusnya lalu memantik rokok, mengisapnya perlahan, kemudian berkata, “Saat saya kecil dulu, saya pergi mengaji ke Samalanga, kota para santri. Saya diantar oleh bapak saya ke dayah Abon Samalanga untuk menimba ilmu agama di sana; tinggal di sebuah rangkang yang dihuni oleh sepuluh santri, rangkang bertiang yang dipenuhi gantungan baju dan tempat kami merebahkan diri bila selesai membaca kitab agama.”

“Bagaimana Bapak bisa jadi guru madrasah ibtidaiyah sementara latar pendidikan Bapak mengaji di dayah? Bukan bersekolah seperti guru lainnya?” Linda yang berkulit putih, memiliki senyum paling manis dan yang paling menonjol di antara kami, tiba-tiba mengajukan pertanyaan.

“Setelah keluar dari dayah, orang tua saya memasukkan saya ke PGA (Pendidikan Guru Agama), Linda.” Ia kembali mengisap rokok, mengembuskan asapnya yang berbentuk bulatan-bulatan kecil. Saat itu belum ada larangan merokok untuk guru, hanya murid yang tidak boleh merokok, seperti pasal pertama dalam perpeloncoan, guru tak pernah salah. Jika murid yang ketahuan merokok, bersiaplah dihajar dengan rotan, dipermalukan di depan kelas sebelum kemudian dipanggil orang tuanya. Pak Beurahim kembali melanjutkan cerita, “Salah satu dari teman kami itu bernama Salahuddin, kami memanggilnya Din. Din adalah anak Ampon yang memiliki sawah separuh kecamatan, dan memiliki ladang melampaui dua bukit dengan kerbau seratus ekor dan lembu tiga ratus ekor. Kekayaan orang tua Din yang membuat dia menjadi anak manja dan paling egois di antara kami, anak itu tak pernah menyentuh makanan dayah yang kadang ikannya kekurangan garam atau menjadi sangat keras karena digoreng di hari sebelumnya, membuat geligi menjerit saat mengunyahnya. Ibunda Din selalu mengantarkan lauk-pauk dari rumah, yang membuat air liur kami meleleh. Kami selalu berharap ditawarkan ikan cumi-cumi sambal atau ikan mujair masak plik u atau sepotong ayam kampung yang diantar ibundanya. Tetapi Din terlalu pelit untuk itu, dia meletakkan makanannya di dalam lemari pakaiannya yang dikunci dengan gembok perak; memakannya diam-diam saat kami sedang tidak di rangkang. Suatu hari setan-setan membisikkan sebuah muslihat kepada kami, ketika Din pergi mandi di sungai, kami mencongkel lemari anak itu dan menghabiskan ayam masak mirah yang baru diantar kakak Din. Din menangis saat mendapati makanannya tak bersisa, dan melaporkan pada ibunya keesokan hari. Saya dan teman-teman lainnya dipanggil guru rangkang untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kami. Teman-teman saya dihukum untuk membersihkan dapur, menghafal satu surah, dan berdiri selama satu jam di bawah sinar terik matahari selama satu minggu. Karena saya tak kunjung mengakui perbuatan saya, guru rangkang menjadi putus asa dan menyerahkan saya pada Abon Samalanga.

Karisma dan hikmah seperti mengikuti Abon Samalanga, meski usia sudah sepuh, rambut berubah putih, tak ada yang berani membantah lelaki itu. Jangankan membantah, menatap wajahnya saja orang tak mampu, ada cahaya tauhid berpendar di dahinya, cahaya kehijauan yang menyilaukan mata.

Kitab Tipu Muslihat“Sesampai di balee Abon, saya tidak ditanyai mengenai perbuatan saya pada Din. Abon malah menyuruh saya mencuci tangan dan menjamu saya makan malam satu meja dengan dirinya. Istri Abon sudah menghidangkan daging bebek masak kari beserta nasi mengepul yang sangat menggugah selera. Tanpa banyak bicara, saya langsung mencuci tangan dan makan satu meja dengan Abon Samalanga, mensyukuri keberuntungan yang sedang mendatangi saya. Setelah selesai makan, hati saya kembali dag-dig-dug, menunggu dengan cemas apa yang akan terjadi pada saya selanjutnya. Yang tidak saya duga sebelumnya, Abon Samalanga malah bertanya, kamu tahu kenapa Belanda sempat frustrasi di Aceh?” Saya menggeleng-geleng kepala. Lalu Abon bercerita, ….”

“Suatu masa dulu, ketika saya masih sangat muda, kami mendengar Kutaraja telah jatuh. Sultan menyerah demi menyelamatkan keluarganya, kami melihat dua galiung besar mendekati pantai Samalanga. Dua kapalnya yang dilengkapi meriam telah mengapung di dekat pantai, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang; meriam-meriam telah diarahkan ke daratan. Saat itu, tetua Samalanga bersama ulama duduk bermufakat, membicarakan langkah-langkah yang akan mereka ambil. Tidak ada kata menyerah pada para kafir, para tetua dan ulama satu kata untuk melawan; keluar sebagai pemenang, atau mati terhormat. Untuk itu, salah satu dari mereka yang bernama Lah Keubat mengajukan satu muslihat, muslihat yang berasal dalam kitab rahasia yang diwariskan turun-temurun oleh keluarganya; Kitab Tipu Muslihat.”

Syaukani yang duduk di sudut belakang tiba-tiba menangis, kemudian hidung kami mencium aroma pesing. Anak itu tak berani meminta izin untuk ke kamar kecil pada Pak Beurahim. Karena tak tahan lagi, dia buang air dalam celana di kursinya. Semua mata mengarah pada teman kami yang penakut itu, dan kami hanya bisa mengutuknya dalam hati. Pak Beurahim menghentikan ceritanya, menyuruh kami membantu Syaukani mengangkut air dari sumur yang berada di belakang sekolah, mencuci lantai dan kursi yang telah kena najis teman kami itu. Dan lonceng jam pelajaran selesai berbunyi tepat setelah kami berhasil mengelap lantai dengan kain yang diambil Pak Beurahim dari kantor guru. Meski Pak Beurahim berjanji akan melanjutkan ceritanya minggu depan, kami tetap sangat kecewa, beberapa di antara kami bahkan mulai menyalahkan Syaukani.

Seminggu terasa cukup lama untuk menunggu. Dua galiung Belanda yang sedang mengapung di pantai Samalanga sampai terbawa ke dalam mimpi. Aku melihat kedua galiung berbendera tiga warna; merah, putih, biru muncul dari Paya Nie, merangsek ke arah sawah kami, di mana aku duduk di rangkang untuk menghalau burung. Ketakutan, aku berlari sekuat tenaga di pematang sawah, menuju rumah, sampai sandalku hilang. Aku terbangun dengan keringat bercucuran dan tak habis-habisnya mengutuki Syaukani.

Rabu, ketika jam pelajaran PMP di kelas kami akhirnya tiba juga, setelah sebelumnya berulang kali kami mengejek Syaukani, si tukang ngompol di kelas. Pak Beurahim masuk kelas, berdehem, membuat kami terdiam. Ketika kami menagih janjinya untuk melanjutkan cerita apa yang dilakukan oleh orang Samalanga untuk menghalangi dua galiung Belanda berlabuh, Pak Beurahim mulai mempermainkan kami: berpura-pura lupa, sudah sampai di mana dia telah bercerita.

“Sampai pada bagian Lah Keubat mengajukan sebuah tipu muslihat, Pak.” Lagi, Linda menyelamatkan kami.

Seperti minggu-minggu sebelumnya, Pak Beurahim kembali mengeluarkan rokok dari saku kemeja, memantik dan mengisapnya di depan kami, dan dia mulai bercerita, “Abon Samalanga bercerita kepada saya.”

“Lah Keubat, lelaki yang memiliki lima belas kebijaksanaan, berkulit paling cerah di antara kami, menunjuk tangan dan memberi usul yang mengagetkan seisi majelis, yang membuat para tetua dan ulama berbeda pendapat akan hal itu. Mereka terus berdebat hingga tengah malam, memberikan alasan-alasan yang masuk akal dan alasan-alasan yang tidak masuk akal terhadap usulan Lah Keubat.”

“Apa yang sebenarnya diusulkan Lah Keubat itu, Abon?” tanya saya yang tidak kuat menahan rasa penasaran saya lebih lama lagi. Abon tersenyum, kemudian menjawab.

“Sabar dulu, sampai saya tiba pada bagian itu.”

“Setelah tengah malam, akhirnya ulama dan tetua sudah memutuskan untuk melaksanakan usul Lah Keubat yang berasal dari Kitab Tipu Muslihat. Kami pulang ke rumah sebentar untuk bersiap-siap. Sebelum matahari terbit di ufuk timur, saya dan para laki-laki di kampung kami dan kampung tetangga sudah berkumpul di pantai. Kami melepaskan baju, celana, dan kancut hingga telanjang bulat, saling mengecat badan kami dengan arang, kemudian berbaris membelakangi pantai kira-kira sepanjang dua kilometer. Saat matahari hampir terbit, kami rukuk, kepala mendekati tanah dengan posisi pantat ke arah dua galiung Belanda, tak kami pedulikan angin dingin yang mengembusi ketelanjangan kami. Kira-kira dua jam kemudian, mereka mulai menarik jangkar dan meninggalkan laut Samalanga. Mereka pasti berpikir, meriam-meriam telah dibariskan di pinggir pantai untuk menyambut kedatangan mereka.”

“Abon Samalanga tersenyum puas kepada saya, dan menanyai, muslihat apa yang bisa saya lakukan untuk mengelak hukuman guru rangkang? Saya menjadi malu sendiri, kemudian mengakui perbuatan saya dan bersedia menjalani hukuman seperti teman saya yang lain.”

Pak Beurahim mengakhiri ceritanya, tapi cerita itu tak pernah berakhir dalam kepalaku. Mulai saat itu, aku bersumpah untuk menemukan Kitab Tipu Muslihat milik keluarga Lah Keubat. Aku mulai rajin belajar, melanjutkan sekolah hingga selesai kuliah, kemudian berkelana dari satu kampung ke kampung lainnya di Samalanga, sampai aku ditakdirkan untuk menemukan kitab tersebut dan berencana untuk menyusun ulang. Jika kamu sangat penasaran pada Kitab Tipu Muslihat, bersabarlah, lain kali pasti akan kuceritakan lebih banyak padamu.

Ida Fitri, lahir di Bireuen, Aceh, pada 25 Agustus. Kumpulan cerpennya berjudul Air Mata Shakespeare (2016) dan Cemong (2017).


[1] Disalin dari karya Ida Fitri
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 24-25 November 2018