Kodok

Karya . Dikliping tanggal 15 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

KETIKA kami bangun pada pagi hari, pertama yang ada di benak kami adalah menu sarapan apa yang akan disuguhkan Berto kepada kami yang selalu kelaparan ketika bangun. Saya mengawali membuka mata, lalu adikku yang pertama, disusul adikku kedua, kemudian adikku yang ketiga, lalu seterusnya menjalar sampai akhirnya adikku yang kedelapan paling lama membukamata. Saya menimba air untuk Berto mandi dan salat Subuh. Berto memang bekerja pada malam hari, mencari kodok dengan senter diikat di kepala dan jaring bertangkai di tangannya. Baru menjelang azan Subuh, Berto akan pulang, membawa sekeranjang kodok untuk dijual di pengepul swike. 

SAYA pernah sekali ikut Berto mencari kodok. Saat itu, kami harus berjalan sangat jauh, seperti menelusuri sungai-sungai kecil di pinggir sawah atau di tepi tambak. Waktu itu, saya ikut karena delapan adik saya sedang menonton pertandingan badminton di lapangan desa. Meski sampai harus menangis meraung, memegang erat betis Berto, saya akhirnya bisa berhasil memaksanya mengizinkan saya ikut bersamanya.
Sebelumnya, Berto sama sekali melarang kami ikut pergi bersamanya. Itulah mungkin pengalaman pertama dan sekaligus terakhir saya pergi mencari kodok bersama Berto. Seekor ular berhasil menancapkan taringnya dan menyemburkan bisa saat saya lengah dan Berto sedang masuk ke sungai. Saya menjerit dan menangis karena gigitan ular itu terasa sakit luar biasa.
Berto datang dengan tergopoh, menggendongku cepat, dan membawaku ke bidan desa. Untunglah tuhan masih memanjangkan umur. Namun, tetap saja, setelah kembali ke rumah, Berto memarahi saya. Katanya, tidak ada toleransi lagi, apa pun alasannya, siapa saja di antara kami bersembilan, dilarang keras ikut dengannya mencari kodok.
Berto adalah lelaki kesepian sebelum kami brtemu dan akhirnya menjadi seperti anaknya. Di wajah Berto, ada bekas luka bakar yang susah hilang, rambutnya selalu ia guduli, perutnya agak membuncit, badannya kekar, dan kakinya jarang sekali kami lihat mengenakan sandal. Setiap sore, Berto akan duduk di lincak (bangku panjang terbuat dari bambu) memandang ke kebung pisang milik Juki, mengempaskan napas beberapa kali seolah sedang melepas beban hidup. Berto mungkin sedang mengenang almarhumah istrinya yang anggun dan santun.
Dulu, dulu sekali, bahkan sebelum kami lahir, Berto telah menikah dengan seorang perempuan kampung sebelah. Namanya Hindun. Empat tahun menikah, mereka belum juga dititipi anak oleh tuhan. Meskipun demikian, kehidupan perniakah mereka setiap hari terjalin semakin harmonis. Dulu, saat ia pulang kerja dari sebuah proyek bangunan, wanita yang pernah dilamarnya itu selalu menyambutnya dengan segelas teh atau kopi yang manis.
Istrinya juga tidak lupa mencium tangan Berto saat ia akan berangkat atau pulang kerja. Kemudian, malam mereka isi dengan makan malam menu tahu tempet atau kalau ada sisa uang lebih, ada ikan pindang tersaji di meja makan. Pada saat makan malam itulah mereka akan mengobrol, menggerus waktu dengan percakapan ala orang kampung; tentang tetangga yang membeli kipas angin baru, Mbah Kuli yang lumpuh, pengalaman kerja Berto sepanjang pagi dan siang, dan sampai topik mengenai bayi adalah penhujung percakapan mereka. 
Dalam kamar Berto yang hanya berukuran 3 x 4 dengan diterangi bohlam lima watt, baru Berto akan berusaha lagi agar tuhan berkenan menitipkan janin di rahim Hindun. Namun, ketika mereka sadar telah empat tahun mencoba dan tak ada hasil, mereka mulai berkesimpulan untuk tidak menyalahkan siapa pun. Meski ibu Hindun dengan gesit selalu membela putrinya dengan mengatakan Berto adalah lelaki mandul. Sampai suatu ketika, karena Hindun tidak tahan menjadi bahan pergunjingan tetangga-tetangganya maka ia pada suatu senja tiba-tiba menghilang. 
Kata orang-orang, Hindun telah diculik pangeran kodok yang telah diciumnya kemudian seketika berubah wujud menjadi manusia. Tepatnya, pria dengan tubuh berotot, mata menggoda, dan wajah yang tampan. Dia sebenarnya adalah pria kaya, hartanya melimpah ruah di bank. Hanya, setelah disihir nenek sihir dari samudra kidul, dia menjadi miskin karena tidak ada kodok yang bsisa dilogikakan kaya. Kecuali kodok itu dilimpahi warisan yang sangat banyak oleh majikannya.
Pada saat itu, HIndun kaget bukan kepalang mendapati kodok yangs emula di hadapannya seketika menjelma pria menawan. Mata Hindun seolah tersihir – ya seperti sihir yang berubah wujud dan tertransfer ke tubuh Hindun. Pria itu mengulurkan tangannya dan, tanpa berganti detik, Hindun segra menggamit pria itu. Hindun terus berjalan beriringan di samping pria kodok itu, menjelang senja dengan langkah seperti pengantin baru. Pada detik itu, ia telah lupa Berto. 
Berto selalu berharap Hindun muncul dari jalan setapak menuju rumah sambil memanggul kendi air di kepalanya, Berto berharap, senja akan mengingatkan istrinya untuk pulang karena seseorang sangat kerontang layaknya pohon pada musim kemarau panjang, tak berdaun.
**
MENGENAI istri Berto, hanya itu yang kami tahu. Sementara kami, jalan apa yang bisa membawa kami kepada Berto? Kami sejujurnya tidak paham mengapa, pada senja itu, kami seperti baru saja terlahir. Tubuh kami tidak penuh darah sebagaimana seorang bayi baru saja dilahirkan dari rahim seorang ibu. Tubuh kami malah berlumur lumpur, seolah lahir dari kubangan lumpur tempat kodok biasanya berjemur. Berto-lah yang pertama melihat kami bersembilan dan segera mengumumkan kepada warga kampung kalau dia telah menemukan sembilan anak di kubangan lumpur dengan keadaan lemah.
Pagi itu, warga kampung mengelilingi kami bersembilan dengan mata penasaran sekaligus iba dan kasihan. Sebagian mereka bilang, kami adalah anak yang dibuang, atau anak dedemit atau jin, atau anak siluman kodok. Namun, ketika adikku yang kedelapan merengek kelaparan, di antara warga kampung yang merubung kami, hanya Berto yang bisa dan bersedia menenangkan adikku itu. Dia memberinya nasi berbungkus daun jati yang sekarang kuhapal itulah bekal Berto ketika mencari kodok.
Orang-orang seolah melihat tontonan tanpa mau terlibat lebih jauh. Adikku yang lain mulai menangis. Mereka merasa lapar. Sudha sejak sehari yang lalu saat orangtua kami menelantarkan kami, perut kami sama sekali tak ada yang mengisi. Kami hanya minum air lalu kami semua tiba-tiba seperti terlahir dari lumpur dan ditemukan orang-orang kampung.
Setelah kepala desa berbicara dengan Berto dengan mengambil jarak dari orang-orang dan kami, Berto akhirnya menjadikan kami anak-anaknya. Kami tidak tahu kenapa Berto mengangkat kami sebagai anak. Mungkin karena dia pria kesepian dan ingin sekali punya anak. Berto memang suka menolong orang lain. Mungkin dia sekarang sedang menolong orang lain yang sesungguhnya juga berada di dalam dirinya. Orang yang kadang membuat Berto menangis ketika senja, ketika merasa dunia terlalu hampa.
Sampai empat tahun berlalu, Berto mengasuh dan menyayangi kami selayaknya anugerah yang begitu berharga miliknya. Walaupun jarang makan dengan berlimpah makanan, kehidupan kami terasa bahagia. Kami berbagi apa pun. Tak banyak –mendapat porsi makanan paling sedikit. Misalnya, saat makan malam, dia selalu mengambil makanan paling terakhir.
Saat akan menidurkan kami pun Berto tak segan bercerita tentang dongeng-dongeng masa kecilnya yang dulu diceritakan ibunya. Lebih sering Berto bercerita kisah-kisah nabi. Sampai akhirnya, dia berada dalam malamyang sepi, tertinggal hanya dirinya sendiri dan terus becerita walaupun kami sudah tertidur.
**
PADASAN tempat Berto mengambil air wudu sudah kupenuhi dengan air hasil timbaan sumur. Saya lantas salat Subuh setelah mengambil air wudu. Lalu saya membangunkan adik-adik agar cepat mandi untuk berangkat sekolah.
Namun, Berto –sampai matahari setinggi galah—belum juga pulang. Padahal biasanya, ia akan membuka pintu yang berderit itu sebelum muazin musala mengucapkan iqamah untuk salat Subuh. Kami menunggu dengan khawatir dan, tentu saja, dengan perut kosong. Adik-adikku mogok tidak mau sekolah karena belum sarapan. Mereka mau menunggu Berto pulang dan membawa mkanan. Namun, menit berganti jam, Berto belumlah pulang.
Sampai, pintu itu akhirnya berderit dan muncullah Berto dari balik daunnya. Wajahnya terlihat pucat. Langkahnya gontai menuju kami. keranjangnya – yang biasa ia gunakan untuk menampug kodok—tiba-tiba terbuka. Seekor kodok hijau sangat besar dan gendut sangar memperlihatkan sepasang taring. Kami menjerit, sedangkan Berto tersungkur dengan luka gigitan kodok itu di nadi tangannya.
Kodok itu terus memperlihatkan taringnya dan, secara siap, tanganku yang membawa tasbih kulemparkan ke kodok itu. lantas, ia menjelma pria tampan yang mengerang kesakitan. ***
Dewi Khariroh, mahasiswa UIN Walisongo Jurusan Tadris (Pendidikan) Fisika. 
Sumber Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dewi Khariroh
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 13 September 2015