Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (2)

Karya . Dikliping tanggal 21 Januari 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
DAN benar, Hertomo Prodjosoemantri tergopoh sejak turun dari taksi hitam Limousine. Lima setengah jam perjalanan Los Angeles tanpa bisa memejamkan mata sekejap pun, sungguh merupakan siksaan luarbiasa bagi priyayi 28 tahun itu. Bukan karena sandaran kursi tidak bisa direbahkan maka dia tidak bisa terlelap. Dua cangkir ca appucinno memang membuat dadanya berdebar-debar. 
Dikatakannya pada dirinya sendiri supaya tidak merasa terlalu bersalah, bahwa debar itu bukan karena melebihi 45 menit. Benaknya sarat rasa was-was. Ketakutan, lebih tepatnya, untuk tidak menyebut ngeri.
“Ngger, bagaimanapun kamu itu priyayi, meski sinaumu sampai di San Francisco. Kamu tetap menyandang darah biru, walau di belakang trah Prodjosoemantri kamu tambahi gelar master of science atau bahkan PhD sekalipun. Kamu itu Ndara.” Terngiang jelas ucapan ramandanya, Raden Lurah Wedana Kusumadaswara Prodjoesoemantri, abdi dalem keratin yang setia terhadap junjungannya sekaligus bangga dengan ‘darah biru’-nya. Juga beskap kebesarannya. Juga keris luk tujuh agulannya.
Priyayi!

Hertomo seorang priyayi, kasta ndara, darah yang mengalir di sekujur tubuh berwarna nila, ia tentu saja paham. Sama pahamnya dengan wewaler yang diciptakan oleh sebuah kultur, bahwa jodoh ideal itu haruslah diteliti secara melekat atas bibit, bobot, bebet. Wewaler inilah barometer kebahagiaan. Secantik apapun karakternya, –jika tidak memenuhi tiga elemen bibit, bobot, bebet, –jangan berharap kebahagiaan akan menghampiri. 

Sementara hertomo juga paham, Ling Ling selain semampai dan cerdas dan cantik, dan semanak, selebihny lahir dari keluarga Tan Hok Gie, yang leluhurnya asli Fuzhou nun di selatan daratan China. Dan Ling Ling, meski berganti nama Maria Zaitun, toh ia bukan priyayi. Celaka lagi ada kasak kusuk mengatakan bahwa dari 56 etnis suku di China, yang dirasa palng materiarlistis adalah etnis Hokchia yang di Indonesia mayoritas berdagang tekstil. Ling Ling? Ya, ia etnis Hokchia, bukan Hokian atau Gek.
“Persetan dengan wewaler,” geram Hertomo. “Masa bodoh dengan bibit, bobot, bebet, makan tuh wewaler.”
Dan kegeraman itulah yang membuatnya tidak mampu memicingkan mata dalam perjalanan dari Los Angeles Subuh tadi. Ngeri membayangkan ia berpisah dengan Ling Ling, si Nona Hokchia itu. 
Ia sangat menyintai Ling Ling. Ia takut kehilangan gadis smart yang kalau tertawa selalu memamerkan dekik di pipinya, dengan wajah bulat telur dan sepasang matanya amat menarik, mungkin memiliki daya tarik terbesar di antara semua keelokannya, mata itu lebar dan jeli, dengan sepasang alis yang hitam lebat, kecil dan panjang melengkung. Ketakutannya pada Ling Ling melebihi debar jantungnya yang semakin tak beraturan. Takut bukan karena gadis ayu itu menguasai beladiri muay thai dan aikido dengan baik. Hertomo takut jika Ling Ling tidak mempercayainya. Dan memutuskan katresnan-nya. 
Turun dari Limousinem sudah dilihatnya bangunan kokoh Vdara Spa berwarna krem. Jantungnya kian berdegup. Sedang apakah sang kekasih di suite room pada siang kerontangg yang memanggang kota Las Vegas ini?! melewati lorong Shopping Arcade yang dipenuhi gerai parfum, tas branded, pusat jajanan, pelayanan spa kelas atas, juga gerai arloji bermerk, Hertomo masuk lift, memencet tombol 6, dan sampai di depan kamar Ling Ling.
Ting tong, ting tong….
Debaran kian keras mengetuk membrane jantungnya.
Sementara di luar, warna langit Las Vegs siang itu putih memplak bercak kelabut.
***
CAKRAMANGGILINGN. Idiom ‘aneh’ ini berkali-kali diucapkan Mas Tom, sampai Ling Ling merasa khatam. Hidup ibarat roda pedati yang berputar: kadang di atas, kadang di bawah. Hidup terasa sebagai melodrama yang majemuk. Tak cukup berhenti di sini, Mas Tom masih menambahi dengan pelbagai idiom yang tak kalah asingnya di telinga gadis 23 tahun berpendidikan di Universitas Dominican di California ini.
Di sela Mas Tom memberikan sesorah, ia selipi dengan ragam frase Jawa seperti: ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana; sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti; nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake; dumadi tanpa kinardi; memayuu hayuning bawana.
Tapi di antara idiom-idiom yang menurutnya ruwet itu, Ling Ling paling terkesan dengan ungkapan cakramanggilingan, yang dirawi penuh gairah oleh Mas Tom. Janganlah hidup snob manakala sedang Berjaya, dan jangan merasa nelangsa tatkala hidup dalam kubangan ekonimi rekasa.
Setinggi-tinggi burung membelah awan, akhirnya kembali ke saran karena sayapnya terkunci.” Begitu kata Mas Tom saat berdua di Kahal Tea House di kawasan Cabazon sambil mencomot kentang goreng, lalu menyeruput teh. Mereka memang hobi ngeteh. Konon, teh mempresentasikan karakter peminumnya.
Di rumah teh itu Ling Ling paling favorit racikan bunga kamomil, sirup serta jeruk lemon. “Kami senang ngeteh sebab bisa memberi semacam sanctuary. Kadang saya perlu waktu untuk lebih memahami diri dan ingin bersuntuk dengan diri sendiri.”
“Now, I am living my dream.” Ling Ling pantas mengucapkan itu. Semua impiannya sejak kecil tertunaikan. Ia ingin sekolah di luar negeri. Ia ingin toefl di angka 600. Ia ingin menyambangi Paris, Pantai Pattaya, kincir angin di Belanda, juga Victory Park di Hong Kong.
“Kata Romo, kita ini aja rumongsa bisa, nangin bisa ngrumangsani.” Hertomo mengingatkan dengan dialek Jawa medok. “Jangan lupa diri ketika di atas, agak tidak nggrantes saat terpuruk di bawah.”
Laksana burung terkunci sayapnya itulah Ling Ling, yang mengenalkan diri sebagai Zaitun masih di lokalisasi Kramat Tunggak Jakarta. Setahun silam, Ling Ling, eh, Zaitun masih bisa leyeh-leyeh di suite room hotel mewah mana pun di San Francisco, California, Seattle, Los Angeles dan kota besar Amerika lainnya. Namun, sekarang ia menggerapai kelu di ‘kawasan industri’ penghibur syahwat, yang mayoritas pelanggannya adalah kelas menengah ke bawah.
“Rasanya belum lama aku melanglang ke pelbagai belahan dunia. Rasanya baru kemarin aku masih comfort di Wyndham Hotel dan The Hollywood Tower kawasan Disney California Adventure. Siapa nyana kini aku terbenam di lokalisasi becek ini.” Ling Ling menggumam pelan. Di sinilah cakramanggilingan bekerja! [] 

(bersambung)-c
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 18 Januari 2015