Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (8)

Karya . Dikliping tanggal 3 Maret 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
SHERLY benar San Fransisco memang terkenal dengan kabut musim panasnya. Kabut itu selalu menyelubungi kota berbukit-bukit ini di setiap pagi menjemput. Juga Golden Gate Bridge yang merupakan jembatan terpanjang di dunia, yang menghubungkan Sanfransisco dan Marine itu, terlihat indah sekali tertutup kabut tebal. Pada malam hari ribuan lampu menghiasi jembatan sepanjang 2 kilometer itu. Cahayanya seperti tumpah dan lumer di atas Teluk Sanfransisco.
“Aku juga sangat menyukai Golden Gate Bridge,” timpal Ling Ling. Matanya menerawang di kejauhan, entah apa yang dipikirkannya.
“Aku tahu, tanpa pertolongan Tuhan, siapa pun yang melompat dari atas jembatan ini tak akan bisa melihat dunia lagi. Aku dapat merasakan bagaimana sakitnya jatuh dari atas jembatan ini tak akan bisa melihat dunia lagi. Aku dapat merasakan bagaimana sakitnya jatuh dari atas jembatan megah yang sangat tinggi ini. Bagaimana sakitnya tubuh ketika menghantam air di bawah sana, byurrr, yang aku yakin dinginnya menusuk-nusuk tulang.”
“Ihh, fantasimu menyeramkan.” Sherly berseru dengan muka pucat.
Ling Ling tertawa.
“Sudahlah. Aku hanya bercanda,” ujarnya tersenyum. Sherly ikut tersenyum. Mereka akhirnya menjadi sahabat. Dari Sherly itulah, Ling Ling dikenalkan dengan Hertomo Prodjosoemantri yang terhitung saudara misannya. Papa Sherly yang asli Surabaya menikah dengan wanita Solo, yang terkenal gandes luwes dan kalau berjalan seperti macan luwe. Ibunya Sherly itulah tantenya Hertomo.
Ling Ling juga menyenangi Lombard Street, yang konon merupakan jalan paling bengkok di dunia, yang memiliki delapan tikungan tajam di perbukitan curam, dihiasi taman penuh bunga warna-warni di tepi jalan ini. Bleum lagi Fisherman Wharf, Pier 39, ajang berkumpulnya para anjing laut, Juga bangunan paduan arsitektur Victoria dengan modern, termasuk China Town yang menjadi tempat komunitas Asia terbesar.
***
BLUE STEEL di siang yang sumuk itu kembali melantunkan lagu lawas, kali ini No Woman No Cry, tembang yang mendunia dipopulerkan oleh sang dewa reggae Bob Marley, penganut rastavarian sekaligus dianggap nabinya para rasta, yang khas dengan gaya rambut gimbal locks, yang dikenal sebagai mode dreadlock.

No woman no cry
No woman no cray, ehh, yeah
A little darling, don’t shed no tears
No woman no cray, ehh, yeah

Empat puluh menit berlalu.
Group band dari Aneihim, masih dengan irama rock menyanyikan lagu terfavorit sepanjang zaman Stairway to Heaven, yang diciptakan gitaris Jimmy  Page dan vokalis Robert Plant dari Led Zeppelin, membuat Ling Ling kian galau karena pada bagian tengah lagi –If there’s a bustle in your hedgerow, don’t be alarmed now– ketika diputar mundur, konon lagu itu berisi referensi setan ‘Here’s to my sweet Satan” dan “I sing because I live with Satan.”

“Mas Tom-nya juga ‘Satan’, tak pernah sekali pun on time.
Dasar priyayi kolokan
“Oh, here’s to my sweet satan”

“The one whose little path would make me sad, whose power is Satan.”

“He will give those with him 666.”

“There was a little tool shed where he made us suffer, sad Satan.”

Pukul 11:36 PM, setelah Ling Ling nyaris putus asa, akhirnya yang ditunggu datang. Mas Tom tampak ganteng dengan kacamata Givenchy, mengenakan t-shirt sporty dan celana Joe’s Jeans. Priyagung ini kelihatan macho banget, dan kekesalan Ling Ling langsung lenyap.
“Hi darling.” Ling Ling mengembangkan kedua tangannya. Mereka berpelukan. Berciuman. Bibirnya yang hangat menempel lama di bibir Hertomo. Sementara matahari masih saja menaburkan panasnya di atas 38 Celcius. Dan Blue Steel amsih garang menyanyikan Black Dog dari Led Zeppelin dengan tubuh kuyup keringat.
“Maafin aku, Say, ada tugas kampus yang harus diberesin pagi ini.” Hertomo berapologi.
“Nggak papa, Mas, asal Mas Tom tidak pernah terlambat mencintaiku” Mahasiswi yang kondang cerdas di kampusnya itu jadi ganjen ketika berhadapan langsung dengan cinta.
Dan keterlambatan kekasihnya itu hanya mampu ditanggapi dengan senyum sarat pemahaman. Mau apa lagi? Mas Tom-nya memang selalu begitu. Molor janji seolah merupakan rutinitas ritualnya, sebagaimana tiap pagi ia harus ‘ritual’ treadmill dan mengudap jus buah. Ya wis tho.

Ling Ling mengeluarkan laptop, ia ingin menunjukkan sesuatu kepada kekasihnya. Tapi ditunggu beberapa detik, masih loading.

“Sialan. Lemot banget. Setiap download putus. Servernya down kali,” ujarnya kesal.
“Tapi Mas yakin kok, Sayang.”
“Yakin apa?”
“Yakin koneksi cinta Say nggak pernah putus, karena server di hati Mas hanya untuk Say.”

Baca juga:  Persekutuan Cahaya

“Gombal ahh.” Ling Ling pura-pura merengut. Sedetik kemudian mereka berpelukan lagi. Berciuman lagi. Beradu bibir lagi.

“Janji Mas Tom tidak akan share koneksi ke klien lain?”

“Emangnya Mas-mu ini warnet?” Mereka tertawa. Berpelukan lagi.

“Ehh, Say. Mas baru tahu nih.” Hertomo memasang muka serius.

“Tahu apa?”

“Papamu di Jakarta itu selain pengusaha tekstil juga hacker.”


“Hacker? Kok Mas tahu?”

“Tahu saja. Lha virus cintamu berkali-kali menembus firewall hati Mas.” Hertomo berteriak kesakitan ketika Ling Ling mencubit pahanya keras sekali.

Baca juga:  Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (24)

“Lepaskan, Say, lepaskan.” Ling Ling melepas cubitan dengan meninggalkan bekas merah di paha Hertomo.

“Serius nih Mas. Laptop ini pakai Intel Pentium MMX-P55C processor generasi terbaru. Cepat sekali dalam proses pengolahan data. Kok sekarang lamban?”

“Masih ada yang jauh lebih canggih, Say.”

“Lebih canggih?”

“Hatiku. Processor di hati Mas sangat cepat merespons cintamu, Say.”

Kali ini bukan cubitan yang diberikan Ling Ling, tapi ciuman hangat yang ditransfer lewat bibir merahnya yang ranum. []


 (bersambung) -c

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 1 Maret 2015

Baca juga:  Mbak Tri