Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (20)

Karya . Dikliping tanggal 25 Mei 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
MELIHAT nenek kuntilanak itu menghampirinya dengan sikap mengancam, ia mengerahkan seluruh tenaga batin untuk menekan semua perasaan takut dan ngeri, kemudian sekali ia mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya sudah meloncat ke depan dan menyambut nenek itu dengan sabetan kembang wijaya kusuma yang ia tahu sangat bertuah seperti dikatakan Kanjeng Ratu Kidul.
“Serrr…” Betapa kagetnya Zaitun ketika sabetannya tepat mengenai sasaran dada nenek iblis itu ternyata seperti menembus bayangan.
Nenek itu tidak berbadan seperti manusia agaknya, dan sambil terkekeh menyeramkan ia menggerakkan tangan kirinya tepat mengenai pundaknya. Zaitun menjerit, rasanya seperti dihantam godam raksasa, dan Zaitun terjungkal.
“Hi-hi-hi-hi, bocah bernyali besar, kau berani melawanku?”
Sepasang buah dada itu bergoyang mengerikan ketika nenek kuntilanak terkekeh sambil bertolak pinggang. Muka Zaitun pucat sekali. Ia pasrah kalau memang hidupnya harus berakhir di tangan nenek setan ini.
“Hi-hi-hi-hi… Darahmu manis, dagingmu gurih. Kamu berani melawanku? Sebelum kuhisap darahmu samapi kering, kamu akan kusiksa dulu.”
Nneek iblis menudingkan telunjuk kanannya ke muka Zaitun yang meraakan getaran aneh berputar-putar sehingga ia merasa seperti dilibas angin puyuh. Tubuhnya berputaran. Kepalanya pening. telinganya sudah terngiang-ngiang, pandangan matanya berkunang-kunang, kemudian hidungnya sudah mencium bau sangit, di depan matanya membentang lautan merah darah.
“Ngger, bertahanlah.” Terdengar bisikan namun terasa begitu jauh.
Zaitun terseret getaran luar biasa itu. Kedua matanya terpejam tapi seolah ia melihat di sekelilingnya wajah nenek yang mengerikan dengan mulut menyemburkan bau amis busuk memuakkan.
Untung baginya bahwa apda saat itu ia berada bersama tiga pertapa sakti mandraguna. Ketika tadi ia menerjang nenek iblis, Panembahan Senapati sudah berdiri tangan kirinya membawa tempat air dan tanah, tangan kanan memegang setangkai bunga cempakamulya. Kini Sang Panembahan memercikkan air dengan bunga yang dicelupkan ke dalam tempat air, bibirnya membaca mantra. Panembahan Senapati menghampiri Zaitun, meraba ubun-ubunnya dan seektika Zaitun sadar.
Nenek itu mengaum keras laksana harimau dan mukanya semakin mengerikan. Mulutnya menyemburkan api juga lidahnya yang panjang menyala akan menjilat muka sang patih. Tapi dengan sikap tenang sang patih membaca mantra sambil tangan kanannya memercikkan air berkilau putih dari tempayan.
“Cessss…” Asap tebal mengepul dan tercium bau sangit. Nenek iblis menjerit, tangan kiri menggaruk mulutnya yang seperti gosong, dan tangan kanannya yang berkuku panjang akan mencekik leher sang patih yang memandang tenang.
“Pergi!” Patih Gajahmada menyiramkan sisa air di tempayan. Nenek setan terhuyung-huyung, sekali mulutnya menjerit panjang, mengaum keras lalu tubuhnya lenyap.
“Patih Pasung Grigis, tak ada gunanya pamer ilmu hitam Calon Arang yang sepatutnya menakuti anak kecil. Keluarlah!”
Patih gajahmada dengan melangkah tenang kembali ke tempat semula, lalu bersila dan memejamkan mata.
Tiba-tiba berloncatan tujuh orang tinggi besar bermuka sangar memegang golok sambil teratwa-tawa. Tanpa bicara sepatah kata mereka menerjang sang patih yang dudu bersamadi. Masih memejamkan mata Patih Gajahmada mengangkat tangan beberapa kali, dan tujuh orang kasar itu terpelanting. Mereka merangkak sambil menyumpah kotor karena golok runtuh. Tanpa dikomando semuanya lari terbirit-birit.
“Grrrr.” Terdengar gerengan keras. Zaitun memandang ngeri muncunya dua laki-laki berkulit hitam legam, rambutnya riap-riapan terurai dan matanya melotot garang. Sepasang raksasa kembar berwajah buas. Keduanya memegang ruyung bergerigi.
“Siapa Adika berdua? Ada keperluan apa datang kemari? Sang patih bertanya halus.
“Heh-heh-hehe-heh. Gajahmada, kami Kalambang dan Kalagemet, sepasang murid Krian Pasung Grigis. Kami datang untuk meluncaskan dendam kesumat bapa guru yang pernah kau perdaya,” kata salah satu raksasa yang bernama Kalambang.
“Hmm. Andika berdua pendendam, kejadian ratusan tahun silam masih dibawa-bawa. Andika tentu paham, bahwa memelihara dendam itu tidak akan berkesudahan.”
“Ha-ha-ha, patih goblok, kami memang tahunya hanya datang dan menghancurkanmu.”
“Andika sungguh sempit wawasan. Kita tahu ada tiga sifat Sang Hyang widi. Mencipta, memelihara dan menghancurkan.  Ketiga sifat yang berkelindan, dan saling menghidupkan, maka terbentuk lingkaran sempurna. Memang benar Sang Hyang Bathara Syiwa memiliki sifat terakhir, berhak serta berkuasa menghancurkan. Betapapun tidak akan melanggar dan mendahului jalan dharma.”
“Ha-ha-ha, kamu takut? Bapa guru mungkin berkenan mengampunimu. Ayo, patih cecunguk. berlututlah sekarang di bawah kaki murid Krian Pasung Grigis, ha-ha-ha.”
“Andika berdua, sekali lagi aku ingatkan. Bertobatlah. Kembalilah ke jalan dharma. Lupakah Andika akan petuah bijak dalam ajaran Wirama Wangsastha?” Patih gajahmada lalu menembang sengan suara lirih:
Prihen temen dharma dhumaranang sarat,
Saraga sag sadhu sireka tutuna,
Tanartha tankama pidonya tanyasa,
Ya sakti sang sajjana dharma waksaka.”

Sejenak Kalambang dan Kalagemet terhenyak. Tembang yang menyiratkan ajakan supaya mengutamakan keadilan dan kearifan untuk menjaga buana itu mengingatkan mereka akan Catur Purusa Artha, bahwa tujuan hidup terdiri dari Dharma, Artha, Kama dam Moksha. Dalam menjalankan kehidupan pribadi maupun pemimpin pasti diperlukan sarana seperti harta dan usaha keras, namun hendaknya tetap dalam koridor dharma. Seorang pemimpin jangan mementingkan diri sendiri, senantiasa peka terhadap nurani, mengutamakan kepentingan yang dipimpin, dan terus meningkatkan diri. berakal sehat. Kesuksesan pemimpin, dengan demikian, beriringan dengan pemahaman atas dharma. []

(bersambung)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 23 Mei 2015