Kutukan Rahim (5)

Karya . Dikliping tanggal 1 September 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
ZUL memertemukan kandidat yang didukungnya dengan salah seorang dukun atau paranormal yang Zul anggap etrbaik di antara yang pernah ia tahu. Justru bukan dari kalangan trah keluarga atau kerabat terdekatnya. Ia tergolong ‘orang jauh’ atau orang lain. Dalam tabiat sehari-hari, ia justru seseorang yang bisa menjadi laki-laki, bisa pula perempuan sekaligus. Artinya, ia orang yang hidup sendiri dan mandiri. Entah jika secara seksual. Zul pun tak tahu. Zul merekomendasi orang tersebut, karena menurutnya, ia memunyai kemampuan sebagai dukun atau paranormal bagai takdir. Bagai kodrat. bagai wahyu. Bukan karena memelajari terlebih dahulu di usia tertentu.
Kemampuan lebih orang tersebut sudah muncul semenjak usia ingusan dan terus menunjukkan kematangan. Ketika kemampuan kedukunan atau keparanormalan seseorang terketahui di masa kecil, bisa jadi di masa kini banyak orang menyebutnya  sebagai anak indigo. Menurut Zul, terserahlah. Sebutan apa saja silakan. Yang pasti, di matanya, orang itu jelas teruji kemampuan supranaturalnya. Apalagi semenjak kecil pula, lingkungan terdekatnya terus mengasah. Melalui ujian pertanyaan tertentu di luar logikadan selalu etrbukti tepat jawaban atau penyelesaiannya.
Misalnya saja, ketika kecil, cukup banyak tetangganya meminta membaca garis telapak tangan mereka masing-masing. Maka, dengan lugasnya, ‘si dukun kecil’ itu menafsir garis telapak tangan yang dimaksud. Dan terbukti, sejauh Zul tahu, 100 persen bisa teruji kebenarannya.Baik dalam kaitannya dengan tafsir mengenai keberuntungan maupun celaka. Kebetulan, usia orang tersebut tidak terpaut  jauh dengan Zul, dan dulu di masa kecil, Zul pernah dekat dengannya sebagai sahabat.
Kini, sang kandidat, Zul, dan Mos telah berada di depan ‘orang pintar’ itu.
“Heh, sudah puluhan tahun kita tidak bertemu. Kini kutengok lagi kampung halamanmu,” sapa Zul.
“Hehehe. Sudah membaik nasibmu. Tak lagi di desa bersama sapi dan kambing,” sergah orang tersebut.
“Sapi dan kambing? Hahaaha….”
Sejenak Zul dan teman lamanya itu terlibat dalam romantisme. Sebutan dua nama hewan itu adalah bagian penting dari romantisme masa kecil mereka. Betapa dulu, di suatu masa, hampir setiap hari bersama-sama menggembalakan dua binatang tersebut. Tentu, tidak perlu lama Zul terjebak romantisme. Karena ia tiba-tiba disergap perasaan tidak enak kepada sang kandidat jika terlalu lama mengumbar romantisme.
“Baik. Sekarang waktu kita,” ujar paranormal teman Zul kepada sang kandidat, “Terima kasih sudah menyempatkan langsung datang sendiri. Tidak yang datang cuma utusan.”
Perlu waktu sekitar lima menit paranormal teman Zul diam, membaca garis telapak tangan sang kandidat. Zul dan Mos tentu saja cuma memerhatikan . Hasil pembacaan garis atas telapak tangan itu cuma dikabarkan secara berbisik. Head to head.

“Aku hanya perlu mengabarkan kepada kamu. Sudah. Kamu boleh mengabarkan hasil pembacaanku pada yang lain. Nanti setelah tak ada aku,” papar paranormal itu. Lantas, urusan pokok selesai. Zul terlibat lagi dalam romantisme masa silam bersama temannya. Tak lama, setelah itu, sang kandidat, Zul, dan Mos pamitan. Di ruang tamu sang paranormal itu ada ratusan jenis jam, beraneka bentuk. Baik jam tangan, jam meja, jam dinding, dan sejenisnya. Tentu saja pemberian orang-orang yang pernah datang meminta dibaca garis etlapak tangannya. Harganya beragam, terserah. Tentu ada yang murah ada yang mahal. Ada yang bahkan, dalam bahasa ibu-ibu di perumahan, super jumbo mahalnya.
Tak ketinggalan, sang kandidat yang dibawa Zul juga memberikan hadiah sebiji jam dinding sebagai ucapan terimakasih. Kenapa sang paranormal itu kesannya cukup hanya berminat dengan tali asih berupa jam dinding? Karena menurutnya, hanya wkatu yang paling susah ditundukkan. Waktulah yang akan menggilas manusia atau siapapun makhluk di muka bumi ini. Baik makhluk hidup maupun benda mati. Jika manusia mampu menyikapi, bersatu, dan bersahabat dengan waktu, maka niscaya ia akan memenangkan pertarungan. Karena, selama ini, sesungguhnya, menurut snag paranormal itu, yang dilawan setiap hari oleh manusiahanyalah waktu. Manusia bisa menciptakan dan mengalahkan ruang, namun belum tentu mampu menciptakan dan bahkan mengalahkan waktu.
***
DI dalam mobil ketika perjalanan pulang, iseng Zul bertanya kepada sang kandidat. Soal hasil sowan ke paranormal tadi.
“Aku diminta menyatu dengan alam. Aku harus berkompromi dengan api, air, tanah, dan udara. Itu yang paling pokok. Aku hanya bisa jadi pemimpin jika keempat unsur pokok itu bisa aku pergauli secara baik-baik. Selama ini, kecenderungannya, keempatnya masih menolak. Maka, aku perlu mandi malam di sungai secara sendiri selama beberapa kali. Ada baiknya di sungai biasa dan juga sungai yang dianggap wingit. Tidak harus setiap hari berturut-turut. Yang pasti, sampai tubuhku merasa biasa jikamandi di tempat-tempat tersebut. Seperti mandi di kamar mandi rumah sendiri. Sampai merasa nyaman, aman, dan tenang. Semuanya itu ada dalam kesunyian yang ditingkap gemericik air,” tutur sang kandidat.
“Wah, itu melatih kemampuan mengendalikan diri dan pengelolaan aura seseorang,” cetus Mos.
“Mungkin itu juga salah satu tujuannya. Aku juga berpikir begitu. Itulah dosis laku yang mesti kulakukan,” sambung sang kandidat.
“Memang, belum tentu kita harus mendatangkan jin atau yang sejenisnya untuk membantu usaha kita. Semua ada porsinya masing-masing. Persoalannya, berapa paranormal yang bapak percayai? Kalau banyak, apa malah tidak membingungkan? Nanti yang A meminta begini, yang B meminta begitu, yang C sebaiknya begini, dan yang D sebaiknya begitu.  Begitu seterusnya. Akhirnya, malah jatuh sakit. Opname lama lagi,” komentar Zul memecah suasana yang dirasanya sudah terlalu serius. 
Sang kandidat sontak tercekat mulutnya. Tenggorokannya seperti tersedak mendadak. Spontan ia pun kemudian mengulum ludah bebrapa kali.
“Wah, kita perlu istirahat nyari gudeg panas nan kemepul dan teh nasgithel dulu,” ujar sang kandidat seperti menutupi kegugupannya. Ia rupanya bingung, mau merespons omongan Zul dengan komentar apa. ❑ (bersambung)-c 

Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan – Bantul. 

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-2 Mei 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 30 Agustus 2015