Kutukan Rahim (9)

Karya . Dikliping tanggal 27 September 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
TERBAYANG wajah Mos yang entah bagaimana reaksinya ketika tahu soal kehamilan itu! Terbayang wajah sang pemimpin baru yang didukungnya yang juga entah bagaimana reaksinya ktika tahu  soal kehamilannya. Terbayang wajah ayah dan ibunya almarhum yang barangkali ikut mengangis di alam baka karena tahu kejadian ini.
“Ya Tuhan, kenapa cobaan ini begitu berat buatku?” Zul mendesis.
Masih ada seekor kucing peliharaannya tersisa menemani. Matanya nanar menatap wajah Zul yang penuh derai air mata. 
Tentu, seseorang yang paling pas menerima curahan hati Zul mengenai kehamilannya hanyalah Mos. Maka, pada suatu malam di kafe yang cukup temmaram, setemaram perasaannya, Zul ungkapkan semua  keluh-kesahnya. Mos lagi-lagi tidak bisa secara spontan mengimbangi kesedihan Zul dengan kata-kata yang mampu menghibur. Lebih dari lima menit, Mos cuma diam. Bengong. Tak habis pikir dengan bencana  dan kesialan yang menimpa Zul. Mendengar kesedihan Zul, Mos hanya terus menerus merespons memegangi kepalanya dengan dua tangan secara cukup lama.
“Kalau aku bunuh diri, meskipun itu ingin sekali kulakukan, tapi aku tahu, itu juga bukan jalan keluar yang baik,” tutur Zul perlahan.
Ia ungkapkan kalimat itu disertai dengan isakan di tengah lelehan air mata yang terus mengucur. Cukup deras sebenarnya, tetapi ketika selalu ada cucuran, selalu saja ia hapus dengan tisu. Begitu  selama bermenit-menit hingga lbanyak tisu menjadi basah kuyup dan menumpuk di meja. Mos tetap cuma bungkam.
“Bagaimana kalau aku gugurkan, mumpung belum terlambat. Uangku sebagai honor selama bekerja di Pilkada juga lebih dari cukup kalau hanya untuk membiayai pengguguran kandungan,” ujar Zul. 
Masih belum ada reaksi dari Mos. Zul kemudian menutup pertemuan malam itu. Mos mengantarnya pulang. Di dalam mobil, sepanjang perjalanan pulang, Mos tetap terus saja diam. Baru ketika Zul mau turun dari mobil, Mos memberikan reaksi atas curhat Zul malam itu.
“Demi masa depanmu, menurutku, gugurkan saja. Biarlah dosanya  aku yang nanggung. Demi Tuhan aku mau. Aku sungguh berjanji untuk menanggung dosanya,” demikian pernyataan Mos.
Kini berganti Zul yang tidak memberikan reaksi. Ia turun begitu saja dari mobil. Cuma memandangi Mos ketikaMos tadi mengucapkan janji penanggungan dosa. Lantas, Zul pun berjalan gontai menuju rumahnya.
Sepanjang malam, di rumahnya, Mos sama sekali tidak bisa tidur. Istri Moslah yang sewot bukan kepalang karena sudah semenjak Mos pergi usah Isya, istrinya sudah mempersiapkan diri dengan baju ranjang yang seksi. Mempersiapkan diri untuk bercinta dengan Mos! Namun, sepanjang malam pula, semakin ditunggu-tunggu, Mos justru sama sekali tak menyentuh istrinya!
Kontan istrinya ngambek bukan kepalang. Memarahi Mos secara kasar. Mos pun hanya bereaksi seperti orang yang linglung. Di atas ranjang cuma melongo ke arah kanan dan melongo ke arah kiri.
***
PIKIRAN Zul membenarkan Mos p[erihal pengguguran kandungan. Setelah ia pertimbangkan cukup matang, jalan keluar itulah yang memang terbaik. Lantas, Zul pun sibuk mengontak beberapa kenalannya yang pernah menggunakan jasa dukun pengguguran kandungan. Mumpung masih muda usia kandungannya.
Diantar Mos, Zul menuju ke rumah dukun pengguguran kandungan. Mos tentu saja tidak boleh melihat. Dukun itu pun segera memulai prosesi. Namun, ketika baru saja tangannya meraba perut Zul, mendadak sang dukun menghentikan rabaannya. Ia memberhentikan prosesi. Pastilah Zul terkejut.
“Kenapa tidak dilanjutkan?” tanya Zul.
“Aku tidak berani. KArena darah yang akan keluar sangat banyak. Aku tahu itu. Telapak tanganku sudah memberitahu perihal itu. Kamu jenis orang yang memunyai darah melimpah ruah di tubuh,” tukas sang dukun.
“Akan sangat berbahaya buatmu. Janinnya memang bisa mati. Tapi, kemungkinan besar kamu juga, Dan proses kematianmu akan sangat menderita karena berkurangnya darah di tubuhmu secara perlahan-lahan.”
Zul cukup bisa memahami argumen sang dukun. Memang, dukun pengguguran kandungan hanya mau menggugurkan jia menurutnya smeua akan berjalan baik-baik saja. Bagi janin yang dirasa akan membuat masalah bagi ibunya, biasanya sang dukun akan membatalkan kerjanya. Itu salah satu kode etik.
MMeskipun Zul  bisa memahami argumen sang dukun, tetap saja ia kecewa, dan menghempaskan badannya di jok mobil Mos. Mendesah. Penuh resah. Mos mengajak berpindah ke lain dukun, tapi Zul bersikeras hasilnya sama saja. Lebih baik lain hari ketika dirasa tubuhnya memang sudah siap. tapi, sampai kapan menunggu tubuhnya fit dan siap untuk prosesi pengguguran? Bukankah jenis tubuhnya adalah tubuh yang memunyai banyak darah? Lagi pula kalau bertambah hari janinnya juga bakalan semakin membesar, bukan?
Zul sudah berusaha minum jamu, mengurangi makanan yang memicu bertambahnya darah dan mengonsumsi makanan yang dianggapnya bis amengurangi darah di tubuhnya. Semingguan ia lakukan diet mengenai hal itu, namun hasilnya, ketika ia datangi dukun yang berbeda hasilnya tetap sama. Sang dukun tak berani melakukan prosesi karena banyaknya darah di tubuh Zul! Hingga lima dukun yang menolak dan janin Zul menuju bulan ke tiga. rasanya sudah semakin susah saja untuk digugurkan. Perut Zul pun makin kelihatan membuncit. Alamak.
“Bagaimana kalau kamu kuasingkan entah ke mana dan menunggu bayi itu lahir. Setelah itu bisa dititipkan ke siapa yang menginginkan untuk adopsi.” Mos terus berusaha mencarikan jalan keluar. “Yang penting suamimu tidak tahu. Bilang saja ke suamimu kamu dapat kontrak nyanyi di ibukota berbulan-bulan. Aku juga akan menjelaskan peristiwa ini secara khusus kepada bos kita yang sudah jadi pemimpin baru.”
Ide cemerlang yang langsung saja diterima Zul.
***
BAYI mungil telah lahir dari rahim Zul. Tangisannya memecah kesunyian bungalow tempat Zul selama ini tinggal. Seorang dokter khusus didatangkan Mos untuk mengurus persalinan Zul. Hari demi hari Zul pun menyusui bayi itu. Kian luntur niatnya untuk membuang bayi itu dengan memberikannya kepada orang lain agar diadopsi.
“Aku sudah mulai menawarkan ke banyak rekan mengenai nasib bayi itu. Siapa yang mau mengadopsi,” papar Mos.
“Tidak usah diadopsi. Biarkan ia besar.”
“Apa? Kamu sengaja memerkeruh kehisupanmu snediri?”
“Ini urusan hati perempuan. Sayangnya, kamu laki-laki.”
Mos melirik ke arah bayi itu. Kebetulan sedang tersenyum dan menjulurkan lidahnya. Mos tahu, lidahnya kecil dan mengerucut lancip. Seperti lidah ular yang akan kelihatan ketika menjulur. Mos ingat, tanpa sengaja ia pernah melihat punggung Zul yang memunyai tato bagus bergambar ular. Apakah itu ada kaitannya? ❑ (bersambung)-c
Satmoko Budi Santoso. Sastrawan kelahiran Yogya, 7 Januari 1976. Menulis cerpen, novel, puisi, juga esai. Kumpulan cerpennya: Jangan Membunuh di hari Sabtu (2003), Perempuan Bersampan Cadik (2004), Bersampan ke Seberang (2006), , dan Sasi, Anjing-anjing di Kampung Saya (2011). Novelnya: Liem Hwa (2005), Ciuman Terpanjang yang Ditunggu (2005), Jilbab Funky (2011), dan Kasongan (2012). Puisinya termuat di Antologi Puisi Indonesia (1997), Malioboro (2009), Danau Angsa (2011), Akulah Musi (2011, dan Equator (2011). Tinggal di Tirtonirmolo, Kasihan – Bantul. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 27 September 2015