Perempuan Limited Edition (6)

Karya . Dikliping tanggal 29 Februari 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
“JADI gimana Bu? Saya juga bisa bawa mobil, Bu,” jelas Aditya.
“Oh ya?”
“Ya Bu, SIM A.”
NAdia mengangguk. Sangat kebetulan sekali karena ia memang membutuhkan sopir selama ini. Hanya saja dia memang tidak mencari khusus sopir karena dia toh tidak tiap hari keluar rumah. Karena kerjaannya di rumah. 
“Jadi gimana Bu? Saya diterima tidak?” tanya Aditya.
“Oke besok kamu sudah mulai bisa bekerja. Dan di sini sudah ada dua orang namanya Dodi dan Darma, kamu bisa minta petunjuk tugas-tugasmu pada mereka. Dan apabila kamu tidak paham bisa tanyakan ke aku.”
“Siap Bu dan terimakasih,” kata Aditya sambil bersalaman.
Sepeninggal Aditya, Nadia bergumam sendiri: “Apa sih yang kulihat ada yang mirip dengan Rivan ini anak? Secara keseluruhan tidak mirip tapi ada sesuatu yang menyerupai Rivan.” Pikiran Nadia seketika melayang ke Rivan. Sudah enam tahun Nadia tak pernah bertemu lagi semenjak Rivan lulus S2 dan langsung bekerja di kota asalnya.
Ia ingat ketika awal mulai bercerai dengan papanya Adrian. Nadia tanpa sengaja bertemu lagi dengan mantan pacarnya di sebuah mal.
“Kamu Oscar kan?” tegurnya pada seorang laki-laki yang sedang mengantre di kassa sebuah supermarket, dan Nadia berada di belakang antreannya.
“Hai Dhe… apa kabar?” Oscar langsung menjabat tangannya, sangat kekeluargaan sekali.
Memang Nadia tak pernah musuhan dengan mantan pacar-pacarnya. Karena putusnya pun bukan karena ada yang tersakiti, namun hanya sebatas perbedaan prinsip saja. Sehingga masih tetap bersilaturahmi, bahkan ada yang seperti saudara. Hanya saja Oscar ini sempat pindah kota waktu itu, sehingga tak pernah kontak lagi. Entah mengapa sekarang bisa bertemu di Yogya lagi.
“Ini anakmu ya?” tanya Oscar pada Adrian yang sedang digendong Nadia. Waktu itu Adrian masih berumur empat tahun.
“Iya nih, kenalin Nak, Oom Oscar,” kata Nadia menyuruhnya memberi salam. Oscar mencubit pipi Adrian setelah bersalaman.
“Ini calon istriku, Dhea. Namanya Reny dan ini adikku yang kuceritakan dulu, Rivan,” jelas Oscar dan Nadia bersalaman dengan keduanya.
“Ooo… ini Rivan yang dulu masih SD itu?”
“Iya yang suka banget lihat fotomu waktu dia kecil,” cerita Oscar dan Nadia meneliti Rivan dengan tersenyum. Sedang Rivan merasa malu diteliti seperti itu.
“Dia udah kuliah sekarang dan semester lima. Makanya aku nengokin dia.”
Dalam hati ANdia mengatakan, tidak ada kemiripan sama sekali dengan Oscar yang punya badan atletis, wajah ganteng dengan rambut tersisir rapi. Sedang Rivan biasa saja, bahkan cenderung kurus dan rambutnya dibiarkan gondrong sebahu.
“Kamu mampir Os, ke rumah mumpung ada di Yogya,” ucap Nadia.
“Rumahmu di mana sih sekarang?”
“Di Maguwo, dekat stadion.”
“Lha suamimu mana?”
“Kan aku dah pisah setahun lalu.”
“Aduh Dhea, kamu ini sembarang aja. Kenapa bisa begitu?” Oscar tidak habis pikir.
“Tar aja cerita di rumah, makanya kamu ke rumah ya,” kata Nadia dan bersamaan itu, antrean kassa sudah selesai.
“Dhea… aku duluan ya. Tar aku pasti ke rumahmu,” pamit Oscar dan setelah bertukaran nomor handphone, Oscar berlalu bersama Rivan dan Reny.
Malamnya Oscar bersama Reny dan Rivan benar datang ke rumah.
“Nggak susah kan carinya?” sapa Nadia.
“Aku kan pernah di Yogya lama Dhea, jadi tahulaah.”
“Jadi kamu ke sini dalam rangka apa?” selidik Nadia.
“Jenguk Rivan sambil nostalgia di yogya, hahaha…”
“Wah wajib cemburu itu, Ren,” kata Nadia melibatkan Reny yang sedari tadi hanya senyum-senyum. Sedang adik Oscar, Rivan hanya diam saja memperhatikan Nadia. Sedang Nadia tak memperhatikan Rivan yang sedang memperhatikannya.
“Wah kalau Reny nggak cemburuan kok Dhea, nggak kayak kamu dulu,” kata Oscar lagi masih tertawa-tawa.
“Enak aja, tapi cemburu kan tanda cinta? Perlu diragukan itu cintanya Reny ke kamu,” balas Nadia tidak mau kalah.
Suasana menjadi ramai sampai Adrian merengek minta gendong mamanya karena merasa tidak diperhatikan dari tadi.
“Mama endoong bayi,” rengek Adrian. Istilah endong bayi pertanda dia mau tidur dan pingin digendong seperti bayi.
“Sini sayang.” Nadia segera menggendongnya seperti menggendong bayi yang belum usia sembilan bulan.
“Manja kali anakmu, Dhea!” ujar Oscar melihat Adrian dalam pelukan Nadia.
Oscar membatin, mestinya itu anakku. Tapi apa mau dikata, Nadia memutuskan hubungan gara-gara yang menurutnya sangat sepele. Dirinya tak memberi kado saat Nadia ulang tahun karena uangnya ludes saat satuhan main bilyar. Dna Nadia malu dengan teman-teman sekosnya waktu itu, karena mantan pacarnya yang lain memberikan banyak macam kado. Dan Nadia terpancing emosinya saat diolok-olok teman sekosnya bahwa Oscar nggak punya perhatian. Lebih memilih bilyar daripada membelikan kado untuknya. Karena kesal Nadia langsung memutuskan hubungan. Maklum waktu itu Nadia baru berusia 22 tahun.
“Iya maklumlah Os, aku kan harus jadi orantua dobel.”
“Kenapa kamu cerai? Pasti alasan tidak mutu lagi ya?” tanya Oscar sambil mencibir. ❑  (bersambung)-c
Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya “Galau” (1999), “Pacarku Ibu Kosku” (2005), dan “Terjebak Sebuah Janji.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 28 Februari 2016 

Baca juga:  Kisah Sang Penulis [6]