Perempuan Limited Edition (9)

Karya . Dikliping tanggal 21 Maret 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
“VAN…”

Nadia meraih tangan Ivan dan menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkan bahwa cairan itu jangan sampai tumpah di hadpaannya. Rivan membalas menggenggam tangan Nadia.
“Sori Ma!”
Hanya itu yang keluar dari mulut Rivan sembari menarik napas panjang.
“Baik aku coba tidak kemari lagi mulai besok.”
Nadia hanya bisa menarik napas sambil mengantarkan ke pintu.
“Salam buat Adrian,” katanya lagi , sebelum Nadia menutup pintu. Nadia hanya mengangguk.
Sepeninggal Rivan, Nadia kembali ke kamar, menengok Adrian yang sedang tidur. Ada kesedihan melihat Adrian. Kasihan anak ini yang tidak tahu apa-apa ikut jadi korban karena perasana di antara Rivan dan mamanya. Padahal Adrian sudah sangat lengket dengan Rivan.
Sudah smeinggu Nadia tak pernah bertemu Rivan. Rengekan-rengekan Adrian untuk ke tempat Oom Ipan sudah tak digubris lagi. Namun Nadia tak membohongi dirinya bahwa ia merasa sangat kehilangan sekali. Nadia benci sekali dengan keadaan ini, sampai-sampai apapun yang dilakukan tidak pernah benar. Mengapa Tuhan tak mau mendnegar permohonannya? Mengapa ia merasa ada sesuatu yang hilang? Mengapa hal seperti ini tak pernah ia alami sebelum-sebelumnya?
Perasaan yang ada saat dengan pacar-pacarnya dulu, termasuk dengan Oscar sekalipun, tak diarsakan kegelisahan dalam seperti saat ini. Nadia menutup mukanya dengan kedua tangannya, berusaha mencari jawaban aats perasaannya terhadap Rivan. Rasa kehilangan itu tidak bisa dibendungnya lagi. 
Tapi apa yang harus dilakukannya? BUkankah ia sendiri yang menyarankan Rivan tidak datang lagi? Dadanya terasa sesak tak bisa menemukan jalan keluar atas kegelisahannya. Kenapa otak ini jadi tak berfungsi? Hatinya sangat mendominasi untuk bisa mengalahkan otak warasnya. Nadia benar-benar lelah! Tanpa diketahui Nadia, Rivan sudah berdiri di depannya, karena sejak tadi ia menutup wajah dengan kedua tangannya dan sibuk mencari tahu kenapa bisa punya perasaan lain kepada Rivan.
“Ma…” Suara Rivan sambil menurunkan kedua tangan Nadia dari mukanya. Nadia tertegun dan kaget luar biasa karena panggilan itu bukan suara Adrian.
“Rivan?” Nadia menengadahkan wajahnya.
“Maaf Ma aku nggak bisa!” kata Rivan dan entah siapa yang memulai, mereka saling berpelukan sama-sama meneteskan air mata. Layaknya sepasang kekasih yang sudah tak bertemu lama.
“Kita jalani aja ma,” pinta Rivan setelah puas menumpahkan kerinduannya.
Nadia otak encernya mendadak mengental tak mampu berpikir. Ia hanya bisa mengangguk, tak memedulikan kekhawatirannya selama ini dan melupakan Rivan adik Oscar mantan pacarnya. Setelah suasana sedikit tenang.
“Sudah makan?” tanya Rivan. Nadia menggeleng.
“Kamu?” tanay Nadia. Rivan menggeleng.
“Kita makan yuk? Jangan sampai kita sakit, kasihan Adrian.”
Kembali Nadia mengangguk. Memang sejak perasaannya tergangu dan sejak Rivan diminta tidak datang, nafsu makan Nadia hilang. Begitu juga dengan Rivan, yang akhirnya tidak tahan menyetujui agar tidak datang lagi ke rumah Nadia sehingga ia nekad datang kembali. Dan tak pernah disangka jika Nadia juga mengalami hal sama. Begitu lelahnya mereka menyikapi keadaan sehingga mereka menyerah. Dan akan mengikuti alirannya hingga muara mana.
***
HUBUNGAN Nadia dan Rivan sudah hampir berjalan dua tahun, tanpa diketahui siapapun kecuali Yanti, pembantunya lama dan Radmi pengganti Yanti yang berhenti karena menikah. Pekerjaan Nadia juga semakin berkembang dengan bantuan Rivan, meskipun Rivan sambil kuliah. Layaknya keluarga harmonis saat mereka pergi bersama meskipun Rivan tidak serumah namun tiap hari selepas kuliah Rivan selalu ke rumah Nadia. Rivan sangat bisa menyesuaikan diri lebih-lebih terhadap Adrian, sikapnya tidak jauh berbeda dengan papa kandungnya.

Baca juga:  Dari Jendela di Cuaca yang Cerah

Rivan seolah sudah menganggap Adrian anaknya. Begitu dekatnya hubungan Rivan dengan Adrian hingga Adrian lupa bahwa Rivan bukan papanya. Pernah ketika Rivan akan ke Jakarta beberapa hari karena ada urusan, Adrian meronta-ronta minta ikut sambil berlari mengikuti kereta yang membawa Rivan ke Jakarta layaknya seperti adegan dalam sinetron. Hingga akhirnya kelelahan dan tertidur.

Tengah malam terbangun badannya panas hinggastep. Nadia tak menduga begitu dekatnya Adrian dengan Rivan melebihi kedekatannya sendiri. Nadia tak berpikir sampai sejauh ini saat ia menyetujui usul Rivan mengikuti aliran nasib yang akan membawa ke muara mana. Kebahagiaan selalu menghiasi harinya bersama Adrian dan Rivan. Radmi pun ikut merasakan itu.

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (8)

Sekarang hubungan mulai tercium teman-teman asrama Rivan, dan menghampiri telinga Oscar. Hingga membawa Oscar menyempatkan waktu datang ke Yogya meninggalkan pekerjaannya. Hanya ingin mendengar langsung dari Rivan dan Nadia. Entah ada perasaan cemburu atau apa, Nadia tak mengerti. Namun Nadia sempat gelagapan saat Oscar datang dan berusaha mengorek hubungannya dengan Rivan.

“Aku hanya ingin jawaban pasti dari sumbernya.” Begitu Rivan setelah menceritakan apa yang telah didengar atas hubungannya dengan Rivan. Nadia tak menjawab, ingin rasanya ia berterus terang, namun ada pertimbangan lain yang mmebuatnya hanya membisu. Oscar memandang tajam pada Nadia. Ada perasaan lain melihat Nadia diam.

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (20)

“Aku tidak pernah melihatmu diam Nadia, jika memang itu tidak benar. Aku hanya ingin mendengar kejujuranmu karena yang kutahu dan yang membuat aku tertarik denganmu dulu lebih condong pada kejujuranmu daripada parasmu. Karena orang cantik itu banyak Dhea, tapi orang jujur hanya sedikit!” kata Oscar lagi.

Nadia menghela napas panjang. ❑  (bersambung)-c

Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya “Galau” (1999), “Pacarku Ibu Kosku” (2005), dan “Terjebak Sebuah Janji.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 20 Maret 2016