Perempuan Limited Edition (12)

Karya . Dikliping tanggal 10 April 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
“KENAPA kamu bisa berpikir seperti itu Van?” kata Nadia berusaha tenang agar tak tampak rasa sakitnya.
“Jadi apa namanya jika seorang yang berhubungan menyuruh pasangannya mencari pasangan baru? Hanya orang gila yanng berbuat seperti itu jika memang orang tersebut masih mencintai pasangannya,” urai Rivan.
“Jangan beroikir begitu Van, kita harus mempertimbangkan perasaan Papamu juga jika Oscar bisa mengerti, belum tentu Papamu bisa menerima hal ini, apalagi kedua kakakmu menentang.”
“Baik jika itu keinginan Mama.”
“Bukan keinginanku!” Nadia tetap bersikeras.
“Apapun alasannya, aku meragukan Mama sekarang.” Rivan memandang tajam Nadia. Kemarahannya tidak dapat disembunyikan lagi. Nadia hanya menunduk tak mampu menjelaskan apa-apa lagi.
“Boleh aku peluk Mama untuk yang terakhir?” pinta Rivan.
“Kenapa bicara seperti itu Van?”
“Karena mulai besok aku harus mencari pacar baru.”
Nadia tak dapat menyembunyikan lagi kesedihannya. Dalam pelukan Rivan, airmata Nadia tak dapat dibendung.
“Jangan nangis Ma, bukannya ini keinginan Mama?” kata Rivan terdengar mulai lemah tidak tinggi seperti tadi.
Dan Rivan makin erat memeluk Nadia dan tanpa disadari mereka menangis bersama.
“Aku pulang Ma…” kata Rivan setelah melepaskan pelukannya.
Nadia mengangguk tak mampu mengucapkan apa-apa. Bersamaan itu Adrian datang dari bermannya di lapangan sbeelah rumah.
“Mama ngapa nangis? Lho Oom Ipan kok juga nangis?” Adrian terlihat bingung melihat orang-orang dewasa mengeluarkan air mata. Rivan langsung memeluk Adrian.
“Nggap papa. Adian nggak boleh nakal ya, Adrian harus jagain Mama, ingat apa yang Oom Ipan bilang ke Adrian tiap hari kan?” kata Rivan sambil membersihkan sisa-sisa cairan di pipinya melepaskan pelukan dan menatap Adrian dengan sedih. Adrian mengangguk walau terlihat bingung.
“Oom Ipan mau sekolah dulu..” kata Rivan lagi.
“Tapi nanti Oom ke cini lagi kan Oom?” tanya Adrian sambil matanya dibulatkan menunggu jawaban Rivan yang tidak kunjung datang.
Rivan tak menjawab namun memeluk Adrian lagi, kini airmatanya tumpah lagi. Entah mengapa perasaan sedih itu lebih terasa saat mengingat dirinya harus meninggalkan Adrian. Nadia tak kuasa melihat itu semua, pikirannya campur aduk. Kemudian meninggalkan Rivan dan Adrian masuk ke dalam kamarnya. Baru kali ini Nadia tak bisa menahan airmata sedetikpun hingga terus mengalir dan mengalir.
Dengan menggendong Adrian, Rivan mengantarkan Adrian ke kamar mamanya, melihat mamanya menangis Adrian yang tidak tahu menahu ikut menangis juga. Rivan memeluk keduanya.
“Adrian jaga Mama ya.” Begitu Rivan pamit setelah tangisnya sedikit reda dan Rivan tidak menoleh lagi saat meninggalkan kamar Nadia.
Hanya untuk menjaga perasaan keluarganya, Rivan harus meninggalkan orang yang dikasihi dan itu membuat dadanya terasa sesak sekali. Namun harus ia lakukan.
Sungguh tak terpikirkan sama sekali jika hari ini adalah hari yang sangat melelahkan. Fisiknya terasa lemas, sungguh tak pernah terpikir bahwa hari ini ia harus berpisah dengan Nadia dan Adrian, karena tak menemukan jalan kemudahan untuk mereka tetap bersama. Rivan dan Nadia tak sanggup melukai hati papa Rivan yang pasti akan shock mendengar Rivan dan Nadia bukan seperti saudara yang dibayangkan.

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (20)

Keegoisannya terkikis saat membayangkan mata papanya akan kecewa jika ia tetap meneruskan hubungan dengan Nadia. Walaupun sang kakak, Oscar, bisa mengerti keadaan, namun mengingat wajah papanya, Rivan tak sanggup. Dulu ia tak terpikir sesakit ini saat diharuskan berpisah dengan Nadia, sehingga mengikuti alirannya saja. Kembali Rivan menarik napas panjang dan menghembuskan dengan keras sambil bergumam.

“Semoga Mama menemukan orang yang lebih baik dari aku,” gumamnya.

***
HARAPAN Rivan agar Nadia mendapatkan pengganti yang lebih baik dari dirinya tak pernah terwujud. Duabelas tahun berlalu sejak perpisahan itu, dan Nadia tetap dengan kesendiriannya. Godaan-godaan dari laki-laki iseng semakin sering ia terima. Ada yang sekadar ingin melindungi, ada yang terang-terangan menawarkan diri dengan meminta imbalan, bahkan ada yang menawarkan diri tanpa imbalan dan tak mengikat. Entah mengapa orang-orang itu selalu menganggap seorang janda adalah sosok yang selalu haus seks.

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (3)

Nadia merasa kebal telinganya mendengar kasak-kusuk yang sering menyudutkannya. Namun Nadia tetap orang biasa yang punya emosi yang dalam keadaan tertentu menjadikannya sangat marah, jika ada seorang yang jelas-jelas menyepelekannya. Seperti ketika teman kuliahnya datang dan memperkenalkan pada Nadia.

“Dhea, ini temanku ingin kenalan ma kamu.”

Nadia mengerutkan keningnya walaupun tetap mengulurkan tangannya.
“Reza,” kata laki-laki itu yang kira-kira umurnya hampir sebaya Nadia.

“Oke, kalian ngobrol-ngobrol dulu ya, aku ke warung bentar,” kata teman Nadia yang membawa Reza ke rumah. Sepertinya sengaja memberi kesempatan agar Reza bisa leluasa ngobrol dengan Nadia. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono
. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya “Galau” (1999), “Pacarku Ibu Kosku” (2005), dan “Terjebak Sebuah Janji.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 10 April 2016