Perempuan Limited Edition (15)

Karya . Dikliping tanggal 2 Mei 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
SUARA Virza yang sedang emmbawakan lagunya Marcell berjudul Jangan Pernah berubah, mengalun lewat televisi kecil yang terletak di sudut ruangan meja kerja, membuat Nadia berhenti memeriksa tumpukan kertas yang ada di atas meja. Menyimak syairnya hingga kata terakhir, Nadia tersenyum sendiri. Apa sih yang nggak berubah di dunia ini? Gumamnya.
Perasaannya sendiri terhadap Rivan yang begitu dalam saja tiba-tiba luntur tanpa ia tahu sebabnya, saat bertemu kemarin. Padahal 12 tahun ia terelenggu bayang-bayang Rivan. Apa sih yang kamu cari Nadia? tanyanya pada diri sendiri, seperti yang sering ia dengar dari orang-orang sekitarnya, yang tak mengerti tentang yang diinginkannya. Nadia sendiri hampir tak memahami keinginannya apalagi orang lain.
Memang sedikitpun Nadia tak pernah berniat mencari pendamping lagi sejak perpisahannya dengan Rivan dulu. Patah hatikah Nadia? Tidak! Jawab hatinya tegas. Ia hanya terbelenggu bayang-bayang Rivan selama ini. Tapi bukan berarti patah hati.
Setelah pertemuannya kemarin, yang sosoknya sangat berbeda dengan apa yang dibayangkan sebelumnya, Nadia seolah kehilangan harapan. Kekecewaan yang tidak masuk logika siapapun.
“Ya ampun Dhea, kamu ini waras enggak sih? Mana mungkin orang tambah usia suruh tetap saja posturnya? Kan nggak mungkin ta ya Jeng,” ungkap Tika kemarin di mobil, perjalanan pulang sehabis memborong batik.
“Ya aku itu kangen dengan Rivan yang dulu, bukan yang kulihat tadi.”
“Emang waktu nggak jalan? Bumi nggak berputar? Aneh dan ganjil banget kamu ini,” Tika geregetan melihat Nadia.
“Ya gimana lagi Tik, emang aku kangennya ama Rivan yang dulu.” Suara Nadia memelas seolah minta dimengerti.
“Udahlah kau hidup di planet lain aja sana, capek kali ngikut pikiran kau ini,” ungkap Tika dengan aksen Medannya, tanda kesal.
Nadia sendiri tak mengerti dirinya, mengapa bisa seperti itu? Apa iya aku memang aneh memang nggak waras? Yang pasti Nadia enggan memikirkan perasannya lagi.
Belum sempat Nadia menemukan jawaban atas kemauan dirinya itu, suara handphone berdering. Nomor telepon adiknya yang di Malang. 
“Halo Mbak,” suara Vina, adik iparnya terdengar parau.
“Ada apa Vin?”
“Mas Hen, Mbak.”
“Hendra kenapa?” Suara Nadia terdengar keras.
“Mas hen koma Mbak…” Suara Vina terdengar parau, karena dibarengi isakan.
“Kenapa? Oke-oke aku segera ke Malang, jangan panik!” ucap Nadia.
Kemudian Nadia segera memanggil Adi, suruh siap-siap antar Ibu ke Malang. Dan kasih tahu yang lain, tokonya suruh tutup aja,” perintahnya pada Ratmi.
“Ibu mau ke Malang sekarang?”
“Iya Mi, Pak Hen koma.”
“Baik Bu.”
“Dan kamu jaga rumah ya, Mama biar diantar Adi,” kata Nadia pada putranya sambil memasukkan baju speerlunya.
“Sampai kapan Ma?”
“Belum tahu, lihat kondisi Oom Hen dulu.”
Selesai berkemas Nadia menuju ke mobil yang sudah disiapkan Adi.
“Udah ya, Mama berangkat,” pamitnya pada Adrian.
“Iya Ma, ati-ati,” ungkap Adrian sambil mencium kedua pipi mamanya.
“Jaga rumah baik-baik ya Mi”
“Iya bu, hati-hati.”
Sepanjang perjalanan, Nadia tidka banyak bicara, pikirannya melayang ke mana-mana. Sakit apa Hendra tiba-tiba koma? Tadi tidak sempat bertanya karena percuma suara Vina yang dibarengi isakan, tak terdengar jelas. Kekhawatiran tiba-tiba menyergap hatinya, takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan sama sekali. Tidak mungkin! Bantah batinnya sendiri, ketika terbayang jika Hendra adik bungsu kesayangannya ini tiba-tiba dipanggil Tuhan.
Hendra satu-satunya tempat curhat Nadia setelah papanya dipanggil Tuhan dua tahun lalu. Papa yanng sangat mengerti keadaannya, sangat memaklumi keputusannya bercerai waktu itu, meskipun awalnya papa menolak mentah-mentah keputusannya. Namun lumer juga setelah mendengar alasan Nadia. Dan Nadia tetap bersyukur punnya ayah yang bisa dijadikan teman curhat selain Hendra adiknya. Saat papanya dipanggil oleh yang Maha Kuasa, Nadia seperti kehilangan salah satu kemudi.
Ibarat sebuah perahu, Nadia punya dua dayung yang membantu menjalankan perahunya. Dan ketika salah satu dayung itu tidak ada. Nadia masih punya satu dayung yang akan membantu perahunya jalan. Nadia sangat bersyukur memiliki keluarga yang sangat erat hubungannya. Dan sekarang Nadia mendengar kabar adik kesayangannya koma. Berbagai pikiran jelek sempat merasuki otaknya, namun segera ditepisnya.
“Tidak mungkin! Hendra orangnya terlalu baik, pasti ada mukjizat dari Tuhan. Karena hidup Hendra hanya diperuntukkan untuk Tuhan. Bahkan secara logika tidak masuk akal jika sudah berhubungan dengan Tuhan. Apapun akan dipersembahkan untuk Tuhan.” Kata hatinya. ❑  (bersambung)-c
Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya “Galau” (1999), “Pacarku Ibu Kosku” (2005), dan “Terjebak Sebuah Janji.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 1 Mei 2016

Baca juga:  Riwayat Cincin