Perempuan Limited Edition (18)

Karya . Dikliping tanggal 24 Mei 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
“IBARAT orang ikut ujian Dhea, Adikkmu telah mengerjakan ujiannya dan selesai. Maka dari itu dia keluar duluan dari kelas. Sedang kita belum selesai dengan tugas-tugas itu.”
Kata-kata itu yang keluar dari temannya yang bingung akan bicara apa. Nadia tetap tak bergeming. Mulutnya terkatup rapat, matanya memandang tajam ke depan, menyorotkan kebencian yang dalam. Entah terhadap siapa. Temannya hanya mengangkat kedua tangannya. Tak tahu harus berbuat apa.
***
HARI ini Nadia pergi dengan Dewi, salah satu temannya yang dulu sering dihindari Nadia. Menurut Nadia, Dewi sedikit genit dan sangat aktif bila bertemu laki-laki. 
“Tumben kamu mau kuajak jalan Dhe,” tanya Dewi sambil melirik Nadia yang sedang mengepulkan asap rokoknya.
“Hemm.”
Hanya itu yang keluar dari mulut Nadia, dan tetap asyik dengan rokoknya.
“Bosan juga kan lama-lama berkutat dengan kerjaan mulu?” tanya Dewi lagi sambil tetap menjalankan mobilnya.
“Heemm.” Itu lagi yang keluar dari mulut Nadia.
“Kamu gagu atau sakit gigi sih? Hmmm… hmmm dari tadi.” Dewi mulai geregetan.
“Udah perhatiin jalan aja, kita mau ke mana sih?” Akhirnya Nadia mengeluarkan kata-kata juga.
“Asyiklah pokoknya,” jawab Dewi sambil membelokkan arah mobil menuju Jalan Kaliurang.
Nadia tak mengomentari dan masih asyik mengisap rokoknya.
“Enaknya apa sih ngrokok?” tanya Dewi yang memang tidak merokok.
“Nggak ada enaknya.”
“Nggak enak kok kamu ngrokok?”
“Iseng,” jawab nadia sekenanya.
Dewi hanya geleng-geleng kepala. 
Nadia sedang memencet-mencet tape mobil, menemukan saluran radio yang bagus, menghindari celotehan Dewi. Tiba-tiba suara telepon genggam Dewi berdering.
“Halo.”
Dewi menjawab telepon.
“Iya ini udah nyampai kilometer duabelas, bentar lagi nyampe,” ucap Dewi pada si penelpon yang entah dari siapa. Nadia juga tak berusaha ingin tahu.
“Kalau lagi setir jangan sambil telepon.”
Itu malah yang keluar dari mulut Nadia.
“Bentar ini.” Dewi tidak mau kalah. Nadia hanya menarik napas panjang. Kemudian Nadia mengeluarkan flasdisk dari tasnya, setelah tak menemukan saluran dari radio yang sesuai keinginannya.
“Mo ngapain?” tanya Dewi melihat Nadia sibuk sendiri.
“Dengerin lagu,” jawabnya sambil tangannya memasukkan flasdisk. Seketika mengalun suara Alien peserta The Voice Indonesia 2016 yang menurutnya punya suara unik.
   Malam ini, kembali sadari kusendiri,
   gelap ini, kembali sadari kau tlah pergi.
   malam ini, kata hati harus terpenuhi
   gelap ini, kata hati ingin kau kembali.
   hembusan dinginnya angin lautan 
   tak hilang ditelan bergelas-gelas arak yang kutenggakkan
   gelap ini, di tepi pantai kusadari

   tanpa dirimu dekat di mataku aku bagai ikan tanpa air
   tanpa dirimu ada di sisiku, aku bagai hiu tanpa taring
   tanpa dirimu dekat di pelukku, aku bagai pantai tanpa lautan
   kembalilah sayangku
   kembalilah kasih
   malam ini…

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (3)

Nadia menari napas panjang saat lagu berakhir.

“Melow banget Dheeee,” komentar Dewi.

Nadia tak menggubris. Hanya tarikan tarikan napas panjang Nadia yang terdengar.
“Kamu kenapa sih Dhe?” Dewi penasaran. Nadia tetap tak menjawab. 
“Kayak orang patah hati aja.”
Nadia tetap tak menjawab, malah mengulang lagu tadi.
“Aduuuh kamu ini, kamu kuajak jalan bukan untuk melow-melowan ya.” Dewi mulai kesal. Tapi Nadia tetap tak bergeming, malah memejamkan matanya sambil benar-benar menikmati lagu Anyer 10 Maret milik Slank itu dengan berulang-ulang menarik napas panjang.

Baca juga:  The Persistence of Memory

“Jangan tidur, dah nyampe nih,” kata Dewi sambil membelokkan mobil memasuki sebuah vila yang terletak agak atas di Kaliurang.

Dengan malas Nadia membuka matanya dan menegakkan tempat duduknya. Nadia mengerutkan dahinya melihat mobil Dewi parkir di halaman vila.

“Kita mau ngapain?”

Nadia buka suara juga akhirnya. Karena saat Dewi datang tadi dan mengajaknya jalan, Nadia hanya mengekor tanpa menanyakan tujuannya ke mana.

“Hai Dew, lama amat? Kupikir nggak datang kamu,” sapa salah satu orang yang sudah berada di vila.

Baca juga:  Elegi dari Bojonegara - Di Jembatan Pabean

“Ah, belum jam tujuh ini,” jawab Dewi sambil melihat jam bermerk yang melingkar di tangannya.

“Lagian masa nggak datang sih? Oh ya, kenalin nih anggota baru kita, Nadia.” Dewi mengenalkan pada teman-temannya yang sudah berkumpul, yang jumlahnya ada enam orang. Nadia tetap mengulurkan tangannya walau di benaknya berkecamuk terhadap kata ‘anggota baru’ yang dilontarkan Dewi.

“Ini anggota untuk arisan atau apa sih?”

Pertanyaan itu hanya dalam hati Nadia. Karena tidak paham diajak berkumpul dengan ibu-ibu yang penampilannya glamor semua. ❑  (bersambung)-c

Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya “Galau” (1999), “Pacarku Ibu Kosku” (2005), dan “Terjebak Sebuah Janji.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 22 Mei 2016