Perempuan Limited Edition (19)

Karya . Dikliping tanggal 30 Mei 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
WALAU enggan, akhirnya Nadia bertanya juga pada Dewi ketika mereka berada di dapur, saat menata snack dan minuman. Sedang ibu-ibu yang lain masih berada di ruang tamu, entah membicarakan apa.
“Sebenernya ini acara apaan sih Dew? Kamu ultah ya?”
“Yeee, ultahku kan baru Juli nanti, Dhe,” jawab Dewi sambil menata snack ke piring yang sudah dibawa Dewi.

“Lha trus acara apaan? Kok kamu yang bawa makanan ini semua?”

“Gini lho Dhe, kami ini kan tiap bulan ngumpul bikin party kecil-kecilan. Dan yang bawa makanan gantian, kebetulan kali ini giliranku.”

“Arisan?” tanya Nadia masih belum paham.

“Sejenis itulah.”

“Kalo kamu masuk anggota kami, tar kamu juga dapat giliran bawa makanan. Ikut ya jadi anggota?”

“Liat tar dulu berapaan arisannya.”

“Dapatnya bukan duit lagi.”

“Maksudmu?” Nadia benar tidak mengerti, karena yang dalam otaknya namanya arisan ya dapat uang atau barang. Belum sempat Dewi menjawab, salah satu dari enam ibu-ibu tadi memanggil Dewi.

“Buruan Dew, tuh si Rico dan Arif udah datang.”

“Yup sudah siap kok,” jawab Dewi sambil membawa piring snack ke ruang tamu.

“Tuh bawain yang satu Dhea,” perintah Dewi dn Nadia mengekor mengikuti Dewi.

Di ruang tamu sudah ada tambahan dua orang lagi. Nadia sedikit heran karena yang dimaksud teman Dewi: Rico dan Arif, bukan orang sebaya mereka. Tapi masih anak-anak yang usianya kurang lebih di atas Adrian dua atau tiga tahunan.

Baca juga:  Lewat Secangkir Kopi [1]

Melihat Rico dan Arif yang usinya sangat muda, pikiran Nadia mulai dihinggapi ketidakberesan. Namun Nadia tetap tidak berkomentar apapun.

“Yuk sambil dimakan, kita mulai acaranya.” Dewi menawarkan makanan yang telah disiapkan.

Nadia sedikit jengah dengan obrolan mereka yang rata-rata ngomongin tentang suami mereka masing-masing. Dari tugas suaminya sampai kekuatan suami di ranjang. Duh, dasar ibu-ibu nggak ada kerjaan, batin Nadia lagi, seolah dirinya lupa kalau dirinya juga bukan ibu-ibu. Namun Nadia memang bukan hanya ibu-ibu, tapi merangkap bapak yang harus kerja banting tulang agar bisa mencukupi kebutuhannya dan anak semata wayangnya itu. Nadia memang bertekad kerja keras semenjak mengambil keputusan bercerai dengan suaminya, agar anaknya tidak minder dan hidup layak seperti keluarga utuh pada umumnya. Bahkan ketika Adrian masih di taman kanak-kanak dan antar jemput Adrian, para ibu-ibu sering mengatakan: “Mamanya Adrian ngobrol dulu sini kok selalu buru-buru sih?”

“Bukannya nggak mau ikut nimbrung Bu, tapi saya masih ada kerjaan lain,” jawab Nadia ramah.

“Wah kalau Mama Adrian nggak bisa diajak ngrumpi. Waktu dia nggak pernah cukup duapuluh empat jam itu,” kata ibu lain yang kebetulan tahu kalau Nadia sudah bercerai.

“Kalian sih enak, bisa ngrumpi dapur tetap ngegebul, tiap bulan dapat gaji dari suami. Lha kalau saya ngrumpi tar dapur saya nggak ngebul dong.”

Dan sekarang semenjak kepergian adiknya, Nadia tak lagi mau bekerja apapun. Toko dibiarkannya tutup, bahkan pegawainya, termasuk Adi sang sopir, sudah keluar karena tidak ada yang mesti dikerjakan. Hanya Radmi yang masih bertahan di rumah Nadia.

Baca juga:  Perempuan Limited Edition (5)

“Ayo Ibu-ibu, kita mulai ya.” Suara Dewi membuyarkan lamunan Nadia.

“Oh ya Ric dan Arief, ini kenalin dulu tante Nadia,” kata Dewi pada kedua anak muda itu.

“Tante?” tanya Nadia, lagi-lagi hanya dalam hati.

Mengenalkan dengan sebutan tante saja, Nadia sudah paham maksudnya.

“Nggak salah dugaanku,” katanya lagi-lagi hanya dalam hati. Namun dibiarkan saja dan terus mengikuti.

“Halo Tante,” sapa kedua anak muda tadi hampir berbarengan.

Nadia menyambut uluran tangan dengan biasa tanpa ekspresi. Sementara Dewi mengeluarkan beberapa kain kecil selebar sapu tangan dengan aneka warna.

“Ini yang warna merah punya Nadia ya,” ungkap Dewi lagi yang maknanya belum dipahami Nadia.

“Punyaku yang kuning lho Ric,” kata salah satu ibu pada anak muda tadi.

“Punyaku ijo.”

“Aku biru,” timpal ibu lain.

Nadia semakin bingung.

“Iya iya… semua udah tahu jangan rebutan lho,” kata Dewi sambil tertawa. Paling tidak disukai Nadia cara ketawanya itu.

Dewi menutup mata Rico dan Arief dengan kain warna hitam dan kemudian mengacak-acak kain-kain kecil tadi yang sudah dilipat sedemikian rupa.

Rico dan Arif mulai meraba-bara kain kain tadi dan suasana ruangan mulai gaduh karena teriakan-teriakan para ibu-ibu tadi.

Baca juga:  Luruh Bersama Hujan

“Aduuuh, jangan yang itu dong,” teriak salah satu ibu yang mungkin bukan warna kainnya yang terpegang.

Dan ketika Rico sudah mendapatkan salah satu kain, begitu juga dengan Arief, semakin ramai lagi.

Rico mendapatkan warna biru dan Arief warna merah. Itu berarti kain milik Nadia yang dipegang Arif. Kemudian mereka membuka kain hitam penutup mata Rico dan Arif.

“Anggota baru kita malah yang dapat duluan,” ungkap salah satu ibu.

“Selamat ya.” Ibu-ibu itu mengucapkan selamat dan si pemilik kain biru.

“Oke Dhe, silakan bersenang-senang ya,” ujar Dewi pada Nadia.

Nadia tidak berkomentar apapun. Karena pikirannya sejak tadi sudah menebak ini arisan apa.

“Mari Tante,” ajak Arif pada Nadia.

Nadia sudah paham arisan macam ini dan tanpa banyak protes Nadia mengikuti Arif. ❑  (bersambung)-c

Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya “Galau” (1999), “Pacarku Ibu Kosku” (2005), dan “Terjebak Sebuah Janji.”
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 29 Mei 2016