Pintu Hijau (3)

Karya . Dikliping tanggal 28 Agustus 2016 dalam kategori Cerita Bersambung, Koran Lokal, Minggu Pagi
SESAAT kemudian aku merasa semua mata tertuju padaku.”Beri Malina waktu untuk memikirkannya,” Ibuku menyusul bicara.

“Ya, benar apa kata Lina,” kata Bibi Yuni membenarkan kata-kata ibu pada paman.

Perbincangan kami hanya sampai di situ saja. Selanjutnya paman pulang bersama bibi. Kulihat setiap langkah paman dengan kaki palsu itu sangat tidak wajar. Meski Bibi Yuni menuntunnya.

Benar. Sebagaimana yang diinginkan paman (dan aku juga menginginkan), setelah perbincangan alot dengan kedua orangtuaku, pertimmbangan ini itu, akhirnya aku diizinkan. Anak perempuan satu-satunya ini kuliah di kota yang kata paman di kota itu paman tinggal selama aenam tahun lebih.

Benar perkataan paman: aku tinggal di asrama. Banyak teman-temanku, semuanya perempuan. Hanya ada beberapa lelaki yang berjaga dan satu laki-laki yang menurutku penting di sini. Lelaki ini agak tua dan berwibawa. Namanya Suliman Pihatin. 

Di asrama ini aku merasa sangat betah, senang, tempatnya nyaman. Aku dan teman-teman yang lain diajari yanng macam-macam: cara bergerak yang sopan, cara mempercantik diri, cara menyambut tamu dan banyak hal lain yang kupelajari, termasuk memilih saluran radio jika mau didengar di malam hari.

Di tempat ini, masing-masing kamar ada satu radio. Dan di sini, aku kenal dengan Imah, yang kemudian akrab denganku. Imah teman yang sangat baik dan satu-satunya teman di sini yang paling akrab denganku. Sampai pada suatu hari aku merasakan hal yang berbeda dari semua ini. Suliman menjelaskan pada kami semua bahwa kami memiliki tugas untuk melayani para tamu lelaki di kamar masing-masing. Imah tak pernah bercerita tentang ini padaku, selain beberapa kali kutemukan ia tengah menatapku dengan sedih dan iba.

“Sambutlah tamu-tamu kalian dengan riang. Dan jangan lupa  pilihlah saluran radio yang cocok.” Demikian kata Suliman menegaskan dan setengah mengancam.


Aku terperangah! Juga mungkin teman-teman sebayaku yang lain. Aku paham betul sudah, aku diajari cara menyambut tamu dan macam-macam, serta memilih saluran radio yang tepat di malam hari ternyata tak lain untuk makan malam kaum lelaki. Aku takut dan menyadari aku telah ditipu paman. Di sini juga tak ada Yani. Aku telah dibohongi paman.


Paman di mana? Aku tak tahu di bagian mana ia tinggal di kota ini. Memang ia kadang-kadang berkunjung ke tempat ini. Tapi jarang sekali. Aku takut tapi tak tahu harus berbuat apa. Yang ada di pikiranku yang ada hanya rumah. Aku kangen sekali pada ayah dan ibuku. Aku sering menangis pada malam hari sampai larut. Sementara setiap malam dans iang begitu banyak lelaki berdatangan ke tempat ini. Dan aku, terpaksa sekali melayaninya. Kalau tidak, Suliman tak segan-segan menyakitiku, bahkan bisa jadi akan membunuhku.


Hingga oada suatu hari berikut kecemasan dan ketakutan-ketakutan yang menderaku, datanglah Bang Rusydi. Aku bertemu dengannya di pasar ketika aku hendak membeli alat-alat wajahku yang habis. Serta membeli sabun. Dan sabunlah yang memertemukan aku dengan Bang Rusydi.


Bisa dibilang Bang Rusydi sama dengan lelaki kebanyakan. Hanya saja sehabis kami melakukan hubungan, ia tidak langsung pulang, tetapi berbincang-bincang denganku, bertanya ini itu, sampai pada tempat di mana aku dilahirkan, tak lupa ia tanyakan.


Bang Rusydi mulai terbuka dan banyak bertanya padaku setelah pertemuan yang kesekian kalinya. DI awal-awal, ia banyak diam entah kenapa. Dan pada pertemuan-pertemuan selanjutnya yang cukup sering, Bang Rusydi selalu mendesakku bercerita tentang orangtuaku, rumahku, bahkan jalan-jalan yang mesti dilalui ke rumahku sangat detil ia tanyakan. Ia sangat antusias bila berbicara tentang jalan menuju ke rumahku.


Pertanyaan itu yang paling menakutkan. Sebab oleh Suliman aku dilarang keras memberi tahu dari mana aku berasal. Melainkan aku harus bilang bahwa aku perempuan asli kota ini. Entah kenapa, aku mengatakan tentang diriku pada Bang Rusydi.


Pada akhirnya, aku gagal menyembunyikan apa yang telah kulakukan itu. Karena perbuatanku itu, oleh Suliman aku dihukum. Aku ditampar sekeras-kerasnya oleh tangannya yang kasar. Bibirku berdarah, tubuhku lemas sekali.


Tidak hanya itu, aku bahkan dikurung di dalam kamar tanpa diberi makan.


Setelah beberapa hari mendekam di kamar, mungkin tiga atau empat hari, aku mulai merasakan pandanganku kabur, tenagaku serasa hilang semua. Tapi aku masih sadar dan bisa mendengar.


Dan ketika itu, dengan sedikit kesadaran dan ekpala pening karena belum minum apalagi makan, aku sadar dan bisa mendengar suara yang ada di luar kamar. Aku kaget! Bukankah itu suara paman? Dugaku.


“Mana Malina?” Paman bertanya.


“Ah Debing, perempuan yang kamu bawa itu kurang ajar!”


BUkankah suara yang keras dan mengancam itu suaranya Suliman? Terkaku. Lalu terdengar bunyi pukulan yang sangat keras. Serentak paman berteriak. Tidak jelas apa yang diteriakkan.


“Sisa uangmu tidak akan aku bayar!” kata Suliman lagi.


“Potong kaki kanannya!” perintah Suliman, sepertinya pada anak buahnya yang sering saban malam aku lihat selalu menjaga tempat ini.


“Cari tamu itu! Beri dia pelajaran! Kalau perlu jangan diberi ampun!” lanjutnya.


Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi, sebab aku merasa semakin lemas dan tak ingat apa-apa lagi ketika itu.


Setelah aku selesai membaca catatan itu kulihat kakek diam saja. Dan aku tidak mengerti catatan apa ini. Kenapa kakek menyuruhku membacakannya? Sepenting apakah itu buat kakek? Dan aku tidak tahu dengan perasaanku setelah membaca catatan itu.

Baca juga:  Ledhek dari Blora 08

Terbayang di kepala seorang perempuan yang menuliskannya: Malina. Dari catatannya, tentu Malina sangat menderita.

“Pulanglah. Kembalilah besok malam, Nak” kata kakek setelah aku mengembalikan catatan itu padanya.

Aku ingin bertanya, namun lagi-lagi urung aku tanyakan. Dari catatan itu, aku cuma kenal satu hal saja. Satu orang saja. Yakni Rusydi. Itu nama kakek.

Aku pulang membawa ketidakmengertian akan catatan itu.  (bersambung)-c



Rachem Siyaeza: lahir di Pajagungan, 2 September 1988, sebuah kampung kecil di ujung timur Pulau Madura, Kuliah di  Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga tahun 2007 dan lulus 2015. Beberapa tulisannya termaktub dalam bunga rampai kumpulan ceriat pendek Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009), Tiga Peluru (Kummpulan Cerpen Pilihan Minggu Pagi Yogyakarta 2010, editor Latief Noor Rochmand) Riwayat Langgar (2011), Love Autumn (2012). Bermukim di Yogyakarta. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rachem Siyaeza
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 28 Agustus 2016