Rindu di Tangkai Senja

Karya . Dikliping tanggal 9 Januari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Hampir pukul 10 malam saat bus yang kami tumpangi tiba di depan Hotel Daar al-Tawhid Inter continental, Madinah. Hotel tersebut berlokasi di depan Masjid Nabawi.

Jarak Jeddah-Madinah sekitar 450 km kami tempuh dalam waktu sekitar lima jam. Rombongan jamaah umrah Naja Tour berangkat dari Makkah pukul dua siang. Kami singgah di Jeddah–sekitar 75 Km dari Makkah–untuk berbelanja di al-Balad. Tempat tersebut sangat terkenal bagi jamaah haji dan umrah asal Indonesia sebagai pusat belanja oleh-oleh.

Tak lupa, jamaah menikmati bakso dan mi ayam di warung bakso Mang Udin. “Ini warung bakso yang sangat terkenal di Jeddah. Rasanya pun enak sekali, seperti rasa bakso yang biasa kita makan di Indonesia,” kata Ustaz Aminullah, muthowwif yang melayani kami, berpromosi.

“Pendek kata, ke Jeddah belum makan bakso Mang Udin, seakan-akan belum ke Jeddah. He he he. Di sini juga ada warung nasi yang terkenal asal Indonesia, Ayam Bakar Wong Solo. Restoran ini pun sangat ramai,” Ustaz Aminullah menambahkan.

Ini hari kelima aku melaksanakan umrah. Empat hari di Makkah, dan rencananya tiga hari di Madinah. Ini bukan umrahku yang pertama, tapi kali ini ada dua hal yang aku adukan kepada Tuhan. Pertama, aku ingin bertobat–sebenar-benar tobat–atas segala dosaku. Kedua, aku mencari petunjuk untuk menemukan istri dan anakku.

Dua puluh tahun lalu aku meninggalkan istri dan anakku karena tergoda sekretaris cantik di kantor. Sebagai pemilik dan bos perusahaan tersebut, aku merasa bisa melakukan apa saja. Termasuk menikahi sekretarisku, Sherly. Tapi rupanya ia meminta lebih dari itu. Ia meminta aku untuk memilih dia atau istri dan anakku. Dan jahatnya aku, saat itu lebih memilih dia. Aku menceraikan istriku dan membiarkannya pergi membawa anak kami yang baru berusia lima tahun.

Lima belas tahun berlalu, aku membina rumah tangga dengan Sherly. Kami tidak dikaruniai anak. Sherly tidak mau mengandung dan melahirkan anak karena takut bentuk badannya yang ramping dan seksi akan berubah.

Suatu hari, seperti disambar geledek, Sherly tiba-tiba minta cerai. Belakangan baru kutahu, ternyata dia sudah setahun lebih menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, duda, pengusaha kaya, yang kemudian menjadi suaminya.

Kejadian itu menyadarkanku. Baru aku merasakan betapa aku merindukan istri dan anakku. Aku segera ke Cianjur. Namun, istri dan anakku sudah tak ada lagi di sana. Tetangga tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi.

Bertahun-tahun aku mencari informasi tentang istri dan anakku. Namun, mereka seperti hilang ditelan bumi.

Hingga suatu hari, tahun kelima, aku mendengar kabar samar bahwa mereka pergi ke Nusa Tenggara Barat (NTB). Tapi di mana tepatnya? NTB adalah provinsi yang luas.

Akhirnya kuputuskan pergi umrah. Dengan niat dan harapan penuh, semoga aku mendapatkan petunjuk di sana.

Begitu sampai di Jeddah dan bertemu Ustaz Aminullah, aku sampaikan niatku umrah untuk bertobat dan mencari petunjuk mengenai keberadaan istri dan anakku. Ustaz Amin, begitu dia dipanggil, sangat simpatik dan penuh empati.

Dia ikhlas menemaniku untuk melakukan tawaf lewat tengah malam, agar aku dapat mencium Hajar Aswad dan berdoa di tempat-tempat mustajab di Masjidil Haram. Dia juga membimbingku untuk shalat tobat dan istikharah. Namun, sampai kami berangkat ke Madinah, belum ada titik terang sama sekali.

Baca juga:  Kobbar

“Jangan putus asa, Pak. Insya Allah, akan ada petunjuk. Di Masjid Nabawi kita akan bermunajat di Raudhah, tempat yang makbul. Semoga Allah megijabah doa Bapak,” tutur Ustaz Amin.

Satu hari menjelang pulang ke Tanah Air, Ustaz Amin mengatakan, ia bertemu seorang ustaz muda dari Indonesia, tepatnya Lombok, yang namanya sama dengan nama anakku.

“Mudah-mudahan dia memang anak Bapak,” ujarnya.

Selepas shalat Zhuhur di Masjid Nabawi, Ustaz Amin mempertemukan aku dengan ustaz muda itu. Ia berjalan bersama rombongan.

Dadaku langsung berdebar. Aku malu bertemu dengan ustaz muda yang berkharisma itu. Tapi ia yang mendahului bertanya, “Apakah Bapak bernama lengkap Fatih El Ghozi?”

“Iyyyaa,” jawabku terkejut.

“Istri Bapak bernama Sayyidah Qalbi?”

“Betul, Ustaz.”

“Anak Bapak bernama Adly Fairuz?”

“Semua itu benar,” sahutku bergetar.

“Apakah Bapak ingat ciri-ciri anak Bapak tersebut?”

Aku berusaha mengingat-ingatnya. Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun, tiba-tiba aku ingat sesuatu. “Ya, saya ingat, dia punya dua tahi lalat di pundak kirinya.”

Ustaz muda itu membuka bajunya yang sebelah kiri. Lalu menunjukkan dua tahi lalat di pundak kirinya. Belum sempat aku berkata-kata, tiba-tiba ia menghambur ke dalam pelukanku. “Bapak adalah ayah saya. Subhanallah, terima kasih ya Allah, Engkau telah mempertemukan saya dengan ayah saya.”

Ia lalu mencium tanganku. “Maafkan Adly, Ayah. Adly mohon ridha Ayah,” ujarnya dengan suara bergetar penuh emosi.

Spontan aku memeluknya. Kami berpelukan lama sekali. Tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Hanya air mata yang terus berderaian tak henti.

“Maafkan Ayah, Nak. Ayah sangat berdosa kepadamu dan ibumu,” akhirnya keluar juga kalimat itu dari mulutku.

“Sudahlah, Ayah. Tiada yang lebih baik untuk kita lakukan selain bersyukur kepada Allah.”

Ia langsung sujud syukur. Aku pun melakukan hal yang sama: mencium lantai Masjid Nabawi.

Para jamaah umrah yang dibimbing Adly masih berkumpul di sekitar kami. Mereka mungkin bingung terhadap apa yang terjadi.

“Para jamaah sekalian yang dimuliakan Allah. Perkenalkan, ini Ayah saya, Bapak Fatih El Ghozi. Kami terpisah selama 20 tahun. Ceritanya panjang. Tapi satu hal yang pasti: bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Allah Mahakuasa,” kata Adly dengan wajah penuh kegembiraan.

Satu per satu jamaah memeluk aku dan mengucapkan selamat. Setelah itu, mereka kembali ke hotel.

Aku mengajak Adly masuk kembali ke dalam masjid. Kami duduk berhadapan.

“Nak, bagaimana kabar mamamu?”

“Alhamdulillah sehat, Ayah.”

“Di mana kalian tinggal? Dan bagaimana ceritanya?”

“Setelah berpisah dengan Ayah, mama mengajak Adly tinggal di Cianjur, di rumah nenek. Mama adalah anak satu-satunya. Beberapa bulan kemudian nenek meninggal, sedangkan kakek–seperti Ayah tahu–sudah meninggal setahun sebelumnya. Mama lalu menjual tanah dan rumah warisan.

Mama mengajak Adly pindah ke Lombok. Di sana, teman nyantri mama waktu di Gontor mendirikan pondok pesantren bersama dengan suaminya yang juga alumni Gontor. Mama jadi pembantu di pondok pesantren tersebut. Bagi mama, yang penting bisa untuk menyambung hidup dan Adly bisa nyantri gratis.”

Ya Allah, betapa besar dosaku kepada istri dan anakku. Aku menyia-nyiakan mereka hanya karena seorang wanita yang tidak mencintaiku dengan tulus.

Baca juga:  BULIR-BULIR RINDU

“Alhamdulillah, Adly lulus Aliyah usia 16 tahun dan hafal 30 juz. Adly ikut seleksi beasiswa kuliah di al-Azhar University Kairo, Mesir. Alhamdulillah, Adly termasuk salah satu dari 300 pemuda Indonesia yang berhasil mendapatkan beasiswa tersebut.

Mama sangat senang. Beliau pernah berkata, “Seandainya ayahmu tahu bahwa engkau dapat beasiswa kuliah ke al-Azhar, pasti akan bangga.’”

Ucapannya membuat aku kembali menguras air mata. Hatiku terasa semakin sedih dan bersalah.

“Adly lulus S-1 dari Al Azhar dalam waktu empat tahun dan pulang ke Indonesia dengan membawa gelar Lc. Mama bilang kepada Adly, ‘Pulanglah dulu. Abdikan dirimu di pondok pesantren. Insya Allah beberapa tahun lagi kamu melanjutkan kuliah S-2 dan S-3 di al-Azhar. Mudah-mudahan sebelum engkau kembali ke Kairo, Allah pertemukan engkau dengan ayahmu.”

Kali ini aku tak tahan lagi. Aku peluk anakku. Aku peluk ia erat sekali. Aku tak bisa berkata apa pun. Hanya air mata yang terus tumpah.

Setelah sekian lama, Adly berkata, “Adly sekarang jadi salah seorang ustaz di pondok pesantren. Adly juga menjadi imam rawatib di salah satu masjid jami di Lombok. Selain berdakwah ke berbagai kota, Adly juga menjadi pembimbing ibadah haji dan umrah,” tuturnya.

Hatiku begitu bahagia dan bangga. Anak yang kusia-siakan kini sudah menjadi orang yang berguna.

Aku minta Adly menyambungkan telepon ke mamanya.

“Assalamualaikum, Ma. Mama tahu, Adly sekarang dengan siapa? Doa Adly dan Mama dikabulkan Allah Adly bertemu ayah di Masjid Nabawi. Ini, ayah mau bicara dengan Mama.”

Lama aku dan Sayyidah terdiam.

“Assalamualaikum, Sayyidah,” suaraku bergetar.

“Walaikumussalam,” terdengar suara lembut yang kukenal 20 tahun lalu di seberang sana.

“Sayyidah, masih bolehkah aku bertemu denganmu? Aku hanya ingin mencium tanganmu dan mengucapkan permohonan maaf.”

“Terbalik, Mas. Sayyidah yang meminta maaf. Mungkin selama ini Sayyidah belum bisa jadi istri yang baik. Biarkan Sayyidah yang mencium tangan Mas Fatih.”

Aku menggigit bibir. Namun, air mata ini terus saja menderas.

“Pulang umrah besok, aku akan langsung ke Lombok. Aku minta diantar Adly.”

“Semoga Allah berikan kepada kita umur yang panjang dalam sehat dan taat kepada Allah.”

Namun, keesokan harinya, hanya tiga jam sebelum kami kembali ke Tanah Air, ada telepon masuk ke Adly. Isinya mengabari bahwa mamanya terkena strok, pembuluh darah pecah. Ia langsung dirawat di rumah sakit. Sampai saat ini belum sadarkan diri.

Aku terkejut dan sangat khawatir. Ya, Allah, izinkan aku menemui istriku dan meminta maaf atas segala kesalahanku.

Perjalanan Jeddah-Cengkareng yang hanya delapan jam terasa begitu lama. Ditambah transit tiga jam, kemudian terbang Cengkareng-Lombok selama dua jam. Sepanjang perjalanan dari Jeddah sampai Lombok, aku sama sekali tak bisa memicingkan mataku. Bayangan buruk berkali-kali menghantuiku.

Begitu mendarat di Bandara Internasional Lombok (BIL), Praya, aku dan Adly langsung ke rumah sakit. Istriku masih koma. Adly langsung memeluk mamanya dengan penuh kasih sayang seraya melantunkan berbagai macam doa.

Sejenak aku terpaku. Namun, segera aku cium tangan istriku. Wanita mulia yang telah kutinggalkan begitu saja hanya karena dorongan nafsu. “Maafkan aku, Sayyidah,” bisikku di telinganya. Namun, ia sama sekali tidak merespons.

Baca juga:  Permintaan Terakhir

Selama lima hari, istriku koma. Dokter melakukan berbagai upaya untuk mengobatinya. Namun hasilnya nihil.

Hari keenam, tiba-tiba tangannya bergerak. Segera kugenggam tangannya. “Sayyidah, maafkan aku, sayang.”

Ia menjawab dengan isyarat. Tangannya menggenggam jariku.

“Cepat sembuh ya sayang. Aku ingin kembali hidup bersamamu dan anak kita.”

Namun, tiba-tiba air matanya meleleh dari matanya. Dan pegangan tangannya kembali melemah.

Ia kembali koma. Dan dua hari kemudian meninggal dunia, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun kepadaku maupun Adly.

***

Rindu di Tangkai SenjaSenja makin tenggelam dalam muram. Mentari kembali ke balik malam. Angin seakan berhenti berdesau. Memagut hatiku yang kian galau.

“Ayah, mari kita pulang. Sebentar lagi gelap,” Adly menyentuh bahuku.

Untuk kesekian kali aku memeluknya. Air mataku berderai.

“Maafkan aku, Nak. Ayah sangat berdosa kepadamu dan mamamu.”

“Adly sudah memaafkan Ayah. Dan mama pun, Adly yakin sudah memaafkan Ayah. Kita hidup menjalani takdir yang sudah Allah gariskan. Tugas kita berikhtiar. Dan Ayah sudah berikhtiar maksimal untuk menemukan mama dan Adly dan merajut kembali bangunan keluarga kita yang sempat rapuh. Tapi manusia berencana, Tuhan pun punya rencana. Dan rencana Tuhan selalu yang terbaik.”

Adly mencium tanganku. “Adly selalu bangga dengan Ayah. Dulu, sekarang dan se lamanya. Itu yang selalu mama ajarkan kepada Adly.”

“Mama selalu bilang, Ayah adalah cinta pertamanya. Ayah adalah satu-satunya laki-laki yang beliau kenal dalam hidupnya. Ayah melamar mama, saat mama nyantri di Pondok Pesantren Gontor. Kata mama, Ayah tidak mau menunggu sampai mama lulus dari pesantren karena takut mama disunting anak Pak Kiai. Ketika akhirnya Ayah berpaling kepada wanita lain, mama tetap membanggakan cinta Ayah dan menyimpan nama Ayah di lubuk hatinya yang paling dalam.”

Mendengar ucapannya, aku kembali tersedu. Kembali kupeluk anakku, sambil memandang makam yang masih merah itu. “Istriku, terbuat dari apakah hatimu? Bahkan intan permata pun tidaklah semulia itu. Seandainya saja Allah izinkan aku sehari saja menemanimu, ingin kucium kakimu dan kulayani engkau sepanjang waktu.”

“Ayah, Adly yakin mama tersenyum di alam kuburnya. Ia ingin Ayah bahagia. Dan ia menunggu Ayah di pintu surga.”

Adly meraih tanganku. “Sekarang saatnya kita pulang. Besok Adly antar Ayah ziarah ke makam mama. Kita berdoa bersama-sama untuk mama. Semoga Allah bahagiakan dan muliakan mama di alam barzakh.”

Aku melangkah perlahan. Sekali lagi kutengok makam istriku.

“Selamat jalan, cahaya mataku. Aku akan selalu merindukanmu dalam sunyiku dan doa-doaku.”

Masjid Nabawi, Madinah, 2 Syawwal 1439 H

Irwan Kelana adalah cerpenis, novelis, dan wartawan Harian Republika. Ia telah menerbitkan sekitar 20 judul buku, baik novel, kumpulan cerpen, biografi maupun buku-buku Islam. Lebih dari 10 kali memenangkan lomba menulis novel, cerpen, karya tulis, dan artikel tingkat nasional. Ia juga aktif memberikan pelatihan jurnalistik dan sastra di dalam maupun luar negeri.


[1] Disalin dari karya Irwan Kelana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 6 Januari 2019