Kota Kenangan

Karya . Dikliping tanggal 27 Oktober 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

Kota itu memang bernama Kenangan. Sebuah kota kecil, dengan kereta kuda, jalanan paving, dan kursi-kursi besi di taman. Orang-orang datang menuju Kota Kenangan dengan kereta kuda, memarkirknya di tepi taman kota, kemudian menuju kedai kopi atau kedai makan yang bisa ditemui di mana saja di sepanjang jalan utama. Beberapa datang melalui laut, perahu-perahu berwarna-warni yang menyeberang tanpa suara dari pusat ibu kota hanya 25 menit. 
Kota Kenangan memiliki tiga musim: musim luka, musim cinta, dan musim tawa. Musim luka terjadi pada bulan antara Mei-September, ialah saat para nelayan menghentikan kegiatan melainnya akibat angin dan badai. Mereka diam di rumah, sementara para istri dan anak berhemat. 
Beberapa anak gadis pergi ke jalanan menjajakan bunga untuk menambah uang jajan. Anak lelaki membuat mainan kertas dan menjualnya di taman kota. Para istri mencari tambahan penghasilan dengan merajut dan dijajakannya dengan wajah muram di terik matahari. Selain harus bekerja ekstra keras, para istri harus bersiap melayani para suami lebih sering lagi. Para suami yang tidak bekerja biasanya akan melakukan kegiatan seksual lebih sering daripada saat mereka sibuk melaut. Dan hidup menjadi demikian berat. Anak-anak pun kehilangan sebagian waktu bermain, mereka lebih sering menjajakan jualan. 
Adapun musim cinta jatuh pada bulan Oktober-Februari. Angin tidak terlalu kencang pada musim ini, tetapi dingin yang berhembus dari utara begitu menusuk tulang. Biasanya kabut lebih sering muncul pada jam-jam seharusnya tepat untuk menyesap kopi panas. Pagi berlangsung lebih lama dari yang seharusnya. Hujan sering turun dalam volume sedang namun tempo lambat berupa rinai. Inilah musim cinta, para pelancong datang untuk menikmati sensasi kabut dan udara dingin yang menusuk. Pasangan-pasangan menjadi lebih mesra, dan cinta menjadi satu-satunya hal yang pantas diperjuangkan. 
Musim tawa hanya berlangsung singkat: Maret-April. Di belahan bumi lain masa ini diberi label musim semi. Tapi, tidak di Kota Kenangan. Sebab pohon dan bunga selalu tumbuh sepanjang tahun, hanya warnanya saja yang berubah mengikuti sengatan matahari. Musim tawa adalah ketika para penjudi dan petaruh memenuhi Kota Kenangan. Mereka datang dari berbagai belahan negeri untuk melangsungkan hajat bersama: berjudi. Pada saat itu seluruh penginapan berbagai kelas penuh oleh lelaki. Mereka mengisap cerutu, menenggak bir dan tertawa-tawa dengan tawa paling keras yang pernah ada. 
Dari jendela-jendela yang terbuka di lantai dua kedai minuman dan rumah-rumah judi, tawa mereka membahana, menggema, memenuhi udara Kota Kenangan. Di antara tawa-tawa itu kadang terselip rintih kecil perempuan penghibur yang menghidangkan bir serta menari pada jam tertentu. Perempuan yang memanen rezeki dalam rintih tak tebaca, dua bulan saja. 
Beberapa tahun terakhir ini, mereka mengalami perubahan sistem dan pola tawa. Pada musim tawa selalu terjadi pemilihan dewan kota. Mereka dipilih setahun sekali oleh rakyat yang memilih berdasarkan popularitas mereka. Sedangkan wali kota dipilih lima tahun sekali, dan pertaruhannya akan jauh lebih besar daripada dewan kota. Dewan kota jumlahnya hanya 10 orang saja. Setiap orang mewakili seribu penduduk berbagai usia. Maka setiap awal musim tawa akan selalu terjadi kampanye diam-diam ke rumah-rumah penduduk, kedai-kedai kopi, taman-taman, juga rumah bordil dan rumah judi. 
Bisik-bisik telah dimulai di beberapa kedai kopi. 
“Anda harus memilih saya, Tuan Don,” bisik Tuan Mimikri di antara cerutu dan anggur merah dari tong yang dituang dengan kran kayu warna hitam. 
“Hmm… boleh saja, tapi…” Tuan Mimikri mendekatkan wajahnya ke telinga Tuan Don sambil menempelkan sebentuk kantung bernama merah. Suara kerincing pelan tertangkap Tuan Don, lalu dia melesakkan kantung itu begitu saja ke dalam mantel tebalnya. 
“Saya pasti bisa memberi Anda kenikmatan yang lain. Ini hanya beberapa keping uang emas. Bukankah Anda menyukai Nona Lusia yang pandai menari salsa?” 
“Oh, itu soal kecil. Perempuan selalu suka perhiasan dan pakaian indah, aku bisa mendapatkannya tanpa bantuan Anda, Tuan Mimikri. Yang saya ingin tahu, mengapa saya memilih Anda? Apa yang akan Anda lakukan jika menjadi dewan kota?” Tuan Mimikri segera memasang posisi tegak, sedikit senyum tersungging, dan menampilkan wibawa seorang calon dewan kota. 
“Sebagai penduduk asli Kota Kenangan, saya mengetahui rahasia bahkan yang paling rahasia. Dan saya Jamin, calon anggota dewan kota yang lain tidak punya informasi ini. Mereka rata-rata hasil perkawinan campur, asimilasi. Atau pendatang yang telanjur jatuh cinta pada kota kita ini. Mereka semua oportunis. Saya mencintai kota ini sebab seluruh keluarga saya lahir di sini, nenek moyang saya lahir di sini, dan saya memahami sejarah serta penduduknya lebih dari siapa pun. Boleh dikata, darah yang mengalir dalam tubuh saya, seratus persen adalah…” 
Tuan Don menyesap anggur merah lebih banyak dan mendehem. 
“Tolong perhatikan pertanyaan saya semula, Tuan Mimikri.” 
Tuan Mimikri gelisah sesaat, kemudian segera menguasai diri berkat pelajaran kepribadian yang disesapnya di ibu kota, pada sebuah lembaga bernama John Estrada Powers. la segera memperbaiki letak dasi dan jas yang terseterika dengan rapi. 
“Hmmm, baiklah. Saya akan… hmm… sebagai dewan kota saya akan memperpanjang musim tawa, agar musim luka lebih pendek sehingga seluruh penduduk Kota Kenangan bahagia lebih lama.” 
Tuan Don manggut-manggut. Mengisap cerutu, menenggak anggur, dan kembali manggut-manggut. Tuan Don adalah tokoh dari ibu kota yang selalu datang ke Kota Kenangan setiap musim tawa. la membuang berkantung-kantung uang emas untuk bersenang-senang. Kadang ia ditemani beberapa penari salsa, tapi lebih sering ia memanggil Nona Lusia untuk menari bersama, atau menari sendiri. Tuan Don biasanya hanya memandang puas dan terpesona pada gerakan gemulai nan ritmis pada tubuh ramping Nona Lusia. 
Tuan Mimikri menunggu respons berikutnya dari Tuan Don. Tapi sang tokoh ibu kota itu justru membayar bil dan pergi. la tidak berjudi seperti biasanya, juga tidak mencari Nona Lusia. la berjalan mengenakan topi bowler berwarna hitam sambil masih menggigit cerutu. Tuan Mimikri mengikuti gerak tubuh Tuan Don dengan ekor matanya, namun bayangan itu segera lesap bersama tikungan jalan. Ia menjentikkan jemarinya, seorang lelaki berbadan kurus –sepertinya anak buah– muncul tergopoh-gopoh. Tuan Mimikri membisikkan sesuatu ke telinga lelaki kurus, lalu si lelaki kurus keluar dengan terburu-buru. 
Lelaki kurus tersebut bernama Rembaka. Tugasnya melayani Tuan Mimikri untuk segala keperluannya. Ia sudah tujuh tahun mengabdi pada Tuan Mimikri yang memiliki banyak kedai dan beberapa kapal penyeberangan. Juga belasan kereta kuda dan rumah bordil. Rembaka berjalan terburu-buru hendak mengejar ke mana gerangan bayangan tubuh Tuan Don, tetapi rupanya ia kehilangan buruan. Cepat benar orang itu pergi, tutuknya dalam hati. 
***
Kota Kenangan, musim tawa masih berlangsung. Tetapi hari ini tak ada tawa. Berita duka selalu menyebar lebih cepat dari angin. Kota kecil yang selalu indah dan tenang itu tiba-tiba berdarah. Sesosok tubuh tergeletak tak bernyawa pada lantai marmer. Tubuh indah itu menjadi tak indah lagi, bau anyir dan warna merah membuat para perempuan menjerit. Beberapa perempuan bahkan menangis tersedu sebab mereka mengenal korban begitu dekat. 
Para lelaki segera memasang barikade. Polisi kota didatangkan. Kota Kenangan menjadi tegang. Ini bukan kecelakaan, tetapi pembunuhan. Demikian dengung beberapa orang. Para awak media lokal berdatangan, memotret korban, dan lupa pada etika berita. Mereka berebut mendapatkan momen terbaik. Berita buruk adalah berita baik bagi kami, begitu dalam hati mereka mendengung. Tubuh tak bernyawa itu milik Nona Lusia. 
***
Kota Kenangan bukan kota istimewa lagi. Tetapi telah lama kota ini dibangun dengan konsep kota wisata untuk bersenang-senang dan hidup nyaman. Lihatlah, kursi-kursi dan taman kota, dan pepohonan, dan fasilitasnya. Sebuah perpustakaan kota berdiri megah di antara toko suvenir dan kedai kopi, dengan koleksi ratusan ribu buku. Gedung kesenian tersedia untuk menampilkan berbagai atraksi, tempat rakyat berbagai kasta bersuka-cita. Pada malam-malam libur selalu dipenuhi para penonton dari dalam kota maupun para wisatawan. 
Tersedia pula rumah sakit dengan peralataan memadai. Sekolah kejuruan dan umum tersedia dengan guru-guru lokal maupun impor. Juga sebuah museum kota yang menceritakan asal muasal Kota Kenangan. 
Meski tak serba besar namun serba ada, itulah kebangaan penduduk Kota Kenangan. Tidak gemerlap namun kombinasi seluruhnya menyenangkan. Memang belum sempurna, masih ada musim luka yang membuat getir penduduk. Tetapi apa daya, itu semua kehendak alam. Badai dan gelombang tinggi adalah kehendak Tuhan. Dan luka adalah penyeimbang bagi alam semesta agar berotasi sesuai kodratnya, gelap dan terang, suka dan duka, tangis dan tawa. Semacam keadilan alam semesta. 
Wali kota yang mendengar berita kematian seorang penari salsa terkenal segera meluncur. Para polisi memberi kesempatan pada wali kota untuk menyaksikan jenazah Nona Lusia. Tiba-tiba tubuh wali kota itu bergetar. Sedu sedan perlahan mengundang beberapa kepala menengadah dan berpaling, menguar tanya. 
“Pak Wali Kota menangisi jasat Nona Lusia!!?” 
“Ada apa gerangan?” 
“Bukankah mudah ditebak?” 
“Ya, mungkin saja mereka terlibat asmara.” 
“Bukankah Nona Lusia simpanan Tuan Don?” 
“Sepertinya begitu, tapi entahlah.” 
“Tetapi sudah jamak, perempuan cantik dan tenar seperti Nona Lusia menjadi gundik dari banyak tokoh sekaligus. Dia bahkan bisa menjadi mata-mata ganda.” 
Begitulah, dengung itu terus menebal laksana bola salju menggelinding dari kedai ke kedai, dari jalanan ke jalanan, akhirnya menyebar ke beberapa kota lainnya. Inilah pembunuhan pertama kali sejak Kota Kenangan terukir dalam manuskrip sejarah. Musim tawa belum usai namun duka telah menggelapkan seluruh kota hingga kelabu. Bahkan langit pun tak rela mencerahkan diri. Beberapa kedai kopi kehilangan pembeli. Beberapa wisatawan membatalkan kunjungan. Betapa kematian telah mengubah sebuah wajah kota. Dan musim luka telah bersiap mengambil alih kekuasaan. 
***
Wajah wali kota nan sendu terpuruk sendiri di dalam kantornya yang megah. Ia menatap layar beberapa sketsa berisi berbagai pose Nona Lusia Penari itu telah disiapkan untuk menduduki posisi wali kota empat tahun ke depan. 
Pak Wali Kota baru saja menjabat setahun pada masa kedua pemilihannya. Regenerasi telah disiapkannya, dan Nona Lusia menjadi tokoh yang disembunyikan setahun ini. Kepopulerannya sebagai penari salsa diharapkan sukses mendulang para pemilih. Beberapa agenda seting telah disiapkan agar perempuan cantik berusia 36 tahun itu dapat mengambil hati para kuli tinta. Dana besar telah disiapkan agar kelak, Pak Wali Kota tetap dapat mengendalikan Kota Kenangan melalui tangan Nona Lusia. 
Tetapi duka tak boleh terlalu lama. Pak Wali Kota segera menunjuk tim investigasi. Siapa yang berhubungan terakhir dengan Nona Lusia kini telah duduk antre di ruang interogasi kepolisian kota. Tak luput dari jeratan: Tuan Don dan Tuan Mimikri. Keduanya tengah sibuk berbicara dengan para pengacara untuk meloloskan diri dari jeratan sangka. 
***
Di sebuah kedai yang tetap buka dengan diam-diam, seorang lelaki tengah menenggak champagne. Ia seperti tengah merayakan sesuatu. Tapi, ia sendirian saja. Lelaki kurus itu melesakkan topi bowler-nya dan tersenyum puas. Namanya Rembaka. la tengah berdoa melalui gelas champagne-nya agar jeruji besi segera dipenuhi para terdakwa pembunuhan Nona Lusia. Dan, empat tahun adalah waktu yang cukup untuk menampilkan citra diri sebaik-baiknya sebagai calon wali kota. Bukankah kaum proletar Kota Kenangan mengenal baik dirinya, yang dahulu hanyalah tukang parkir kereta kuda? 
WINA BOJONEGORO, pegiat Komunitas Susastra Nusantara. Buku cerpennya: The Souls, Moonlight Sonata: Korsakov; The Souls Fantasia; dan Negeri Atas Angin
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wina Bojonegoro
[2] Perah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” pada 26 Oktober 2014
Beri Nilai-Bintang!