Kota-Kota Gaib

Karya . Dikliping tanggal 9 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos
BANYAK sudah kusebut kota-kota kecil di tanah air kita, membincang, membilang-bilangnya, dengan hasrat besar untuk pertumbuhannya yang lebih baik. Bukan maksudku hendak melarikan diri dari kenyataan, kalau sekarang kubincang kota-kota lain tak kasat mata. Sebagian mungkin tak percaya sebagaimana Marco Polo dianggap kelewat mabuk menggambarkan kota-kota imajinernya. Tapi ketahuilah, dengan itu ia meletakkan dasar terbaik bagi arsitektur sebuah kota, bahkan –ibarat Kisah 1001 Malam—ia berhasil menghibur Si Penakluk kaum Tartar, Kublai Khan, untuk tak serta-merta naik ke atas pelana. Biarlah Khan yang Mulia tetap menyarungkan pedangnya.
Dengan membayangkan kota-kota itu ada, dan membincangnya dari waktu ke waktu, pada hakikatnya mereka menunda penaklukan yang berbahaya. Baik Marco yang antusias tapi sabar (para panglima Tartar mungkin mengejeknya sebagai pembual), maupun Khan yang membiarkan dirinya hanyut dalam arus-percakapan siang-malam (membuat prajurit di tapal batas merutuk geram karena tak kunjung menerima perintah penaklukan), sama-sama telah memberi keselamatan dan keberkahan.
Bukan mengemis pemakluman jika kukatakan ini pula hakikat aku bercerita sekarang. Peralihan kota-kota nyata, sangat nyata, ke kota-kota gaib tak kasat mata tentu akan dianggap mengada-ada. Padahal selama ini ia bukannya tak ada melainkan terlupa atau dilupakan. Ya, ya, kota-kota itu mesti dihormati juga bila kita membangun kota-kota nyata sandaran manusia. Ketahuilah, jalan yang kita bangun, pemukiman yang dibuka, tiang-tiang ditegakkan, bisa saja telah merampas teritori mereka di tepi sungai yang dibendung, hutan dibabat atau gunung yang dipapas. Untuk itu semua mestinya kita punya cara, sekecil apa pun. Aku sendiri menghormatinya dengan cara mengingat masa kanakku, ketika ayah-ibuku melarangku kencing di belukar atau pokok pisang, sebab katanya, ”Nanti terkencingi kepala makhluk halus, kau bisa sakit! Hormatilah mereka sebagaimana mereka hormat akan kita…”
Jika kencing tak tertahankan, seketika itu juga kami diajari minta izin dengan sedikit melagukan, ”O, orang halus, permisi hamba numpang kencing, mohon menyisih, menyisih…”
Dan pada waktu tertentu saat ayah-bu melepas penat setelah seharian di ladang, mereka bercerita juga tentang kota-kota orang halus yang menggugah keingintahuan.
“Percaya atau tidak, hanya sepelemparan batu dari batas ladang kita arah ke lembah –ya, persis dekat dua batu besar itu—adalah kampung urang bunian. Orang halus penghuni hutan tapi hidup sehari-hari sebagaimana kita hidup. Mereka berladang membuka huma, membangun pondok dan rumah, serta menjual hasil ladangnya ke pekan kampung kita, ayahku membayangkan apa yang ia ceritakan sambil mengisap cerutunya dengan nikmat.
Ibuku membenarkan. “Jika pasar terdengar ramai dibanding biasanya, itu pertanda urang bunian telah ikut berjual-beli.”
“Bagaimana cara mengetahuinya, Bu?”
“Pasar menjadi lebih ramai,” ulangnya.
Dan ayah kembali berkata, “Tentu tak hanya satu kampung bunian di hutan, tapi jelas yang dekat ladang kita ini paling ramai. Menurut terawang Angku Satin, itu persimpangan kota kecil yang terhubung dengan kota-kota lain agak ke pedalaman.”
Aku adik-beradik beserta kawan sama besar, sering  ngelangut membayangkan kota urang bunian yang diceritakan ayah. Jalan-jalannya melingkar di atas bukit, turun ke lembah, mengular dalam kabut, lalu muncul di atas sungai disambut lengan jembatan yang terulur manis serupa bayangan negeri liliput. Namun, demi mengingat ucapan ayah merujuk simpang-simpang yang sibuk, kami pun lantas berandai keras sedikit: jembatannya kawat, tiang-tiang baja, jalanannya padat hingga ke pusat kota. Ayah memang lihai menafsir kembali percakapan Angku Satin di lapau kopi. Maklumlah Angku Satin dianggap orang pandai yang bisa membaca kata batin.
Bersama Angku, ayah sering bemain domino hingga larut. Kami sendiri, di senja hari, sering mencium wangi bunga sangat sedap—semacam aroma bakung—di kaki ladang hingga ke batas kampung, dibawa angin semilir. Konon itulah saat orang bunian menyambut malam dengan menaburkan kembang sehingga jalanan kota mereka semerbak di bawah neon dan bintang-bintang. Pada masa tertentu, ayah bercerita pernah mendengar bunyi gendang bertalu dan suara orang bertampik-sorak di dekat dua batu hitam arah ke lembah. Itulah, kata ayah, saat urang bunian mengadakan pesta. 
Berkat cerita ayah, bertahun-tahun lamanya kota urang bunian bersemayam di dalam kepalaku. Tapi setelah dewasa dan pergi meninggalkan kampung, bayangan itu berangsur pudar. Sampai suatu ketika, awal aku tinggal di Jogja, pada satu sore kudengar suara genderang di kejauhan. Baur, antara bunyi kendang, terompet, perkusi, dan pluit serta pekik sorak setengah membahana. Makin lama makin mendekat sampai aku dapat menangkap dengan lebih jelas bunyi rentetan alat musik pada semacam kelompok marching band. Namun iramanya terasa berbeda dengan yang biasa dimainkan anak sekolah atau barisan tentara. Irama lawas dengan aura yang terasa lain sekali.
Ketika hari berikutnya, dan berikutnya lagi—anehnya pada jam yang nyaris sama—suara itu kembali bergema, aku mulai tak bisa menahan diri. Aku teringat cerita ayah tentang suara-suara jauh di lembah. Maka aku mencoba mencari tahu di mana gerangan sumber bunyinya. Kudatangi sekolah yang kemungkinan punya kegiatan ekstra marching band, tapi suara itu menghilang dan aku hanya mendapati pada sekolah yang terkunci.

Beberapa waktu kemudian, barulah aku mendapat penjelasan dari seorang penyair tua Jogjakarta. Menurut dia, bunyi itu selalu ada, muncul sewaktu-waktu tak terduga. “Semacam kasunyatan; pantulan gema dari suara-suara genderang masa lampau,” katanya pelan.
“Roh para pejuang?” aku mencoba menerka.
“Naaaah… Itulah!” wajahnya semringah. “Kita tahu, banyak pejuang dan rakyat biasa yang meninggal ditembak Belanda pada masa agresi dan revolusi. Jiwa yang pergi tidak benar-benar pergi, apalagi dalam kematian masal dan tak wajar. Jadi, nuwun sewu, itu membentuk suara-suara yang bergema dipantulkan bukit-bukit batu dan dinding kota.”
Saat itu aku merasa bahwa di dunia ini bukan hanya ada kota yang wujudnya bisa diraba, namun juga ada kota yang tak terlihat mata terbuka. Penduduknya pun ada yang terdiri atas suara-suara yang tak pernah padam meski dilenyapkan atau dibungkam. Aku pernah membaca sebuah cerita tentang sebuah kota di mana penduduknya ada dua macam: yang kelihatan dan tak kelihatan. Yang tak kelihatan muncul dengan sendok dan garpu menari di meja makan tapi tubuhnya tiada, membuat seorang petugas sensus nyaris kehilangan akal mencerna apa yang sesungguhnya telah terjadi di kota itu. 1
Ah, kegaiban manakah yang bukan bagian dari dunia? 2
***
Ilustrasi oleh Bagus
KEGAIBAN, karena bagian dari dunia, maka aku percaya bisa ada di mana-mana. Itulah yang kutemukan dalam perjalanan dari Manado ke Palu. Saat itu bus Harvest yang aku tumpangi sudah dua hari malam menyusur jazirah Celebes yang lengang. Dan tepat menjelang kelebut senja, kami melewati kawasan yang pada zaman Belanda dijadikan kebun kopi.
Lampu bus menyorot jembatan tua berwarna kuning dan di sampingnya tegak sebuah tugu sederhana, juga berwarna kuning. Sang sopir, Deny Pontolan, ditemani anaknya sebagai kernet, membunyikan klakson tiga kali sambil memelankan laju bus. Tak lupa ayah dan anak itu membungkukkan badan dengan takzim.
Demi melihat sopir seperti melakukan ritual tertentu, refleks ujung mataku melirik seorang opa yang duduk di bangku sebelahku. Separo lebih penumpang memanglah opa-opa dan oma-oma, sehabis berkunjung ke gereja Sentrum di Manado. Keingintahuanku tampaknya tertangkap oleh si opa, seorang pensiunan tentara yang dipanggil rekan-rekannya sebagai “Mayor”. Maka ia langsung cerita tanpa kuminta. 
“Jembatan ini sekaligus gerbang masuk ke sebuah kota gaib,” katanya setengah berbisik.
“Bagaimana bisa, Pak Mayor?” tanyaku sekenanya, tapi penuh pengharapan.
Lama ia menarik napas. Barulah setelah bus meninggalkan jembatan ia merasa lebih tenang angkat suara. Aku sendiri belum terlalu menyimaknya sebab sekali lagi mataku melirik ke kaca belakang melihat tugu dan jembatan tua yang perlahan menghilang ditelan tikungan.
“….Jadi begitulah.” Aku tersentak mendengar suara opa Mayor; tak tahu apakah ungkapan itu untuk memulai atau menutup ceritanya.
Supaya tak usai, cepat-cepat aku sela dengan menyebut tulisan yang barusan kubaca di tugu, “Nama kotanya Uwentira, bukan begitu, Pak?”
“Yak, betul!” Syukurlah ceritanya ternyata baru dimulai. “Pada zaman Belanda dulu, jembatan tadi ada atapnya. Beberapa kali terjadi oto yang masuk tak keluar lagi. Hilang begitu saja. Bukan jatuh ke jurang karena pasti akan terlihat mata telanjang atau terdengar berdebum menimpa pohon. Tapi ini lesap, lenyap tak berjejak. Itulah saat oto dan penumpangnya masuk ke kota Uwentira…” Diam sejenak. Mesin bus melenguh di tanjakan. 
Laki-laki gempal ubaban itu mulai lagi. “Jelaslah jembatan itu menjadi penghubung dua alam. Hanya kita tak tahu kapan portal ke alam gaib terbuka dan kapan menutup. Sebagian orang mengingatkan bahwa portal ke Uwentira akan terbuka saat tengah hari, larut malam, atau senja raya pas saat kita lewat tadi. Untunglah kita tak tersesat.”
Kitorang su klakson tiga kali, Mayor, dan membungkuk hormat!” sahut si sopir. Tak ada maksud bercanda dalam nadanya.
“Ya, ya, Anda pasti lebih paham karena saban waktu lewat jalan trans,” kata si Mayor. Ia lantas meminum air mineral.
Apa pun, ceritanya telah mencuri perhatianku sehingga jalanan di Pegunungan Balaroa yang menembus awan ini kubayangkan berujung ke Uwentira. Sambil terus menyimak Mayor dan rekan-rekannya bercerita aku pun mulai merangkai bayangan kota yang tak terlihat mata, tapi ada, dan benar-benar ada. Kehidupannya, konon, kata Mayor (selanjutnya ia mengutip cerita “orang pintar” kenalannya), jauh lebih maju daripada kota-kota lain di tanah air.
Jalanannya lebar, kata Mayor, simpang demi simpang dipenuhi lampu warna-warni. Taman kota dibiarkan merimba dengan sulur-sulur liar tapi tertata. Pohon-pohon besar tumbuh di tiap persimpangan, cabang-cabangnya melengkung seperti mengapung di cakrawala. Sebagian dahan dijadikan tempat menggantung ayunan dari papan putih bercahaya. Kendaran melintas di bawah ayunan itu, dan penghuni kota yang bermain ayunan kerap menjatuhkan dirinya ke salah satu kendaraan yang melintas, dan dalam sekejap ia telah menjadi bagian dari penumpang yang melaju. Namun secepat itu pula bisa terjadi sebaliknya. Penumpang tiba-tiba melompat dari kabin kendaraan ke ayunan yang kosong, dan segera dengan itu ia menjadi anak-anak yang bermain atau orang dewasa yang mengaso, bersenandung bersama burung-burung. Penghuni Uwentira memang cepat berubah peran; dari pembeli jadi penjual dan sebaliknya; yang terbahak mendadak terisak, yang terisak cepat tersenyum; mereka yang memandikan ternak akan secepatnya mengotorinya kembali dengan memasang bajak di tengah lumpur, begitulah seterusnya. 
Yang menarik, lanjut Mayor, bangunan Uwentira tumbuh dengan arsitektur serupa cangkang telur, kecuali warnanya dominan kuning keemasan. Ada serupa telur ditegakkan sehingga terlihat lonjong, ada yang direbahkan sehingga tampak menggembung. Ada pula dimiringkan, mirip posisi berdiri patung Tosalagi –dalam kepercayaan orang Kaili. Pintu dan jendela-jendelanya berderet di tiap lengkungan, sehingga tak hanya untuk menerima cahaya tapi langsung mendapat curahan hujan pertama, sehingga debu terbasuh dengan sendirinya oleh air atau embun yang menetes sebelum fajar. 
Bukan hanya fisiknya serupa telur, bahan bangunannya pun demikian: lunak serupa cangkang, namun lentur menghadapi getaran. Campuran antara larutan kerang, tanah liat dan api pembakaran. Jika terjadi retakan, apakah karena goncangan atau panas berlebih, justru itu yang membuat guratan indah pada bangunan; tercipta alami, dibiarkan, antara satu dengan yang lain tak ada yang serupa. Di celah retakan tumbuh aneka bunga yang semerbak tiap kelebut senja. Bahkan jamur atau cendawan bisa muncul penuh warna.

Baca juga:  Tanah Wakaf

“Begitulah Uwentira ada, dan akan begitu selamanya,” Mayor menutup cerita sambil meyakinkan bahwa kenalannya layak dipercaya. “Dua kali ia jadi tamu kehormatan di sana.”

Di depan, nyala lampu-lampu menyambut kami. Aku berpikir, apakah kami akan memasuki Uwentira? Terlihat sapi-sapi berkeliaran, sebagian tidur di jalan dengan mulut memamah tenang. Beberapa ekor angsa bersuara parau melenggang mencari kandang.
Kernet menghalau sapi angsa-angsa dengan cara memukul-mukul pintu bus sambil bilang, “Hus, hus!” Membuat aku sadar akan kenyataan. O, ini jalanan kota Palu. Sempit dan berdebu. Cepat atau lambat, kota ini akan bergerak mengembangkan dirinya. Dari jembatan Ponolele, pantai Talise, ceruk teluk, pelabuhan, kampus Tadulako, dan tentu akan sampai ke Kebun Kopi di mana Uwentira diyakini berada. Semoga para pengambil keputusan di bawah garis khatulistiwa ini mau berkata di tepi-tepi, “Permisi, permisi, mohon menyisih…”
***

SEHABIS dari Palu yang terletak di bawah garis edar matahari, aku lalu betemu kegaiban lain di Kotabaru, Pulau Laut. Kota ini diklaim sebagai titik tengah tanah air. “Coba lihat dalam peta, tarik garis lintang dan garis bujur pada koordinat, maka Kotabaru ada di tengah,” kata Eko Suryadi, seorang pejabat setempat sekaligus penyair yang biasa disapa Pak Dodo.
Pak Dodo mengajakku menyusuri jalanan Kotabaru dari Tugu Ikan Todak bermoncong panjang, pelabuhan yang dipenuhi tongkang, dan Siring Laut dengan tenda-tenda ikan bakar. Juga ke kompleks makam orang Bajo yang dipenuhi nisan kayu berukur dalam kaca sehingga menjadi mirip piala-piala kemenangan di akhirat. Kami pun menanjak naik ke lereng Gunung Sebatung, dari mana inspirasi lagu “Paris Barantai” tercipta oleh seorang komponis lokal.
Tapi itu semua belum seberapa jauh menarik minatku. Tanpa mengabaikan pesona Kotabaru yang terlihat, hatiku justru tertarik kota lain yang tak terlihat: Saranjana. Konon kota itu terletak di dalam hutan bakau di kuala. Ada yang bilang di lereng Gunung Sebatung dan sebagian yakin ia tegak di puncak namun terhubung jalan lempang ke laut. Aku beruntung sempat mengunjungi Sulaiman. Najam, orang yang dianggap banyak tahu rahasia kota itu. 
Sambil menunggui toko kelontongnya di masa tua, kai atau kakek Sulaiman bercerita, “Saranjana kota gaib yang terbilang besar. Ia maju karena ditopang pelayaran antarpulau.”
Aku menunggu dalam debar.
“Dalam kehidupan nyata, di sekitar Pulau Laut ini ada Pulau Sebuku, Kadapangan, Jatisari, Kalambau hingga Pulau Lari-larian. Di alam sana, pulaunya lebih banyak lagi, sebab bahkan di tiap beting, karang, dan atol, mereka bangun pelabuhan.”
Diam sebentar. “Sesungguhnya, kota macam Saranjana berbatas tipis dengan kita melihat daratan juga seperti turun-naik, kadang tampak kadang tada tampak.”
Bagai diayun bandul waktu, kepalaku membayangkan Saranjana. Dituntut daya tutur Kai Sulaiman yang menggetarkan, kota dengan tiang garam, pelabuhan dan galangan kapal timbul-tenggelam dalam kepalaku. Tiang-tiang berbagai ukuran menyanggah bangunan berundak sepanjang jalan. Berkat perangai cuaca yang berubah-ubah, wujud tiang dan bangunan yang disanggahnya ikut berubah.
Pada musim basah ketika angin tenggara mengangkut aroma terumbu, tiang-tiang itu bukannya tergerus sebagaimana ladang garam, malah kian menebal. Aroma karang dan angin asin menyepuhnya, sehingga tampak seperti habis disemen ulang; tiang-tiang akan memucat-kurus, dinding-dinding menyusut. Kota sepenuhnya bau lumut. Namun musim ini tak panjang, sebab musim mega-mendung, dan kemudian musim hujan, segera tak sabar membasuh kota (ingatkah, Kotabaru – tempat Saranjana tumbuh –adalah kota bamega!). Hanya pelabuhan dan galangan yang tak tergoyahkan, tetap keras dan legam, menanti dan menolak kapal-kapal.
“Karena pembangunannya pesat, beberapa kali warga Saranjana sengaja atau tersesat memesan bahan-bahan bangunan dan keperluan lain ke dunia kita,” kata Kai Sulaiman lagi. 
Ya, kerap terjadi pesanan semen datang dari Batulicin atau Banjarmasin, dibawa truk yang menurunkannya di suatu tempat. Tapi setelah truk kembali ke pelabuhan penyeberangan, tak seorang pun mengerti di mana gerangan sopir habis membongkar muatan. Ketika si sopir ditanya, ia bilang di sebuah gudang di tepian kanal yang dalam. Tak ada yang tahu di mana kanal serupa itu di Kotabaru. Bahkan ketika si sopir diminta kembali ke sana, ia tak tahu lagi di mana gudang dan kanal itu berada. 
“Itu masih untung, beberapa bahkan tak tahu jalan pulang. Ada yang menghilang, tapi lebih banyak ditemukan maju-mundur di jalan buntu atau berputar-putar di sepetak tanah kosong,” Kai Sulaiman memicingkan matanya seolah sedang membatinkan hikmah.
“Dulu, pernah seisi kota ribut karena kapal penyeberangan dari Batulicin ke Pulau Laut dipenuhi kendaraan dan alat berat. Untunglah nyeberangnya malam hari sehingga penumpang dan kendaraan lain tak terganggu. Tapi tak ada yang tahu ke mana gerangan semua itu dibawa. Di kota sekecil ini, jangankan alat berat, warga yang kredit mikrolet pun kami tahu. Ke mana kendaraan dan alat berat itu? Lenyap begitu saja!” Ia geleng-geleng kepala.
Sembari ikut merasa takjub, pikiranku tertuju pada peristiwa ajaib di pulau Jawa. Kau toh pernah juga membacanya. Bus Pahala Kencana dan dua buah truk pengangkut semen beriringan masuk ke hutan Mbongan, Bora. Anehnya, tak sedikit pun bus tergores oleh ranting dan belukar, bahkan rumput di jalan setapak tak ada bekas diinjak ban. Warga sekitar tak terlalu kaget, sebab hutan Mbongan telah lama mereka yakini sebagai lokasi kota gaib. Betapapun polisi membuatnya masuk akal dengan mengatakan si sopir telah salah mengambil jalan pintas, tetap saja orang percaya ada di dunia lain di sebalik dunia tempat kita bernapas. 3
Aku pun teringat seorang kawan di Bali yang memiliki mata ketiga, indigo. Suatu hari ia bercerita bahwa di atas tebing batu yang mengapit Pura Pulaki, Buleleng, terdapat kota leluhur yang makmur. Penjor dan lumbung berbaris rapi dengan atap menyerupai tudung saji, katanya. Tandon-tandon air dan gentong tersedia di tempat umum, dari mana penguin kota bisa langsung minum. Bahkan untuk anjing atau hewan lain tak bertuan tersedia tempat makan yang mudah dijangkau, di bawah pohon atau penutu yang teduh. Jika makanan itu bersisa, air dari kran otomatis mengalirkannya ke dalam kolam, sehingga giliran ikan-ikan dapat makan gratis. Tembang-kidung terdengar sepanjang hari mengiringi penduduk berjual-beli, bertani, atau duduk-duduk di taman yang rumputnya hijau kemilau. 
“Tahu kau?” Ia menyentakku. “Kota itu didirikan Dhang Hyang Nirarta untuk anak gadisnya yang menolak pinangan raja Gelgel. Dan terus ada sampai sekarang. Sungguh, aku telah melihatnya. Terang-benderang.”
***
DARI Pulau Laut yang terpisah tak jauh dari dataran Kalimantan, aku ke Bangka, pulau yang juga terpisah selat sempit dari tanah induknya, Sumatera. Dan kutemukan keajaiban yang sama di sana. Di ujung utara pulau timah itu ada perkampungan Orang Loma atau Orang Adat dalam penamaan setempat. Masyarakatnya hidup seperti biasa, di antara masjid, klenteng, dan gereja. Tapi satu hal tak biasa. Warga percaya bahwa kampung awal mereka yang didirikan para leluhur masih eksis sampai sekarang, meski tak lagi terlihat mata telanjang. Kampung Bubung Tujuh namanya. Bahkan diyakini telah berkembang jadi kota kecil yang tenteram.
Seorang tetua, Alang Jainawi, bercerita padaku suatu petang menjelang senja. Katanya, kampung leluhur Bubung Tujuh ditandai lampu-lampu gantung yang benderang di tepi jalan. Cahayanya kadang memantul ke luar, ke kampung Orang Lom di sekitar Air Abik, Pejem atau Mapur –layaknya kota bayangan. Itulah sebabnya, meski listrik di Bangka kerap padam, orang Mapur dan sekitarnya tenang-tenang saja. Dan, disadari atau tidak, cahaya bahkan ikut menerangi mata batin mereka, sehingga layak pula dianggap sebagai kota dalam jiwa. 
“Jika cahaya kota surut, susut pula cahaya jiwa Orang Lom. Sebaliknya, jiwa mereka lemah –karena beban hidup—cahaya kota leluhur juga terancam pudur. Segalanya akan menyala terang jika terpelihara rasa riang, syukur, dan terima kasih,” kata Alang.
Rupa-rupanya, penghuni kota yang terlihat dan tak terlihat saling menerima dan memberi; antara kota lampau dan kehidupan kini terhubung oleh temali doa, pantangan, dan pamali. Persis cerita Ben Okri dari tanah Afrika, tentang yang hidup dan yang mau, raga di dunia fana dan roh-roh alam sunyata, galib terhubung tanpa rahasia. 4
“Karena itu kami menjaganya tetap nyala. Dengan merawat upacara leluhur, berarti kami merawat jalan dan hubungan rumah-rumah; doa kami minyak yang menyalakan lampu-lampu; sinarnya menyuluh hati kami buat mengarungi semesta,” Alang Jainawi memejamkan mata, mencoba menghayati pemahamannya yang sejati. Aku merasakan getaran dalam dada disertai aura keramat-suci pada matahari yang terbenam di laut Bangka. Benda langit itu kubayangkan ganti berjaga di dunia leluhur Orang Lom. Nun di sebalik galian timah, ladang karet, dan kebun sahang yang merana. 
***
BEGITULAH, kubincang kota-kota tak kasat mata dan kau boleh percaya boleh tidak, sebagaimana aku pun kadang berpikir sesuatu di balik cerita. Adakah Uwentira diciptakan sebagai upaya cuci tangan colonial karena di jembatan Kebun Kopi mereka pernah membantai penduduk lokal, kemudian dikatakan lenyap ke kegaiban? Tidakkah alat-alat berat di Pulau Laut dipesan oleh pengusaha tambang batu bara yang beroperasi jauh di pedalaman, sehingga tak gampang terlihat mata telanjang? Bukankah buldozer yang mengeruk timah Bangka membuat Orang Lom menggigil, lalu menyangkutkan harapan pada bayangan kota leluhur?
Dan pikiran-pikiran lain mengadukku hingga mabuk.
Sebab, ketahuilah, kota-kota gaib sesungguhnya refleksi kota-kota nyata, kota kita yang tak kalah ajaib dengan tata ruang yang lapang dan penuh kemungkinan. Sayang, kita berhasrat memburu dan diburu. Maka, jadilah ia kota yang terus berlari meninggalkan apa pun yang terlihat: bangunan tua, jembatan lama, taman, dan pohon ratusan tahun, alun-alun, los-los pasar, moda angkutan umum, serta segala yang masih bisa diraba dengan sedikit rasa riang dan kenangan. Semua hendak ditinggalkan, diganti dengan yang baru, megah dan besar. Apatah lagi yang tak terlihat? Gema suara yang dibungkam, peta jalur rahasia, jalan-jalan tikus, rute gerilya, galur-galur air bawah tanah, silsilah, darah dan air mata yang mengering diserap dinding kota. Di antara semua itu seperti kudengar nada-nada lantang, bergema, “Yang tak terlihat tak boleh terlihat!” Atau, “Enyahlah hantu dan siluman!” Jauh dari ada masa kecilku dulu, bersahabat dalam lagu, “Permisi, mohon menyisih, menyisih…” ***
Rumahlebah Yogyakarta, 2013 – 2014
Catatan:
1 Lihat Seno Gumira Ajidarma, “Misteri Kota Ningi (atawa Invisible Christmas)”, dalam Saksi Mata (1994)
2 Ungkapan Gus tf Sakai dalam cerpen “Lukisan Tua, Kota Lama, Lirih Tangis Setiap Senja” (1998)
3 Lihat Tribunnews.com, 27 Juni 2012.
4 Lihat Ben Okri, “Doa dari yang Hidup” (1999) atau The Famished Road (2007).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Tersiar di Surat Kabar “Jawa Pos” pada 7 Desember 2014