Kota Mayat

Karya . Dikliping tanggal 30 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

MINGGU lalu, ada bangkai anjing tergeletak di pinggir jalan dekat pematang. Dan hari ini lagi, tapi bukan anjing. Mayat seorang laki-laki ditemukan mengambang di sungai dengan tangan dan kaki terikat. Awalnya mungkin mengerikan. Namun, di tempat ini, karena begitu banyak mayat tergeletak begitu saja hampir setiap minggu, kejadian ini pun akhirnya dianggap biasa.

“Mayat manusia ternyata…”

“Lagi?”

“Ya.”

Begitu kiranya obrolan orang-orang. Singkat dan sederhana. Wajah mereka datar, tidak menggambarkan simpati dan kengerian. Barangkali di tempat lain orang-orang bakal heboh, dan akan timbul dugaan macam-macam. Polisi bakal langsung melakukan penyidikan. Tapi itu tidak terjadi di tempat ini. Biasa saja, bahkan polisi hanya mendeham dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Tuan-tuan dan Nyonya tidak perlu risau, kita sedang bekerja keras mengatasi ini semua. Jadi tenang, semua cukup tenang saja. Minggu depan semoga tak ada mayat lagi karena sejujurnya kuburan di tempat kita ini juga mulai penuh. Jadi sebisa mungkin jaga diri Tuan-tuan dan Nyonya, dan satu lagi; banyaklah berdoa dan jangan lupa makan.”

Ya, begitulah kata pejabat di kota ini melalui radio.

Namun ternyata kejadiannya tak sesederhana itu. Karena hampir setiap minggu selalu ditemukan mayat, entah itu manusia atau makhluk lainnya, tempat ini akhirnya jarang dikunjungi orang-orang dari luar. Banyak perusahaan bangkrut dan sebagian orang mesti jerih payah berkebun untuk bisa makan. Dan akhirnya begitulah, terembus kabar bahwa tempat ini dinamai Kota Mayat oleh orang-orang luar.

Mayat, mayat, ada mayat mengapung… mayat tidur di jalanan. Orang-orang lapar jadi mayat, anjing menggigit manusia, kucing berbusa, anak kurus curi ayam, bayi dijual. Mayat, mayat….

Namun, seperti baik dan buruk yang selalu ada, kejadian di tempat ini juga demikian. Banyak mayat tergeletak tak mesti menyebabkan keburukan. Baiknya adalah setiap orang-orang kelaparan mendadak menjadi manusia yang paling baik. Persaudaraan terjalin karena mereka merasakan hal yang sama. Meskipun miskin dan sering lapar, mereka tak pernah lupa saling berbagi satu sama lain. Bukan apa, karena tak akan ada yang tahu mayat siapa besok yang bakal tergeletak. Barangkali mayatku, mayatmu, atau entah mayat siapa.

***

“Ada mayat lagi di selokan.”

“Manusia?”

“Entah, tapi besar. Barangkali sapi, atau babi.”

“Manusia juga bisa.”

“Tidak, tidak, yang ini besar. Orang-orang di sini kurus semua.”

“Tidak semua, kamu tahu ada mereka, kan?”

“Justru tidak mungkin kalau bagian dari mereka.”

“Lantas?”

“Entah, siapa peduli memang? Toh, itu cuma mayat.”

“Benar juga. Biarkan polisi yang cari tahu, kita cukup cari makan.”

“Nah…”

Ditemukan mayat lagi hari ini. Cukup besar juga, dan ternyata setelah polisi mendeham dan menggeleng, mereka memastikan bahwa itu mayat manusia, tergeletak begitu saja di selokan dengan mulut tersumpal karung beras.

“Mayat manusia ternyata…”

“Ya. Tapi besar juga ya.”

“Bahaya.”

“Ya.”

Kota MayatSelanjutnya, tak seperti hari-hari biasa saat ditemukan seonggok mayat. Hari ini lain, beberapa orang di kota kami mendadak sibuk dan pandangannya itu, pandangan tajam seperti menaruh curiga saat memandang. Berarti kejadian ini mulai dianggap serius, pejabat tak lagi sekadar menenangkan lewat radio, polisi tak lagi sekadar mendeham dan menggeleng-gelengkan kepala. Semua mendadak sibuk mencari tahu. Karena mayat yang ditemukan hari ini adalah bagian dari mereka. Sebelumnya ini tak pernah terjadi, mayat besar baru ditemukan kali ini.

Mayat, mayat, ada mayat besar mengapung… mayat besar tidur di jalanan. Orang-orang kenyang jadi mayat, anjing menggigit manusia, kucing berbusa, anak gemuk kekenyangan, bayi dibeli. Mayat, mayat….

Mayat yang ditemukan hari ini begitu penting. Semua orang mesti berduka dan berkabung tidak terkecuali. Semua kegiatan cari makan harus dihentikan, semua mesti datang ke rumah duka untuk berduka.

Maka berbondong orang-orang di kota menuju rumah duka. Semua tampak mengerikan seperti barisan mayat berjalan yang sedang diawasi malaikat pencabut nyawa dan burung pemakan bangkai. Begitu kurus, mata orang-orang itu sayu, pakaian compang-camping, dan mereka semua diarahkan berbaris rapi selayaknya orang-orang normal.

“Semua mesti berduka tidak terkecuali! Dan selepas ini, jangan harap kami bakal memberi jatah beras lebih untuk kalian. Semua jatah bahan pokok akan kita potong karena kalian sudah berani memberontak.”

Apa maksudnya?

“Saya tahu, satu di antara kalian atau bahkan kalian semua adalah pembunuh!”

Ooo, jadi begitu. Orang-orang kurus-yang seperti mayat berjalan-itu dicurigai sebagai pembunuh mayat yang ditemukan hari ini.

“Tapi sekarang, berkabung dulu!”

Mereka-orang-orang kurus itu-hanya menurut, berbaris macam ular dan semua wajah menggambarkan kesedihan. Wajah sedih itu memang tidak dibuat-buat, barangkali mereka memang benar-benar sedih. Bukan perkara soal mayat yang ditemukan hari ini, itu tidak perlu, yang lebih penting adalah soal nasib dan perut mereka. Hari ini mesti berkabung dan artinya satu hari penuh mereka bakal lebih lapar.

Kota mendadak sepi, semua orang berada di rumah duka itu. Tangis pecah, tangis yang dibuat-buat. Tapi tidak semua, mereka—orang-orang berperut besar—mungkin menangis sungguhan. Terutama keluarga yang ditinggalkan. Apalagi rumah duka ini sangat besar, halaman seluas lapangan sepak bola dan bertingkat empat. Barangkali mereka juga sedih karena rumah besar ini berkurang satu penghuninya. Dan tentu, akan terasa lebih sepi dan sunyi dari biasanya. Tapi baiknya, pejabat di kota ini sepakat akan memberi tunjangan besar kepada keluarga yang ditinggalkan, juga sebagai permohonan maaf karena sebuah kelalaian.

“Tolong, secepatnya ini diusut. Saya ingin tahu segera siapa yang membunuh suami saya,” kata istri mayat yang ditemukan hari ini itu. Ia berkata sambil berkacak pinggang di hadapan banyak pejabat lain. Tubuhnya juga gemuk dan perhiasan miliknya berkilauan memantulkan cahaya lampu.

“Tentu, Nyonya. Segera, masalah ini akan segera kami selesaikan, supaya tidak terulang. Selepas ini kami akan menanyai mereka, bila perlu akan kami gunakan ketegasan supaya ada yang mengaku. Nyonya tenang saja.”

Pimpinan pejabat di kota segera keluar dari ruang tamu menuju luar rumah. Di halaman, orang-orang kurus itu tetap saja berbaris dan pura-pura menangis. Pimpinan pejabat itu lantas berbicara lantang di hadapan mereka semua.

“Siapa!? Siapa pembunuh itu!? Cepat mengaku! Kalau tidak, besok dan seterusnya tak akan ada lagi jatah beras! Biar semua mati kelaparan. Mayat harus dibayar mayat! Pemberontak harus mati atas nama hukum!”

Dalam barisan, orang-orang kurus itu saling pandang satu sama lain. Mereka masih saja diam meskipun atas nama hukum telah dilontarkan.

“Baik, kalau tidak ada yang mau mengaku, saya akan berikan ketegasan saya!” ujarnya geram.

Tiba-tiba ada satu orang kurus yang mengacungkan jari. Semua memandangnya, menunggu.

“Atas nama hukum juga, kita mesti bayar mayat dengan mayat, lapar dengan lapar, tidak boleh tidak! Inilah saatnya! Gunakan sisa lapar terakhir kita!” orang itu bersorak, diikuti oleh seluruh orang kurus yang sebelumnya berbaris rapi. Dari balik baju, mereka mengeluarkan berbagai macam senjata tajam: arit, golok, pisau dapur karatan, dan banyak lagi.

Dan begitulah, hari ini akan menjadi penentu, apakah esok dan seterusnya mayat yang ditemukan adalah mayat besar atau mayat kecil, mayat kurus, atau mayat gemuk. Atau bisa jadi keduanya, dan nama Kota Mayat akan selalu melekat selamanya.

Mayat, mayat, ada mayat mengapung… mayat tidur di jalanan. Orang-orang lapar jadi mayat, anjing menggigit manusia, kucing berbusa, anak kurus curi ayam, bayi dijual. Mayat, mayat. Mayat dibayar mayat, orang-orang lapar marah menuntut kebiadaban mati jadi mayat….

Haryo Pamungkas, lahir di Jember, Jawa Timur. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember. Cerpennya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring.


[1] Disalin dari karya Haryo Pamungkas
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi Akhir Pekan 27-28 Oktober 2018