Catatan Kecil di Pinggiran Kota Padangpanjang

Karya . Dikliping tanggal 1 Juli 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Catatan Kecil di Pinggiran
Kota Padangpanjang

Di pinggiran kota padangpanjang
Seorang anak tengah menulis puisi
Bak lengkung pelangi
Mengibaskan nyanyian riang di kepalanya
“Ibu, aku mencintaimu seperti aku mencintai seluruh
keindahan yang ada di muka bumi”

Di pinggiran kota padangpanjang
Seorang anak tengah membaca puisi
Lalu kemilau cahaya batu-batu cadas meretih, akibat
senja yang begitu jauh
Melintasi jantungnya
“Ibu, rahasiakan aku kembali ke rahimmu”

Di pinggiran kota padangpanjang
Seorang anak tengah melarungkan puisi
Dengan air matanya
Jatuh ke kulit daun
Berumah pada kelopak bunga
Tumbuh di surga. “Ibu, saat kau sakit, aku sepi”

Sabtu, di pembuangan sampah terakhir pinggiran kota Padangpanjang, 2018

Di Pesawat Lion Air
0745, Kutemukan Kau

Di pesawat lion air 0745, kutemukan kau
Meringkuk, pada buku panduan perjalanan
Menunggu seseorang datang melepasmu
Untuk setelahnya melompat keluar
Melepas penat selama berada di buku itu.

Apa yang hendak kau lakukan di sana?
Aneh benar, berumah pada buku panduan perjalanan
seperti ini, di sebuah pesawat dengan pramugari yang
dipoles cantik oleh gincu dan senyum palsu?
Buru-buru kau membalas ocehan tak berujungku
Selepas kau regangkan punggungmu

Bukankah setiap perihal adalah sebuah perjalanan?
Hawa ac yang berpetualang ke kantuk seorang bapak
Awan yang berarak menyelimuti badan pesawat
Air dalam botol yang menuju setengah kosong

Bahkan
Rindu yang berdentang riang
Trubadur dengan nyanyian kelana di bentang ilalang
Nabi-nabi
dewa-dewa
Dan perihal lain
Adalah perjalanan yang begitu tabah
yang tak pernah menuntut kita melakukan perjalanan
yang serupa?
Tapi apa yang hendak kita temu, di ujung setiap per-
jalanan? Sergahku.
Sebelum sempat kau jawab pertanyaan itu
Tiba-tiba kau berjalan memunggungiku
Membuka pintu darurat
Melompat keluar
Mengapung di udara.

Rabu, 2 Mei 2018

Di Antara Padangpanjang,
dan Aku di Batas Kecantikanmu

Apa yang diingat gunung dari hutan?
Barangkali hanya desiran angin, dan tukik terjal sebuah
jurang.

Apa yang dikenang hutan dari hujan?
Barangkali hanya kabut, dan bayangan pepohonan
yang memanjang.

Apa yang disimpan hujan dari gunung, dan hutan
selain dingin yang gigil di antara batas anganku dan
batas kecantikanmu?

Apa yang mungkin disembunyikan angan, hutan,
gunung, kabut, dan hujan
dari batas kecantikanmu?
barangkali hanya puisi ini, yang tengah meringkuk, sam-
bil gemetar kau pandangi.

Makassar, 14 Februari 2018

Jusiman Dessirua lahir di Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, 21 April, mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM). Pegiat Bengkel Sastra JBSI FBS UNM. Alumnus pertama Banjarbaru Rainy Day Literary Fstival, anggota delegasi Indonesia pada Temu Penyair Asia Tenggara dan anggota Dapur Sastra Jakarta. Puisinya termuat dalam berbagai antologi bersama. Alamat email Jusiman89@gmail.com

 

[1] Disalin dari karya Jusiman Dessirua
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 1 Juli 2018