Kota – Peta

Karya . Dikliping tanggal 13 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Kota

Tubuhmu adalah kota
yang tak pernah mau tidur.

Sampai jauh malam
kerap masih kutangkap
gelisah
       para penjelajah
mengetuki pepintu sajak
memohon sekedar jejak

untuk dialamatkan kepada sepi
yang terus berjaga
                  mengisi udara
dengan percakapan hampa.

Jendela terus membuka
menantikan rembulan singgah
menggenapkan silsilah.

Tak ada yang percaya
semua bisa berakhir kapan saja
meski mereka tahu
peperangan yang ganjil
kerap pecah di utara
merapat ke setiap pintu.

Tak ada yang sepakat
malam akan lewat
meninggalkan kisah berkarat.

Tak ada.

Meski sorga jauh
dan tuhan
         dalam selubung kitab
lama tak bernubuah.

Tapi menjelang subuh
tanpa setahu siapa pun
langit akan memejam
untuk sesaat yang purba
yang luput dicatat –

mengembalikan lagi mimpi
menitipkannya kepada
lampu-lampu
              di sepanjang bulevar.

Agar esok hari
tak ada jejak terhapus
tak ada penjelajah yang mati.

Lalu matahari bangkit
mungkin dari arah mana saja
mendudukkan lagi nama-nama
pada asal-usulnya yang muskil

di sekujur lukamu terus berdenyut
di kota yang tak pernah tidur ini.

Peta

Kaki tak pernah
Merasa mengerti
Ke mana tujuan
Perjalanan ini

Sepatu tak merasa
Perlu mengusut
Ke mana sebetulnya
Ia diajak pergi

Jalan tak pernah
Berjanji akan membawa
Mereka sampai pada
Alamat tujuan

Kaki dan sepatu
Saya pun tak paham
Bagaimana membaca
Peta buta musim ini

Ook Nugroho lahir di Jakarta, 7 April 1960. Buku puisinya antara lain Tanda-tanda yang Bimbang (2013). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ook Nugroho
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Kompas” Minggu 13 September 2015