Kucing Buku

Karya . Dikliping tanggal 23 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo


TIBA-TIBA ada kucing di rak bukuku.

Aneh sekali. Ia seperti tiba-tiba saja ada di sana, duduk di salah satu kolom baris keenam, di mana kumpulan cerpen penulis-penulis lokal berada. Dengan santainya, ia menjilati tangannya di dekat buku Kucing Kyoko. 
Bagaimana bisa kucing ini masuk ke kamar ini? Aku bertanya sekilas. Rumahku selalu tertutup. Jendela pun begitu. Memang banyak kucing liar di luar sana. Tapi tak ada yang pernah mendekat ke rumah. Aku bukan orang yang bersahabat dengan binatang, dan mereka tahu itu. Sehingga setiap melihatku,mereka langsung berlari menjauh. 
Kucing ini seperti datang begitu saja. Bukan kucing kecil, tapi bukan pula kucing dewasa. Bulunya putih, dengan beberapa bagian berwarna krem. Saat merasa diperhatikan, ia mulai mengeong ke arahku. Awalnya aku ingin mendiami saja. Saat ini, aku sedang begitu bersemangatnya melanjutkan novelku. Gairahku menulis sedang bagus-bagusnya, dan jari-jariku sedang benar-benar jatuh cinta dengan keyboard di laptopku. Mungkin karena ceritanya sudah sampai di bagian yang sudah kutunggu-tunggu: Asandra, karakter utama di novelku itu, mulai merencanakan membunuh suaminya. 
Ini bagian yang rumit. Di halaman-halaman sebelumnya sudah kulukiskan betapa sempurnanya Asandra. Ia cantik, memiliki karier yang baik, dan sangat berbahagia. Tapi keinginan membunuh suaminya tak pernah hilang, walau ia sudah menepisnya selama bertahun-tahun. Ini seperti keinginan untuk kentut. Kau bisa menahannya beberapa saat, tapi beberapa saat kemudian, keinginan itu akan muncul lagi!
Yang jadi masalah, Asandra tak punya alasan mengapa ia harus membunuh suaminya. Suaminya tampan, kariernya juga baik, dan juga sangat berbahagia. Ini hanya semacam keinginan membunuh saja, titik. Benar-benar tanpa alasan. Toh, kadang, satu kejadian terjadi tak harus karena hukum sebab-akibat. Saat semua orang mencoba berpikir di luar kotak; membunuh tanpa alasan, adalah satu pikiran yang paling menarik.
Sudah kupikirkan, Asandra akan memanfaatkan kebiasaan suaminya yang selalu berdiri di balkon selepas mandi. Ia akan meletakkan air sabun di lantai tepat di depan balkon. Lalu ia akan menggergaji pagar balkon hampir setengahnya. Hingga, hanya dengan satu sentuhan saja, pagar itu akan patah.
Tapi sialnya, saat jari-jariku akan memulai, aku mendadak merasa ragu.
Meooong….
Kucing itu kembali mengeong. Aku langsung menyumpahinya. Seketika saja, ia menghancurkan konsentrasi yang sudah kubangun sejak tadi.
Aku kembali melirik ke arah rak. Kucing itu seperti memintaku menurunkannya dari rak. Maka dengan setengah hati, aku bangkit dan mengangkatnya. Anehnya, saat kuangkat ia langsung diam. Bahkan saat kuletakkan di lantai, ia langsung mengusel-ngusel kepalanya di kakiku dengan manja.
Sebenarnya aku ingin mengeluarkannya. Tapi entah kenapa, aku malah membiarkannya saja. Ia seperti mengucapkan terima kasih,sambil memainkan kuku-kukunya di celanaku. Menimbulkan rasa geli dan sedikit sakit. 
Aku segera mengusirnya. Ia memilih duduk diam di ujung ruangan. Kembali keinginan untuk mengeluarkannya muncul. Tapi—lagi-lagi—aku mengurungkan niatku, saat melihatnya merungkel di atas kain keset yang ada di situ. Dengan asyiknya ia menjilati tubuhnya dengan lidahnya yang kasar dan berwarna merah jambu.
Aku kembali melanjutkan pikiranku pada layar laptopku. Sampai di mana tadi? Saat Asandra mulai membunuh suaminya? Ah, kenapa aku tiba-tiba merasa cara terpeleset di air sabun itu tak cukup menarik? Padahal cara ini sudah kupikirkan sejak lama. Kini, aku malah merasa cara itu tak sesuai dengan karakter Asandra yang cerdas. 
Hal ini membuatku terdiam dan mulai memikirkan cara lainnya yang lebih elegan. Sekilas kembali kubaca beberapa paragraf yang sudah kutulis sebelumnya. Misalnya…
Detik-detik berlalu bagai menyeret dirinya. Ada lelah yang dirasa, atau sekadar keengganan merayap. Asandra mulai memakai lipstik merah kesukaannya. Dari kaca riasnya yang besar dapat dilihatnya suaminya duduk terdiam di sofa kesukaannya. Ia tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk diam. Asandra berpikir, saat seorang ada dalam satu ruangan yang sama tapi tak mencoba untuk melakukan apa-apa, itu merupakan tanda paling baik untuk meninggalkan dunia ini.
Di tengah suasana seperti itu, aku mendengar suara kertas robek. Aku menoleh. Kulihat kucing itu sedang menggigit buku yang ada di dekatnya. Dengan cakar dan giginya, ia berhasil merobek beberapa lembar halaman. Aku sebenarnya hendak menghardiknya. Namun saaat melihat buku apa yang ada di tangan kucing itu, aku mengurungkan niat. Itu buku milik seorang penulis yang menjengkelkan, sombong dan merasa dirinya bagian dari kaum selebriti. Jadi rasakan saja, kucing pun ternyata tak suka dengan bukumu!
Aku kembali menoleh ke arah laptop. Berpikir lagi tentang Asandra. Sekilas aku mulai memikirkan hadirnya tokoh lain, seorang pelacur yang kelak akan diajaknya untuk bekerja sama. Asandra akan membiarkan pelacur itu menggoda suaminya. Lalu diam-diam, ia akan memberi suaminya sebuah obat pacu jantung sebelum ia beraksi. 
Tapi, ide itu pun terasa berlebihan. Aku pun hanya bisa menghela napas, sambil berpaling ke belakang. Kucing itu ternyata sudah tak ada. 
HARI berikutnya aku melihat kucing itu lagi. Ia berbaring di baris atas. Entah kebetulan atau tidak, ia berada di mana buku 101 Cara Membunuh Kucing kuletakkan. 
Sambil menurunkan kucing itu, aku mengambil buku itu. Siapa tahu aku mendapat ide yang menarik dari sini. Aku segera membalik-balik halamannya. Tapi ternyata buku ini hanya ditulis dengan cara standar. Beberapa cara membunuh kucing yang ada, di antaranya; dengan memakai lem kucing, lalu meracunnya dengan racun kucing…. Eit, tunggu-tunggu! Aneh sekali. Cara-cara ini sepertinya lebih pas sebagai 101 Cara Membunuh Tikus.
Aku langsung melempar buku itu. Heran, bagaimana bisa buku jelek seperti itu ada di rak bukuku yang bagus? Pasti aku membelinya saat obral Rp 5.000 atau Rp 10.000. Aku tentu tak akan mau membelinya dengan harga normal. Membeli buku saat obral kadang memang sedikit melumpuhkan nalar. Buku dengan standar di bawah pun kadang dibeli karena gelap mata. 
Aku mencoba berpikir lagi tentang Asandra. Semalam aku mendapatkan ide bagaimana kalau ia membunuh dengan lipstiknya? Saat akan bercinta, ia akan meminta suaminya untuk berperan sebagai seorang perempuan (sekarang, orang punya fantasi seks yang aneh-aneh, bukan?). Ia akan mengoleskan racun pada lipstiknya. Mungkin sianida. Jadi saat suaminya mengoleskan listik itu di bibirnya dan mulai mengecap-ngecap dengan lidahnya… dan ia akan selesai.
Kupikir ide ini menarik. Unik.
Aku tersenyum, dan baru menyadari kucing itu sudah tak ada di tempatnya.
KEESOKAN harinya. Sebelum menulis, aku keluar rumah untuk belanja bulanan. Sepulang dari situ, aku sedikit tergoda saat melewati sebuah pet shop. Aku teringat dengan kucing yang muncul di rakku itu, yang diam-diam mulai kupanggil Kucing Buku. Aku yakin, ia pasti akan datang lagi. Jadi, agar ia tak terus mengeong, aku mungkin sebaiknya memberinya makanan untuknya.
Maka aku pun masuk ke dalam toko itu, dan keluar dengan membawa satu bungkus plastik makanan kucing.
Benar seperti dugaanku, aku kembali menemukan kucing itu di rak bukuku. Kali ini ada di baris paling bawah, sedang tertidur pulas.
Karena belum menyalakan laptop, aku berpikir untuk menindaklanjuti pertanyaan-pertanyaanku yang beberapa hari ini terus kupikirkan. Misalnya, dari mana kucing ini masuk? Maka aku pun mulai mengecek jendela, lubang udara, bahkan langit-langit setiap ruangan. Tapi semuanya tertutup rapat. 
Aku hanya bisa menggaruk kepalaku. Kuambil piring dan mulai menuangkan makanan itu di dekatnya. Anehnya, ia seperti tak berminat, dan meneruskan tidurnya. Aku pun hanya mengangkat bahu, dan mulai kunyalakan laptopku. 
Apa sekarang aku harus melanjutkan ide racun di lipstik itu? Kenapa hari ini rasanya ide itu terasa berlebihan? Aah, sepertinya aku terlalu membuang waktu di bagian ini. Padahal membunuh suaminya, bukanlah inti novel ini. Cerita utamanya adalah setelah Asandra sukses melakukannya. Ia akan bertemu dengan seorang perempuan yang kelak menjadi sahabatnya. Ternyata sahabatnya itu pun pernah melakukan pembunuhan yang nyaris sama sepertinya. Pembunuhan tanpa alasan. Maka keduanya kemudian memutuskan membuat sebuah klub rahasia yang berisi orang-orang yang membunuh tanpa alasan. 
Itu cerita sebenarnya novel ini.
“Kenapa kau tak memakai cara yang biasanya dilakukan oleh kucing?”
Sebuah suara tiba-tiba terdengar. Tentu saja ini mengagetkanku. Tak ada siapa-siapa di rumah ini. Hanya kucing yang sedang tertidur di rak buku. Makan, dengan gerakan perlahan, aku berpaling, memandang kucing itu dengan tatapan tak percaya.
“Kau… bi…bicara?” suaraku seperti tersengal. 
“Ya, aku bicara. Bicara padamu,” kucing itu menjawab. Benar-benar menjawab. Gerakan mulutnya pas sekali dengan suara yang kudengar. “Kau tahu, aku bukan kucing sembarangan. Aku bukan kucing yang muncul dari tong sampah. Aku muncul dalam rak bukumu.”
Aku hanya bias menelan ludah.
“Kuamati, akhir-akhir ini kau terlalu lama berkutat di depan laptopmu, tanpa menghasilkan apa-apa?”
“Itu karena aku… memikirkan sesuatu.”
“Kau harus membaca buku-buku di depanmu ini, agar ide bisa terus mengalir.”
“Aku… membacanya.”
“Huh, kau hanya membelinya. Itu pun kau beli saat obral. Benar-benar penulis yang payah.”
Aku menelan ludah. Sebenarnya jengkel juga mendengar ucapannya, tapi aku tak bisa membantahnya. Yang diucapkannya memang benar adanya.
“Kau mau tahu cara terbaik bagi Asandra membunuh suaminya?” tanya kucing itu kemudian.
Aku mengangguk ragu.
“Seperti yang kukatakan tadi, pakailah cara yang biasa dilakukan kucing.”
2

LAKI-LAKI itu memang sialan!
Sekarang, ia sulit sekali dihubungi. Ia tak penah mengangkat ponselnya. Bahkan saat didatangi rumahnya, ia tak pernah ada. Atau… mungkin ia ada, tapi tak berkenan menemuiku.
Padahal aku sendiri malas bertemu dengannya. Aku hanya perlu satu tanda tangan darinya. Setelah itu, selesailah urusanku dengannya.
Ya, itu syarat terakhir urusan perceraianku dengannya.
Aku berharap semoga beban berat ini segera hilang. Menatap masa depan yang baik. Melupakan masa lalu yang buruk. Walau, aku tentu tak mau menyesal dengan apa yang sudah kulakukan selama ini. Kupikir ini bagian dari jalan hidupku. Lagian, siapa yang bisa menebak jalan hidup? Saat aku mengenalnya, ia laki-laki yang sangat sempurna. Tulisannya selalu membuat hatiku luruh padanya. Kekagumanku benar-benar tak terbatas untuknya. 
Tapi sekarang inilah pesanku: jangan pernah menikah dengan seorang penulis. Mereka hanya punya imajinasi. Tak punya apa-apa lagi selain itu. Kau mungkin bisa terpesona dengan tulisan-tulisannya, tapi hanya akan sebatas itu saja. 
Seperti yang kualami ini. Hanya beberapa bulan sejak menikah, aku sudah merasa ada yang salah dengannya. Ia terlalu sering menyendiri di kamarnya. Diam, tanpa melakukan apa-apa. Merokok sampai seluruh kamar dipenuhi asap. Saat itulah aku tahu, apa yang ditulis seorang penulis tak selalu sama dengan apa yang ada padanya.
Semakin hari, aku bahkan semakin takut dengannya. Cerita-cerita yang ditulisnya selalu bertema pembunuhan. Terutama pembunuhan dalam sebuah keluarga. Lama-lama aku merasa, ia seperti terobsesi untuk membunuh pasangannya. Hanya saja, ia terlalu pengecut untuk mengambil posisi sebagai pembunuhnya. Ia akan selalu mengambil posisi sebagai korban, sang istri yang akan dibunuh.
Kupikir, inilah alasan terbesarku minta cerai darinya. Orang-orang bilang aku terlalu terburu-buru. Tapi mereka tak tahu. Mereka juga tak melihat saat ia benar-benar membunuh seekor kucing liar dengan racun, hanya gara-gara kucing itu merobek-robek salah satu bukunya.
Hari ini aku berniat menyelesaikan semua urusan dengannya. Kekasih baruku sudah menunjukkan kesungguhannya, dan aku tak mau menyisakan segala sesuatu yang mengganjal di hubungan ini.
Tapi tetap saja aku tak berhasil menghubunginya. Maka kuputuskan untuk ke rumahnya. Kukendarai mobilku dengan cepat. Sialnya, di tengah perjalanan, seekor kucing tiba-tiba melintas ke tengah jalan. Aku kaget, dan segera membanting setir ke kiri.
Namun di sana, sebuah pohon besar sudah menyambutku.
3

AKU seperti bangun dari mimpiku.
Sewaktu para polisi datang dan membawaku pergi, aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi kucing itu sebenarnya sudah mengatakannya langsung padaku: ia sudah melaksanakan kematian yang paling baik bagi sang suami.
Aku benar-benar tak memahami maksudnya. Toh, aku sebenarnya tak terlalu menyetujui idenya. Kupikir itu terlalu standar. Kejadian sehari-hari tak terlalu cocok untuk dijadikan kisah fiksi. Harus ada yang didramatisasi.
Tapi kini, para polisi ini datang dengan tuduhan aku telah membunuh bekas istriku. Ini tentu saja gila. Aku sudah tak lagi berhubungan dengannya. Perempuan cantik yang banyak menuntut itu, sudah kuanggap pergi dari hidupku.
Tapi aku tentu tak bisa berbuat apa-apa. Saat mereka membawaku ke dalam mobil polisi, sempat kudengar suara-suara bagai dengungan di sekitarku.
“Kasihan dia, penulis yang gagal.”
“Sejak dicerai istrinya, ia benar-benar tertekan.”
Aku tak menghiraukan dengungan-dengungan itu. Toh, pada akhirnya, aku benar-benar masuk ke dalam penjara. Padahal mereka tak pernah menemukan bukti apa-apa yang menunjukkan akulah pembunuh bekas istriku. Hanya karena aku tak mau bicara saja selama pengadilan, mereka kemudian memutuskan aku bersalah.
Aku merasa hidupku telah hancur. Untungnya, di ujung penjara ini, ada sebuah perpustakaan yang hanya bisa didatangi menjelang sore. Perpustakaan sepi yang sangat berdebu.
Ini sedikit menghiburku. Diam-diam aku suka berada di sana. Walau buku-bukunya tak sebagus yang di rak bubuku dulu, aku senang menghabiskan waktu duduk di salah satu kursi. Aku merasa begitu tenang.
Nanti saat suara sirene terdengar, tanda setiap penghuni penjara untuk memasuki ruangannya, aku baru akan beranjak dari sana. Biasanya, sambil menutup pintu, aku akan melirik ke rak buku itu, untuk melihat kucing itu di sana.
Yudhi Herwibowo giat di bulletin sastra Pawon, Solo. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yudhi Herwibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 22 Februari 2015