Kuda Bambu

Karya . Dikliping tanggal 20 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
RUMAH itu masih di sana. Tua dan merana. Atapnya yang berupa batang-batang bambu sudah hancur, hanya sisa-sisa kusen yang masih bertahan dari rajam cuaca. Seluruh bagian dalamnya ditumbuhi lumut. Dinding, lantai juga kayu-kayu pada pintu dan jendela. Aku menengok ke dalamnya seakan hendak mengintip adakah masa lalu tertinggal di sana. Selain bau lembab, dan serangga yang membuat sarang, tak kurasakan apa-apa.
Dulu, di rumah itu aku tumbuh. Bapak yang lumpuh dihajar peluru menitipkan aku pada keluarga Paman Bun. Tak ada hubungan darah antara bapak dan Paman Bun. Aku memanggilnya paman hanya karena hubungannya yang sangat dekat dengan bapak. Sampai peristiwa ketika peluru menembus kaki bapak, dan membuat hidupnya bisa dibilang selesai. Paman Bun menerima aku yang masih kecil, lantaran dia sendiri tak memiliki anak. Dan mungkin sebagai balas jasa atas apa yang dilakukan bapak.
Bapak melindungi Paman Bun ketika aksi petani menolak pembangunan perumahan berujung pada peristiwa berdarah. Aparat turun tangan, jelas berada di pihak pengusaha. Sekian orang dibekuk, dihantam popor senapan. Peluru sungguhan melesat dari moncong-moncong senapan itu. Salah satunya sepertinya diperuntukkan bagi Paman Bun, orang terdepan yang menggerakkan aksi para petani. Aparat menyerbu sampai ke pemukiman, mencari Paman Bun. Bapak menghalangi aparat dengan berpura-pura melawan, bapak berlarti menjauh dan tiba-tiba ia sudah terjerembab ke tanah. Konon, waktu itu ibuku sudah meninggal  bisa jadi lantaran suatu hari kakinya terpatuk ular.
Aku bilang konon, karena tak ada satupun dari cerita itu yang kuingat. Semuanya aku dengar dari Man Kalep yang secara kebetulan kutemui di kota. Man Kalep melihat semua peristiwa itu. Perumahan berdiri setelah di bagian atas kampung tiba-tiba terjadi kebakaran. Orang-orang dipaksa pindah ke bawah, membangun pemukiman baru.
Aku merasa tak ingat sama sekali dengan peristiwa-peristiwa yang diceritakan Man Kalep. Mungkin bisa jadi karena pada saat itu aku masih seorang bocah kecil yang tak mengerti apa-apa.
“Kamu ingat kuda-kudaan dari bambu yang dibuat Bapakmu? Dulu kamu senang sekali menunggangnya. Setiap kali aku ke rumah pamanmu, kulihat kamu di atas kuda itu. Sepertinya kamu membayangkan sedang menunggang kuda sungguhan.”
Kuda-kuda bambu. Sekarang aku memang senang menunggang kuda. Tapi bukan kuda bambu. Juga bukan kuda sungguhan. Melainkan kuda mesin buatan Jepang.
Kesenangan itu yang mempertemukan aku dengan Man Kalep. Suatu malam sehabis hujan, dengan kecepatan tinggi aku pacu kuda Jepang tungganganku. Kecelakaan terjadi di dekat jembatan timbang. Truk besar pengangkut kayu dan sebuah sepeda motor matik saling hantam. Remaja yang mengendarai motor terlempar ke bawah truk, rohnya melayang seketika itu juga. Aku sendiri terjungkal dan berguling-guling di tepi jalan. Tapi tak ada luka serius di tubuhku. Aku baru tahu kemudian kalau akulah penyebab kecelakaan itu. Dan remaja yang melayang rohnya itu adalah anak Man Kalep.
Ayahku segera emmbereskan perkara itu. Dengan uangnya aku bisa terbebas dari ancaman penjara. Man Kalep rupanya orang yang tabah menerima kenyataan. Dengan sedikit ganti rugi urusan segera selesai. Pada waktu aku datang ke rumahnya, berbicaralah Man Kalep tentang apa yang tidak kusangka-sangka menjadi sebab kenapa ia begitu ikhlas menerima kematian anaknya.
“Saya ingat Bapak dan Pamanmu. Mereka orang baik. Saya percaya kamu juga orang baik. Kamu pasti menyesal atas kejadian itu.” Man Kalep menatapku lama sekali. Sesungguhnya tidak sedikit pun ada penyesalan dalam diriku. Tetapi, entah kenapa, ketika ia mulai bercerita tentang masa lalu, aku merasakan sesuatu yang tidak bernama tumbuh jauh di dalam diriku. Aku tidak ingat apa-apa soal masa kecilku. Yang aku tahu, ayahku adalah seorang pejabat di pemerintahan.
Menurut Man Kalep ada kejadian besar yang emnimpa kampung kami beberapa waktu setelah ebrdirinya perumahan. Mendadak banyak orang asing yang datang. Ditemani sejumlah pejabat pemerintah. Berjalan-jalan ke bukit dan sungai di sekitar kampung. Belakangan baru diketahui, rupanya tempat-tempat di sekitar kampung itu menyimpan biji emas. Satu perusahaan besar dari luar negeri telah menandatangani kontrak dengan pemerintah daerah untuk menambang emas itu.
“Pamanmu yang pertama menentang rencana itu. Dia menggerakkan masyarakat untuk habis-habisan menolak dan melakukan perlawanan. Tambang asing hanya akan merusak lingkungan, katanya. Lagipula mereka tak mungkin mempekerjakan orang-orang kampung yang kurang berpendidikan. Sebagian masyarakat mengikuti apa yang mereka sampaikan. Protes dilakukan terus menerus, sampai aparat kembali turun tangan. Kali ini korbannya lebih banyak. Pamanmu turut menjadi tumbal. Saya sendiri lalu pindah ke kota ini dan tak mendnegar lagi kabar dari kampung.”
Aku hampir emngira Man Kalep sudah terganggu jiwanya akibat guncangan karena kehilangan ankanya. Apa yang diceritakannya itu sama sekali tak ada hubungannya denganku. Tetapi sungguh, aku tidak ingat apa-apa soal masa kecilku. Seolah-olah aku diturunkan entah dari mana dalam keadaan sperti sekarang
.
“Saya dengar ayahmu yang sekarang, yang mengambilmu dari kampung saat suasana benar-benar kacau, adalah salah seorang yang emnentukan keluarnya izin tambang ituk perusahaan itu. Kalau suatu ketika kamu datang ke kampung, kunjungilah rumah pamanmu. Mungkin rumah itu masih ada.”
Semakin lama kudengar Man Kalep bercerita, eingat apa saja kenangan di masa kecilku. Tapi sia-sia saja, aku tetap tak ingat apa-apa. Malahan kepalaku berdenyut-denyut dan terasa berat. Aku tahu itu bukan diakibatkan kecelakaan, tapi sudah kualami jauh sebelumnya.
Kenyataannya, rumah itu memang masih ada. Bahkan baru kuketahui ada pemukiman miskin di lingkar tambang itu. Aku punya banyak teman yang orangtuanya bekerja di pertambangan. Rata-rata orang drai ibukota atau mancanegara.
Rumah itu masih di sana. Tua dan merana. Aku sekarang ada di dalamnya. Mataku menangkap sesuatu yang samar di sudut ruangan yang hampir hancur. Sebuah kuda bambu yang masih bersih, tertutup kain kumal, begitu bersihnya seakan-akan baru saja dibuat. Saat kulepaskan kain kumal itu darinya, kuda bambu itu bergoyang-goyang seolah ada yang menunggang. (k)

Bakarti, 17 Februari 2015

Kiki Sulistyo: bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram Nusa Tenggara Barat. Menulis puisi dan cerita. Bukunya yang sudah terbit Hikayat Lintah (2014), Rencan Berciuman (2015), dan Penangkar Beksiar (2015), ketiganya himpunan puisi.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 19 Juli 2015